Romi dengan semangat membelikan perlengkapan bayinya, apalagi dia sudah tahu kalau bayi yang ada di kandungan Amira berjenis kelamin laki-laki. Dari tadi Amira hanya mengikuti apa yang Romi pilihkan. Semua pilihannya Romi, dari popok, baju, celana, sepatu, kaos kaki, selimut, keranjang bayi, stroller, semua Romi yang pilihkan. Bahkan sampai lemari bayi juga Romi yang pilihkan. Biar saja, Amira tidak mau protes, toh pilihan Romi itu yang terbaik, yang kualitasnya bagus.
“Kira-kira apa lagi, Sayang?” tanya Romi.
“Apa ya? sudah kali, Mas. Nanti kalau ada kurang-kurangnya kan bisa beli lagi?” jawab Amira.
“Oh iya, baju-baju kamu, buat nanti saat kamu menyusui, terus butuh bra untuk menyusui juga, kan? Pokoknya beli untuk kamu juga, mumpung aku bisa menemani kamu,” ucap Romi.
“Baiklah,” ucap Amira menurutinya.
Setelah seharian jalan-jalan dan mampir beli perlengkapan bayi dan perlengkapan setelah melahirkan untuk Amira, mereka pulang ke rumah, karena Amira sudah sangat lelah sekali, seharian keluar rumah.
Romi dibantu Mbah Rahmi menurunkan barang-barang dari mobil lalu membawanya ke kamar bayi yang sudah Romi siapkan dan sudah meminta Mbak Rahmi membersihkannya.
“Sudah dibersihkan kamarnya kan, Mbak?” tanya Romi.
“Sudah, Pak. Sudah saya bersihkan,” jawab Mbak Rahmi.
“Ya sudah ini semua ditaruh di kamar bayi ya, Mbak? Terus nanti paling sebentar lagi ada yang antar tempat tidur anak, nanti agak di kasih ruang buat naruh tempat tidur, ya?”
“Iya, Pak. Siap!” jawabnya semangat.
Romi mengajak Amira turun dari mobil, dari tadi memang Amira belum turun dari mobil karena dia lelah, dan ingin digendong Romi masuk ke kamar.
“Ayo aku gendong.”
“Bener nih gak berat? Aku tambah gendut lho? Pakai kursi roda saja, Mas. Takut kamu gak kuat nanti aku jatuh,” ucap Amira.
“Idih kamu ini meremehkan aku?”
“Ya bukan gitu, Mas? Kalau aku sendiri yang jatuh gak apa-apa, Mas? Nah ini ada anak lho di dalam perutku? Kalau jatuh kasihan anakku?” ucap Amira.
“Iya juga sih, tapi aku kuat kok. Semalam saja kuat, kan?”
“Iya sih, ya sudah ayo gendong, tapi hati-hati, ya?”
“Iya sayang, aku pasti hati-hati,” jawab Romi.
Romi menggendong Amira ke kamar. Romi tahu Amira capek sekali, karena seharian diajak muter-muter cari perlengkapan bayi, juga perlengkapan Amira setelah melahirkan nanti.
Romi keluar dari kamarnya, setelah Amira tertidur pulas. Dia langsung menata kamar bayi, sambil menunggu tempat bayi diantar dari tokonya. Romi benar-benar semangat ingin menata kamar bayinya. Padahal Amira belum begitu ingin mempersiapkannya. Yang Amira persiapkan adalah mentalnya nanti saat Romi tahu usia kandungannya sebetulnya, apalagi beberapa minggu lagi dirinya akan melahirkan, tentu saja Romi akan mempertanyakan, kenapa belum ada sembilan bulan sudah melahirkan.
Romi sibuk menata kamar bayi, dia begitu semangat, sampai lupa waktu. Setelah tempat tidur bayi sampai, Romi menata semua dari lemari, keranjang bayi, baju-baju bayi, dan lainnya ia tata sendiri.
“Wuidiiih ... calon bapak sibuk sekali nih?” ucap Regi yang baru pulang dari kantor, dia mampir dulu ke rumah Romi.
“Hei, Re! Sini mas butuh pendapat kamu, ini keranjang bayinya ditaruh di sana atau dekat sama jendela saja?” tanya Romi.
“Ehm ... kayaknya mending di sana saja deh mas, kan dekat dari tempat tidur, kalau dekat jendela kasihan terlalu terang nanti,” jawab Regi.
“Oke, jadi di sana saja, ya?”
“Iya, kalau di sini kan dekat sama tempat tidur, dekat sama lemari pakaian juga, kalau mau ambil apa-apa gak kejauhan, terus di sana kan jadi luas buat nanti area bermain?” jelas Regi.
“Iya benar, pintar juga kamu,” puji Romi.
“Adikmu memang pintar dari dulu, Mas,” jawab Regi.
Mereka masih sibuk menata kamar bayi. Regi juga ikut membantunya. “Kamar untuk anakku,” batin Regi.
Amira yang baru bangun dari tidurnya, ia mencari suaminya, ternyata sampai menjelang petang suaminya masih sibuk di kamar bayi dengan Ragi.
“Kalian begitu semangat sekali mempersiapkan kamar untuk anak kalian? Ya anak kalian, karena anak ini adalah anak biologis Regi, dan suamiku adalah Mas Romi. Aku tidak tahu kalau aku melahirkan nanti, apa Mas Romi akan mempertanyakan sedetail mungkin soal kehamilanku? Aku hanya butuh mental dan hati yang kuat untuk menjelaskan semuanya, jika Mas Romi mempertanyakannya nanti,” batin Amira.
^^^
Tiga minggu sudah berlalu, pagi ini Amira sudah bersiap untuk periksa kandungan di rumah sakit. Tapi, sayangnya Romi lagi-lagi gagal untuk mengantarkan Amira periksa kandungan. Amira sedikit lega, akhirnya Romi sibuk juga hari ini, padahal dari semalam dia sudah tidak tenang sekali karena mau periksa kandungan diantar Romi.
“Maaf sekali, aku gak bisa antar, Sayang?” ucap Romi dengan memeluk Amira.
“Iya, tidak apa-apa. Aku paham kok, mas ini sibuk sekali. Aku sendiri juga gak apa-apa. Atau aku minta antar Mbak Rahmi juga bisa?” jawab Amira.
“Yakin kamu sendirian gak apa-apa?” tanya Romi.
“Yakinlah, Mas ... gak apa-apa, mas ini sedang sibuk, masa aku paksakan mas untuk antar?” jawab Amira.
“Ya sudah aku minta Regi yang antar, ya? Aku telefon dia sekarang,” ucap Romi.
“Gak usah, Mas. Aku sendiri saja bisa kok?” tolak Amira.
Padahal Amira dari semalam sudah chating sama Regi, karena dia takut sekali, kalau hari ini sampai Romi yang mengantarkan dirinya ke rumah sakit untuk cek kandungannya. Benar kata Regi, dirinya harus tenang, karan Regi yakin Romi bakalan tidak bisa mengantarkan Amira ke rumah sakit.
Romi tetap menelefon Regi untuk mengantarkan Amira ke rumah sakit, karena dirinya ada meeting dadakan pagi ini, lalu siangnya akan ada pertemuan dengan beberapa relasi bisnisnya juga.
“Oke, aku titip Amira ya, Re? Aku juga sepertinya pulang agak malam, Re.” Ucap Romi pada Regi lewat telefon, lalu ia mematikan telefonnya setelah selesai bicara dengan Regi.
Romi memeluk Amira setelah selesai berbicara dengan Regi. “Aku minta maaf sekali, Mir,” bisiknya.
“Sudah gak apa-apa, Mas. Lagian aku sendirian juga gak apa-apa, Mas. Gak usah sama Regi,” jawab Amira.
“Jangan dong, harus sama Regi. Nanti aku juga akan pulang malam sepertinya, kamu gak apa-apa, kan?”
“Iya, gak apa-apa, kan ada Mbak Rahmi?” jawab Amira.
Lega seakali rasaya, Romi tidak jadi mengantarnya untuk check-up. Ada terbesit ingin sekali diantar Romi, tapi Amira takut kalau ketahuan yang sebenarnya. Dirinya belum siap kalau Romi mengetahui semuanya.
“Untung saja Mas Romi gak jadi antar aku ke rumah sakit? Kalau jadi pasti dia akan tahu semuanya. Pasti dia akan mempertanyakan semuanya. Biar nanti saja Mas Romi tahunya, kalau anak ini sudah lahir. Aku tidak akan menutupinya dari Mas Romi, kalau Mas Romi mempertanyakannya. Aku akan siap menjelaskan semuanya pada Mas Romi soal kehamilanku ini, dan jika bertanya siapa sebenarnya ayah dari anakku ini, aku kan jawab sejujurnya, aku akan jawab semuanya tanpa aku tutup-tutupi,” batin Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments