Romi mengusap perut Amira setelah selesai melakukan ritual malam dengan Amira. Romi akui Amira selalu bisa membuat dirinya puas dan nyaman saat bercinta, meskipun sekarang Amira sedang hamil, dan kandungannya sudah besar.
“Mir, kamu capek?” tanya Romi.
“Enggak, mas mau lagi?” jawab Amira.
“Jangan nanti saja, kasihan anak kita, biar dia istirahat, jangan diganggu.” Ucapnya dengan mengeratkan pelukannya pada Amira. “Ih kok nendang papa sih?” Romi merasakan bayi di perut Amira menendang-nendang.
“Habis papa nakal ya sayang? Nyemprotin adek mulu dari tadi,” jawab Amira dengan terkekeh.
“Kamu bisa saja, Mir?” Regi semakin mengeratkan pelukannya pada Amira. “Aku bahagia sekali, akhirnya aku akan menjadi ayah, Mir. Usaha kita selama ini tidak sia-sia,” bisik Romi.
“Aku juga bahagia sekali, Mas. Terima kasih sudah mau sabar menunggu buah hati kita ya, Mas? Sudah sabar menghadapi omongan-omongan orang yang selalu membuat kita ini down, karena lama sekali gak punya anak. Terima kasih karena mas masih setia mendampingiku, meski aku lama sekali tidak hamil-hamil, kamu masih setia, tidak mencari perempuan lain,” ucap Amira.
“Itu karena aku sangat mencintaimu, Mir. Aku menghargai pernikahan kita, menghargai setiap pengorbanan kita dan usaha kita dulu saat kita berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua kita,” ucap Romi. “Bagaimana bisa aku meninggalkan orang sepertimu, Mir. Orang yang sangat aku cintai. Meskipun kamu tidak pernah hamil, kita gak bisa punya anak, aku tetap akan setia bersamamu, hingga kita menua bersama, aku akan temani kamu, selamanya.”
Romi memang begitu mencintai Amira. Dulu saat ibu dan ayah Romi masih ada, hubungan mereka ditentang oleh kedua orang tua Romi, juga dengan orang tua Amira. Itu semua karena Amira hanya berasal dari keluarga biasa saja, sedangkan keluarga Romi, termasuk keluarga yang berada.
“Terima kasih ya, Mas. Sudah memperjuangkan aku sampai sekarang, sudah mencintaiku tanpa henti, dan sudah setia dengaku meski aku bukan perempuan yang sempurna,” ucap Amira.
“Iya, sama-sama, Sayang. Terima kasih juga kamu sudah setia denganku, sudah selalu mengerti aku, meskipun sekarang aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, kamu selalu ngerti, dan tidak pernah memaksaku untuk mengantar kamu periksa kandungan, padahal itu kan sangat dibutuhkan perempuan hamil? Periksa kandungan diantar suami. Kamu malah sendirian terus, kadang malah diantar Regi?” ucap Romi.
“Gak apa-apa, Mas. Kamu kerja juga kan untuk aku, untuk anak kita, untuk hidup kita, jadi aku tidak mempermasalahkannya. Bukannya kita sering seperti ini? Contohnya sedang menjalani program hamil saja, periksanya pisah-pisah, kadang aku duluan kalau kamu belum sempat, nanti baru kamu. Ya bagiku ini bukan masalah besar, selagi aku bisa sendirian, itu gak masalah, Mas,” jelas Amira.
“Memang ya istriku ini wonder women, dari dulu apa-apa bisa sendiri,” puji Romi dengan menciumi wajah Amira.
“Iya dong, jadi perempuan itu jangan manja, tapi kalau dimanjain ya senang sekali aku, Mas,” ucap Amira.
“Ayo tidur sudah malam, besok aku masih cuti, kita jalan-jalan ya? Sama cari perlengkapan bayi, kan sudah tujuh bulanan, jadi gak apa-apa,” ajak Romi.
“Ih kok baru bilang kalau besok kamu masih cuti? Katanya cuti sehari?” protes Amira.
“Kan kejutan buat kamu. Makanya ayo tidur, nanti besok kita jalan-jalan dari pagi. Aku kan jarang ajak kamu jalan berdua selama kamu hamil. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, mungkin beberapa bulan ke depan aku juga masih sangat sibuk sekali, Sayang,” ucap Romi.
“Peluk dong, jarang sekali sekarang, tidur dipeluk kamu, kamu pulang pasti aku sudah tidur lebih dulu,” ucap Amira.
“Maaf ya, Sayang? Ini sudah aku peluk, dan tidak aku lepas sampai pagi.”
“Benar ya, jangan lepasin.”
“Iya, Sayang.”
Romi memeluk Amira, dengan tangannya mengusap perut Amira. Perut Amira sudah kencang sekali, tendangan bayinya juga kuat. Tadinya Romi sangat curiga dengan kehamilan Amira, yang perutny tidak normal, tidak sesuai dengan usia kandungan pada umumnya. Tapi, sekarang Romi tidak lagi merasa seperti itu, soalnya di kantor ada karyawan yang hamil, sudah sembilan bulan tapi tidak terlihat perutnya buncit, dan ada juga yang baru tujuh bulan juga sudah gede sekali perutnya. Dari situ Romi paham, kalau perut perempuan hamil berbeda-beda.
^^^
Amira sudah bersiap untuk pergi dengan Romi. Pagi ini sudah lumayan tidak repot untuk Amira, karena sudah ada Mbak Rahmi yang menjadi asisten rumah tangga barunya. Jadi pagi-pagi sudah ada sarapan di meja makannya.
“Ini kalian kok sudah pada rapi? Masih pagi sekali sudah pada rapi gini?” tanya Regi.
“Kita mau jalan, mau sekalian beli perlengkapan bayi,” jawab Romi.
“Mas gak ke kantor?” tanya Regi.
“Mas masih cuti sehari atau dua hari lagi, Re. Pengin nemenin Mira, habis aku ini sibuk terus, jadi aku sempatin waktu buat menemani Amira jalan-jalan, beli perlengkapan, terus besok rencananya sih mau nyiapin kamar bayi, jadi biar sekalian tiga hari aku cuti,” jelas Romi.
“Bagus dong kalau begitu? Sempatin libur lah buat menemani istri, nanti juga kalau check-up, biar Mbak Mira gak sendirian. Kalau aku gak sibuk sih pasti aku temani, tapi kalau aku juga sama-sama sedang sibuk di kantor, ya Mbak Mira sendirian?” jelas Regi.
“Makanya itu, ini aku sempatkan, buat beli-beli perlengkapan bayi, terus buat menyiapkan kamar bayi juga. Nanti sekitar tiga minggu lagi juga aku akan mengantar Mira periksa kandungan,” ucap Romi.
“Yakin tidak sibuk?” tanya Amira.
“Ya mudah-mudahan tidak sih? Aku akan sempatkan, masa selama kamu hamil, aku gak pernah mengantar kamu periksa kandungan? Malah Regi yang sering antar kamu?” jawab Romi.
“Makanya sempatin ya, Mas?” pinta Amira.
Sebenarnya Amira takut Romi bisa mengantarkannya periksa kandungan. Karena, pasti dokter akan menyampaikan usia kandungan Amira, dan pasti akan bilang kalau beberapa hari lagi menunggu hari lahir.
“Semoga saja Mas Romi ada halangan untuk mengantarkan aku periksa, aku takut, aku belum siap kalau Mas Romi tahu soal usia kandunganku. Mungkin kalau saat dulu Mas Romi ke Surabaya aku tidak dalam keadaan haid, aku bisa jujur dengan usia kandunganku. Sayang sekali aku belum selesai haid saat itu, malah baru beberapa hari aku haid. Apalagi selama kami melakukan program hamil, Mas Romi sangat jeli dengan jadwal datang bulanku, dan masa suburku, jadi dia tentu tahu, dan menghitung-hitung tanggal berapa aku harus datang bulan dan selesai datang bulan?” batin Amira.
Regi pun sebetulnya khawatir kalau kakaknya sampai mengantarkan Amira periksa. Dia belum siap kalau kakaknya murka karena tahu usia kandungan Amira, apalagi dia dan Amira membohongi soal hasil periksa Amira. Regi takut kakaknya akan murka pada dirinya dan Amira, apalagi sampai tahu kalau anak yang ada di dalam kandungan Amira adalah anak diirinya.
“Ya aku yakin, kalau semua ini akan terbongkar di kemudian hari, tapi jangan sekarang, aku kasihan Mbak Mira juga kalau Mas Romi sampai marah besar padanya, aku tahu kalau Mas Romi marah itu seperti apa, bisa jadi Amira diceraikannya. Dia sedang hamil, biar nanti saja Mas Romi tahu ini semua,” batin Regi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments