Regi tidak menyangka Amira mengizinkan dirinya mengusap perutnya yang sudah memnuncit. Ada perasaan bersalah, namun dia bahagai, karena bayi yang ada di perut Amira tumbuh sehat dan itu adalah anaknya. Setelah melihat Amira menyeka air matanya Regi menghentikan aktivitasnya di perut Amira. Ia langsung fokus dengan kemudi, lalu melajukannya ke toko bunga. Amira meminta Regi mengantarkannya ke sana.
“Maaf ya, Kak.” Ucap Regi tanpa memandang Amira.
“Iya, Re. Mbak ini juga lagi bingung, Re. Mas Romi meminta ada acara tujuh bulanan, ada acara adatanya juga mintanya, aku harus gimana kalau tamu-tamu curiga dengan perutku ini yang mungkin nanti saat acara tujuh bulanan sudah masuk ke bulan sembilan?” ucap Amira.
“Iya kemarin bahas soal itu, mau undang budhe juga buat acara adatnya, ya terus mau bagaimana, mbak tahu sendiri Mas Romi kalau sudah ada mau ya begitu, kan?” jelas Regi.
“Iya, Re. Apalagi kamu tahu bagaimana budhe, kan? Bagaimana orangnya, pasti aku takutnya budhe tahu aku menyembunyikan usia kandunganku, Re,” tutur Amira.
“Nah itu, sudah mbak gak usah memikirkan ini terlalu berat, mbak fokus saja pada kesehatan mbak dan anak mbak. Semua pasti baik-baik saja, percaya padaku, Mbak. Nanti kalau mbak terlalu mikir, mbak sendiri yang setres, dan berimbas pada kesehatan mbak dan bayi, Mbak,” tutur Regi.
“Kenapa aku tidak gugurkan saja saat itu ya, Re?” ucap Amira tambah ngelantur.
“Mbak kok gitu bilangnya? Mbak apa gak mau punya anak? Tujuh tahun mbak menanti bukan?”
“Iya, tapi aku ini maunya gak seperti ini, Re? Aku sudah bohong dengan suamiku!”
“Kalau waktu itu mbak gugurkan, terus setelah itu malah mbak gak sehat gimana coba? Terus Mas Regi tahu mbak habis gugurin kandunga?” ujar Regi.
Amira diam saja mendengar apa yang Regi katakan. Benar juga, tapi seperti ini pun membuat Amira bingung dan takut sendiri, Romi juga sepertinya semakin curiga dengan kandungannya, karena setiap kali memeluknya dan mengusap perutnya, Romi selalu bilang kalau perut Amira tidak sesuai dengan usia kandungannya.
^^^
Sudah satu minggu Romi di luar kota. Regi semakin perhatian pada Amira, tapi perhatian Regi membuat Amira tidak nyaman sendiri. Walau bagaimana pun Regi hanyalah adik iparnya. Jangan sampai perhatian regi malah membuat Amira semakin nyaman, dan melupakan Romi, yang memang akhir-akhir ini hanya mementingkan pekerjaan saja. Romi memang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sering meninggalkan Amira ke luar kota, sering juga bekerja sampai larut. Padahal sebelum itu, Romi tidak terlalu sibuk seperti ini, sejak perusahaan yang di mana Romi bekerja itu bekerja sama dengan perusahaan yang terbesar, Romi menjadi sibuk, tanggung jawabnya semakin besar, dan sering ke luar kota meninggalkan Amira di rumah.
Adanya Regi di rumah bagi Amira biasa saja, itu dulu, sebelum ada kejadian malam itu. Kalau sekarang, ada Regi di rumah membuat Amira tidak nyaman, apalagi perhatian Regi yang berlebihan membuat Amira semakin tidak nyaman.
“Re, aku mau kumpul dengan temanku,” pamit Amira.
“Mbak aku antar, ya?”
“Gak usah, aku dijemput Citra, itu sudah di luar, lagian aku sudah pamit dengan Mas Romi, dan Mas Romi tahu aku dijemput Citra,” jawab Amira.
“Oh ya sudah, Mbak. Hati-hati. Nanti pulang jam berapa?” tanya Regi.
“Gak tahu, belum tahu mau pulang jam berapa, aku mau ke salon, ngemall, ke cafe. Ya kan lama sudah gak keluar sama mereka, jadi ya mungkin sampai sore, Re,” jawab Amira.
“Mbak ini sedang hamil, jangan kecapekan, Mbak,” tutur Regi.
“Aku jenuh, Re. Lagian Mas Romi saja mengizinkan kok aku sampai sore?” ucap Amira.
Padahal Amira hanya ingin menghindari Regi, karena Regi perhatiannya berlebihan, sampai pekerjaannya saja ia bawa pulang, dan bekerja di rumah untuk menemani Amira.
“Kamu itu bukan suamiku! Kamu hanya menitip benih saja di rahimku, Re! Gak usah sok over protektif, lagian suamiku saja santai kok?” batin Amira.
Amira langsung keluar dari rumah setelah pamit dengan Regi. Citra sudah menjemputnya di depan, dia langsung masuk ke dalam mobil Citra.
“Wiiihh ... Bumil tambak seksi sekali nih?” ucap Citra.
“Ya beginilah, Cit ....”
“Berapa bulan, Mir? Sudah gede sekali perutmu?” tanya Citra.
“Masuk lima sih,” jawab Amira berbohong.
“Lima? Yakin gk salah?” tanya Citra.
“Ya memang masuk lima bulan, memang di mananya yang salah?” tanya Amira.
“Seperti sudah tujuh atau delapan bulan perutmu, Mir?”
“Ya mungkin selama aku hamil aku doyan makan, dan lihat badanku juga gemuk, kan? Yang tadinya berat badang gak ada enam puluh, ini tujuh puluh?” jelas Mira.
“Pantas perutnya gede?” ucap Mira. “Gak baby twins, kan?”
“Gak sih, janin tunggal kata dokternya. Padahal aku ingin anak kembar, kayak Alya, lucu kayaknya,” ucap Amira.
“Yang penting sehat, Mira ... Lagian tujuh tahun penantian lho? Alhamdulillah dikasih satu juga gak apa-apa, buat teman kamu, Mir,” tutur Citra.
“Iya sih, aku saja bersyukur, program hamilku berhasil, Cit,” jawab Amira.
“Ini ngomong-ngomong tadi aku lihat Regi di rumah kamu? Kamu sama Regi di rumah?” tanya Citra.
“Ya biasa dia di rumahku kok, Cit?” jawab Amira.
“Gak ada suamimu lho? Masa ipar cowok di rumahmu? Sering pula? Gak baik tahu?” tutur Citra. “Ya oke sih gak apa-apa, kalau bisa saling jaga, tapi kebanyakan nih, yang suaminya sibuk, terus sering ditemani adik ipar laki-laki, pasti kalau adik iparnya kurang ajar, pasti deketin istri kakanya?” seloroh Citra dengan terkekeh.
“Hush ... ucapanmu itu! Ya Regi gak gitu lah, Cit! Dia memang disuruh Mas Romi menemani aku di rumah, ada bibi juga kok? Kan kerjaan Regi sedang senggang, jadi Mas Romi titip aku ke Regi?” jelas Amira.
“Istri dititipin ke adiknya, mending adik cewek, ini cowok lho? Ingat lho ipar itu bisa jadi sumber masalah? Ipar itu bencana, Mir! Ya meski gak ada apa-apa, tapi kalau memang ada lelembut yang ganggu, ya bencana itu datang juga? Kamu harus tahu itu, Mir! Suamiku ke luar kota saja kadang wanti-wanti adik laki-lakinya untuk tidak usah ke rumah dulu? Harusnya suami kamu itu ngerti hal beginian, Mir?” tutur Citra.
Amira terdiam. Iya benar, ipar adalah sumber masalah, sumber bencana. Buktinya sekarang Amira saja mengandung anak adik iparnya. Karena kejadian semalam yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Memang awalnya biasa saja setelah kejadian itu, tapi lama kelamaan Regi sudah mulai over protektif pada dirinya, sudah mulai berani memberikan perhatian lebih, sampai kadang sering reflek mengusap perut Amira yang membuat Amira jadi tidak nyaman dengan sikap Regi sekarang.
“Iya juga ya, Cit? Mas Romi saja selama aku hamil, tidak pernah antar aku check-up, Cit. Selalu yang disuruh Regi, Regi, dan Regi,” ucap Amira.
“Suamimu terlalu sibuk, Mir. Kamu gak curiga di luar sana dia selingkuh?” tanya Citra.
“Ih kamu itu? Ya gak lah! Mas Romi setiap dua jam sekali saja selalu video call, kok, masa punya selingkuhan?” ucap Amira dengan mata berkaca-kaca.
“Ya kali saja. Sudah jangan dipikir, jangan nangis, dong?” ucap Citra.
Amira masih kepikiran ucapan Citra kalau Romi selingkuh, tapi Amira percaya kalau Romi itu setia.
“Mas Romi tidak akan begitu, aku yakin tidak akan! Aku malah yang sudah mengkhianati Mas Romi, Cit. Aku hamil dengan Regi, ini anak Regi. Benar katamu, Ipar adalah sumber masalah, dan aku sedang merasakannya, Cit,” batin Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments