Mereka makan malam bersama, Amira terlihat lahap sekali makannya, padahal dia sudah makan satu porsi martabak telur spesial, dan hanya sisa dua potong saja, lalu ia berikan pada Regi. Tidak biasanya Amira makan selahap itu, Romi baru pernah melihatnya, karena biasa makan sesuai porsinya, ini Amira sudah nambah lagi.
“Sayang ... Kamu tumben makan banyak?” Tanya Romi.
“Ini enak sekali ikan bakarnya, Mas, sambalnya juga mantap rasanya,” jawab Amira. “Kamu beli di mana, Re? Pintar juga cari lauk yang enak kamu, Re?” puji Amira.
“Iya ini ikan bakarnya emang enak, Re. Gak krasa amisnya, sambalnya juga enak? Memang kamu beli di mana?” tanya Romi.
“Di daerah pasar itu, kan ada ikan bakar enak di situ? Ya direkomendasikan sama teman kantor pas mau makan-makan kemarin?” jelas Regi.
“Enak kan, Mas? Gak salah dong aku sampai tambah-tambah nasi, dan lihat aku makan satu ikan yang ukurannya besar,” ucap Amira.
“Jangan berlebihan, nanti kamu kekenyangan, Sayang?” ucap Romi.
“Gak, ini udah kok gak nambah lagi,” jawab Amira.
Romi juga merasakan ikan bakarnya memang enak. Romi akui Regi memang pintar memilih makanan yang enak sama yang tidak. Pantas sana dua adik perempuannya kalau titip makanan pada Regi hasilnya puas, tidak seperti saat nitip dirinya.
Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang tengah, Regi juga sudah siap-siap mau pulang, sekarang Regi tidak menginap di rumah Romi, kalau Romi sudah pulang dia juga pulang ke rumahnya. Padahal dia ingin sekali dekat dengan Amira, tapi dia paham, Amira itu istri kakaknya, dia hanya menitipkan benihnya saja di perut Amira.
“Re lihat tuh, perut Mbak Mira udah gede sekali, ya? Kayak sudah tujuh bulanan usia kandungannya?” ujar Romi dengan menunjukkan perut Amira.
“I—iya, udah gede. Memang sudah berapa bulan, Mbak?” tanya Regi pura-pura tidak tahu.
“Lha kamu gak tahu? Kemarin bukannya kamu yang antar Mbak Mira check-up? Masa gak tanya? Kamu gak antar sampai dalam, Re?” ujar Romi.
“Ya kali aku sampai dalam? Aku bukan suaminya, Kak Mira risih lah, aneh mas ini?” jawab Regi, padahal ia mengantar sampai dalam, dan tahu berapa usia kandungan Mira sekarang.
“Iya juga sih? Ya setidaknya kamu tanya berapa usia kandungan Mbak Mira?” ujar Romi.
“Memang berapa bulan, Mbak? Tujuh bulan?” tanya Regi pura-pura tidak tahu.
“Empat, Re?” jawab Amira.
“Empat kok udah gede, ya?”
“Nah makanya aku bilang tadi sama kamu, dah kayak usia tujuh bulan, Re. Padahal masih empat bulan? Tendangan anakku juga kuat Re, tadi pas mas pegang dia nendang-nendang keras. Mas senang sekali. Pasti dia laki-laki, mas bahagia sekali kalau anak mas laki-laki, Re” ucap Romi.
“Wah aku mau punya ponakan jagoan dong?” ujar Regi dengan sesak di dadanya.
Bukan keponakan, melainkan anak. Iya anaknya, karena benih bayi yang ada di perut Amira adalah hasil dari benih yang ia tanam malam itu di rahim Amira.
Amira terdiam melihat raut wajah Regi yang berubah saat ia bilang keponakan. Amira tahu, ini anak Regi, dan Amira paham perasaan Regi.
“Kalian itu ya, gimana perutku gak gede, gak buncit banget kek kandunganku sudah tujuh bulan? Makan saja nambah-nambah? Makan satu porsi martabak, belum makan apa tadi, asinan, rujak, cemilan ringan? Jelas dong perutku gede karena aku doyan makan? Anakku juga jadi kuat nendangnya? Dan ini, aku habis ini mau minum susu?” jelas Amira.
“Iya juga sih?” ucap Regi dan Romi bersamaan.
“Benar juga mas, pas kemarin aku ke toko bunganya, pas mas suruh aku lihatin mbak di toko bunga, di meja kerjanya banyak sekali jajanan, dari roti, cemilan ringan, rujak, es krim?” ujar Regi.
“Benarkah begitu?”
“Iya mas, habis aku sering ngrasa lapar mas, mending gitu mas, daripada doyan makan?” jawab Amira.
“Iya juga sih?” ucap Romi.
“Ya sudah mas, mbak, aku pamit pulang, sudah mau jam sebelas itu. Besok aku berangkat pagi soalnya,” pamit Regi.
“Re, kalau kamu ada waktu, check up depan antar Mbak Mira, ya? Mas mau ke luar kota, dua hari saja sih? Ada pekerjaan di sana,” pinta Romi.
“Ih tuh kan mas gak antar lagi? Mas sibuk mulu ih?” ucap Mira, pura-pura tidak terima kalau Romi gak mau mengantarkannya check up.
“Mas benar-benar gak bisa antar, Sayang? Mas pagi-pagi sudah harus berangkat. Ya itu proyek yang belum selesai, yang di Surabaya. Maafkan mas ya? Kamu hamil malah sering mas tinggal keluar kota?” ucap Romi.
Romi memang benar-benar sangat sibuk mengurus pekerjaannya yang tersendat, hingga melewati batas waktu target selesai. Jadi dia setiap hari harus meminta Regi mengawasi Amira, beruntung sekali Regi sedang fleksibel jam kerjanya saat ini, jadi bisa memantau Amira. Kalau pun Romi gak menyuruh, tetap saja Regi akan perhatian dengan Amira karena anak yang ada di kandungan Amira adalah anaknya.
Romi melihat wajah Amira yang cemberut, dia tahu pasti Amira kecewa karena selama hamil gak pernah diantar check up dirinya sama sekali. Amira kadang check up sendiri, kadang juga Romi meminta Regi menemaninya. Dan kali ini dia pun meminta Regi lagi untuk mengantar Amira check up ke dokter.
“Ya sudah mas akan usahain, mas antar kamu check up. Jangan cemberut dong?” rayu Romi.
“Nah gitu dong? Masa istrinya check up aku terus yang antar? Sempatkan lah? Nanti anak kamu manggil aku papa gimana? Yang antar aku terus?” ujar Regi dengan bercanda.
“Sembarangan kamu! Aku yang nanam kamu yang dipanggil papa!” tukas Romi.
“Enak saja, itu anakku, Mas!” batin Regi.
Amira melihat Romi dan Regi bergantian, saat berdebat soal anaknya yang nanti manggil Regi papa. “Memang ini anak Regi, Mas. Maafkan aku. Aku berdosa sekali denganmu mas. Usia kandunganku mau tujuh bulan mas,” batin Amira.
“Makanya sempatkan antar Mbak Mira dong?” ujar Regi.
“Ya aku sempatkan, nanti aku negosiasi hari deh, atau kalau bisa ajukan saja jadwalmu kan bisa, Sayang?” ujar Romi.
“Ya nanti aku cari jadwalnya lagi mas,” ucap Amira.
Amira padahal takut, kalau Romi yang antar dirinya check up, karena pasti akan ketahuan usia kandungannya.
“Huh, harusnya tadi aku tidak usah akting ngambek, kan jadi gini? Kalau benaran Mas Romi antar aku gimana? Ketahuan dong usia kandunganku berapa?” batin Amira.
“Ya sudah mas, mbak, aku pulang. Nanti kabari saja, toh aku sedang slow kerjanya, jadi aku siap kalau mas dan mbak butuh apa,” ucap Regi.
“Iya, nanti aku kabari lagi,” ucap Romi.
“Aku pulang ya?”
Regi keluar dari rumah Romi. Dia sebetulnya masih ingin melihat Amira, tidak ingin pulang. Rasanya berat sekali melangkahkan kakinya untuk pulang. Pun dengan Amira, dia juga tidak ingin Regi pulang. Rasanya aneh sekali mendengar Regi pamit pulang.
“Kok aneh gini rasanya? Rasanya gak rela Regi pulang? Padahal ya besok juga aku ketemu lagi sama Regi? Dia sering ke toko, dan pasti menemaniku di rumah. Stop Mira! Dia hanya menanam benih saja di rahim kamu, bukan suamimu!” batin Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Selvianah Bilqis
ak tanamkan bunga sekebon kak hon😂😂😂
2023-05-23
0