Pagi ini Siska bangun awal agar bisa membantu ibunya memasak. Terlihat mereka berdua sedang sibuk memasak didapur.
“ Hari ini aku mau antar Aksel sekolah bu” Ucap Siska di tengah kegiatan masak mereka.
“ Iya terserah saja” Ucap Ibu Sri.
Mereka pun melanjutkan kegiatan masak mereka hingga selesai, Siska pun terlihat sibuk menata makanan ke dalan kotak bekal agar bisa dibawa anaknya ke sekolah.
“ Mama buat apa?” Ucap Aksel yang sudah terlihat rapi dengan baju seragamnya.
“ Loh kok sudah siap, siapa yang pakaikan baju?” Tanya Siska.
“ Papa, tapi papa sudah berangkat kerja. Katanya nanti mama yang mau antar ke sekolah” Ucap Aksel.
“ Iya mama mau antar Aksel. Ayo kita sarapan, ini mama buatin bekal buat Aksel” Ucap Siska.
“ Wah bekal dari mama” Ucap Aksel terlihat senang lau mengambil bekal dan memasukkannya kedalam tas ransel miliknya dengan begitu hati hati.
“ Ayo sini, nenek suapin” Ucap ibu Sri.
“ Yeaayyy….” Ucap Aksel dilanjut berlari kecil menghampiri neneknya.
“ Lihat ni anakmu, makan saja harus disuapin” Ucap ibu Sri sembari memasukkan nasi kedalam mulut Aksel dengan lembut.
“ Gapapa dong bu, berarti Aksel sayang sama neneknya” Ucap Siska terkekeh.
“ Harus dong, awas aja anak nakal ini tidak sayang sama neneknya” Ucap ibu Sri yang masih fokus dengan suapannya.
“ Aksel sayang kok sama nenek, sayang sekali” Ucap Aksel dengan suara yang sedikit terseret karena mulutnya penuh dengan makanan.
“ Kalau lagi makan itu jangan banyak ngomong, ditelan dulu baru ngomong” Omel ibu Sri.
Tidak berselang lama pun akhirnya acara sarapan pagi selesai, Siska pun segera menyiapkan motor untuk mengantar anaknya sekolah.
Selama sembilan tahun, Siska beberapakali mengubungi Santi sahabatnya. Dia selalu bertanya tentang kabar anaknya, saat itu Siska berniat untuk membelikan motor agar keluarganya tidak kesusahan.
Pertama kali Siska menitipkan uang kepada Santi untuk diberi kepada neneknya, Siska sempat berpesan kepada Santi jangan sampai orang rumah tau jika Siska sering menghubungi Santi.
Saat itu Santi memeberikan amplop berisi uang kepada ibu Siska dan berkata itu dari Siska dan Siska berpesan untuk digunakan membeli motor.
Ibu Sri pun mematuhi perkataan Santi dan menggunakan uang itu untuk membeli motor, tapi beberapa tahun kemudian Santi menghubungi Siska.
Ternyata yang menyuruhnya adalah Haikal, Santi berkata jik Haikal ingin membeli motor lagi dengan alasan motor sebelumnya sering rusak dan Aksel sebentar lagi akan naik ke bangku SMP.
Siska yang paham dengan sifat Haikal yang memang tidak mau berusaha itu akhirnya menurut saja dan langsung mengirimkan uang lewat Santi lagi.
Kini motor yang digunakan Siska untuk mengantar anaknya adalah motor keduanya. Memang tidak pernah merasa sia sia jika semua itu demi anaknya. Mau uang seberapa pun Siska akan jabani demi anaknya selagi dia masih mampu mencari uang sendiri.
“ Sudah?” Tanya Siska setelah dirasa Aksel naik ke atas motor.
“ Sudah ma” Ucap Aksel setelah berpegangan tidak terlalu kuat di pinggang Siska.
Siska pun mulai melajukan motornya pelan, setiap perjalanan Siska selalu berusaha melontarkan pertanyaan pertanyaan ringan untuk anaknya agar hubungan mereka tidak terhalang terlalu jauh.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Aksel pun turun perlahan dari atas motor. Setelah dirasa kakinya menginjak tanah, Aksel segera memposisikan badannya untuk menjabat tangan mamanya dan berpamitan.
“ Mama, bolehkah Aksel cium pipi mama?” Tanya Aksel dengan nada yang begitu lirih tapi masih bisa didengar oleh Siska.
Jelas Siska yang mendengar permintaan langka dari anaknya itu pun segera mendaratkan pipinya kearah wajah mungil anaknya.
Cuuppp…..
Rasanya seperti mimpi, hatinya mulai terasa teraduk tidak karuan, Siska sedikit melemah karena perlakuan anaknya yang sangat tidak terpikir tapi selalu dinantikanoleh Siska.
Aksel pun segera berpamitan dan berlari kecil memasuki gerbang sekolah, Siska yang mematung pun masih melihat langkah kecil yang begitu gemas dari anaknya.
Semoga hubungannya semakin baik dengan anaknya, begitulah keinginan Siska.
“ Loh Siska ya, kapan pulang” Ucap seorang wanita yang umurnya sedikit lebih tua dari Siska.
Siska yang memang melamun dari tadi karena memperhatikan anaknya itu pun seketika terkejut dan sedikit terjungkat dengan suara wanita tersebut.
“ Eh mbak Yeni, iya aku baru pulang kemarin” Jawab Siska segera.
“ Oalah, tambah pangkling aku. Terus kamu masih mau berangkat lagi?” Tanyanya.
“ Belum tau mbak hehe” Ucap Siska sedikit malas.
“ Aduh… Kalau bisa jangan Siska, kasihan suami dan anakmu ngga ada yang urus. Lagian kamu kan perempuan ngapain kerja mati matian, suamimu kan masih mampu bekerja” Ucapnya
Beginilah malasnya Siska jika berada dilingkungan ini, orang orang terlalu ikut campur dengan masalah orang lain. Siska yang mendengar itu jelas merasa sedikit sakit tapi masih bisa ditahan karena sudah terbiasa.
Siska hanya tersenyum dan mengiyakan saja ucapan dari wanita itu, tak lama kemudian Siska pun berpamitan pulang karena telinganya sudah tidak tahan.
...******...
Selesai menghabiskan waktu dengan anaknya, Siska pun masuk kamar dan mulai beristirahat membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang dia gunakan dengan suaminya.
Suaminya sedang mandi karena baru saja pulang dari kerjanya, mungkin dia akan sedikit lama karena lanjut makan pastinya.
Ddrrrtttt…..
Mata yang hampir terpejam itu pun sontak membelalak terkejut karena mendengar bunyi telpon dari ponsel suaminya yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.
SMS…
Itulah nama yang tertera yang muncul dilayar ponsel jadul suaminya, dirasa suaminya masih lama Siska yang penasaran pun segera mengangkat panggilan yang terus berdering itu.
“ Halo??” Ucap Siska.
“ Halo” Jawab seseorang di sebrang sana yang membuat Siska begitu terkejut.
Bagaimana tidak terkejut sedangkn suara dari orang didalam panggilan itu adalh suara wanita.
“ Ini siapa ya?” Tanya Siska.
“ Saya Sintia mbak. Mbak pasti sepupunya mas haikal ya?” Ucap wanita yang mengaku bernama Sintia tersebut.
“ Sepupu? Maksudnya apa ya mbak?” Tanya Siska yang masih tidak paham itu.
“ Iya, katanya mas Haikal. Dia punya adik sepupu yang kerja jauh pasti mbak ya, anaknya gimana mbak kabarnya? Kata mas Haikal mbak nitipin anak mbak ke mas Haikal” Ucap Sintia.
Mendengar penjelasan itu jelas Siska naik pitam, rasanya seluruh badannya ingin meledak. Bukan cemburu yang dirasakan Siska lebih ke kecewa karena suami tidak bertanggung jawab itu tidak mengakui Aksel sebagai anaknya.
Buat apa Siska cemburu sedangkan dari awal pernikahan saja Siska tidak pernah mencintai bahkan tidak pernah bisa mencintai Haikal.
“ Haikal bilang begitu ya mbak? Memang mbak ini siapanya Haikal sampai Haikal bilang begitu sama kamu” Ucap Siska.
“ Saya pacarnya dong mbak, kami ini dulu sudah pacaran 10 tahun tapi pas mau menikah keluargaku belum bisa menerima mas Haikal dan menjodohkanku dengan pria lain, sekarang aku sudah bercerai dan kembali ke mas Haikal” Ucap Sintia.
“ Oh begitu ya, yasudah ya mbak saya tutup dulu. Haikal lgi sibuk” Ucap Siska.
“ Oh gitu ya mbak, yasudah makasih ya mbak. Mbaknya jangan kerja terus kasian anaknya” Ucap Sintia di akhir percakapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments