Empat tahun sudah Siska lalui sendiri, dia masih bekerja di tempat ibu Isna bersama sahabatnya Citra. Begitupun dengan Endah dan Tika juga masih tetap bersama mereka.
Berbulan bulan Siska lalui, kini sang anak sudah berumur 15 tahun. Selama itu Siska selalu berusaha mengambil hati sang anak dengan selalu memberikan apa yang dia inginkan.
Berkali kali Siska selalu berusaha menghubungi Aksel tapi Aksel selalu menolak panggilan teleponnya dan membiarkan Siska menghubungi sang papa.
Siska paham akan maksud Aksel yang selalu berusaha membuat orangtuanya menyatu. Entah apa yang diucapkan Haikal kepada Aksel sampai membuat Aksel bisa berpikir sejauh ini.
Yang jelas, Siska selalu berusaha menjaga sikap dan lisannya kepada anaknya agar anaknya tidak terbebani oleh masalah orangtuanya. Ya walaupun terkadang ketika Siska berkesempatan bicara dengan Aksel Siska selalu cerita betapa malasnya sang papa dalam mengurus rumah tangga mereka.
Tapi Siska tetap berusaha menjaga ucapannya agar tidak keblabasan dalam mengucapkan kata kata kepada anaknya.
Siang ini Siska sedang bersantai diruang kerjanya, dirasa pekerjaannya akan sedikit selesai Siska berpikir untuk mencoba menghubungi anaknya. Mungkin sekarang sudah jam istirahat sekolah anaknya.
Dddrrrttttt…..
Bunyi telpon yang tersambung membuat Siska berharap besar agar telponnya diangkat.
Tuuutttt….
Ya itulah yang biasa anaknya lakukan, selalu menolak telpon dari Siska.
Tiinggg….
[ Aku lagi di kantin, di sini ramai. Nanti saja kalau aku sudah pulang]
Itulah kira kira pesan dari sang anak. Mungkin pertama tama Siska merasa begitu terpuruk dan gagal menjadi orangtua. Tapi Siska mencoba membiasakan sikap anaknya kepadanya.
Walaupun Aksel susah dihubungi, tapi jika Siska sedang menelpon Haikal Aksel selalu bersemangat dan ikut bergabung di sana.
Dari situ Siska berpikir bahwa memang benar Aksel ingin menyatukan hubungan orangtuanya yang hancur.
...*****...
Seperti biasa Siska dan Citra pulang bersama, kali ini mereka terlihat senang karena tidak lembur. Apalagi Citra yang sering mengeluh kelelahan itu sekarang sudah terlihat begitu tersenyum tanpa henti.
“ Senyum terus ya” Sindir Siska.
“ Iya dong, karena hari ini kita bisa pulang cepat” Ucap Citra terkekeh.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kerja jadi tidak butuh lama Siska dan Citra pun sudah sampai di kosan mereka.
Selesai membersihkan diri Siska terlihat duduk di teras rumah sembari menunggu Citra selesai membersihkan diri.
“ Jalan jalan yuk Siska” Ucap Citra yang baru datang dari dalam.
“ Jalan jalan kemana? Kita kan belum masak” Ucap Siska.
“ Ngga usah masak, kita tunggu Endah sama Tari aja terus kita jalan jalan bareng” Ucap Citra memperjelas.
Akhirnya Siska menyetujui ajakan Citra dan menunggu Endah dan Tari pulang. Belum lama menunggu akhirnya Endah dan Tari pun pulang.
Tari dan Endah yang mendengar ajakan Citra dan Siska pun jelas setuju, pasalnya mereka jarang sekali ada waktu untuk jalan jalan bersama.
Tak butuh lama Endah dan Tari sudah siap, mereka pun segera keluar dan mencari beberapa tempat yang bisa mereka kunjungi.
Terlihat mereka sempat berbelanja beberapa barang dan juga makanan. Dirasa sudah cukup mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah taman sambil bersantai.
“ Ah enaknya duduk di sini” Ucap Citra.
“ Iya, kita jarang sekali menghabiskan waktu bersama untuk jalan jalan” Ucap Endah.
“ Makanya tadi aku ajak kalian jalan jalan, mumpung kita ngga lembur” Ucap Citra.
Mereka melanjutkan kegiatan bersantai di taman hingga merasa puas. Tidak butuh lama bagi mereka untuk menghabiskan waktu di luar.
Sebelum pulang mereka sempat membeli cemilan untuk dimakan saat sudah sampai kos.
Sesampainya di kos mereka memutuskan untuk beristirahat di kamarnya masing masing. Kini Siska sudah terlihat baring di atas kasurnya dengan ditemani beberapa cemilan yang dibelinya tadi.
Saat ini Siska memutuskan untuk mencoba menghubungu kembali anaknya, karena sudah dirasa waktu yang tepat pasti anaknya sedang istirahat di rumah.
Drrrtttt…..
Cukup lama ponsel yang di genggam Siska bergetar sampai akhirnya panggilan berakhir pun anaknya tidak mengangkatnya.
Karena sudah begitu sabarnya Siska memutuskan untuk menelpone Haikal, siapa tau dia bisa melihat anaknya nanti.
Tidak butuh lama untuk tersambung dengan Haikal, kini mereka sudah saling bertatap muka lewat layar ponsel mereka masing masing.
“ Kamu baru istirahat?” Tanya Haikal.
“ Iya, Aksel kemana?” Tanya Siska.
“ Lagi makan dia, itu di depan tv” Ucap Haikal sembari mengarahkan ponselnya ke arah Aksel yang terlihat makan dengan ditemani neneknya.
“ Aksel, mama ini” Ucap Haikal.
Tanpa menunggu lama Aksel menoleh dan langsung menghampiri Haikal untuk sekedar melihat Siska di balik layar ponsel Haikal.
“ Halo mama” Sapanya sembari melambaikan tangannya di depan ponsel.
“ Halo sayang, lagi makan sama nenek ya?” Ucap Siska yang mulai merasa terisi penuh tenaganya setelah melihat anaknya.
“ Iya, aku mau disuapin nenek. Mama sudah makan belum?” Tanya Aksel.
“ Sudah dong. Sudah besar masa disuapin terus” Ucap Siska dengan nada bercandanya.
“ Biarin, kan lebih enak disuapin” Ucap Aksel.
“ Udah besar itu makan sendiri dong” Ucap Haikal ikut bercanda.
“ Biarain, kan Aksel ngga minta papa buat suapin” Ucap Aksel yang di balas kecupan kecil di pipinya oleh Haikal.
“ Sudah dulu ya ma, Aksel mau lanjut makan nanti nenek marah. Ngomong sama papa aja” Ucap Aksel yang langsung melenggokkan tubuhnya kembali duduk di tikar yang sudah di siapkan didepan tv.
Terlihat Aksel yang begitu dekat dengan neneknya walaupun memang neneknya suka sekali mengeluarkan kata kata yang tidak pantas.
“ Gimana tadi kamu kerjanya?” Tanya Haikal.
“ Ya begitulah, untung hari ini tidak ramai jadi bisa pulang cepat” Ucap Siska.
“ Kamu itu beli vitamin biar badanmu terjaga, kan restaurant tempatmu sering ramai. Di jaga badannya” Ucap Haikal.
“ Iya, sudah biasa kok. Tapi ngga sukanya kalau lagi ramai sekali kita suka ditambahin jam kerjanya padahal udah lembur” Ucap Siska.
“ Namanya juga restaurant besar. Yang penting bosmu baik” Ucap Haikal.
“ Iya itu. Kalau bukan karena atasanku baik mungkin aku sudah keluar lama karena restaurannya selalu ramai begitu” Ucap Siska.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka, terkadang mereka juga sempatkan untuk bercanda. Memang mereka bisa terlihat begitu baik baik saja dan tidak ada masalah.
Namun itu tidak bisa menjadi alasan untuk perasaan Siska terbuka untuk Haikal. Siska memang ingin hubungannya menjadi lebih baik kedepannya agar Aksel bisa tumbuh dengan baik dan penuh cinta.
Kalau dibilang kurang kasih sayang itu tidak juga, pasalnya tidak ada keluarga yang tidak menyayangi Aksel. Tapi Siska sadar dengan kelakuan keluarganya yang begitu tidak pantas, membuat Siska takut untuk masa depan Aksel.
Siska sebenarnya ingin sekali terbuka dengan anaknya dan bisa saling mencurahkan isi hati mereka. Tapi mau bagaimana lagi jika Aksel saja sedikit susah untuk didekati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments