Regi dan Amira sudah pulang dari rumah sakit. Dokter bilang hanya tinggal menghitung hari saja Amira melahirkan. Regi langsung mengantar Amira pulang, karena Amira sudah ingin istirahat di rumah. Dia merasa lelah sekali hari ini.
“Mbak pengin makan apa?” tanya Regi.
“Gak pengin makan apa-apa, Re. Mbak Cuma pengin istirahat saja. Mbak lelah sekali, Re,” jawab Amira.
“Ya sudah aku antar mbak pulang, ya?”
“Iya, Re. Mbak ngantuk sekali, tumben sekali jam segini mbak ngantuk, biasanya mbak malah ingin ke toko bunga, malah ini penginnya tidur,” ucap Amira.
“Sudah mbak istirahat di rumah saja. Lagian mbak ini sudah tidak usah ke toko lagi seharusnya, karena kandungan mbak itu sudah besar,” tutur Regi.
“Habis jenuh, Re. Di rumah mau apa? Semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan Mbak Rahmi? Jadi bingung malah di rumah mau apa? Kalau di toko kan bisa bantuin milih-milihin bunga yang mau dijadikan buket, bisa nulisin kartu ucapan, dan masih banyak pekerjaan lainnya, asal gak berat-berat kan mbak gak masalah?” jelas Amira.
“Iya sih, memang katanya kalau sudah hamil tua harus sering gerak, biar jalan lahirnya gampang, Mbak.”
“Oh iya Re, hasil pemeriksaan sudah diganti?” tanya Amira.
“Sudah dong, Mbak? Kalau belum nanti bagaimana dengan Mas Romi?” jawab Regi.
“Iya sih. Kadang aku ini merasa sangat berdosa dengan Mas Romi, Re.”
“Apalagi aku, Mbak? Aku takut, kalau sampai Mas Romi tahu, dia pasti akan marah besar, dan mbak juga pasti akan kena amuk Mas Romi. Mbak tahu kan, Mas Romi paling gak suka dengan pengkhianatan?”
“Iya, mbak tahu, maka dari itu Re, mbak sudah siap dengan segala konsekuensinya untuk itu. Mbak sudah mempersiapkan dari sekarang, jika Mas Romi sampai melakukan hal yang tidak pernah mbak duga, setelah tahu yang sebenarnya,” ucap Amira pasrah.
Amira tidak yakin pernikahannya akan selamat, jika Romi tahu soal bayi yang ada di kandungan Amira itu anaknya Regi. Amira sudah siap jika suatu hari nanti Romi akan tahu yang sebenarnya, lalu Romi menceraikannya. Amira siap untuk itu.
“Memang mbak siap, jika Mas Romi tahu semuanya, dan Mas Romi menceraikan mbak?” tanya Regi.
“Siap gak siap mbak harus terima semua itu. Mbak ini sudah salah, Re. Harusnya mbak gugurkan bayi ini, atau harusnya mbak sama kamu itu jujur soal malam itu, Re. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Semua sudah berjalan sesuai rencana kita sampai detik ini. Jadi mau bagaimana lagi? Mau gak mau mbak ya harus mau dan harus siap dengan segala hukumannya?” jawab Amira terlihat pasrah.
Regi merasa semakin bersalah melihat Amira yang seperti itu. Melihat Amira pasrah dengan keadaannya yang nantinya akan membuat Amira diceraikan oleh kakaknya. Jelas Romi akan tahu, apalagi dalam waktu dekat ini paling tidak Amira akan melahirkan? Sedangkan baru kemarin Amira melaksanakan tujuh bulanan.
“Aku harus bagaimana, kalau Mas Romi tahu semuanya? Aku tidak akan tega jika sampai Mbak Mira diceraikan Mas Romi kalau Mas Romi tahu? Tapi aku yakin, Mas Romi tidak akan setega itu dengan Mbak Mira. Aku yakin Mas Romi bisa menerima keadaan ini perlahan, jika aku berusaha untuk menjelaskannya baik-baik. Malam itu adalah kecelakaan fatal, bukan sengaja aku meniduri kakak iparku. Untuk apa aku menidurinya? Sedangkan di luar sana saja banyak perempuan? Aku bisa seperti itu karena sedang terpengaruh alkohol, begitu juga dengan Mbak Mira. Dia juga sedang mabuk berat malam itu. Kami sama-sama mabuk,” batin Regi.
^^^
Sore hari Amira sedang duduk santai di ruang tengah. Ia baru saja selesai mandi. Seperti biasa sambil menunggu Romi pulang, Amira sembari mengecek laporan tokonya. Regi masih di rumah Amira. Dia juga baru selesai mandi. Dia dari mengantar Amira periksa, masih di rumah Amira.
“Mbak ini cobain tadi aku beli di depan.” Romi meminta Amira mencicipi makanan yang baru saja ia beli tadi.
“Apa ini, Re?” tanya Amira.
“Brownis lumer katanya. Tadi beli di toko depan, sekalian beli rokok,” jawab Regi.
“Hmm ... aku coba ya? Sepertinya enak nih?” ucap Amira.
“Emang enak kok, Mbak. Aku beli dua cup, tadi sudah aku makan pas mbak tidur siang,” jawab Regi.
“Oke mbak coba.” Amira menyendokkan brownis ke mulutnya. Dan benar rasanya enak sekali. “Ini enak sekali, Re,” puji Amira.
“Iya kan enak? Aku baru tahu di depan jualan gini juga, katanya anaknya yang bikin,” ucap Regi.
Mereka bercand di ruang tengah sambil menikamati brownis yang Regi beli. “Aduh .... Sayang jangan nendang keras-keras dong? Mama kaget, Nak.” Ucap Amira dengan mengusap perutnya, karena anak dalam kandungannya bergerak seperti menendang. Seperti tahu Regi dan Amira sedang bercana, dia ingin ikut bercanda.
“Apa dia menendangmu begitu keras?” tanya Regi.
“Sangat, Re,” jawabnya sambil mengusap perutnya.
Regi mendekati Amira. Dia langsung mengusap perut Amira dengan lembut. Regi penasaran, jadi dia reflek memegangi perut Amira, dan mengusapnya perlahan.
“Jangan nakal, kasihan mamamu, Nak,” ucapnya dengan mendekatkan mulutnya di depan perut Amira.
“Iya, Om. Aku gak nakal kok? Aku ini hanya senang saja, ibu makan brownis, jadi aku suka,” jawab Amira dengan suara seperti anak kecil.
“Om kira kamu sengaja nendang mama? Jangan gitu ya? Kasihan mamanya?” ucapnya dengan masih mengusap perut Amira. “Eh gerak-gerak lagi. Ih kuat banget kamu, Nak?” ucap Regi dengan senyum bahagia mendapatkan tendangan keponakannya yang masih berada di perut Amira.
“Ih senang ya dipegang Om Regi? Senangnya anak mama, sampai gak berhenti-henti kamu geraknya, Nak?” ucap Amira.
“Apa setiap hari begini, Mbak?” tanya Regi.
“Iya, setiap hari begini, Re. Selalu gerak, nendang-nendang terus. Pokoknya ya begini, aku saja senang kalau dia sedang aktif?” jawab Amira.
Regi masih terus memegangi perut Amira. Dia juga senang, anak Amira sangat aktif. Kata dokternya juga anak Amira sehat, perkembangannya juga sempurna.
“Ini papa, Nak. Maafkan papa ya, Nak? Kamu hadir dari sebuah kesalahan papa dan mama. Papa akan selalu melindungimu, Nak. Apa pun yang terjadi nanti,” batin Regi sambil terus mengusap perut Amira.
Amira juga nyaman disentuh Regi. Nyaman sekali saat Regi mengusap-usap perutnya. Sampai dia juga bercanda dengan Regi yang masih memegangi perutnya. Dan, tidak sadar kalau Romi sudah melihat mereka di ambang pintu. Romi baru saja pulang dari kantor, dia tidak jadi pulang malam. Karena dia ingin selalu siaga menemani Amira.
“Regi ... Amira?” panggil Romi.
“Mas? Sudah pu—pulang?” tanya Amira gugup.
“Iya, aku tidak jadia ada meeting, Mir,” jawabnya. “Kamu tadi kok pegang-pegang perut Mira?” tanya Romi pada Regi.
“Ya habis kata Mbak Mira dedek bayinya gerak-gerak. Aku penasaran saja pengin pegang?” jawab Regi. “Maaf ya mas, aku sudah lancang pegang-pegang perut Mbak Mira.”
“Enggak apa-apa, Re. Lagian di perut Mbak Mira itu keponakan kamu?” jawab Romi.
Meski menjawab demikian, tetap saja Romi sedikit tidak berkenan karena adiknya berani mengusap perut istrinya. Apalagi dengan ekspresi wajah yang sangat senang sekali, saat mengusap perut Amira, dan mereka seperti terlihat sedang bercanda. Amira pun terlihat sangat nyaman saat Regi menyentuh perutnya.
“Kok gitu sekali sih Regi? Sudah mulai berani sentuh perut istriku? Ya sih Amira sedang hamil? Tapi kan dia nyentuh pas gak ada aku? Kalau ada aku sih gak masalah? Ini aku belum pulang lho? Bukan aku cemburu, tapi kan harus menghormati Reginya?” batin Romi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments