Romi masih tidak habis pikir saja Regi tadi memegangi perut Amira. Sudah gitu mereka sambil tertawa-tertawa gitu, seperti sedang bercanda, dan candaannya seperti orang yang sudah sangat dekat sekali. Padahal selama ini Romi hanya melihat kedekatan Amira dan Regi tidak seperti itu. Iya, sering bercanda, tapi bercandanya masih dalam tahap yang wajar, tidak seperti tadi. Apalagi Romi sampai dengar Regi bilang nanti anaknya mirip dirinya, karena dari awal Amira hamil yang antar periksa Regi.
“Aku salah dengar tidak ya tadi? Kok Regi sampai segitunya bilang seperti itu? Iya aku memang jarang antar Amira periksa, tapi setidaknya dia gak usah bilang seperti itu,” batin Romi kesal.
Pulang kerja capek-capek, sampai rumah disambut pemandangan tidak sedap seperti tadi. Jadi, wajar Romi sangat kesal. Romi langsung masuk ke kamarnya meninggalkan Regi dan Amira di ruang tengah. Dia masih tidak enak hati gara-gara melihat adiknya dekat dengan istrinya. Tidak seperti biasanya, kali ini ada rasa cemburu pada Regi yang dekat dengan Amira.
“Mas,” panggil Amira.
“Iya, gimana?” jawab Romi. “Regi masih di depan?” tanya Romi.
“Di kamarnya, katanya mau mandi terus mau pulang,” jawab Amira.
“Kok gak nunggu makan malam? Sudah tanggung pulang jam segini, gak sekalian saja makan malam?” tanya Romi.
“Gak tahu sih, dia bilangnya mau mandi terus siap-siap pulang,” jawab Amira. “Mas, maaf untuk yang tadi, ya?”
“Oh itu, iya gak apa-apa. Tapi, aku heran saja, kenapa kok Regi begitu? Pakai acara bilang nanti anak kita mirip dia? Bercanda ya jangan kelewatan juga sih,” ucap Romi dengan kesal.
“Mas ya aku juga gak tahu dia mau bilang begitu? Sudah gak usah dimasukin ke hati, dia adik kamu, masa iya mau macam-macam dengan istri kakaknya? Wajar dia pegang perutku karena anak kita kan keponakannya juga?” ujar Amira.
“Iya, tapi kan gimana gitu kesannya? Sudah jangan gitu lagi, ya?”
“Iya gak mas, maafin aku ya? Jangan ngambek dong?” ucap Amira.
“Iya gak. Oh iya, mana hasil periksamu hari ini?” tanya Romi.
“Sebentar aku ambilkan,” jawab Amira.
Amira langsung mengambil hasil pemeriksaannya tadi. Untung saja sudah Regi ganti hasilnya. Yang asli sudah Amira simpan rapi di lemarinya, semua hasil yang asli dari yang pertama Amira periksa kandungan, semua Amira kumpulkan jadi satu. Di tempatkan dengan sebaik mungkin, biar Romi tidak melihatnya.
“Ini mas.” Amira memberikannya pada Romi. Romi langsung melihatnya. Kandungan Amira sehat, bayinya sehat, perkiraan lahirnya sebentar lagi, hanya menghitung beberapa minggu lagi saja.
“Syukurlah kalau anak kita sehat, semoga persalinan nanti kamu diberikan kemudahan dan kelancaran ya, Sayang?” ujar Romi.
“Iya, semoga, Mas,” jawab Amira.
Amira semakin memikirkan hari di mana ia harus melahirkan. Ia akan melahirkan dua atau tiga minggu lagi sebetulnya. Pasti Romi akan curiga kalau Amira dalam waktu dekat ini akan segera melahirkan.
“Aku harus menyiapkan mentalku. Semoga semuanya baik-baik saja,” batin Amira.
Romi dan Amira keluar dari kamarnya. Romi meminta Regi pulangnya nanti setelah makan malam saja, tapi Regi menolaknya, karena dia akan menemui rekan kerjanya, katanya sekalian akan makan malam juga di luar. Romi tidak mau memaksanya, mungkin memang Regi akan menemui rekan kerjanya, bukan karena tidak enak hati kejadian sore tadi saat memegangi perut Amira dengan sedikit bercanda bahkan seperti akan mencium perut Amira.
“Yakin kamu gak makan malam sekalian, Re?” tanya Romi.
“Gak mas, aku ini malah mau makan malam sekalian sama rekan kerjaku kok,” jawab Regi.
“Oh ya sudah, kamu hati-hati ya? Maaf mas selalu merepotkanmu, terima kasih sudah mengantarkan Amira periksa kandungan lagi,” ucap Romi.
“Iya mas, sama-sama. Aku juga minta maaf, tadi sudah lancang memegang perut Mbak Mira,” jawab Regi.
“Iya, gak apa-apa. Ya sudah kamu hati-hati ya, Re?” ucap Romi.
Romi dan Amira mengantarkan Regi ke depan untuk pulang. Amira juga sebetulnya tidak enak hati dengan suaminya karena kejadian tadi sore, tapi sepertinya suaminya juga sudah memakluminya.
“Ayo sayang masuk,” ajak Romi.
“Iya, Mas,” jawabnya.
Mereka menikmati makan malam berdua. Romi selalu senang, Amira hamil tapi makannya banyak. Tidak pilah-pilih makanan, tidak ngidam aneh-aneh, paling mintanya Cuma sebatas manisan, rujak, dan makanan yang mudah dijangkau. Mintanya juga tahu waktu, gak pernah tengah malam Amira meminta makan rujak misal, atau makanan apa yang malam-malam sulit untuk mencarinya.
“Mau nambah lagi, Sayang?” tanya Romi.
“Enggak, nanti saja, dikit-dikit, nanti nambahnya kalau pengin, Mas,” jawab Amira.
“Aku senang sekali, melihat kamu hamil doyan makan. Apa-apa masuk semua ke mulut, gak ada yang gak doyan. Pantas kamu sehat sekali ya, Sayang?” ucap Romi.
“Ya makanya itu, lihat perutku ini? Gede banget kan? Anak kita kembar, kembarnya sama makanan, karena aku hobi makan banget, Mas,” jawab Amira.
“Makanya itu, kamu hamil itu makannya teratur, gak pilih-pilih makanan juga, gak ngidam aneh-aneh, gak minta apa yang sulit dicari juga? Ngidam pun paling pengin buah belimbing, pengin rujak buah, asinan, manisan? Gak pernah tengah malam minta yang aneh-aneh,” ucap Romi.
“Anak kita tahu, papanya sibuk kerja, jadi dia tidak aneh-aneh mintanya?” jawab Amira.
“Semoga anak kita jadi anak yang baik, penurut, pintar, sukses,” ucap Romi penuh harap.
“Aamiin ... semoga ya, Mas. Selalu doakan yang terbaik untuk anak kita,” jawab Amira.
“Iya sayang itu pasti,” ucap Romi.
Selesai makan malam, mereka menonton film kesukaan mereka di ruang tengah sambil menikmati cemilan yang Romi beli sepulang dari kantor tadi. Romi memang sengaja membeli cemilan banyak untuk menemani nonton film kesukaannya dengan Amira.
“Sudah lama sekali merindukan hal seperti ini ya, Mir? Nonton film berdua, sambil ngemil, sambil romantis-romantisan gini?” ucap Romi.
“Ya mas nya sibuk? Terus kita kan selalu setres mikir program hamil yang sering gagal, Mas? Jadi quality time kita itu kurang ya, Mas?” jawab Amira.
“Iya, benar sayang. Kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana program hamil kita biar berhasil. Sekarang kamu sudah hamil, aku pun masih sibuk. Malam ini mumpung aku tidak sibuk, aku matikan ponselku, dan aku ingin berduaan gini sama kamu, nonton film, sambil ngemil, berduaan, kek pacaran,” ucap Romi. “I love you, Mir,” bisik Romi.
“I love you more, Mas,” jawabnya.
Mereka melanjutkan menonton dengan sesekali Romi memberikan sentuhan lembut pada Amira, yang membuat Amira kecanduan disentuh oleh Romi. Sama seperti dulu, setiap menonton film romantis, berujung mereka sendiri membuat adegan di sofa, hingga berkali-kali pelepasan.
“Ahh ... Amira ... kamu ini benar-benar tidak pernah berubah,” bisik Romi.
“Aku tidak akan pernah berubah untuk ini, Mas. Juga tidak akan pernah berhenti mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Mas,” ucapnya lalu mengecup kilas bibir Romi.
“Aku juga sangat mencintaimu, kita lanjutkan lagi? Masih sanggup sekali lagi sayang?” tanya Romi.
“Ya, masih. Di sini lagi atau di kamar?”
“Di sini saja, aku ingin kamu diatas, Sayang. Pelan-pelan saja, hati-hati perutmu sudah besar,” pinta Romi.
“Iya aku tahu, aku hati-hati kok,” ucap Amira.
Mereka kembali melakukannya, hingga tidak sadar permainan mereka disaksikan dua sepasang mata yang baru masuk ke dalam ruang tamu mereka. Ya, Regi kembali ke rumah Romi, karena akan mengambil sesuatu yang ketinggalan di rumah Romi.
“Sialan, mereka begituan tiap malam! Apa tidak bosan? Mana di sofa ruang tengah lagi?” batin Regi. Regi kembali keluar, membiarkan mereka bermain dulu sepuasnya, baru dia masuk setelah mereka selesai permainannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments