Hari ini Regi sudah di rumah Romi sejak pagi. Pukul tujuh pagi Regi sudah sampai di rumah Romi, tapi dia hanya memakai kaos dan celana pendek, yang memperlihatkan penampilannya itu sangat santai. Regi memang mengambil cuti selama tiga hari, karena dia ingin menikmati liburan di rumah kakaknya.
“Tumben sekali sudah sampai sini pagi-pagi, Re?” Tanya Romi.
“Pengin saja, lama gak ke sini, saking sibuknya. Ini saja aku ambil cuti tiga hari, badan udah capek banget soalnya.” Jawab Regu dengan mencium tangan kakaknya.
“Iya kamu, dari kemarin sibuk mulu, gak ingat kami, ditelefon suruh ke sini saja kamu bilang lagi sibu?” ujar Romi.
“Iya kemarin benar-benar full banget mas,” jawab Regi. “Mbak di mana, Mas?” tanya Regi.
“Tuh lagi ngambek dia!” jawab Romi.
“Ngambek kenapa? Kamu mesti yang mulai duluan, jadi Mbak Mira ngambek, ya?” tebak Regi.
“Iya, aku hanya pamit mau ke luar kota lusa, Re,” jawab Romi.
“Kan memang mas besok mau ke luar kota, Mbak Mira dah tahu dari jauh-jauh hari, kan? Mas mau ke luar kota dua hari?” tanya Regi.
“Nah itu masalahnya? Aku sampai dua mingguan, Re! Gak jadi dua hari. Mbak Mira tuh langsung ngambek,” ucap Romi.
“Ya jelas ngambek, lah! Mas pamitnya dua hari jadi dua minggu?”
Romi memang ada perubahan jadwal, yang harusnya dua hari, dia harus mengurus pekerjaannya selama dua minggu, jadi Amira marah dengannya. Amira merasa selama dirinya hamil suaminya terus sibuk. Tidak pernah meluangkan waktu untuk berdua dengannya, bahkan sampai check-up kandungan saja yang selalu mengantar Regi bukan suaminya. Meskipun anak yang ada di dalam kandungannya adalah anak Regi, tapi tetap saja Amira ingin suaminya lebih perhatian lagi dengannya.
“Aku mau menolaknya untuk tidak berangkat, tapi bagaimana bisa? Sudah pekerjaanku, sudah tanggung jawabku juga?” ucap Romi.
“Iya juga sih, susah juga kalau sudah pekerjaan mas begini?” jawab Regi.
“Makanya aku ini bersyukur sekali, kamu udah gak sibuk, terus cuti juga tiga hari, jadi mas lega, bisa nitip Mbak Mira sama kamu, Re,” ucap Romi.
“Ya kalau Mbak Mira nya mau, Mas? Kalau masih ngambek?”
“Masmu itu Re, masa mbak ditinggal lagi sampai dua minggu? Bilangnya kemarin dua hari?” cetus Amira yang baru keluar dari kamarnya.
Setelah samar-samar mendengar suara Regi datang ke rumah, mood nya langsung membaik, dan dia langsung keluar dari kamar menemui Regi. Hampir satu bulan, Amira tidak bertemu adik iparnya, karena Regi bilang, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Padahal Regi biasa saja, jadwal kerjanya tidak terlalu padat seperti Romi. Malah sebetulnya Regi selama ini sering santai-santai di rumah.
“Ya kalau memang pekerjaannya Mas Romi, ya mau bagaimana lagi, Mbak? Iya, kan?” ujar Regi.
“Iya, tapi gimana sih, aku kecewa dong, kan jadinya aku periksa kandungan gak ditemani masmu lagi? Masa sih sama kamu terus? Lama-lama anakku manggil kamu ayah, Re!” cetus Amira kesal.
“Ih kamu ini? Ya kan Cuma periksa saja, Sayang? Yang penting saat melahirkan, aku mendampingimu, bukan Regi. Kalau gak sama Regi mau sama siapa? Yang dekat dengan aku Regi? Gak mungkin Rida atau Risa, kan?” ujar Romi.
“Iya sih, ya sudah gak apa-apa, lusa kamu ke luar kota, tapi besok seharian cuti, ya? Temani aku jalan-jalan?” rengek Amira.
“Oke, aku temani kamu jalan-jalan besok. Sudah jangan ngambek, sini peluk mas.” Romi merentangkan kedua tangannya, lalu Amira berhambur ke pelukan Romi.
^^^
Romi pamit dengan Regi dan Amira, dia akan kembali mengurus pekerjaannya di luar kota. Amira dari tadi gak mau melepaskan pelukannya pada Romi. Dia nempel terus di badan Romi.
“Jangan lama-lama, kalau bisa gak dua minggu, ya mas kudu cepat pulang,” rengek Amira.
“Iya sayang ... Iya ... Aku usahakan gak ada dua minggu aku sudah pulang,” ucap Romi. “Tapi gak janji, ya?” imbuhnya.
“Tuh kan ....” cebik Amira.
“Jangan gitu dong sayang ... Mas ini kerja kan untuk kamu? Biasanya mas pergi saja kamu malah happy? Malah bisa hangout sama teman-teman kamu, kan?” ujar Romi.
“I—iya sih?”
“Nah ya sudah kamu boleh kumpul sama teman-teman kamu, asal Regi yang antar kamu kalau kamu mau kumpul sama teman kamu,” ucap Romi.
“Re, kamu mau antar Mbak Mira kalau pengin kumpul sama teman-temannya, kan?” tanya Romi pada Regi.
“Iya, mau dong .... Ngantar periksa kandungan saja mau, apalagi Cuma kumpul sama temannya? Siap deh siap,” jawab Regi semangat.
“Tuh sudah jangan manyun. Regi saja mau antar kamu kok?”
“Tapi keknya temanku pada sibuk?” ucap Amira.
“Kan kalau ada waktu kapan, Sayang? Ya sudah mas berangkat.”
Amir memeluk erat suaminya. Lalu Romi menciumi kening Amira dan mencium bibirnya.
“Duh ada jomlo lho mas? Di kamar kek sosor-sosorannya?” protes Regi.
“Lagian kamu udah sering lihat pakai acara protes segala?” tukas Romi. “Ya sudah mas berangkat. Mas titip Mbak Mira, ya?”
“Siap, Mas! Hati-hati, semoga pekerjaannya lancar,” ucap Regi.
“Mas berangkat ya, Sayang?”
“Iya hati-hati,” jawab Amira dengan mencium tangan Romi.
Mereka melepas Romi berangkat ke luar kota. Amira masih berdiri di teras rumahnya, setelah mobil Romi melaju dan tidak terlihat lagi.
“Masuk mbak?” ajak Regi.
“Re, antar mbak ke toko bunga yuk?” ajak Amira.
“Boleh, ayo!” Regi mengiyakan ajakan Amira ke toko bunganya.
Amira mengambil tasnya lebih dulu. Regi sudah siap dan menunggu Amira di teras.
“Ayo, Re?” ajak Amira.
“Sudah gak ada yang ketinggalan?” tanya Regi.
“Iya gak ada, Re,” jawab Amira.
Regi membukakan pintu mobil, “hati-hati masuknya,” ucap Regi sambil memegangi badan Amira.
“Makasih, Re,” ucap Amira.
“Sudah pasang seat beltnya?” tanya Regi.
“Bisa bantuin, Re? Susah ....”
“Sini aku bantuin.” Regi memasangkan seat beltnya dengan hati-hati. “Perutnya dah gede ya, Mbak?” tanya Regi.
“Sudah mau masuk tujuh bulan, Re. Aku ini makin takut, Re. Mas Romi tiap malam selalu bilang kandunganku ini aneh, katanya belum ada tujuh bulan udah keceng,” ucap Amira.
“Semoga, Mas Romi gak curiga ya mbak?”
“Iya, Re.”
“Mbak boleh aku pegang perut, Mbak?” pamit Regi.
“Ehm ... Boleh, Re.” Amira memperbolehkannya, dia tahu Regi pun memiliki ikatan batin dengan anaknya yang ada di kandungannya.
“Hai ... Maafkan om, ya? Om sudah membuat mamamu selalu ketakutan. Kelak kamu akan menjadi anak yang bisa menjaga mamamu. Jangan rewel di dalam perut mama ya, Sayang?” ucap Regi dengan mengusap perut Amira.
Tak terasa Amira meneteskan air matanya. Ada perasaan yang aneh di dalam hatinya, saat Regi menyentuh perutnya, dan bicara seperti itu.
“Maafkan mama, Nak. Om Regi adalah papamu, kamu anak biologis Om Regi,” batin Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Selvianah Bilqis
kata anaknya nanti,ternyata omku adalah ayahku🤔😁😁😁
sabar y reg,makanya jomblo cepet cari pasangan😰
2023-05-23
0