Di ruang tamu, Saga sedikit mengernyit saat melihat Namira berjalan tergopoh-gopoh memasuki area rumah. Dia berdiri kaget. Tatapannya yang semula biasa berubah khawatir begitu melihat wajah Namira sangat pucat dan berkeringat.
"Ada apa?"
"Emm … Mas?" Namira makin mati kutu mendapat lemparan tatapan dari Saga. "Ti … tidak, Mas. Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Kau ini kenapa sampai berkeringat seperti ini?" Saga mendekat. Ia seka keringat yang memenuhi seisi dahi Namira dengan ibu jarinya.
Bertepatan dengan itu Ivan tiba-tiba muncul. Saga langsung menoleh dan mendapati ada sesuatu yang tidak wajar. Saga berpikir sesuatu pasti baru saja terjadi antara Ivan dan Namira.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian muncul bersama dan Namira tiba-tiba jadi ketakutan?"
"Aku?" Ivan menunjuk diri sendiri. Ia tatap Namira yang kebetulan juga sedang mengarahkan tatapan bingung kepada Ivan. Namira jelas panik karena Saga semudah itu mencurigai mereka.
Jantung di tubuh Namira serasa akan melompat karena situasi ini. Duh, kenapa si Namira tidak bisa menjaga ekspresinya saat masuk ke dalam?
"Kenapa aku yang disalahkan? Aku juga tidak tahu kenapa Kakak ipar ketakutan begitu," ujar Ivan. Tampangnya langsung berubah polos dengan begitu cepat.
"Namira tiba-tiba begini bertepatan saar kau datang dari luar. Hmmm. Kau tidak meledeknya atau menggodanya, 'kan?"
"Aku memang baru saja tiba. Tapi aku tidak tahu apa-apa," balas Ivan. Beruntung dia tidak seperti Namira yang gugup. Ivan bisa bersikap santai meski kehadiran Namira di rumah itu cukup mengganggu.
Menyadari Saga terus memojokkan Ivan, Namira dengan lembut menarik lengan Saga. Sebisa mungkin perempuan itu menutupi apa yang terjadi sebenarnya.
"Mas, ini bukan salah adikmu. Tadi aku ketakutan karena ada tikus besar yang tiba-tiba menabrakku."
"Tikus?"
"Iya, Mas. Saat aku membuka pintu mobil tiba-tiba tikus itu menabrakku dari arah kolong," ujar Namira. Ivan yang mendengar itu sedikit memiringkan sudut bibirnya. Ternyata Namira cukup pandai dalam berbohong, pikirnya.
"Kak Saga sepertinya harus minta maaf padaku. Sudah terbukti bukan kalau aku tidak salah," sela Ivan.
"Untuk apa aku meminta maaf padamu? Dosamu padaku lebih banyak." Saga mencibir, lalu melengos tak peduli.
Mendengar suara ribut-ribut Nyonya Nora keluar dari ruang tengah. Dia menatap kedua putranya secara bergantian.
Ada apalagi ini? Baru saja mau kumpul masa sudah ribut."
"Ini Ma, Kak Saga menuduhku menjahili istrinya. Padahal aku tidak melakukan apa-apa," celetuk Ivan berusaha menghayati perannya dengan baik.
"Siapa suruh dia memasang tampang mencurigakan." Saga tak mau kalah. Di saat seperti ini mereka memang terlihat seperti Kakak dan adik sungguhan.
"Sudahlah, Mas, ini hanya salah paham," sela Namira.
"Hmmm. Kalian berdua ini kebiasaan kalau sudah berkumpul. Namira pasti pusing melihat tingkah gak jelas kalian berdua. Sini, Mira … mendingan kamu ikut Mama siapin makan malam dari pada meladeni mereka."
"Iya, Ma." Namira menjauh dari jangkauan Saga lalu mengikuti ibu mertuanya ke dapur. Di titik ini Namira sedikit menarik napas lega. Akhirnya ia punya kesempatan untuk menjauhi dua pria itu, pikirnya.
*
*.
*
Namun, kelegaan itu hanya berlangsung sementara. Tak lama kemudian semuanya berkumpul di meja makan, dan itu membuat pikiran Namira menjadi canggung tak karuan.
Namira takut bila mana salah satu anggota keluarga membahas soal kehamilannya di depan Ivan. Kemudian Ivan akan menyadari bahwa hamilnya Namira adalah suatu kejanggalan. Parahnya Ivan menyadari kalau itu adalah anaknya.
Bagaimana ini?
Demi Tuhan Namira belum siap. Sejak tadi perempuan itu terus memikirkan cara supaya Ivan tidak mendengar berita kehamilannya. Tapi bagaimana caranya?
Kepala Namira mendadak berdenyut ngilu hanya karena memikirkan problema satu itu. Saga pun mulai menyadari kalau Namira sejak tadi tidak fokus pada makanannya.
"Ada apa? Kau masih kepikiran tikus yang tadi?" bisik Saga.
"Sepertinya begitu, Mas. Tapi sudah tidak apa-apa, kok." Namira pun menyendok sesuap sup supaya Saga tidak banyak curiga. Ia ingin segera menyelesaikan kegiatan makan itu supaya lepas dari situasi mencekam ini.
"Oh ya, Saga. Ngomong-ngomong kalian sudah memikirkan konsep acara empat bulanan belum? Mau dirayakan di mana? Bagaimana kalau acaranya diselenggarakan di rumah ini?"
Deg.
Akhirnya hal paling tidak ingin Namira dengar keluar dari bibir Nora. Ia sudah menebak kalau permulaaan ini pasti akan diawali oleh ibu mertuanya.
"Aku belum tahu, Ma," jawab Saga datar. Terus terang Saga tidak berniat merayakan acara empat bulanan ataupun tujuh bulanan.
Mengetahui kegundaan sang putra, Tuan Indra langsung menyenggol sang istri supaya tidak membahas soal perayaan.
"Mama bagaimana si, masa Mama tidak tahu situasi Saga," bisik sang suami.
Ivan menjadi manusia paling bodoh di meja makan. Dia terus mendengarkan obrolan semuanya tapi tidak paham dengan arah bicara mereka.
"Kalian semua ini sedang bahas apa, si?Empat bulanan apa? Memang ada yang hamil?"
"Ah, Mama lupa belum memberi tahumu ya? Istri Kakakmu sedang hamil tiga bulan. Sebentar lagi kau akan punya keponakan.
"Uhuk ... uhuk ... Uhuk!" Saat itu juga Ivan langsung terbatuk-batuk.
"Keponakan?
"Apa aku tidak salah dengar?
"Bukannya mereka baru saja menikah, kok bisa hamil?"
Pertanyaan ftontal Ivan membuat semuanya terdiam. Baik Nora dan Tuan Indra tak berani menjawab.
Saga juga hanya diam sambil menahan rasa marah sekaligus malu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
◡̈⃝︎➤N୧⃝🆖LU⃝SI✰◡̈⃝︎👾
kamvret
2023-06-07
1
Fenty Dhani
nah Lo??😳
2023-05-30
0
marisa yohana
jatah mantan yg berbuah anak
2023-05-22
0