Selesai masuk Siska pun duduk di kursi tamu, tidak lupa Wahyu membuatkan Siska teh hangat agar menenangkan pikirannya.
“Ini Siska ada teh hangat buat kamu, ayo diminum dulu biar kamu tenang” Ucap Wahyu sembari menyodorkan secangkir teh hangat untuk Siska.
Siska pun menerima niat baik Wahyu dan meminum teh hangat yang sudah dibuatkan oleh Wahyu, setelah meminumnya memang benar suhu tubuh Siska terasa sedikit hangat serta pikiranmnya ikut sedikit tenang.
“Jadi bagaimana? Kamu mau cerita sekarang atau nanti?” Ucap Wahyu.
“Kak, Siska dijodohin” Ucap Siska pelan.
“Dijodohin sama siapa?” Tanya Wahyu dengan nada yang ikut pelan.
“Siska ngga kenal kak, tadi Ibu Karti datang membawa mereka, katanya itu saudaranya dari rt sebelah” Ucap Siska yang terlihat matanya mulai berkaca kaca lagi.
“Hmm. Untuk hal nikah kakak ngga bisa bantu Siska maaf ya. Tapi ya bagaimana lagi kamu harus tetap memikirkannya baik baik, nikah itu cuma sekali seumur hidup” Ucap Wahyu.
Bukan berarti Wahyu tidak mau membantu, tetapi dia tidak bisa membantu Siska. Apalagi ini soal kekeluargaan orang lain, walaupun Siska saudara Wahyu namun Wahyu tidak bisa membantu, selain takut dimarahi orangtuanya sendiri dia juga takut jika orangtua Siska marah dengannya.
Selesai cukup curahatan hatinya kepada saudara laki lakinya, Siska memutuskan untuk pulang. Walaupun dia tidak tau lagi kelanjutannya harus berbuat apa, Siska hanya bisa pasrah dan mengikuti alur hidupnya.
“Siska, kamu dari mana? Bikin malu ibu aja” Ucap Ibu Sri dengan suara sedikit naik.
Ternyata saat sampai dirumah, tamunya tadi sudah pulang. Siska yang mendengar ocehan ibunya itu berusaha untuk mengabaikannya dan segera pergi ke kamar tidurnya dan mengunci pintu kamarnya.
“Orangtua kalau lagi bicara itu didengar Siska, tidak sopan sekali kamu lewatin ibu kayak gitu” Tambah Ibu Sri yang semakin menaikkan nada bicaranya ketika melihat anaknya yang mengabaikannya begitu saja.
...*****...
Keesokan harinya Siska bangun dengan mata sembabnya yang hampir terasa tidak bisa membuka matanya. Ketika melihat jam dinding dikamar Siska, jam sudah menunjukan pukul 12.45 siang.
Wajar saja dia bangun siang, pasalnya semalaman Siska hanya menangisi nasib hidupnya sampai mau tidur pun rasanya matanya enggan untuk tertutup.
Siska memilih untuk mengurung dirinya dikamar, tidak peduli mau perutnya meronta ronta minta makan atau bahkan tenggorokannya berteriak kekeringan, Siska tetap tidak akan peduli dan memilih untuk tetap tinggal didalam kamarnya.
Hingga malam pun tiba, Siska baru keluar setelah mendengar panggilan dari Ibunya yang terdengar menawarkan makanan kepada Siska dengan nada yang mulai sedikit enak didengar.
Siska dan Ibunya pun makan di ruang makan berdua, kakaknya seperti biasa masih bekerja sedangkan ayahnya juga sedang pergi kesawah untuk mengairi sawahnya.
“Permisi Ibu Sri” Ucap seseorang yang nadanya terdengar dari teras rumah Siska.
Siska dan Ibunya pun menuju kedepan untuk membukakan pintu, ternyata tamunya adalah Ibu Karti yang membawa pria yang sama dihari kemarin.
Ibu Sri pun mempersilahkan tamunya untuk masuk dan membuatkannya teh serta tidak lupa dengan cemilannya.
“Nah ini ibu sri, saya bawakan lagi nak Haikal yang masih ingin melamar anak ibu” Ucap Ibu Karti.
“Mohon maaf bu Karti sebelumnya, tapi kemarin saya sudah menolak lamaran ini” Ucap Siska membela diri.
“Aduh nak kamu ini, masih untung ada yang mau lamar. Kamu ini mumpung masih muda cepat cepat nikah, kamu mau apa jadi perawan tua” Ucap Ibu Karti kepada Siska.
Siska yang mendengarnya sedikit sakit hati, apalagi saat melihat ibunya yang terlihat ikut sakit hati mendengar perkataan Ibu Karti. Disini Ibu Sri sudah tidak bisa berkata kata lagi.
“Siska, kamu ngga kasihan sama ibu kamu yang ditinggal semua anaknya bekerja, daripada kamu ninggalin ibu kamu cuma buat kerja mending nikah aja biar kamu bisa dirumah temenin ibumu” Tambah Ibu Karti.
Siska terlihat semakin hampa dengan perkataan Ibu Karti yang begitu kejam, apa salah Siska kepada ibu Karti sampai dia menghancurkan hidupnya.
Siska berusaha untuk menarik panjang nafasnya itu yang terasa berat dihirupnya, mencoba menenangkan diri dan mencoba memilih keputusan yang baik baginya dan keluarganya.
“Baik, Saya menerima tawarannya” Ucap Siska sambil tertunduk pasrah.
“Wah akhirnya kamu memilih pilihan yang tepat Siska” Ucap Ibu Karti lega.
Haikal yang sedari tadi belum diberi kesempatan untuk mengutarakan kata katanya pun ikut senang karena tawarannya diterima. Apalagi Ibu Sri juga ikutan lega mendengar keputusan anaknya.
Merasa bertamunya sudah cukup, Ibu Karti dan Haikal pun memutuskan untuk berpamitan pulang.
...*****...
Keesokan paginya Ibu Sri sudah bingung menyatat kebutuhan apa saja dan persiapan apa saja yang harus dia lakukan.
“Ibu sedang apa?” Tanya Gio.
“Lagi sibuk, kamu beberapa hari ini jangan masuk kerja dulu ya bantuin ibu sama bapak” Ucap Ibu Sri yang masih sibuk menulis sesuatu dibuku kosongnya.
“Loh ada pa bu, sampai disuruh libur segala?” Tanya Gio yang memang belum tau persoalan adiknya yang mau menikah.
“Adik kamu sebentar lagi akan menikah” Ucap Ibu Sri antusias.
“Apa bu,menikah? Siapa calonnya kok Gio nggatau” Ucap Gio terkejut. “Harusnya Siska menikah setelah Gio menikah bu” tambahnya.
“Alah tidak papa, kamu kan bisa menyusul nanti. Lagian Siska kok yang mau sendiri” Ucap Ibu Sri yang masih sibuk dengan urusannya itu.
Gio yang mendengar hal ini benar benar tidak menyangka, dia segera menemui adiknya di dalam kamarnya.
“Siska” Ucap Gio setelah sampai ke dalam kamar Siska tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
“Apa apaan maksudnya ini? Kenapa kamu mau menikah Siska?” Tanya Gio yang sedikit tersulut emosi itu.
Siska berusaha menutupi kejadian aslinya agar ibunya tidak kecewa atau memarahinya, jika dia beri tau yang sebenarnya pasti kakaknya akan langsung memarahi ibunya habis habisan termasuk ayahnya.
Walaupun di awal ayah Siska tau tentang perjodohan itu, tapi sebenarnya ayahnya tidak terlalu ingin memaksa Siska untuk segera menikah.
“Emang mau Siska kok kak” Jawab Siska yang tidak berani menatap wajah kakanya tersebut.
“Jujur Siska, mana mungkin kamu tiba tiba mau menikah, kamu aja dari dulu tidak ada dekat dengan pria, atau jangan jangan pas kamu kerja kamu kenal dengan pria disana. Kamu buat aneh aneh ya Siska” Ucap Gio yang masih belum bisa mempercayai keputusan adiknya itu untuk menikah.
“Ngga kok kak, pria ini dari rt sebelah namanya Haikal, dia datang kesini kemarin untuk meminta Siska jadi Siska mau aja” Jawab Siska berusaha senatural mungkin.
“Mana mungkin kamu langsung mau, pasti dipaksa sama ibu ya. Bilang iya Siska kakak bisa batalin nikah kamu kalau kamu terpaksa begini” Ucap Gio.
“Ngga kok kak, emang ini niat Siska sendiri ibu ngga paksa kok” Ucap Siska.
“Tapi kamu belum waktunya Siska, kamu mau langkahin kakakmu” Ucap Gio yang masih berusaha untuk menyadarkan adiknya.
“Maafin Siska ya kak, Siska langkahin kakak dulu” Ucap Siska.
Gio yang melihat jawaban adiknya yang terlihat tidak berbohong tapi masih membuat Gio belum yakin itu akhirnya memutuskan untuk keluar kamar meninggalkan adiknya sendiri di kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments