Foto Mesra

Sesuai rencana, malam itu Saga diantar oleh Damar menuju apartemen baru mereka. Dia langsung disambut oleh dua wanita cantik begitu membuka pintu apartemen.

Tanpa basa-basi keduanya menempel bagaikan ulat bulu. Satu memeluk Saga dari samping, dan satunya lagi menyandarkan kepalanya sambil membelai halus permukaan dada pria itu.

"Oh Tuhan! Ternyata kabar burung di luar sana benar. Tuan Saga memang sangat tampan dan maskulin."

Kita beruntung bisa menemani Tuan Saga selama satu minggu," jawab teman yang satu lagi.

Saga hanya diam tanpa ekspresi. Damar tersenyum. Dia melangkah mundur setelah memastikan masuk ke dalam.

"Saya mohon pamit undur diri, Tuan. Selamat bersenang-senang."

Damar menunduk. Pintu tertutup rapat setelah Damar mengundurkan diri.

"Menyingkirlah kalian dari sisiku!" Saga mendorong dua wanita itu sampai keduanya terjungkal ke lantai. Mereka sangat terkejut saat mengetahui Saga adalah pria yang sangat kasar.

"Kenapa Tuan? Apa kami kurang cantik?" Salah satu wanita itu bertanya tidak mengerti. Kedua saling memegang satu sama lain untuk bangkit dari posisi yang menyakitkan itu.

"Tugas kalian di sini memang untuk menemaniku. Tapi bukan berarti kalian bisa seenaknya menyentuhku. Tetaplah di sini tanpa mengganggu aktivitasku. Aku akan memanggil kalian jika diperlukan. Jika kejadian seperti tadi sampai terulang kembali, kupastikan kalian tidak akan bisa menghirup udara lagi. Paham?"

"Pa ..paham, Tuan!". Kedua menjawab dengan kompak. Wajah dua perempuan itu dipenuhi air muka ketakutan. Mereka tidak paham dengan isi pikiran Saga, tapi keduanya berusaha menurut dan tidak lagi banyak tanya.

Jadi ini yang dimaksud bayaran gede taruhan nyawa, batin salah satu perempuan itu. Sejal saat itu mereka tidak bisa tidur nyenyak. Mereka biasa menggoda, tapi ancam Tuan Saga terlalu serius. Dalam sepersekian detik kehilaiannya sebagai perempuan malam yang jago menaklukan laki-laki lenyap seketika. Tuan Saga tidak seperti laki-laki lain yang biasa tidur dengan mereka.

***

Sementara itu, di rumah Namira mulai panik karena Saga tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Namira sudah berusaha tenang dan menahan diri, tapi kali ini dia tidak bisa lagi.

Tanpa banyak bertanya ke sana ke mari Namira langsung menyusul Saga ke kantor. Dia yakin siang hari begini pasti Saga ada di sana. 

"Tuan Saga cuti selama satu Minggu, Nona. Jika Anda tidak percaya silakan periksa ruangannya." Damar membuka pintu ruang kerja Saga lebar-lebar. Sayangnya harapan utama Namira membuahkan hasil yang nihil. Sampai detik ini Namira belum tahu di mana keberadaan Saga. Salah satu pembantu di rumah orang tua Saga juga mengatakan kalau Saga tidak pernah datang ke sana.

Lalu di mana laki-laki itu berada?

Hati Namira semakin dipenuhi rasa sakit saat  melihat Saga tidak ada di kursinya. Ruangan itu rapi tanpa ada sosok pria yang ia cintai.

"Jika Anda masih tidak percaya pada saya, Anda bisa bertanya pada karyawan lain. Mereka juga sama-sama tidak melihat Tuan Saga selama tiga hari," terang Damar dengan suara dingin.

Tentunya apa yang Saga jelaskan sebelumnya membuat lelaki itu benci terhadap Namira. Damar tidak sudi berlama-lama dengan perempuan polos yang menggunakan topeng untuk menutupi watak bejat.

"Apa Anda masih ada keperluan lain, Nona? Kalau tidak saya mau lanjut bekerja," ucap Damar ketus.

Namira menoleh. Bahkan sekretaris Saga yang dulu sangat menghormatinya sekarang bisa memasang wajah sedingin itu. Namira rasanya ingin mati saja. Situasi ini terlalu menyakitkan untuk dirinya.

Sekeras apa pun wanita itu berusa peduli. Berusaha menyadarkan diri kalau Saga sudah tidak peduli. Perasaan bersalahnya kepada Saga tak sedikit pun luntur. Bahkan Namira yakin nyawa perempuan itu tidak akan sepadan dengan luka yang dia torehkan di hati saga.

"Andai tidak ada kamu mungkin ibu sudah bunuh diri, Nak. Kau adalah alasan ibu untuk bertahan," gumam Namira. Air mata kembali menetes untuk kesekian kali. Dia kembali ke rumah dengan tangan kosong. 

Sepanjang perjalanan Namira terus melamun memikirkan di mana Saga dan apa yang lelaki itu lakukan saat ini. Benarkah secepat itu cinta Saga memudar? Setidak pedulinya Saga pada Namira, paling tidak dia harus mempedulikan masa depannya sendiri.

Namira merasa Saga berhak bahagia meski bukan dengan dirinya.

***

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Ini adalah hari ketujuh dimana Saga sudah tidak pulang selama itu.

Namira juga sudah patah harapan, dia berusaha menyiapkan makanan setiap hari, tapi Saga tak kunjung datang apalagi menghiasi meja makanan di rumah barunya.

Perempuan itu benar-benar hidup seorang diri bersama makanan yang setiap hari dimasak. Tak terasa uang tabungan Namira sudah sangat menipis. Selama ini Namira selalu menggunakan uang pribadi karena Saga tak pernah memberinya uang.

"Bagaimana ini, uangku tinggal sepuluh ribu?" Namira panik melihat isi dompetnya sendiri. Ia ingin meminta bantuan sang Ayah, tapi itu tidak mungkin. Namira tidak mau ayahnya sampai tahu hubungan buruk dirinya dengan Saga.

Ting … Tong ….

Tiba-tiba suara bell berbunyi. Namira segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Dia pikir itu Saga, ternyata orang yang datang itu hanyalah tukang paket. Namira membawa paket itu masuk setelah menandatangani.

"Paket apa ini?" Tangan Namira cekatan membuka paket besar itu. Ada setitik harapan di hati Namira kalau isi paket itu adalah makanan.

"Ya Tuhan!" Perempuan itu sangat terkejut saat melihat isi paket itu adalah baju kotor Saga selama satu Minggu. Dia nyaris tak bisa berkata-kata. Matanya kemudian tertuju pada sebuah kotak lonjong dan membukanya sesegera.

"Astaga, Tuhan? Apalagi ini?" 

Tubuh Namira terpuruk di lantai. Ia berusaha meyakinkan diri kalau foto mesra Saga bersama wanita-wanita itu adalah hasil editan. Namun, bau parfum wanita sangat menguar pekat dari dalam baju-baju kotor Saga.

 "Kenapa kau melakukan ini, Mas Saga? Padahal jika kau sudah tidak mau denganku kita bisa langsung bercerai," lirih Namira. Penyiksaan ini terlalu menyakitkan untuknya. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi rasa sakit yang setiap hari menghujani diri.

Suara tangisan Namira menderu-deru. Foto Saga yang tidur tanpa busana bersama wanita membuat kesadarannya perlahan terbawa angin.

Namira kemudian mengambil ponselnya. Dia mendial nomor Saga. Beruntung tak lama kemudian panggilan Namira diangkat.

"Hallo, ini siapa, ya?" Yang menjawab adalah wanita. Namira langsung mengepalkan dua tangannya emosi.

"Kamu yang siapa? Ini aku istrinya," jawab Namira kesal.

"Oh istrinya?" Suara wanita itu terdengar mengejek. "Kau tidak perlu khawatir. Tuan Saga baik-baik saja karena ada kami wanita cantik yang selalu menjaganya. Bye."

Tut … Tut … Tut

Panggilan itu dimatikan secara sepihak. Namira makin terpuruk tak berdaya setelah bicara langsung dengan wanita itu. Rasa kesal, marah, kecewa pada diri sendiri, semua itu bercampur menjadi satu adonan lahar yang siap melelehkan jantung hati.

Sepertinya Mas Saga sedang bersenang-senang dengan wanita penghibur itu, batin Namira. 

***

Terpopuler

Comments

Fenty Dhani

Fenty Dhani

Namira keras kepala😔

2023-05-29

0

Benazier Jasmine

Benazier Jasmine

bingung mau nyalah in siapa, namira hamil disaat mlm pertama, trs saga sakit hati akhirnya menyiksa namira, mungkin lbh baik berpisah klo merasa sama2 sakit.

2023-05-27

1

💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖👥

💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖👥

palingan itu cuman akting si Saga, biar Namira mw jujur tentang dirinya. Mungkin

2023-05-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!