Regi keluar lagi, dia tidak jadi masuk ke dalam, karena melihat Amira dan Romi sedang bergulat di sofa yang ada di ruang tengah. Regi hanya mau mengambil kunci rumahnya yang tertinggal di kamarnya yang ia gunakan saat menginap di rumah Romi.
Setelah melihat mereka sudah selesai bergulat, Regi keluar, lalu mengetuk pintu rumah Romi. Tadi dia langsung masuk karena pintu depan masih belum di kunci, dan sedikit terbuka.
“Ada yang ketuk pintu, Mas,” ucap Amira.
“Iya, siapa malam-malam yang bertamu?” tanya Romi.
“Ya mana kutahu? Baru jam sepuluh ternyata, coba buka barangkali siapa,” jawab Amira.
“Iya, aku kira sudah jam dua belas ke atas,” ucap Romi.
Romi membukakan pintu, dan melihat siapa yang bertamu malam-malam. Ternyata adiknya yang datang, dan masih dengan memakai pakaian yang sama, seperti tadi dia pamit pulang.
“Re, ada apa malam-malam ke sini?” tanya Romi.
“Kunci rumah ketinggalan, tadi aku gugup, mau pulang, udah sampai rumah, kunci aku cariin ternyata aku lupa, masih tertinggal di kamar sini,” jawab Regi.
“Kamu itu kebiasaan sekali, Re!”
“Ya namanya saja gugup,” jawab Regi.
“Ya sudah sana masuk, ambil kuncimu. Atau mau tidur sini?” tanya Romi.
“Pulang saja mas, masih ada yang harus aku kerjakan,” jawab Regi.
Amira mendengar suara Regi datang ke rumahnya. Dia langsung menuju ruang tamu untuk memastikan, benar atau tidak adik iparnya yang datang.
“Re, ada apa kok ke sini malam-malam?” tanya Amira.
“Kunci rumah ketinggalan, Mbak,” jawab Regi.
“Kamu itu kebiasaan, ada saja yang ketinggalan?” ucap Amira.
“Kalau gak gitu namanya bukan Regi, Mir. Dia itu dari dulu, kebiasaan buruknya enggak pernah berubah,” ucap Romi.
“Ya mau gimana lagi, Mas? Memang sudah dari sananya seperti ini sih?” ucap Regi, lalu berlalu masuk ke dalam untuk ke kamarnya mencari kunci rumahnya yang ketinggalan.
Romi mengangkat bahunya lalu merangkul Amira. “Biasa dia seperti itu. Untung ke sini kita sudah selesai,” bisik Romi.
Padahal Regi tahu semuanya apa yang mereka lakukan. Karena Regi tidak mau mengganggu, dan tidak mau membuat kakak iparnya juga malu karena kedatangannya, jadi lebih baik Regi keluar, menunggu mereka selesai bermain. Untung saja Regi tidak manggil-manggil dari luar, teriak-teriak memanggil kakaknya. Dia santai saja masuk, dan ternyata di ruang tengah Romi dan Amira sedang melakukan kegiatan malam di sofa.
Regi keluar dari kamarnya setelah mendapatkan apa yang dia cari. Amira dan Romi melanjutkan menonton di ruang tengah.
“Mbak, Mas, aku pamit ya?” pamit Regi.
“Sudah ketemu kunci rumahmu?” tanya Romi.
“Sudah, ini.” Jawabnya dengan menunjukkan kunci rumahnya.
“Ya sudah sana hati-hati,” ucap Romi.
“Iya, aku pulang ya? Kunci nih pintu depannya. Nanti mas lupa lho gak dikunci pintunya,” ujar Regi.
“Iya ini mas mau kunci sekalian antar kamu keluar,” jawab Romi.
Setelah Regi pulang, Romi mengajak Amira untuk istirahat. Romi melihat Amira sudah sangat lelah dan ngantuk sekali. Amira langsung mengiyakan dirinya untuk istirahat. Setelah selesai bersih-bersih mereka merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Romi melihat Amira kesusahan untuk mencari posisi tidurnya. Romi tahu semua itu karena perut Amira yang sudah besar, jadi susah untuk menemukan posisi tidur yang nyaman.
“Susah ya posisi tidurnya?” tanya Romi.
“Iya, Mas. Susah sekali, kek gini susah, miring susah, telentang juga susah? Gimana ya enaknya?” jawab Amira.
Romi memasang bantal untuk tidur Amira, supaya Amira nyaman tidurnya. Romi menamani Amira tidur, ia mengusap kepalanya sampai Amira tertidur pulas. Lagi-lagi menggeser tubuhnya, mencari posisi yang enak, Romi sampai tidak bisa tidur, membantu Amira mencari posisi tidur yang pas.
^^^
Dua minggu sudah berlalu, Amira semakin panik, karena perkiraan lahir dari dokter semakin dekat. Dia tidak tahu harus bagaimana nantinya jika dalam waktu dekat ini dirinya akan melahirkan.
“Aku takut, kalau dalam waktu dekat ini aku melahirkan baagaimana reaksi Mas Romi? Apa dia akan marah, bingung? Atau bagaimana? Atau mungkin nanti langsung beratanya padaku, sebetulnya usia kandunganku berapa? Soalnya ini adalah hari-hari perkiraan lahir bayiku. Besok adalah tanggal perkiraan lahir, bisa jadi maju atau mundur kata dokter. Aku harus bagaimana kalau akan lahir sekarang? Pasti Mas Romi akan curiga denganku, karena dia tahunya usia kandunganku baru masuk delapan bulan,” batin Amira.
Hari ini Romi mengambil cuti, karena pekerjaannya lumayan senggang. Jadi ia mengambil cuti saja, daripada di kantor mau apa, di sana juga pekerjaannya tidak terlalu banyak. Mending di rumah saja, menemani istrinya di rumah.
“Awwhh ... mas!!!” pekik Amira dengan memanggil Romi yang sedang menata meja kerjanya.
“Amira? Kenapa, Sayang?” Romi langsung berlari mendekati Amira yang sedang memegangi perutnya.
“Sakit, Mas ...!” pekiknya kesakitan.
“Sakit perutnya?”
“Iya, Mas! Sakit sekali!” jawab Amira.
“Mbak Rahmi tolong!” teriak Romi.
“Iya pak bagaimana? I—ini Bu Mira mau melahirkan, Pak? Ketubannya sudah pecah ini pak?” ucap Rahmi panik.
“Me—melahirkan? Amira baru delapan bulan masa melahirkan, Mbak?” ucap Romi tidak percaya.
“Ya memang Bu Mira mau melahirkan, Pak! Lihat ini sudah keluar ketubannya, Pak. Bisa jadi prematur, Pak. Belum saatnya lahir sudah lahir!” panik Mbak Rahmi. “Saya telefon ambulan ya pak?” ucap Rahmi.
“Buka pintu mobil saya, Mbak. Saya akan bawa Amira ke rumah sakit pakai mobil saya saja!” titah Romi.
“Ba—baik, Pak!” jawabnya panik.
Romi membopong tubuh Amira ke mobil. Air ketubannya sudah pecah, Amira terus menangis merintih kesakitan. Romi menyimpulkan ucapan Mbak Rahmi tadi, bisa jadi anak Amira prematur, belum saatnya lahir sudah melahirkan. Sedangkan Amira, dia masih panik, karena pasti nanti dokter akan memberitahukan usia kandungan Amira pada Romi. Romi langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dan menemui dokter yang menangani Amira.
“Bagaimana ini? Kalau nanti Romi tahu usia kandunganku tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan yan terakhir? Aku harus bagaimana? Mungkin ini sudah nasibku seperti ini,” batin Amira.
Romi sudah sampai di depan rumah sakit. Dia langsung memanggi suster yang sedang jaga untuk memberikan pertolongan pada Amira. “Suster tolong istri saya!” ucap Romi dengan panik.
Amira di bawa masuk ke ruangan persalinan. Romi berlari mengikutu brankar Amira yang didorong menuju ke runag persalinan.
“Dokter, tolong istri saya dok, dia baru masuk delapan bulan usia kandungannya, tapi air ketuban sudah pecah,” ucap Romi panik.
“Bu Amira, kan? Delapan bulan? Bukannya sudah tiga puluh delapan minggu, Pak? ujar Dokter Nadia.
“Tiga puluh delapan minggu? Amira itu baru tujuh bulan kemarin. Ini ya paling masih tiga puluh tiga minggu mungkin, Dok? Ya sekitar segitu,” jelas Romi.
“Pak Romi ini bagaimana? Bu Amira jelas-jelas ini sudah mendekati HPL nya kok? Masa saya bohong? Kan yang menangani saya, Pak?” ucap Dokter Nadia. “Kalau bapak gak percaya, tanya adik bapak, kan biasanya dia yang mengantar Bu Amira periksa kandungan? Soalnya kata Bu Amira bapak sering sibuk.”
“Saya tidak mau tahu, mau usia kandungan Amira berapa, yang penting selamatkan Amira dan bayinya!”
“Baik, Pak. Tekanan darah Bu Amira tinggi, dan mengalami pendarahan, jadi kami harus segera ambil tindakan. Bu Amira harus segera melakukan operasi caesar,” jelas Dokter Nadia.
“Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok!” ucap Romi.
Romi tidak mau tahu berapa usia kandungan Amira. Dia hanya ingin Amira dan bayinya selamat dulu. Masalah usia kandungan Amira, dia tidak ingin cari tahu kebenarannya dulu, meski mengganjal di hatinya. Yang terpenting saat ini, Amira dan bayinya sehat dan selamat.
“Kenapa dokter bilang Amira sudah sembilan bulan lebih? Lalu hasil pemeriksaan itu? Jelas-jelas di kertas itu tertulis tiga puluh satu minggu saat periksa terakhir, ini sudah dua minggu dari hari periksa itu, kan dia seharusnya usia kandngannya tiga puluh tiga minggu? Kok kata dokter tiga puluh delapan minggu usianya? Lalu yang benar yang mana?” batin Romi dengan diluputi rasa penasaran dan panik. “Aku harus tanya dengan Regi, pasti dia tahu semuanya! Dan tahu berapa usia kandungan Amira.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Selvianah Bilqis
nah lo🤔
2023-06-30
0