Amira berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia sebisa mungkin melupakan kejadian malam itu dengan adik iparnya. Ia ingin mengubur ingatannya dalam-dalamh soal kerjadian panas malam itu. Tapi, masih saja terlintas di pikiran Amira tentang malam yang penuh noda dan dosa.
Regi juga masih berada di rumah Romi. Romi memang meminta Regi memantau Amira setiap hari. Kadang kalau Regi sibuk dan tidak bisa menginap di rumah Amira, Romi pun meminta tolong pada adiknya lagi untuk menemani Amira saat dirinya di luar kota. Berungtung sekali, saat dia cukup lama di Surabaya, Regi juga menginap cukup lama di rumahnya, karena rumah Regi sedang di renovasi.
Memang Regi yang selalu Romi minta bantuan untuk menemani Amira kalau dirinya sibuk, karena hanya Regi yang masih free, dia belum berkeluarga, sedangkan kedua adik Romi lainnya, yang tak lain kakak Regi juga, mereka sudah berkeluarga semua, dan sudah memiliki anak. Regi adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Kalau Regi sibuk, dan dua adiknya lagi sibuk, Romi meminta teman Amira untuk menemaninya, karena Amira tidak memiliki asistern rumah tangga.
Sejak kejadian malam itu, Regi dan Amira saling berdiam diri. Mereka bicara kalau ada hal penting yang memang harus dibicarakan. Setiap hari seperti itu, tidak ada obrolan yang akrab lagi antara Regi dan Amira, tidak seperti biasanya. Biasanya mereka akrab, apalagi Amira memang akrab dengan adik-adik Romi, dan menganggapnya seperti adiknya sendiri. Sekarang dia mendiami Regi. Pun dengan Regi, dia juga tidak berani menyapa kakak iparnya. Biasanya setiap pagi, suara Amira yang cempreng sudah berisik karena membangunkan Regi yang harus berangkat kerja. Sekarang tidak ada lagi yang mengganggu tidur Regi, dan tidak Amira tidak lagi membangunkan Regi, tapi kalau sudah terlalu siang, Amira terpaksa membangunkannya.
Dua minggu setelah kejadian malam itu telah berlalu. Itu artinya sudah satu bulan Romi di Surabaya. Amira dan Romi hanya berkomunikasi lewat telefon dan Video call setiap harinya, untuk memberikan kabar. Setiap hari, kalau pekerjaan Romi senggang, ia selalu berkabar dengan Amira. Seperti pagi ini, Romi melakukan video call dengan Amira. Biasanya jam delapan pagi, Regi juga sudah berada di ruang makan dengan Amira, tapi Romi dari tadi hanya melihat Amira sendirian di depan meja makan, dia tidak melihat adiknya yang biasanya juga sudah sama-sama dengan Amira menikmati sarapan pagi.
“Sayang, mas dari kemarin kok gak lihat Regi ikut sarapan?” tanya Romi dari seberang sana.
"Hmm ... Regi masih di kamarnya, sudah aku bangunin, katanya berangkat siangan, kalau kemarin, dia malah berangkat pagi-pagi sekali,” jawab Amira berbohong. Padahal dia sama sekali belum membangunkan Regi pagi ini.
“Kamu ke toko bunga kan hari ini?” tanya Romi.
“Iya, ini habis sarapan, terus mau mandi, habis itu ke toko bunga,” jawab Amira.
“Ya sudah, aku mau lanjutkan pekerjaanku dulu. Kamu hati-hati, Sayang. I love you ....”
“Love you more, Sayang.”
Amira mengakhiri video call dengan suaminya. Ia bilang, ia akan ke toko bunganya, tapi rasanya ia malas sekali. Toko bunga peninggalan orang tuanya, yang berada di sebelah rumah peninggalan orang tuanya Amira, sampai sekarang masih ramai pengunjung. Amira tidak jadi beranjak dari tempat duduknya, ia malah scrool hapenya lagi, lihat video-video lucu, dan sesekali ia juga membuka aplikasi belanja online.
Regi keluar dari kamarnya dengan tergesa. Ia berjalan ke arah meja makan dengan memakai dasinya gugup. Hari ini ada meeting penting di kantor, tapi ia kesiangan, karena Amira tidak membangunkannya.
“Mbak, sampai kapan sih diemin aku? Biasanya mbak kan bangunin aku, aku kesiangan, Mbak! Ada meeting penting pagi ini, aku terlambat datang ini mbak,” ucap Regi dengan wajah manja dan memelas pada kakak iparnya.
Selama ini, Regi memang begitu dekat dengan Amira. Ia menganggap Amira sudah seperti kakaknya sendiri, ia juga kerap kali menunjukkan sisi manjanya dengan kakak iparnya.
“Malas saja bangunin kamu, yang gak sekali dua kali dibangunin, lalu langsung bangun!” cetus Amira.
“Teriakin dong, Mbak? Kan baisanya mbak teriak-teriak kalau bangunin aku? Teriak sampai aku bangun biasanya? Kok sekarang gak? Sampai kapan mbak akan diemin aku? Sampai Mas Romi pulang? Nanti malah dia curiga dengan sikap mbak yang seperti itu padaku?” ucap Regi.
“Terserah aku dong mau bagaimana? Kau mambuat moodku semakin hancur saja!” tukas Amira, lalu pergi meninggalkan Regi ke dalam.
Regi hanya menggeleng. Memang Regi akui, dia salah sudah berbuat seperti itu saat malam itu. Tapi, kejadian itu di luar kesadarannya, pun dengan Amira. Amira juga sedang mabuk, tidak sadarkan diri melakukan hal seperti itu dengan Regi.
“Kalau begini terus, yang ada Mas Romi curiga denganku dan Mbak Mira. Biasanya aku sama dia bercanda tak tahu batasan, seperti dengan kakak kandungku sendiri, sekarang malagh diam-diaman gini?” guman Regi.
Seperti itu setiap hari, Regi dan Amira saling diam. Mereka hanya bicara kalau memang ada hal penting yang harus dibicarakan, sampai dua bulan mereka saling diam, dan bicara hanya sekadar saja.
Dua bulan setelah kejadian itu, Amira benar-benar berusaha melupakan semua yang terjadi. Lupa segalanya hingga ia tidak sadar, kalau dirinya terlambat datang bulan. Pengingat di aplikasi saat tiba menstruasi sudah menyala dua minggu yang lalu, tapi ia abaikan. Biasanya sebelum peringatan itu muncul, Amira malah sudah menstruasi. Atau kadang selang dua hari dari peringatan di aplikasi bunyi, Amira baru menstruasi. Sekarang sudah dua minggu dia belum menstruasi, dia hanya santai saja.
Amira pulang dari toko bunganya. Sore ini Amira mampir beli asin mangga di seberang jalan, dekat dengan toko bunga miliknya. Setelah mendapatkan tiga cup asinan mangga, ia dengan perasaan girang membawanya pulang. Amira masih belum sadar dengan keadaanya yang banyak perubahan. *********** terlihat menonjol dan padat, kata Citra saat tadi Citra ke toko bunga Amira. Dan, kata dian, Amira sering terlihat pucat, tapi terlihat berisi badannya.
Amira menghabiskan dua cup asinan mangga, padahal biasnya kalau beli satu saja dia tidak habis, pasti makan barengan dengan Romi atau Regi, ini dua cup sekaligus ia makan.
Amira tersadar, dia memutar otaknya, mengingat ucapan Citra yang katanya postur tubuhnya sekarang seperti orang yang sedang isi, atau sedang hamil, juga ucapan Dian tadi, katanya dirinya agak gemukan. Amira mengambil ponselnya, lalu dia membuka aplikasi yang ia gunakan untuk program hamil. Ia melihat siklus menstruasinya, dan mata Amira membeliak, melihat sudah dua minggu lewat, dia harusnya sudah menstruasi, dan sekarang adalah jadwal ovulasi.
“What! Aku kok bisa-bisanya mengabaikan semua ini? Sudah dua minggu aku terlambat datang bulan? Ah mungkin ini gangguan hormon saja. Nanti sore aku coba ke dokter kandungan saja,” ucap Amira lirih setelah menyadari dirinya terlambata menstruasi.
Amira berpikir sejanak, mengingat kejadian malam itu. Kejadian bulan kemarin saat mabuk bersama Regi, dan malakukan hal yang tak sepantasnya ia lakukan dengan adik iparnya. “Masa aku hamil? Ini tidak mungkin! Aku melakukannya dengan Regi sekali, tidak mungking aku hamil!” batin Amira.
Amira bergegas mencari kunci sepeda motornya, dia ingin ke apotek membeli testpack untuk memastikan dirinya hamil atau tidak. Tidak mungkin dia langsung ke dokter kandungan, apalagi dokter kandungan yang biasa ia datangi adalah istri dari teman Romi.
Sepulang dari apotek, Amira melihat Regi yang sudah di rumah. Dia duduk di depan meja makan dengan menikmati sisa asinan milik Amira yang tinggal satu cup. Regi tahu pasti itu punya kakak iparnya, karena sudah biasa asal serobot dan asal makan makanan milik kakak iparnya, dia makan saja asinan itu.
“Mbak dari mana? Ini asinan mangganya mbak?” tanya Regi.
“Iya, makan saja, Re. Mbak sudah makan tadi, itu cupnya malah belum mbak beresin. Nanti beresin sekalian, ya?” jawab Amira dengan gugup dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Regi melanjutkan makan asinan mangganya, sambil mengecek email dari kantor. Ia baru sadar kalau di depannya ada dua cup kosong bekas asinan. “I—ini Mbak Mira makan dua cup asinan? Gak salah? Biasanya satu saja gak habis?” ucap Regi lirih. “Kayak orang ngidam saja ih,” lanjutnya.
Namun, setelah bicara seperti itu, Regi kembali berpikir dengan ucapannya. Ia menghentikan mengunyah mangga yang sudah masuk ke dalam mulutnya. “Sebentar, kalau ngidam berarti Mbak Mira hamil anakku?”gumamnya.
Regi masih tercenung melihat dua cup asinan, ia terus berpikir, apa kakak iparnya sekarang tengah hamil? Dan, dialah yang menghamilinya. Selang beberapa menit, Regi dikagetkan dengan Amira yang berdiri di depannya, dengan mata sembab, dan tangannya bergetar hebat saat Amira menyodorkan sebuah benda pipih pada dirinya.
“Aku hamil, Re.” Dengan tangan bergetar Amira memberikan benda pipih sepanjang jari telunjuknya pada Regi –Adik Iparnya– yang menunjukkan dua garis merah pada benda tersebut. Tulang di kakinya serasa melunak, dan membuat tubuhnya merosot ke bawah.
Regi menerima benda tersebut, dengan tangan bergetar pula. Dia meraih tubuh Amira yang terperosot ke bawah. Dengan gemetar dia melihat dua garis merah di benda pipih tersebut. “Ha—hamil? Maksudnya ini bagaimana, Mbak?” ucap Regi tidak percaya.
“Aku hamil, Regi .... aku harus bagaimana? Kamu tahu kan, bulan kemarin saat malam itu kita ngapain? Haruskah aku mengugurkannya, Re? Aku takut, ini bukan anak suamiku,” ucapnya dengan terisak.
“Mbak sudah menunggu selama tujuh tahun. Dan, apa mbak tega mau membunuh anak yang tak berdosa di dalam perut, mbak? Aku yakin mbak tidak akan sekejam itu,” ucap Regi.
Amira masih menangis di pelukan Regi. Dia tidak tahu harus bagaimana menyampaikan kehamilan dirinya pada suaminya.
Suaminya tiga bulan ada tugas di luar kota. Baru dua bulan suaminya di luar kota, dirinya tengah berbadan dua. Tapi, bukan dengan suaminya, karena saat suaminya berangkat ke luar kota, dia masih dalam keadaan haid. Kejadian malam itu, membuahkan hasil di rahim Amira.
Tujuh tahun ia menantikan hamil, ia tak kunjung hamil. Hingga beberapa macam program hamil sudah Amira dan Romi lalui. Sekarang, hanya kesalahan satu malam dengan adik iparnya, dia diberikan kehidupan di rahimnya. Benih yang Regi semai di rahimnya, tumbuh menjadi kehidupan baru di dalam rahimnya.
“Regi ... mbak harus bagaimana? Mana mungkin mbak bilang pada Mas Romi kalau mbak hamil? Mas Romi ke Surabaya saja mbak masih haid, Re?” ucap Amira.
“Mbak tenang, nanti aku akan bantu bicara dengan Mas Romi. Aku antar mbak ke dokter, ya? Biar tahu berapa usia kandungannya. Iya, aku akui anak di perut mbak anakku, aku akan bertanggung jawab, dan aku akan buat seolah ini anak Mas Romi, mbak. Aku akan melakukan apa pun, supaya Mas Romi percaya,” ucap Regi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments