Tubuh Mungil Yang Indah

Sekitar sore hari Saga pulang. Karena sebelumnya dia sudah izin tidak kerja, jadi dia ke kantor hanya sekadar untuk melakukan pelarian dari rasa kesalnya.

Setelah bosan karena tidak mengerjakan apa-apa akhirnya Saga memutuskan untuk pulang. 

Dia menghentikan mobilnya di pelataran rumah. Saga tidak langsung turun. Dia terus menatapi rumah impiannya dulu, yang sekarang bak neraka di mata Saga.

"Entah kenapa aku sangat malas tinggal di rumah ini." Saga berbumam sambil menatap nanar pintu tersebut.

Dulu dia sempat membayangkan semua hal manis akan terjadi di sana. Tapi kenyataan menjungkirbalikkan dunia Saga. Alih-alih mendapat keharmonisan rumah tangga lelaki itu malah diterpa penghianatan. 

Rasanya Saga benar-benar ingin menyalakan mobil dan pergi lagi. Namun, mau tak mau Saga akhirnya menurunkan kakinya. Dia sudah mengiyakan acara makan malam di rumah keluarga besar, jadi terpaksa Saga harus pulang untuk menjemput Namira terlebih dahulu.

Ceklek …. 

Pintu dibuka secara perlahan. Tak ada siapa-siapa di ruang tamu. Saga segera berjalan ke dapur, di sana juga tidak ada siapa-siapa. Ruang keluarga dan taman kecil juga tampak kosong

"Namira …."

"Namiraaa …."

"Kemana dia?"

Saga terus saja menyusuri ruangan demi ruangan.

Saat itu Saga berteriak agak panik. Tapi saat melihat pintu kamarnya terbuka dia langsung mematung dengan pipi merona. Ada tarikan napas panjang setelahnya.

"Ada apa, Mas? Maaf tadi aku baru saja selesai membereskan kamarmu," ucap Namira.

Lelaki itu melengos. "Tidak ada apa-apa. Kupikir kau pingsan lagi."

"Tidaklah, Mas. Tubuhku jauh lebih baik setelah kau rawat. Ngomong-ngomong kamu kenapa pulang?"

"Memangnya aku tidak boleh pulang?"

Sebelah mata Saga memicing sinis. Entahlah, tiap kali ia pulang dan melihat Namira rasanya Saga selalu tidak bisa menahan kemarahannya. Selalu ada saja hal kecil yang memancing Saga dan berujung dengan pertengkaran.

"Bukan begitu. Biasanya kau selalu pulang jam sembilan. Tumben ini sudah pulang jam lima. Memangnya tidak bekerja?"

"Tadi aku sudah izin pada Damar." Saga lalu menerobos masuk ke kamar.

"Oh begitu. Malam ini Mas Saga mau makan apa? Kebetulan aku baru mau masak untuk makan malam."

"Tidak usah masak. Persiapkan dirimu saja. Hari ini kita akan malam di rumah utama."

"Ah, tumben sekali. Ada acara apa memang, Mas?" 

Saga yang baru saja melepas bajunya menoleh dengan lirikan mata kesal. 

"Bisakah kau pergi dari kamarku tanpa banyak bertanya? Aku mau mandi, dan sebaiknya kau mandi juga karena kita akan berangkat sebentar lagi." 

"Emm. Baiklah." Namira menyeringai lucu. Dia langsung pergi dari depan pintu setelah menutupnya. 

Di dalam kamar Namira merasa senang karena penderitaannya malam ini akan sedikit berkurang. Jika Saga mengajaknya makan di rumah orang tuanya, artinya lelaki itu tidak akan bersikap dingin seperti biasa. Pertengkaran yang biasanya terjadi juga akan berkurang karena Saga pasti akan menjaga sikap di depan orang tuanya nanti.

Namira kemudian buru-buru mandi. Setelah itu dia berdiri di cermin sambil memandangi tubuhnya. Malam ini Namira memutuskan untuk sedikit berdandan. 

Dipikir-pikir sejak menikah Namira belum pernah yang namanya menyentuh make up. Tiap hari waktunya selalu habis untuk bersedih dan berdebat dengan Saga. Tak pernah sedikit pun Namira memikirkan soal penampilannya selama ini.

"Sepertinya baju dari Mas Saga masih muat dipakai," ucap Namira. Dia mematut tubuhnya yang mungil di depan cermin. Baju dress pemberian Saga yang belum sempat dipakai itu terlihat luwes sekali di tubuhnya.

 Mata perempuan itu kemudian turun tepatnya ke bagian perut yang mulai agak mengeras. 

"Sebentar lagi tubuhku akan terlihat seperti orang hamil. Dan mungkin ini adalah kali terakhirnya aku memakai baju dengan model seperti ini."

"Hmmm." 

Perempuan itu mendudukkan tubuhnya dengan lesu di sana. Ia membuka laci make up. Di sana ada satu gepok uang dengan nilai 5 juta yang baru beberapa jam lalu Namira ambil.

"Semoga saja Mas Saga tidak curiga kalau aku baru saja melakukan tarik tunai sebanyak ini," gumamnya.

Niatnya dia akan berusaha mengambil uang sebanyak mungkin dari rekening Saga setiap Minggunya. Setelah uang itu terkumpul, baru Namira akan kabur dari hidup Saga untuk selamanya. Terkesan jahat, tapi itu lebih baik daripada Namira harus menghancurkan masa depan Saga.

***

"Namira, kau sudah siap belum?" Pukul setengah tujuh Saga berseru. Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Namira dengan gertakan tidak sabaran.

"Iya, Mas sebentar." Buru-buru Namira keluar. Seketika Saga dibuat membola dengan penampilan yang tidak biasa.

Baju dress putih dengan tinggi sebatas lutut itu tampak cantik sekali di tubuh Namira. Dan juga, apa itu? Kenapa dia berdandan cantik sekali?

Mata Saga masih tak mengedip. Make up yang dikenakan Namira hanyalah bedak tipis ala natural. Tapi entah kenapa semua itu membuat kecantikan Namira bertambah seribu kali lipat.

"kenapa, Mas? Apa pakaian ini kurang cocok untukku?"

"Kenapa kau bergaya seperti itu?" Saga menatap Namira dari ujung kaki ke ujung kepala.

"Memangnya kenapa? Baju ini kan kamu yang beli," ujar Namira sambil memasang wajah tidak paham.

Saga menelan ludah. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur karena terus terbayang penampilan sang istri.

"Tidak apa. Hanya saja baju itu terlalu aneh untuk wanita hamil?"

"Tubuhku 'kan masih normal Mas. Apa perlu aku menggantinya?"

"Tidak usah. Untuk apa pula wanita hamil banyak gaya. Ayo cepat, kita sudah telat!" 

Saga tiba-tiba berubah ketus lalu berjalan keluar meninggalkan Namira seorang diri. Di titik ini kadang Namira suka heran kenapa mood Saga suka berubah-berubah seperti bocah.

Sekitar jam tujuh lewat Saga dan Namira tiba di rumah utama. Begitu turun dari mobil Saga langsung menggandeng tangan Namira. Perempuan itu agak terkejut. Tapi beberapa detik kemudian senyumnya merekah dengan sempurna.

"Tidak usah ke GR, an. Lakukan sandiwara seperti biasanya," bisik Saga.

"Aku mengerti, Mas." Namira menunduk.

Mereka terus berjalan beriringan. Namun, saat hendak masuk ke dalam Namira baru teringat ponselnya ketinggalan di mobil. 

"Ponselku ketinggalan, Mas. Boleh pinjam kuncinya sebentar."

"Hmmm. Kebiasaan. Cepat ambil, aku tunggu di dalam."

"Iya." 

Saga kemudian masuk ke dalam. Sementara Namira buru-buru jalan menuju parkiran untuk mengambil ponselnya. 

"Hai, manis?"

Seseorang tiba-tiba datang menghadang. Namira nyaris terhuyung ke belakang saat melihat pria bertubuh kekar itu nyaris memeluknya.

"Ivan?" Jantung Namira serasa lompat dai tempat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sekujur tubuh Namira keringat dingin.

 Ivan, lelaki itu adalah ….

Ah, rasanya Namira nyaris kehilangan tenaga melihat lelaki yang telah menghamilinya ada di depan mata.

***

 

Terpopuler

Comments

fiendry🇵🇸

fiendry🇵🇸

manusia cuma bisa berencana saga tapi Tuhan lagi yg menentukan...
semua pasti ada hikmahnya bagi orang yg bersabar

2023-09-22

0

Halimah

Halimah

pasti ivan itu adiknya Saga

2023-08-16

0

Handayani Tety

Handayani Tety

ye kan ye kan apa kubilang...rumit amat konfliknya..

2023-07-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!