18

Pagi ini Siska awali harinya seperti kemarin, membantu ibunya memasak dan menyiapkan bekal untuk anaknya. Kali ini dari pagi tadi Siska tidak menjawab bahkan bicara satu kata pun dengan Haikal.

Jelas Haikal tidak tau kenapa Siska bersikap seperti itu padanya, tapi Siska lihat suaminya biasa saja dengan itu dan malah terlihat biasa saja.

Siska juga melakukannya dengan santai dan tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan suaminya. Kini dia lebih memilih fokus untuk mengurus anaknya.

Terlihat masih sama dengan kemarin, Siska menunggu Aksel yang sedang disuapi makanan oleh neneknya. Siska sudah berusaha menawarkan diri untuk menyuapi anaknya, tetapi apa boleh buat Aksel menolaknya terang tetangan dan memilih untuk disuapi neneknya.

Selesai kegiatan menunggu anaknya siap, Siska segera mengantar anaknya ke sekolah dan pulang setelahnya. Daripada Siska diam dirumah, Siska memutuskan untuk menyusul ibu dan bapaknya ke sawah sembari menunggu anaknya pulang sekolah.

Sudah lama tidak terpapar sinar matahari begitu panasnya, Siska merasa kelelahan baru beberapa menit berjemur.

Bagaimana lagi, beberapa tahun Siska bekerja ditempat yang nyaman dan tidak kepanasan setiap harinya.

Ibu Sri yang melihat anaknya terlihat sudah kelelahan itu pun seperti biasa akan mengejek anaknya.

“ Begitu saja sudah duduk” Ucap ibu Sri.

“ Panas bu, Siska ngga kuat” Ucapnya sembari menyeka keringat diwajahnya yang hampir memenuhi seluruh wajah.

“ Gaya sekali, panas sedikit saja ngeluh. Makannya kamu biasaain kena panas biar ngga ngeluh terus” Ucap ibu Sri.

Memang begitulah sifat sang ibu yang selalu meremehkan kemampuan anaknya. Siska yang mendengar itu hanya pasrah dan tetap membantu sang ibu.

Sore pun tiba, Siska mengajak pulang agar Siska bisa menjemput anaknya. Selesai pulang dan membersihkan diri Siska segera menjemput anaknya agar anaknya tidak menunggunya terlalu lama.

Sesampainya di sekolah ternyata anaknya sudah menunggu dan duduk diatas tempat duduk panjang yang terbuat dari beton.

“ Aksel” Panggil Siska sedikit panik.

“ Iya ma” Jawabnya setelah menoleh ke arah Siska.

“ Yaampun maaf ya nak mama telat, tadi mama bantu nenek di sawah” Ucap Siska memperjelas.

“ Iya ma nggapapa kok, biasanya juga Aksel jalan kaki soalnya jarang dijemput. Cuma ini Aksel ngga jalan kan mama sudah bilang kalau belum dijemput sama mama Aksel belum boleh pulang” Ucap Aksel.

Siska memang pernah memperingati Aksel, jika Aksel belum dijemput lebih baik menunggu disekolah saja agar aman.

Siska yang mendengar penjelasan anaknya itu begitu senang, pasalnya anaknya menurut apa yang Siska katakan. Padahal jika memang dia ingin pulang jalan dengan teman temannya bukan hal yang bermasalah selagi tidak sendirian.

Tidak menunggu lama, Siska pun menyuruh Aksel untuk segeran naik ke atas motor.

“ Aksel mau jajan sama mama ngga?” Tanya Siska.

“ Emang kau jajan apa ma?” Tanya Aksel yang sudah naik dan siap.

“ Apa aja yang kamu mau” Ucap Siska dengan senyuman tulusnya.

“ Boleh ma, Aksel mau es crem dan apa lagi ya” Ucapnya sembari berpikir keras.

Siska yang melihat tingkah gemas anaknya itu hanya bisa tertawa kecil.

“ Yasudah yang penting kamu mau, kita jalan jalan sambil cari jajan ya” Ucap Siska yng disetujui oleh Aksel.

Siska segera memutar kunci motor dan mulai menyalakan mesinnya, perlahan Siska mulai menarik pegangan motornya dan mulai menjalankan motornya perlahan.

Kini mereka sedang asik memilih apa saja yang akan mereka beli, Aksel sempat berpikir ingin beberapa makanan yang sudah terbayang di otaknya.

Tapi kenyataannya lebih dari itu, setiap makanan yang terlihat enak Siska selalu berhenti dan membelinya membuat Aksel kualahan dan tidak kuat lagi untuk memakan makanan yang dibeli oleh mamanya tersebut.

Karena melihat Aksel yang begitu kekenyangan sedangkan Siska pun merasakan hl yang sama, akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi kuliner hari ini dan segera pulang kerumah.

Sesampainya dirumah Aksel yang memang sudah tidak kuat karena kekenyangan segera pergi ke kamarnya dengan bergeleyotan.

Tidak peduli masih memakai seragam sekolahnya Aksel membuang badannya ke atas kasur nyamannya dan tidak butuh waktu lama dia pun tertidur.

Siska yang melihat tingkah anaknya itu pun hanya bisa tertawa kecil. Dia tidak akan memarahi anaknya karena tidur dengan seragamnya pasalnya ini semua juga ulah Siska sendiri.

...*****...

Malam ini Siska memutuskan untuk segera tidur, tapi disisi lain Haikal yang baru selesai mandi itu mulai mengganggu Siska dengan memeluk dan sedikit mencium kepala bagian belakang Siska.

Hal itu pun cukup mengganginya, Siska pun tanpa ragu segera melepaskan diri dari pelukan orang yang bahkan tidak dia cintai itu.

“ Kamu kenapa sih, seharian ngga ada ngomong sama aku?” Tanya Haikal yang mulai merasa aneh dengan sikap istrinya tersebut.

“ Tidakpapa” Jawab Siska singkat.

“ Tidak mungkin tidak papa tapi kamu begitu” Ucap Haikal tidak percaya.

“ Jika kamu tau kenapa tanya” Jawab Siska dengan ketus.

“ Memang aku salah apa?” Tanya Haikal.

“ Kamu tidak sadarkah?” Tanya balik Siska yang mulai kesal itu.

“ Ya kalau kamu tidak beri tau, mana aku tau letak kesalahanku” Ucap Haikal yang ikut sedikit kesal.

“ Wanitamu kemarin menelponmu tapi aku yang angkat telponnya, apa dia tidak lapor padamu?” Ucap Siska dengan santai.

Kini terlihat wajah Haikal yang mulai gelisah mencari jawaban apa yang bisa buat Siska percaya padanya.

“ Wanita mana? Salah sambung kali” Ucap Haikal membela diri.

“ Salah sambung? Jelas jelas dia sebut namamu, bahkan dia bilang dia pacarmu dan aku ini adik sepupumu sedangkan Aksel adalah anak dari adik sepupumu ini yang dititipkan ke kamu” Ucap Siska sedikit menekannya.

Jelas Haikal merasa tertampar kali ini, kini Haikal mulai kikuk dan bingung ingin menjawab apa. Sedangkan Siska jelas masih santai saja dengan masalah ini walaupun dia sedikit kecewa karena anaknya sendiri tidak diakui oleh pria bejat ini.

“ Masa sih, aku cek hp ku tidak ada kok. Mungkin itu salah sambung dan pas namanya sama kayak aku” Ucap Haikal berusaha meyakinkan Siska.

“ Banyak sekali alasanmu. Dengar ya, disini aku bukan cemburu atau apa. Bahkan aku saja tidak ada rasa apapun denganmu. Tapi aku kira kamu bakalan menyayangi anak kandungmu sendiri dengan baik tapi kenyataannya kamu bahkan tidak mau mengakuinya sebagai anakmu” Ucap Siska.

“ Orangtua macam apa kamu ini, ingat ya mau sampai kapan pun kamu buat cerita ke Aksel. Dia akn paham sendiri suatu saat nanti, karena dia bukn anak kecil lagi nantinya dan bahkan otaknya jauh lebih bisa berpikir daripada orang dewasa sepertimu” Tambah Siska yang memang sudah kesal dari kemarin.

“ Kamu kenapa sih selalu saja ngrendahin aku, ingat Siska ya! Aku ini suamimu, harusnya kamj itu bersikap baik dan patuh pada suamimu. Kamu sendiri urus anak aja ngga bisa sok sok an mau jadi baik” Ucap Haikal membela diri.

“ Ngga baik urus anak katamu. Ngga baik mana sama kamu yang bahkan tidak mengakui anak kandungnya sebagai anaknya sendiri. Sedangkan aku cari uang mati matian biar anakku bisa hidup senang” Ucapnya Siska.

“ Iya aku memang cuma mampu segini ngga bisa kayak kamu, tapi setidaknya aku masih usaha biar bisa lebih dari kamu” Ucap Haikal.

“ Dengar Haikal, usaha dan berjuang itu tujuannya buat anak dan keluarga. Bukan buat bersaing kayak gini” Ucap Siska.

Suasana pun semakin keruh, Siska yang kecewa dan terus mengoceh sedangkan Haikal yang mencoba untuk membela diri dan tidak terlau mendengarkan ocehan Siska.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!