Terpaksa Menutupi

"Saga, apa itu kau yang melakukannya?"

Nora menatap tajam pada putranya. Saga tak menjawab. Dia terus menatap Namira dengan pandangan marah luar biasa.

Namira yang ketakutan hanya berani menunduk sambil memperhatikan tangan Saga mengepal kuat di bawah sana.

"Saga! Jawab Mama!" 

Teriakan Nora berikutnya baru berhasil membuat Saga tersadar dari kemarahan. Dia masih diam dan belum mau mengatakan apa-apa.

"Jujur saja Saga. Jika itu bukan anakmu, maka aku akan membawa pulang Namira! Dia tidak layak untukmu," timpal Ayah Namira. Dia juga terus menatap sang putri dengan raut wajah kecewa. 

Cukup lama Saga terdiam. Setelah berhasil menetralkan pikiran Saga menoleh. Dia menatap Papa, Mama, dan juga ayah mertuanya.

"Dia anakku!" 

 Saga berseru lantang. Namira kontan mendongak dengan tatapan tidak percaya. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain. Namira begitu terkejut. Ia tidak menyangka Saga akan menumbalkan diri untuk hal yang tidak dia lakukan sama sekali.

Plak!

Belum hilang keterkejutan Namira, tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Saga. Itu adalah tamparan sang Papa yang sedari tadi diam menahan malu.

"Kurang ngajar kamu Saga! Bisa-bisanya kamu menghamili calon istrimu di luar nikah. Mau ditaruh dimana muka Papa di hadapan Ayah Namira?"

"Aku khilaf," jawab Saga dengan entengnya. Tentunya jawaban itu hanya memancing kemarahan Tuan Indra selaku sang Ayah.

"Apakah kamu pikir alasan khilaf saja cukup bagi Ayah Namira? Dia pasti sangat kecewa padamu Saga! Kamu taruh di mana otak kamu itu," maki Indra kesal.

"Maafkan aku Ayah!" Saga kemudian menatap wajah Ayah Namira. Lalu berbalik menatap Namira kembali.

 "Aku akui aku adalah pria murahan yang tidak bisa menahan hawa nafsuu," lanjut Saga kemudian. Kalimat itu sengaja ia torehkan agar terdengar seperti sindiran di telinga Namira.

Ya, manusia yang sesungguhnya layak dikatakan murahan adalah Namira. Sayangnya Namira tidak tahu kalau dirinya sedang hamil. Andai sejak awal Namira tahu dirinya hamil, mungkin Namira tidak akan mau dinikahi oleh Saga. Pria sebaik Saga tidak layak mendapatkan manusia hina seperti dirinya.

"Sekali lagi aku mohon maaf Ayah. Jika Ayah ingin menghukumku silakan saja. Aku pantas mendapatkan itu karena telah mencoreng nama baik keluarga. Teruntuk Mama dan Papa, kalian juga boleh menghukumku," ucap Saga.

Mendengar itu Namira memelas iba pada Ayahnya. "Ayah, tolong jangan lakukan apa-apa pada Mas Saga. Semua ini salahku, akulah yang menggoda  Mas saga duluan sampai akhirnya kita berbuat hal yang tidak semestinya!" seru Namira.

Dua bola mata Saga membulat. Ia mengutuk wanita itu dalam hati. Bisa-bisanya wanita itu menjalankan sandiwaranya begitu cepat. Apakah selama ini cintanya kepada Saga juga hanya sandiwara?

Sekarang Saga sungguh kehilangan kepercayaannya terhadap Namira.

Tanpa menghiraukan pipinya yang masih panas akibat tamparan sang Papa, Saga terus menatap wanita itu. Tatapan itu jelas mengandung arti yang tidak biasa.

"Sudahlah. Semua sudah terlanjur terjadi. Toh mereka juga sudah menikah. Jadi kita cukup tutup mulut. Biarlah Saga dan Namira menjalani pernikahannya dengan tenang," ujar Ayah Namira berusaha mengerti. "Berdebat juga tidak ada gunanya. Aku tidak ingin kandungan yang ada di perut Namira kenapa-napa lagi."

"Tolong maafkan putra kami, Pak Aksan! Semua itu benar-benar di luar dugaan kami." Nora menunduk malu. Rasanya ia ingin sekali menguliti anak habis-habisan karena sudah mempermalukan orang tua di hadapan sang besan.

Tanpa mereka tahu, posisi Saga sekarang hanyalah korban. Jangankan menitipkan benih sebelum menikah, menyentuh bagian tubuh dalam Namira saja ia tidak pernah.

Selama ini Saga benar-bener menghormati Namira sebagai calon wanitanya. Ia ingin mereka berdua sama-sama melakukan itu tepat di malam pertama.

Tetapi? Kenyataan yang Saga dapat di luar perkiraannya. Gadis yang selama ini Saga anggap wanita paling baik adalah gadis yang menghancurkan semua harapannya. 

Saga benar-benar kecewa pada Namira.

***

Setelah perdebatan antar keluarga itu mereda, dokter kembali masuk ke ruangan. Beliau berkata bahwa Namira sudah diperbolehkan pulang. Dia tidak harus di opname, hanya perlu istirahat dan menenangkan diri.

Saga kemudian meminta izin pada kedua orang tuanya untuk membawa Namira ke rumah baru mereka. Tentunya Nora tidak setuju, tapi Saga terus memaksa dengan alasan ingin menjaga Namira lebih intens lagi. 

Saga berjanji akan memastikan Namira dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi semua itu jelas hanya omong kosong. Karena sekarang, hati Namira jauh dari kata baik-baik saja. Namira sudah bisa menebak apa yang akan Saga lakukan kepadanya ketika mereka sampai di rumah baru nanti.

Sepanjang perjalanan mereka menuju rumah baru Saga tak bicara sepatah kata pun. Tatapannya  terlalu fokus mengemudi dan membelah jalan raya. Namira juga terlalu takut untuk bertanya kepada lelaki itu. Jadi dia memilih untuk menunduk sambil meredakan pikiran yang berkecamuk.

Sekitar setengah jam kemudian mobil Saga berhenti di depan pelataran rumah. Namira hendak bicara, tapi Saga langsung turun tanpa menghiraukan perempuan itu.

"Mas Saga!" Namira berusaha mengejar Saga sampai masuk ke dalam rumah. "Maafkan aku Mas! Aku sungguh tidak tahu kalau aku sedang ham—"

Plakk!

Saga menampar Namira hingga tubuh lemahnya terjatuh ke lantai. Dia menangis, tapi kemarahan Saga jauh lebih besar dari rasa belas kasihnya.

"Bangunlah! Apa kau sedang berpura-pura menjadi manusia lemah supaya aku memaafkanmu? Cih!" Saga meludah ke sembarang arah.

Perempuan itu tidak habis akal. Namira berlutut di kaki Saga sambil memeganginya. "Tolong maafkan aku Mas! Aku tahu aku salah," lirihnya. 

Saga semakin disulut oleh emosi. Dia bangunkan Namira dengan kasar lalu ia dorong tubuhnya ke permukaan tembok. 

"Dengan siapa kau melakukan itu?" desak Saga. Hanya itulah yang ia butuhkan saat ini.

"Mas, tolong maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu kalau aku hamil? Kalau aku tahu sejak awal juga aku tidak mungkin mau menikah denganmu."

"Memangnya sekarang itu penting?" Saga menaikkan sebelah alisnya. Ia cengkram wajah wanita itu sambil menatapnya dengan muka garang. Sementara tangan satunya lagi bergerak ke arah perut. Saga menekan perut Namira dengan satu tangan.

"Siapa ayah dari bayi ini?" tanya Saga penuh penekanan. Seketika itu juga Namira sangat panik. Kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. Apa yang akan Saga lakukan jika ia sampai mengaku. 

"Maaf aku tidak bisa memberitahumu," lirih Namira pada akhirnya. Tentunya Saga tak bisa menerima hal itu. Ia angkat tangannya tinggi-tinggi bersiap menampar Namira kembali.

"Jangan membuatku semakin emosi Namira!"

Gadis yang sudah tidak perawan itu langsung menunduk ketakutan. Namira berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan supaya tidak ditampar lagi.

Saga perlahan mundur. Dia menjambak rambutnya untuk menetralkan pikiran yang semakin kacau. Dia tatap perempuan yang sedang ketakutan itu menggunakan hati. Terus terang sampai detik ini saga masih tidak percaya kalau darah yang keluar dari pangkal paha Namira ternyata ….

BUKAN DARAH PERAWAN.

Terpopuler

Comments

Laura Wijaya

Laura Wijaya

eee,cerita ini persis di kehidupan nyata Thor,nikahnya barusan hamilnya udan bulanan,pasnya kebongkar ternyata bukan suaminya yg menghamili,dari situlah drama berlanjut🤭

2024-01-17

1

Wiek Soen

Wiek Soen

Namira Namira 😡😡😡

2023-10-22

0

fiendry🇵🇸

fiendry🇵🇸

ijin mampir ya

2023-09-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!