15

Beberapa hari kemudian akhirnya ibu Isna sudah pulang dari liburan dengan keluarganya. Seperti dugaan karyawan di restaurant tersebut, ibu Isna membawakan banyak sekali oleh oleh untuk diberikan kepada karyawan karyawannya.

Satu persatu ibu Isna memberikannya dengan senang hati, begitu pun karyawan karyawan di sana terlihat begitu bersemangat menerima hadiah dari ibu Isna.

Selesai kegiatan pembagian oleh oleh, mereka melanjutkan aktivitas bekerja seperti biasanya. Siska yang baru saja masuk keruangannya dan membuka buka isi oleh oleh pun tiba tiba pikirannya kembali lagi berputar.

Dia sedang berpikir apakah dia yakin akan kembali kerumahnya sekarang, apa dia sudah siap untuk menerima apa yang akan dia hadapi nantinya.

Setelah berpikir begitu kerasnya, akhirnya Siska memutuskan untuk tetap pulang demi anakanya. Mungkin jika bukan demi anaknya Siska memilih untuk tidak pulang.

Siska mulai beranjk keluar dari ruangannya dan pergi keruangan ibu Siska.

Tokk..Tokk…Tokk…

Suara ketuka pintu terdengar dari ruangan ibu Isna, ibu Isna yang mendengar suara pintunya diketuk itu pun mempersilahkan seseorang diluar sana untuk masuk.

“ Permisi bu Isna, maaf mengganggu waktunya” Ucap Siska.

“ Iya Siska ngga mengganggu kok. Ada yang bisa ibu bantu kah?” Tanya ibu Isna setelah mempersilahkan Siska duduk.

“ Begini bu. Saya mau minta izin tidak masuk kerja untuk beberapa minggu, saya mau pulang kampung jenguk anak saya” Ucap Siska.

“ Oh boleh sekali, mau berangkat kapan Siska?” Tanya bu Isna.

“ Rencananya besok bu” Ucap Siska.

“ Oh boleh sekali, ibu titip salam ya buat keluarga. kamu besok hati hati, kalau ada apa apa langsung hubungi ibu ya” Ucap bu Isna.

“ Baik bu, terimakasih sekali” Ucap Siska

“ Ini ibu ada uang sedikit buat dikasih ke anakmu” Ucap bu Isna setelah mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.

“ Tidak usah bu, ibu sudah cukup banyak kasih ke Siska” Ucap Siska berusaha menolak.

“ Loh ini kan buat anak kamu bukan buat kamu, sudah ini ambil aja ngga baik nolak pemberian orang itu” Ucap bu Isna berusaha meyakinkan Siska.

Siska yang sudah tau sifat bu Isna yang memang tidak suka jika niat baiknya di tolak itu pun akhirnya Siska menerima uang pemberian dari bu Isna.

Selesai meminta izin, Siska pun kembali ke ruang kerjanya dan bekerja seperti biasanya. Kali ini pikirannya sudah sedikit ringan karena sudah dapat izin dari bu Isna. Tinggal Siska saja yang mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang ada didepannya nanti.

...*****...

Hari pun berlalu dengan cepat, kini Siska dan Citra sudah pulang dari tempat kerjanya dan sudah sampai di kosannya.

Kegiatan pulang kerja mereka masih tetap sama seperti biasanya, memasak bersama dan juga makan malam bersama.

“ Besok aku akan pulang ke kampung” Ucap Siska di tengah kegiatan makan mereka.

“ Kamu sudah minta izin ke bu Isna?” Tanya Citra.

“ Sudah tadi, bahkn dia memberiku uang dengan alasan untuk anakku” Ucap Siska.

“ Baik sekali” Ucap Tari.

“ Kamu sudah yakin Siska?” Tanya Endah yang khawatir dengan kondiai Siska.

“ Yakin kok, ini demi anakku” Ucap Siska.

“ Mmm kami mengerti, lalu kapan kamu akan berangkat?” Tanya Endah.

“ Besok, agak siang sedikit mungkin” Ucap Siska.

“ Yah kita tidak bisa antar kamu dong” Ucap Tari.

“ Tidak papa, memang itu tujuanku. Kalian kan bekerja ngapain mau antar aku” Ucap Siska.

“ Kan buat ucapan perpisahan” Ucap Citra.

“ Aku itu nanti kesini lagi, kalian ini berlebihan sekali” Ucap Siska.

Mereka pun melanjutkan makan malam hingga selesai. Seperti biasa selesai membereskan bekas makan mereka, mereka akan pergi ke kamar masing masing dan mengistirahatkan tubuh merek masing masing.

...*****...

Pagi ini Siska masih ikut teman temannya sarapan pagi seperti biasa. Terlihat suasana kali ini begitu terharu karena Siska akan pulang kampung.

Menurut Siska teman temannya ini terlalu berlebihan, tapi di sisi lain Siska merasa senang karena memiliki mereka semua disini.

Akhirnya satu perasatu temannya pun berangkt bekerja. Tidak lupa mereka akan memeluk Siska dengan hangat dan mengucapkan kata kata perpisahan untuk Siska.

Setelah teman temannya berangkat ke tempat kerja mereka, Siska pun mulai membereskan beberapa baju yang akan dia bawa.

Sebelum berangkat Siska memutuskan untuk ke rumah ibu Kos untuk sekedar berpamitan. Dengan membawa ransel berukuran sedang miliknya, Siska berangkat menuju rumah ibu kos yang berada tepat di samping kosnya.

“ Permisi ibu” Ucap Siska.

Mendengar suara Siska, ibu kos yang sedang mencuci pakaian di belakang pun segera menyudahinya dan keluar menuju teras rumahnya.

“ Loh Siska, kamu ngga kerja?. Kok bawa tas mau kemana?” Tanya ibu kos.

“ Iya bu, Siska kau pamit pulang kampung” Ucap Siska.

“ Loh loh. Kok tiba tiba sekali ada apa?” Tanya ibu kos sedikit terkejut.

“ Tidak ada apa apa bu, cuma mau jenguk anak aja nanti benerapa minggu Siska balik kesini lahi” Ucap Siska memperjelas.

“ Oalah kirain mau pulang selamanya” Ucap ibu Kos. “ Mumpung bapak lagi dirumah, biar ibu sama bapak aja yang antar kamu ke stasiun” Ucap ibu kos.

“ Aduh ngga usah repot repot bu, Siska nanti bisa naik ojek sendiri kok” Ucap Siska berusaha menolak.

“ Ah ngga usah buang buang uang Siska, kalau sama kita kamu ngga bakal keluarin uang buat ojek. Sebentar ya kamu tunggu didalam sini ibu sama bapak siap siap dulu” Ucap ibu kos.

Siska hanya pasrah saja dengan tawaran ibu kos dan lanjut duduk di ruang tamu menunggu mereka bersiap.

Tak lama mereka pun sudah bersiap menuju mobil milik suami ibu kos. Siska pun diantar oleh mereka hingga stasiun bis.

“ Terimakasih ya pak, bu. Sudah antar Siska sampai sini” Ucap Siska dwngan nada sopan.

“ Tidak papa Siska, lain kali ngga perlu berterimakasih begitu” Ucap bapak kos.

“ Ini Siska ibu bawain bekal makanan buat kamu. Kamu sih bilangnya mendadak jadi ibu ngga bisa kasih apa apa” Ucap ibu kos.

“ Terimakasih bu. Ini sudah lebih dari cukup kok” Ucap Siska.

“ Yasudah kmu hati hati ya Siska, kalau ada apa apa hubungi ibu” Ucap ibu kos.

Siska pun segera berpamitan kepada bapak dan ibu kos. Setelah acara berpamitan selesai Siska segera naik kedalam bus yang sesuai dengan tujuannya.

Dengan hati yang begitu berdebar Siska berusaha untuk menenangkan diri, rasanya dia seperti tidak bisa berbuat apa apa kali ini.

Begitu banyak hal yang berputar dipikirannya apalagi saat bus mulai bergerak. Rasanya tubuhnya mulai lemas dan pikirannya bertambah kacau.

“ Aku berharap aku bisa menghadapi semua yang ada didepanku nantinya” Ucap Siska menyemangati dirinya sendiri.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!