Romi masih memeluk istrinya, lalu menciumi kening istrinya sebelum berangkat ke kantor. Dia sebetulnya tidak mau Amira capek, tapi Amira juga jenuh kalau hanya di rumah saja.
“Jangan malam-malam pulangnya, nanti aku gak ada yang meluk tidurnya,” ucap Amira dengan manja.
“Iya, paling jam delapan pulang kok, sudah jangan manyun gini, nanti aku gigit lho bibirmu?” ucap Romi.
“Gigit saja, aku suka,” jawabnya sambil menantang Romi dengan menggigit bibir bawahnya.
“Jangan menggodaku di pagi hari, Sayang ....” Romi langsung mendaratkan bibirnya di bibir Amira, ia mengecupnya dengan lembut, dan membuat Amira semakin ingin terus menautkan bibirnya pada bibir Romi.
“Sudah, mas mau kerja, nanti mas sampai kantor terlambat kalau gini? Jangan membangunkan macan yang sedang tertidur pulas,” cetus Romi.
Amira memeluk Romi lagi dengan erat, ia mendengus tubuh Romi, suka sekali bau tubuh Romi yang tanpa parfum, karena kalau dia mencium bau parfum Romi, dia akan mabuk, mual, dan muntah.
“Giliran aku gak pakai parfum diendus terus,” ujar Romi.
“Enak baunya.” Jawabnya. “Ya sudah mas berangkat sana, benar ya jangan malam-malam?”
“Iya, Sayang ....” Romi kembali memeluk Amira, lalu mengecup keningnya, pipi, dan bibir Amira.
Dari tadi Regi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat pemandangan romantis itu. Pemandangan yang sudah biasa Regi lihat setiap hari kalau dia sedang di rumah kakaknya. Tapi, kali ini beda. Ada rasa tercubit di hati Regi melihat kakaknya begitu romantis terhadap istrinya, yang sedang mengandung anaknya. Ya, anak Regi yang ada di kandungan Amira.
“Terus gitu ... pamer mentang-mentang ada jomlo di sini!” cetus Regi sambil mendekati kakak dan kakak iparnya.
“Jomlo iri nih, yee ....” ledek Romi.
“Gak iri, risih tahu ih lihatnya!” tukas Regi.
“Makanya punya pacara dong? Udah tua gak mau cari pacar! Kapan nikah? Kan mas lega kalau kamu sudah dapat pasangan? Tinggal kamu lho yang belum nikah?” ujar Romi.
“Iya nanti deh aku cari. Namanya belum ada yang pas, yang sesuai kriteria? Masa dipaksain?” ucap Regi.
“Lagian, jodoh gak usah dicari, nanti juga bakal dapat, Mas? Jodoh kan sudah Tuhan atur sedemikan rupa?” ucap Amira.
“Iya, tapi kalau gak usaha cari, ya gak dapat-dapat, Sayang?” ujar Romi. “Sama halnya dengan rezeki. Rezeki memang sudah diatur oleh Tuhan, tapi kalau kita gak bergerak untuk mencari Rezeki, ya Tuhan gak akan ngasih? Intinya Tuhan mau supaya kita itu berusaha lebih dulu, masalah nantinya dapat atau gak, ya terserah kehendak Tuhan?” tutur Romi.
“Iya deh iya ... ngalah saja Re, sana kamu buruan cari pacar!” tukas Amira.
“Besok deh kalau gak kesiangan aku cari,” jawabnya santai.
“Jawaban patenmu, apa-apa kalau gak kesiangan!” tukas Romi.
“Ya begitu,” ucap Regi.
“Ya sudah kakak berangkat, nanti jangan lupa antar Mbak Mira, lalu belikan susu hamil sekalian, kalau Mbak Mira mau, ajak aja sekalian, kali saja Mbak Mira mau beli cemilan atau apa.
Romi berangkat ke kantor. Amira melambaikan tangannya pada Romi. Setelah mobil Romi sudah tidak terlihat, Amira langsung masuk ke dalam. Berisap untuk ke toko bunganya.
“Sudah siap, Mbak?” tanya Regi.
“Hmm ... sudah,” jawab Amira ketus.
“Ya sudah aku antar yuk?” ajak Regi.
Amira langsung berjalan keluar mendahului Regi. Ia langsung masuk ke dalam mobil Regi, duduk di jok belakang. Maunya dia tidak bareng Regi, tapi apa boleh buat, suaminya ngotot menyuruh dirinya pergi ke toko bunga bersama Regi.
“Depan saja, Mbak,” pinta Regi.
“Gak!” jawabnya.
“Mbak, masa aku kek sopir gini jadinya? Ayo ke depan,” pinta Regi dengan lembut.
Entah kenapa Amira langsung pindah ke depan, menuruti apa yang Regi minta. Padahal ia tidak ingin dekat-dekat dengan Regi, tidak mau ngobrol sama Regi, apalagi bertatap muka. Dia tidak mau, karena akan mengingat kejadian malam itu.
“Mbak yakin gak mau ikut beli susu? Kali saja mbak pengin beli cemilan apa gitu?” tanya Regi.
“Aku langsung ke toko bunga saja!” jawabnya ketus.
“Oke, mbak pengin apa? Biar aku belikan sekalian,” tanya Regi.
“Gak pengin apa-apa!” Jawabnya tanpa melihat Regi.
“Ya sudah, aku antar langsung ke toko bunga, ya?” ucap Regi. Amira hanya mengangguk saja, dia terus memalingkan wajahnya hingga sampai ke toko bunga miliknya.
Regi mengantar Amira ke toko bunganya lebih dulu. Dia menuruti apa yang kakaknya perintahkan. Setelah mengantarkan Amira, Regi langsung ke IndoApril untuk membelikan susu hamil Amira yang kata Romi sudah habis. Regi membelinya sesuai apa nyang Romi perintahkan. Dia membeli susu dan membelikan cemilan sehat untuk Amira, membelikan buah juga untuk Amira.
Regi pergi sendiri, karena Amira tidak mau ikut untuk membeli susu. Duduk di samping Regi dia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap Regi, bagaimana bisa dia ikut untuk membeli susu? Padahal dia ingin sekali makan beli silver queen matcha dan kit-kat matcha. Entah kenapa dia mendadak suka matcha seperti Regi.
Regi memibelikan beberapa susu hamil untuk kakak iparnya. Dia juga membelikan kesukaan Amira saat ini, makanan yang berbau matcha. Setelah selesai membelikan susu dan cemilan untuk Amira, Regi langsung kembali ke toko bunga. Dia melihat di pinggir jalan ada pedagang asinan mangga kesukaan Amira, yang setiap harinya Amira beli.
Regi turun dan membelikan tiga cup asinan untuk Amira, dan membelikan rujak buah yang ada di samping penjual asinan.
Sesampainya di toko bunga, Regi langsung mencari Amira. Ia membawa cemilan, asinan, dan rujak buah untuk Amira.
“Mbak, ini ada cemilan, ada asinan, ada rujak buah juga. Mbak mau? Mau makan yang mana?” tanya Regi.
“Kamu tidak lihat aku sedang sibuk?” jawab Amira.
“Jangan capek-capek, Mbak, nanti mbak gak dibolehin ke sini lagi sama Mas Romi. Mending itu ditinggal dulu, ini ada cemilan untuk mbak, di makan dulu, terserah mau makan apa, rujak, cemilan, atau makanan ringan,” ucap Regi.’
“Hmm ... iya deh,” jawab Amira menyerah, daripada nantinya tidak dibolehkan suaminya ke toko bunga lagi.
“Mau makan apa? Asinan atau rujak buah?” tanya Regi.
“Rujak buah saja, Re,” jawabnya.
“Oke, aku bukain, biar mbak enak makannya,” ucapnya.
Amira memerhatikan Regi yang sedang membukakan cup rujak, dan menyaiapkan sambalnya. Amira tidak mengerti kenapa semakin ingin menghidari Regi, malah dirinya semakin ingin dekat dengan Regi.
“Apa ini bawaan anak yang ada di dalam kandunganku? Dia seakan tahu, Regi adalah ayahnya, rasanya ingin menjauh dari Regi, tapi sehari Regi gak kelihatan saja kadang aku ingin melihatnya? Tapi, kadang aku benci sekali dengan dirinya, apalagi ingat kejadian malam itu. Tapi, semua itu terjadi karena kecelakaan, semua itu bukan mauku, atau bukan mau Regi, kami sedang dibawah kesadaran saat itu, dibawah pengaruh alkohol,” batin Amira,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments