Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi

Mereka makan malam bersama, Amira terlihat lahap sekali makannya, padahal dia sudah makan satu porsi martabak telur spesial, dan hanya sisa dua potong saja, lalu ia berikan pada Regi. Tidak biasanya Amira makan selahap itu, Romi baru pernah melihatnya, karena biasa makan sesuai porsinya, ini Amira sudah nambah lagi.

“Sayang ... Kamu tumben makan banyak?” Tanya Romi.

“Ini enak sekali ikan bakarnya, Mas, sambalnya juga mantap rasanya,” jawab Amira. “Kamu beli di mana, Re? Pintar juga cari lauk yang enak kamu, Re?” puji Amira.

“Iya ini ikan bakarnya emang enak, Re. Gak krasa amisnya, sambalnya juga enak? Memang kamu beli di mana?” tanya Romi.

“Di daerah pasar itu, kan ada ikan bakar enak di situ? Ya direkomendasikan sama teman kantor pas mau makan-makan kemarin?” jelas Regi.

“Enak kan, Mas? Gak salah dong aku sampai tambah-tambah nasi, dan lihat aku makan satu ikan yang ukurannya besar,” ucap Amira.

“Jangan berlebihan, nanti kamu kekenyangan, Sayang?” ucap Romi.

“Gak, ini udah kok gak nambah lagi,” jawab Amira.

Romi juga merasakan ikan bakarnya memang enak. Romi akui Regi memang pintar memilih makanan yang enak sama yang tidak. Pantas sana dua adik perempuannya kalau titip makanan pada Regi hasilnya puas, tidak seperti saat nitip dirinya.

Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang tengah, Regi juga sudah siap-siap mau pulang, sekarang Regi tidak menginap di rumah Romi, kalau Romi sudah pulang dia juga pulang ke rumahnya. Padahal dia ingin sekali dekat dengan Amira, tapi dia paham, Amira itu istri kakaknya, dia hanya menitipkan benihnya saja di perut Amira.

“Re lihat tuh, perut Mbak Mira udah gede sekali, ya? Kayak sudah tujuh bulanan usia kandungannya?” ujar Romi dengan menunjukkan perut Amira.

“I—iya, udah gede. Memang sudah berapa bulan, Mbak?” tanya Regi pura-pura tidak tahu.

“Lha kamu gak tahu? Kemarin bukannya kamu yang antar Mbak Mira check-up? Masa gak tanya? Kamu gak antar sampai dalam, Re?” ujar Romi.

“Ya kali aku sampai dalam? Aku bukan suaminya, Kak Mira risih lah, aneh mas ini?” jawab Regi, padahal ia mengantar sampai dalam, dan tahu berapa usia kandungan Mira sekarang.

“Iya juga sih? Ya setidaknya kamu tanya berapa usia kandungan Mbak Mira?” ujar Romi.

“Memang berapa bulan, Mbak? Tujuh bulan?” tanya Regi pura-pura tidak tahu.

“Empat, Re?” jawab Amira.

“Empat kok udah gede, ya?”

“Nah makanya aku bilang tadi sama kamu, dah kayak usia tujuh bulan, Re. Padahal masih empat bulan? Tendangan anakku juga kuat Re, tadi pas mas pegang dia nendang-nendang keras. Mas senang sekali. Pasti dia laki-laki, mas bahagia sekali kalau anak mas laki-laki, Re” ucap Romi.

“Wah aku mau punya ponakan jagoan dong?” ujar Regi dengan sesak di dadanya.

Bukan keponakan, melainkan anak. Iya anaknya, karena benih bayi yang ada di perut Amira adalah hasil dari benih yang ia tanam malam itu di rahim Amira.

Amira terdiam melihat raut wajah Regi yang berubah saat ia bilang keponakan. Amira tahu, ini anak Regi, dan Amira paham perasaan Regi.

“Kalian itu ya, gimana perutku gak gede, gak buncit banget kek kandunganku sudah tujuh bulan? Makan saja nambah-nambah? Makan satu porsi martabak, belum makan apa tadi, asinan, rujak, cemilan ringan? Jelas dong perutku gede karena aku doyan makan? Anakku juga jadi kuat nendangnya? Dan ini, aku habis ini mau minum susu?” jelas Amira.

“Iya juga sih?” ucap Regi dan Romi bersamaan.

“Benar juga mas, pas kemarin aku ke toko bunganya, pas mas suruh aku lihatin mbak di toko bunga, di meja kerjanya banyak sekali jajanan, dari roti, cemilan ringan, rujak, es krim?” ujar Regi.

“Benarkah begitu?”

“Iya mas, habis aku sering ngrasa lapar mas, mending gitu mas, daripada  doyan makan?” jawab Amira.

“Iya juga sih?” ucap Romi.

“Ya sudah mas, mbak, aku pamit pulang, sudah mau jam sebelas itu. Besok aku berangkat pagi soalnya,” pamit Regi.

“Re, kalau kamu ada waktu, check up depan antar Mbak Mira, ya? Mas mau ke luar kota, dua hari saja sih? Ada pekerjaan di sana,” pinta Romi.

“Ih tuh kan mas gak antar lagi? Mas sibuk mulu ih?” ucap Mira, pura-pura tidak terima kalau Romi gak mau mengantarkannya check up.

“Mas benar-benar gak bisa antar, Sayang? Mas pagi-pagi sudah harus berangkat. Ya itu proyek yang belum selesai, yang di Surabaya. Maafkan mas ya? Kamu hamil malah sering mas tinggal keluar kota?” ucap Romi.

Romi memang benar-benar sangat sibuk mengurus pekerjaannya yang tersendat, hingga melewati batas waktu target selesai. Jadi dia setiap hari harus meminta Regi mengawasi Amira, beruntung sekali Regi sedang fleksibel jam kerjanya saat ini, jadi bisa memantau Amira. Kalau pun Romi gak menyuruh, tetap saja Regi akan perhatian dengan Amira karena anak yang ada di kandungan Amira adalah anaknya.

Romi melihat wajah Amira yang cemberut, dia tahu pasti Amira kecewa karena selama hamil gak pernah diantar check up dirinya sama sekali. Amira kadang check up sendiri, kadang juga Romi meminta Regi menemaninya. Dan kali ini dia pun meminta Regi lagi untuk mengantar Amira check up ke dokter.

“Ya sudah mas akan usahain, mas antar kamu check up. Jangan cemberut dong?” rayu Romi.

“Nah gitu dong? Masa istrinya check up aku terus yang antar? Sempatkan lah? Nanti anak kamu manggil aku papa gimana? Yang antar aku terus?” ujar Regi dengan bercanda.

“Sembarangan kamu! Aku yang nanam kamu yang dipanggil papa!” tukas Romi.

“Enak saja, itu anakku, Mas!” batin Regi.

Amira melihat Romi dan Regi bergantian, saat berdebat soal anaknya yang nanti manggil Regi papa. “Memang ini anak Regi, Mas. Maafkan aku. Aku berdosa sekali denganmu mas. Usia kandunganku mau tujuh bulan mas,” batin Amira.

“Makanya sempatkan antar Mbak Mira dong?” ujar Regi.

“Ya aku sempatkan, nanti aku negosiasi hari deh, atau kalau bisa ajukan saja jadwalmu kan bisa, Sayang?” ujar Romi.

“Ya nanti aku cari jadwalnya lagi mas,” ucap Amira.

Amira padahal takut, kalau Romi yang antar dirinya check up, karena pasti akan ketahuan usia kandungannya.

“Huh, harusnya tadi aku tidak usah akting ngambek, kan jadi gini? Kalau benaran Mas Romi antar aku gimana? Ketahuan dong usia kandunganku berapa?” batin Amira.

“Ya sudah mas, mbak, aku pulang. Nanti kabari saja, toh aku sedang slow kerjanya, jadi aku siap kalau mas dan mbak butuh apa,” ucap Regi.

“Iya, nanti aku kabari lagi,” ucap Romi.

“Aku pulang ya?”

Regi keluar dari rumah Romi. Dia sebetulnya masih ingin melihat Amira, tidak ingin pulang. Rasanya berat sekali melangkahkan kakinya untuk pulang. Pun dengan Amira, dia juga tidak ingin Regi pulang. Rasanya aneh sekali mendengar Regi pamit pulang.

“Kok aneh gini rasanya? Rasanya gak rela Regi pulang? Padahal ya besok juga aku ketemu lagi sama Regi? Dia sering ke toko, dan pasti menemaniku di rumah. Stop Mira! Dia hanya menanam benih saja di rahim kamu, bukan suamimu!” batin Amira.

Terpopuler

Comments

Selvianah Bilqis

Selvianah Bilqis

ak tanamkan bunga sekebon kak hon😂😂😂

2023-05-23

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2 Chapter 2 - Dua Garis Merah
3 Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4 Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5 Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6 Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7 Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8 Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9 Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10 Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11 Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12 Curiga Romi Selingkuh
13 Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14 Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15 Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16 Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17 Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18 Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19 Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20 Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21 Chapter 21 - Meragukan
22 Chapter 22 - Mencari Bukti
23 Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24 Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25 Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26 Chapter 26 - Calon Istri Baru
27 Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chater 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2
Chapter 2 - Dua Garis Merah
3
Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4
Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5
Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6
Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7
Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8
Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9
Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10
Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11
Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12
Curiga Romi Selingkuh
13
Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14
Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15
Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16
Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17
Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18
Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19
Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20
Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21
Chapter 21 - Meragukan
22
Chapter 22 - Mencari Bukti
23
Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24
Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25
Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26
Chapter 26 - Calon Istri Baru
27
Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chater 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!