Chapter 16 - Kekahawatiran Regi

Romi mengusap perut Amira setelah selesai melakukan ritual malam dengan Amira. Romi akui Amira selalu bisa membuat dirinya puas dan nyaman saat bercinta, meskipun sekarang Amira sedang hamil, dan kandungannya sudah besar.

“Mir, kamu capek?” tanya Romi.

“Enggak, mas mau lagi?” jawab Amira.

“Jangan nanti saja, kasihan anak kita, biar dia istirahat, jangan diganggu.” Ucapnya dengan mengeratkan pelukannya pada Amira. “Ih kok nendang papa sih?” Romi merasakan bayi di perut Amira menendang-nendang.

“Habis papa nakal ya sayang? Nyemprotin adek mulu dari tadi,” jawab Amira dengan terkekeh.

“Kamu bisa saja, Mir?” Regi semakin mengeratkan pelukannya pada Amira. “Aku bahagia sekali, akhirnya aku akan menjadi ayah, Mir. Usaha kita selama ini tidak sia-sia,” bisik Romi.

“Aku juga bahagia sekali, Mas. Terima kasih sudah mau sabar menunggu buah hati kita ya, Mas? Sudah sabar menghadapi omongan-omongan orang yang selalu membuat kita ini down, karena lama sekali gak punya anak. Terima kasih karena mas masih setia mendampingiku, meski aku lama sekali tidak hamil-hamil, kamu masih setia, tidak mencari perempuan lain,” ucap Amira.

“Itu karena aku sangat mencintaimu, Mir. Aku menghargai pernikahan kita, menghargai setiap pengorbanan kita dan usaha kita dulu saat kita berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua kita,” ucap Romi. “Bagaimana bisa aku meninggalkan orang sepertimu, Mir. Orang yang sangat aku cintai. Meskipun kamu tidak pernah hamil, kita gak bisa punya anak, aku tetap akan setia bersamamu, hingga kita menua bersama, aku akan temani kamu, selamanya.”

Romi memang begitu mencintai Amira. Dulu saat ibu dan ayah Romi masih ada, hubungan mereka ditentang oleh kedua orang tua Romi, juga dengan orang tua Amira. Itu semua karena Amira hanya berasal dari keluarga biasa saja, sedangkan keluarga Romi, termasuk keluarga yang berada.

“Terima kasih ya, Mas. Sudah memperjuangkan aku sampai sekarang, sudah mencintaiku tanpa henti, dan sudah setia dengaku meski aku bukan perempuan yang sempurna,” ucap Amira.

“Iya, sama-sama, Sayang. Terima kasih juga kamu sudah setia denganku, sudah selalu mengerti aku, meskipun sekarang aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, kamu selalu ngerti, dan tidak pernah memaksaku untuk mengantar kamu periksa kandungan, padahal itu kan sangat dibutuhkan perempuan hamil? Periksa kandungan diantar suami. Kamu malah sendirian terus, kadang malah diantar Regi?” ucap Romi.

“Gak apa-apa, Mas. Kamu kerja juga kan untuk aku, untuk anak kita, untuk hidup kita, jadi aku tidak mempermasalahkannya. Bukannya kita sering seperti ini? Contohnya sedang menjalani program hamil saja, periksanya pisah-pisah, kadang aku duluan kalau kamu belum sempat, nanti baru kamu. Ya bagiku ini bukan masalah besar, selagi aku bisa sendirian, itu gak masalah, Mas,” jelas Amira.

“Memang ya istriku ini wonder women, dari dulu apa-apa bisa sendiri,” puji Romi dengan menciumi wajah Amira.

“Iya dong, jadi perempuan itu jangan manja, tapi kalau dimanjain ya senang sekali aku, Mas,” ucap Amira.

“Ayo tidur sudah malam, besok aku masih cuti, kita jalan-jalan ya? Sama cari perlengkapan bayi, kan sudah tujuh bulanan, jadi gak apa-apa,” ajak Romi.

“Ih kok baru bilang kalau besok kamu masih cuti? Katanya cuti sehari?” protes Amira.

“Kan kejutan buat kamu. Makanya ayo tidur, nanti besok kita jalan-jalan dari pagi. Aku kan jarang ajak kamu jalan berdua selama kamu hamil. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, mungkin beberapa bulan ke depan aku juga masih sangat sibuk sekali, Sayang,” ucap Romi.

“Peluk dong, jarang sekali sekarang, tidur dipeluk kamu, kamu pulang pasti aku sudah tidur lebih dulu,” ucap Amira.

“Maaf ya, Sayang? Ini sudah aku peluk, dan tidak aku lepas sampai pagi.”

“Benar ya, jangan lepasin.”

“Iya, Sayang.”

Romi memeluk Amira, dengan tangannya mengusap perut Amira. Perut Amira sudah kencang sekali, tendangan bayinya juga kuat. Tadinya Romi sangat curiga dengan kehamilan Amira, yang perutny tidak normal, tidak sesuai dengan usia kandungan pada umumnya. Tapi, sekarang Romi tidak lagi merasa seperti itu, soalnya di kantor ada karyawan yang hamil, sudah sembilan bulan tapi tidak terlihat perutnya buncit, dan ada juga yang baru tujuh bulan juga sudah gede sekali perutnya. Dari situ Romi paham, kalau perut perempuan hamil berbeda-beda.

^^^

Amira sudah bersiap untuk pergi dengan Romi. Pagi ini sudah lumayan tidak repot untuk Amira, karena sudah ada Mbak Rahmi yang menjadi asisten rumah tangga barunya. Jadi pagi-pagi sudah ada sarapan di meja makannya.

“Ini kalian kok sudah pada rapi? Masih pagi sekali sudah pada rapi gini?” tanya Regi.

“Kita mau jalan, mau sekalian beli perlengkapan bayi,” jawab Romi.

“Mas gak ke kantor?” tanya Regi.

“Mas masih cuti sehari atau dua hari lagi, Re. Pengin nemenin Mira, habis aku ini sibuk terus, jadi aku sempatin waktu buat menemani Amira jalan-jalan, beli perlengkapan, terus besok rencananya sih mau nyiapin kamar bayi, jadi biar sekalian tiga hari aku cuti,” jelas Romi.

“Bagus dong kalau begitu? Sempatin libur lah buat menemani istri, nanti juga kalau check-up, biar Mbak Mira gak sendirian. Kalau aku gak sibuk sih pasti aku temani, tapi kalau aku juga sama-sama sedang sibuk di kantor, ya Mbak Mira sendirian?” jelas Regi.

“Makanya itu, ini aku sempatkan, buat beli-beli perlengkapan bayi, terus buat menyiapkan kamar bayi juga. Nanti sekitar tiga minggu lagi juga aku akan mengantar Mira periksa kandungan,” ucap Romi.

“Yakin tidak sibuk?” tanya Amira.

“Ya mudah-mudahan tidak sih? Aku akan sempatkan, masa selama kamu hamil, aku gak pernah mengantar kamu periksa kandungan? Malah Regi yang sering antar kamu?” jawab Romi.

“Makanya sempatin ya, Mas?” pinta Amira.

Sebenarnya Amira takut Romi bisa mengantarkannya periksa kandungan. Karena, pasti dokter akan menyampaikan usia kandungan Amira, dan pasti akan bilang kalau beberapa hari lagi menunggu hari lahir.

“Semoga saja Mas Romi ada halangan untuk mengantarkan aku periksa, aku takut, aku belum siap kalau Mas Romi tahu soal usia kandunganku. Mungkin kalau saat dulu Mas Romi ke Surabaya aku tidak dalam keadaan haid, aku bisa jujur dengan usia kandunganku. Sayang sekali aku belum selesai haid saat itu, malah baru beberapa hari aku haid. Apalagi selama kami melakukan program hamil, Mas Romi sangat jeli dengan jadwal datang bulanku, dan masa suburku, jadi dia tentu tahu, dan menghitung-hitung tanggal berapa aku harus datang bulan dan selesai datang bulan?” batin Amira.

Regi pun sebetulnya khawatir kalau kakaknya sampai mengantarkan Amira periksa. Dia belum siap kalau kakaknya murka karena tahu usia kandungan Amira, apalagi dia dan Amira membohongi soal hasil periksa Amira. Regi takut kakaknya akan murka pada dirinya dan Amira, apalagi sampai tahu kalau anak yang ada di dalam kandungan Amira adalah anak diirinya.

“Ya aku yakin, kalau semua ini akan terbongkar di kemudian hari, tapi  jangan sekarang, aku kasihan Mbak Mira juga kalau Mas Romi sampai marah besar padanya, aku tahu kalau Mas Romi marah itu seperti apa, bisa jadi Amira diceraikannya. Dia sedang hamil, biar nanti saja Mas Romi tahu ini semua,” batin Regi.

Episodes
1 Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2 Chapter 2 - Dua Garis Merah
3 Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4 Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5 Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6 Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7 Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8 Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9 Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10 Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11 Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12 Curiga Romi Selingkuh
13 Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14 Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15 Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16 Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17 Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18 Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19 Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20 Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21 Chapter 21 - Meragukan
22 Chapter 22 - Mencari Bukti
23 Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24 Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25 Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26 Chapter 26 - Calon Istri Baru
27 Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chater 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2
Chapter 2 - Dua Garis Merah
3
Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4
Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5
Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6
Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7
Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8
Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9
Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10
Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11
Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12
Curiga Romi Selingkuh
13
Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14
Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15
Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16
Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17
Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18
Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19
Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20
Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21
Chapter 21 - Meragukan
22
Chapter 22 - Mencari Bukti
23
Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24
Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25
Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26
Chapter 26 - Calon Istri Baru
27
Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chater 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!