Nama Bayi

"Aku tunggu kamu di meja makan." Suara dingin Saga tiba-tiba memecah keheningan yang ada.

Namira yang tadinya sempat menunduk langsung mendongak dengan tatapan sedikit memberontak.

"Tapi, Mas ...."

Saga tak peduli. Ia terus berjalan keluar tanpa mengindahkan keinginan Namira sama sekali. Sekujur tubuh perempuan itu refleks melemas bersamaan dengan

menghilangnya Saga di balik pintu.

Perempuan itu hanya bisa memegangi dada sambil menatap sisa bayangan suaminya yang sudah tidak ada.

Dengan sangat terpaksa akhirnya Namira keluar mengikuti kemauan Saga. Sambil berjalan ia berusaha mengatur ekspresinya seluwes mungkin. Namun baru saja hendak mencapai ruang makan, langkah Namira terhenti saat melihat Ivan sudah mentereng di kursinya sambil melempar senyum genit.

Laki-laki itu?

Glekk ....

Perempuan itu dapat mendengar jelas suara ludahnya. Keringat dingin pun mulai keluar dari punggung belakang Namira.

Ia coba tarik napas dalam-dalam. Kepalanya mengangguk mantap. Kemudian berusaha ikut gabung di meja makan sambil berusaha menyembunyikan kegugupan yang ada.

"Pagi semuanya," sapa Namira.

"Pagi juga." Semuanya menjawab dengan kompak. Acara makan pun di mulai karena sejak tadi mereka sudah menunggu kemunculan Namira.

"Oh ya, Ma! Sepertinya pagi ini kita mau langsung pulang," ucap Saga membuka obrolan.

"Kenapa?" Nyonya Nora menjadi penjawab paling pertama. "Besok kan masih weekend, Saga. Lagian kalian juga belum pernah menginap sejak pindah ke rumah baru."

"Iya, tapi Namira sedikit kurang enak badan. Jadi kita berdua mau pulang saja supaya bisa istirahat. Aku juga ada banyak kerjaan yang harus diselesaikan di rumah," ujarnya.

"Hmmmm." Nyonya Nora malah melirik ke arah Namira. "Kau tidak betah tinggal di sini?" tanya perempuan itu sedikit pungkas.

"Bu ... Bukan begitu, Ma."

"Terus?" Lagi-lagi Namira dibuat salah tingkah. Kali ini oleh tatapan semua orang yang ada di meja makan.

"Sebenarnya aku betah, tapi sejak hamil aku merasa diriku agak aneh. Aku lebih suka tinggal di rumah kamu. Jadi terus terang saja aku selalu ingin pulang setiap kali pergi ke luar."

"Huhh, alasan saja kamu. Simpelnya itu sama saja tidak betah," ujar Nora.

"Maaf, Ma." Namira tertunduk sambil memasang wajah tidak enak. Mau tidak mau Nora pun mengizinkan keduanya untuk pulang.

"Ya sudah. Tapi jangan lupa jaga kondisimu. Jangan sampai telat makan. Istirahat yang cukup jangan lupakan juga."

Namira tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. "Untuk masalah itu Mama tenang saja. Mas Saga hampir setiap hari mengingatkan aku. Iya 'kan, Mas?" Satu tangan Namira menyentuh bahu Saga. Lelaki itu hanya menoleh sambil memandangi tangan Namira yang masih tersemampai di bahunya.

Ivan yang melihat itu sedikit mengernyit.

"Iya, 'kan, Mas?" ulang Namira karena Saga masih diam membisu. Pipinya agak merona malu karena hal itu.

"Iya." Akhirnya Saga menjawab setelah beberapa saat memasang wajah aneh.

"Oh ya, Kak!" Ivan tiba-tiba menimpali pembicaraan mereka. Ia menyodorkan secarik kertas ke arah Saga sambil tersenyum slengean.

"Apa ini?"

Kening Saga membentuk tiga kerutan lurus. Ia ambil kertas itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Ivan sedikit pun.

Jangan tanya ekspresi Namira saat ini bagaimana!

Perempuan itu terus menatap secarik kertas itu sambil bertanya-tanya dalam hati. Riuh pikirannya makin bertabrakan tatkala Ivan menyunggingkan satu senyuman licik.

"Buka saja. Itu adalah nama bayi. Sebagai calon paman, boleh 'kan aku memberikan nama untuk ponakanku?"

Kontan Saga membeliak. Dalam sepersekian detik wajah lelaki itu berubah marah.

"Ivan, jangan sembarangan bercanda," sela Papa yang sejak tadi diam. Dia juga menatap putra bungsunya dengan wajah kesal.

"Memangnya kenapa? Aku hanya request nama bayi, kok. Memangnya tidak boleh jika aku memberi nama pada calon bayi Kakakku sendiri?"

Alis Ivan meninggi sebelah. Dia pura-pura memasang wajah polos sambil sesekali membaca ekspresi Saga.

"Usia kandungan Namira baru tiga bulan, Van. Tidak pantas kamu memberikan Nama di saat bayinya belum lahir."

"Hmmm, masa tidak boleh. Sejujurnya aku terlalu bersemangat dan senang karena mengetahui Kakakku akan punya anak. Jadi aku sengaja menyiapkan nama untuk bayi Kak Saga," ujarnya.

Saga memilih diam tanpa menjawab sepatah kata pun. Dia menunduk sambil memandangi dua tangan yang sejak tadi mengepal di bawah meja.

"Ya sudahlah kalau begitu. Maaf jika perkataanku salah," ucap Ivan lagi.

Perkataan Ivan yang kurang ajar tadi sukses membuat Saga terpancing. Sekarang emosinya kembali meninggi kala mengingat anak di perut Namira bukan anaknya.

Sialan! Kenapa sejak semalam aku merasa Ivan tahu kalau anak itu bukan anakku? Apa ini yang dinamakan insting saudara kandung?

Rasa kesal Saga saat ini tak terjabarkan.

***

Terpopuler

Comments

◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾

◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾

saga ayolah pintar sedikit

2023-06-17

1

Fenty Dhani

Fenty Dhani

ayolah saga...jangan bodoh...masak g curiga sama sekali...selidiki donk😔

2023-05-30

0

Elmi yulia Pratama

Elmi yulia Pratama

bukan insting saudara kandung tapi insting ayah kandung,,
kan ivan yg unboxing namira duluan 3 bulan yg lalu

2023-05-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!