6

Setelah kejadian pertengkaran itu, Siska mulai melihat sifat asli dari suaminya yang membuat Siska semakin muak. Apalagi Haikal yang terus memaksa Siska untuk melayaninya sedangkan Siska yang merasa jijik dengan hal itu.

Sejak saat itu mungkin Siska bisa dipanggil dengan istri yang tidak menghormati suaminya, tapi apa boleh buat, dengan kelakuan suaminya sendiri yang bahkan tidak menghormati Siska sebagai istrinya juga membuat Siska semakin muak.

Siska yang terus membantu ibunya disawah sedangkan Haikal entah pergi kemana dengan alasannya mencari pekerjaan.

...*****...

Malamnya Siska menyiapkan makanan seperti biasanya.

“Bu, Gio mau pamit kerja jauh di luar pulau” Ucap Gio tiba tiba.

“Kakak kok tiba tiba banget” Ucap Siska yang terkejut mendengar ucapan kakaknya tersebut.

“Iya Siska, kemarin teman kakak pulang dan ternyata dia dapat kerja bagus disana dan gajinya juga lumayan” Ucap Gio.

“Iya kalau itu keputusanmu ibu dukung saja” Ucap Ibu Sri.

“Kalau bapak gimana?” Tanya Gio sekali lagi kepada ayahnya.

“Bapak sih dari dulu ngga pernah larang kalian untuk mengejar keinginan kalian, yang penting satu tidak lupa sama keluarga” Ucap ayah.

Gio yang mendengar itu senang bukan main, sebenarnya Gio sudah nyaman dengan pekerjaannya ditempat itu, tapi dia juga menginginkan gaji yang sedikit besar agar bisa membahagiakan orangtuanya.

Mereka pun melanjutkan acara makan malam mereka dan mencoba membuat momen bahagia sebelum Gio berangkat besok. Sedangkan Haikal dia belum pulang dari tujuannya, Siska pun berharap Haikal tidak akan kembali lagi kehadapannya.

...*****...

Tiga hari berlalu, Haikal baru pulang dari tujuannya yang entah kemana itu. Siska yang melihat suaminya pulang pun sedikit kesal.

“Dari mana aja? Kenapa pulang juga” Ucap Siska kesal.

“Cari kerja” Ucap Haikal.

“Sudah dapatkah kok pulang segala” Tanya Siska.

“Sudah” Jawab Haikal singkat lalu meninggalkan Siska masuk kedalam.

Siska sedikit lega karena suaminya sudah mendapatkan kerja. Sebenarnya Siska bukan marah karena masalah hutang kemarin, yang membuat Siska marah karena suaminya tidak mencari kerja sama sekali dan cuma duduk duduk dirumah.

Siska yang setiap hari harus bekerja dengan ibunya disawah, terkadang menjual hasil panennya sendiri tanpa bantuan suaminya. Anehnya ibu Sisksa tidak mempermasalahkan hal tersebut dan tetap percaya saja dengan Haikal.

Beberapa hari berlalu, kabar baru yang dialami Siska adalah dia hamil. Ini menjadi stres baru baginya, bukan karena dia tidak mau memiliki anak tapi dia takut jika suaminya tidak dapat mengurus anaknya.

Seperti biasa Haikal yang selau berpergian tanpa peduli kondisi Siska yang sedang hamil. Siska tetap tidak mempedulikan Haikal yang sering tidak ada dirumah.

Walaupun hamil Siska tetap pergi kesawah dan menjual halis panennya untuk menambah tabungannya, terkadang dia masih bekerja mengumpulkan kayu kayu kering untuk dijual.

Ayah Siska pun tetap bekerja juga, selain tidak betah dirumah karena ibu Siska sering marah marah. Ayah Siska juga ingin membantu mengumpulkan uang untuk cucunya kelak.

“Hufff maaf ya nak, ketika kamu lahir nanti kamu harus berjuang bersama mama” Ucap Siska sembari mengelus elus perutnya.

“Siska makan dulu sini” Ucap ibu Sri dari dalam.

Siska pun segera masuk dan ikut makan bersama ibunya.

“Jaga kesehatanmu saat kamu hamil. Biar cucuku nanti sehat” Ucap ibu Sri sembari mengambilkan makanan untuk Siska.

“Dari dulu ibu dan bapakmu pengen sekali cucu perempuan” tambah ibu Sri.

“Iya bu, doain saja nanti cucumu ini perempuan terus sehat” Ucap Siska.

“Ibu selalu doain kok nak” Ucap ibu Sri.

...******...

Tidak terasa Siska sudah mau lahiran, perutnya mulai terasa sakit, untuk pergi kerumah sakit pun tidak bisa karena jauh. Sedangkan Haikal yang terlihat kebingungan hanya bisa melihat istrinya terkapar.

Ayah Siska segera lari dan mencari dukun atau bidan disusul oleh Haikal. Ibu Sri menghampiri Siska memeluknya dan menenangkan anaknya.

“Sebentar dulu ya Siska, bapak sedang pergi dengan suamimu mencari bidan” Ucap ibu Sri berusaha menguatkan anaknya.

Ibu Sri pun keluar sebentar mengambilkan air minum untuk anaknya. Tidak lama itu pun ayah dan Haikal kembali kerumah dengan membawa dukun beranak. Karena mencari bidan saat itu susah dan agak jauh jadi mereka memilih untuk mencari dukun.

Tidak lama pun terdengar tangisan bayi dari dalam ruangan tempat Siska melahirkan. Seluruh keluarga pun senang mendengarnya apalagi saat dukun tersebut keluar dengan menggendong bayi perempuan.

“Selamat ya, bayinya perempuan” Ucap mbah dukun.

Sontak mereka sangat bahagia sekali mendengarnya, akhirnya keinginan mereka semua untuk memiliki bayi perempuan pun terwujud.

“Gimana keadaan Siska mbah?” Tanya Haikal.

“Dia baik baik aja didalam, ini bayinya mbah bawa masuk ya biar disusui ibunya” Ucap dukun sembari membawa bayi cantik itu kembali kepelukan ibunya.

“Nak Siska ini bayinya perempuan, cantik lagi mirip banget sama kamu” Ucap mbah dukun setelah memberikan kembali bayi kecil Siska.

Siska yang melihat betapa cantik dan sehatnya anaknya itu seketika merasa tertegun. Hatinya seperti berbunga bunga serta merasa bangga akan perjuangan dirinya melahirkan anak yang begitu cantik dan sehat.Mereka sudah sepakat memberi nama anaknya *Akselia**.*

...*****...

Seperti biasa pasti acara acara selalu diadakan untuk kelahiran bayi tersayangnya. Banyak saudara dan tetangga yang hadir dalam acara.

Siapa yang tidak akan senang jika melihat bayi selucu itu. Banyak yang mengucapkan selamat atas lahirnya anak pertama Siska.

Baru kali ini Siska ikut merasa senang yang amat tinggi. Apalagi saat melihat bayi kecil kesayangannya itu tersenyum, itu sangat membuat hati seorang ibu anak satu ini begitu bahagia.

“Selamat ya Siska, anak kamu lucu sekali lagi” Ucap salah satu tetangga Siska.

Banyak pujian pujian yang dilontarkan orang orang kepada Siska membuat Siska merasa sangat bahagia. Sudah lama dia tidak merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan saat ini.

“Siskaaa selamat yaa” Ucap Santi salah satu sahabat Siska.

Siska sudah jarang ketemu Santi karena dia sibuk bekerja. Tapi saat ini Santi rela mengambil cuti hanya untuk melihat bayi kecil sahabatnya ini.

“Astaga Santi kamu ini sampai cuti segala ya” Ucap Siska.

“Kan demi bayi kecil cantik ini” Ucap Santi sembari mencubit lembut pipi anak Siska.

“Aku makasih sekali ya, kamu sudah rela lo demi datang kesini” Ucap Siska.

“Ngga usah terlalu berlebihan gitu kamu Siska, kayak sama siapa aja kamu ini” Ucap Santi.

Semakin malam tamu pun semakin ramai memenuhi rumah Siska, banyak juga bapak bapak yang begadang. Acara pun berjalan hingga satu minggu kedepan.

Siska yang sibuk dengan dunianya sendiri bersama bayi kecil tersayangnya itu tidak peduli dengan suami atau bahkan orang yang berdatangan. Siska tetap bermain dan menjaga anaknya dengan penuh rasa bahagianya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!