Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi

Romi dengan semangat membelikan perlengkapan bayinya, apalagi dia sudah tahu kalau bayi yang ada di kandungan Amira berjenis kelamin laki-laki. Dari tadi Amira hanya mengikuti apa yang Romi pilihkan. Semua pilihannya Romi, dari popok, baju, celana, sepatu, kaos kaki, selimut, keranjang bayi, stroller, semua Romi yang pilihkan. Bahkan sampai lemari bayi juga Romi yang pilihkan. Biar saja, Amira tidak mau protes, toh pilihan Romi itu yang terbaik, yang kualitasnya bagus.

“Kira-kira apa lagi, Sayang?” tanya Romi.

“Apa ya? sudah kali, Mas. Nanti kalau ada kurang-kurangnya kan bisa beli lagi?” jawab Amira.

“Oh iya, baju-baju kamu, buat nanti saat kamu menyusui, terus butuh bra untuk menyusui juga, kan? Pokoknya beli untuk kamu juga, mumpung aku bisa menemani kamu,” ucap Romi.

“Baiklah,” ucap Amira menurutinya.

Setelah seharian jalan-jalan dan mampir beli perlengkapan bayi dan perlengkapan setelah melahirkan untuk Amira, mereka pulang ke rumah, karena Amira sudah sangat lelah sekali, seharian keluar rumah.

Romi dibantu Mbah Rahmi menurunkan barang-barang dari mobil lalu membawanya ke kamar bayi yang sudah Romi siapkan dan sudah meminta Mbak Rahmi membersihkannya.

“Sudah dibersihkan kamarnya kan, Mbak?” tanya Romi.

“Sudah, Pak. Sudah saya bersihkan,” jawab Mbak Rahmi.

“Ya sudah ini semua ditaruh di kamar bayi ya, Mbak? Terus nanti paling sebentar lagi ada yang antar tempat tidur anak, nanti agak di kasih ruang buat naruh tempat tidur, ya?”

“Iya, Pak. Siap!” jawabnya semangat.

Romi mengajak Amira turun dari mobil, dari tadi memang Amira belum turun dari mobil karena dia lelah, dan ingin digendong Romi masuk ke kamar.

“Ayo aku gendong.”

“Bener nih gak berat? Aku tambah gendut lho? Pakai kursi roda saja, Mas. Takut kamu gak kuat nanti aku jatuh,” ucap Amira.

“Idih kamu ini meremehkan aku?”

“Ya bukan gitu, Mas? Kalau aku sendiri yang jatuh gak apa-apa, Mas? Nah ini ada anak lho di dalam perutku? Kalau jatuh kasihan anakku?” ucap Amira.

“Iya juga sih, tapi aku kuat kok. Semalam saja kuat, kan?”

“Iya sih, ya sudah ayo gendong, tapi hati-hati, ya?”

“Iya sayang, aku pasti hati-hati,” jawab Romi.

Romi menggendong Amira ke kamar. Romi tahu Amira capek sekali, karena seharian diajak muter-muter cari perlengkapan bayi, juga perlengkapan Amira setelah melahirkan nanti.

Romi keluar dari kamarnya, setelah Amira tertidur pulas. Dia langsung menata kamar bayi, sambil menunggu tempat bayi diantar dari tokonya. Romi benar-benar semangat ingin menata kamar bayinya. Padahal Amira belum begitu ingin mempersiapkannya. Yang Amira persiapkan adalah mentalnya nanti saat Romi tahu usia kandungannya sebetulnya, apalagi beberapa minggu lagi dirinya akan melahirkan, tentu saja Romi akan mempertanyakan, kenapa belum ada sembilan bulan sudah melahirkan.

Romi sibuk menata kamar bayi, dia begitu semangat, sampai lupa waktu. Setelah tempat tidur bayi sampai, Romi menata semua dari lemari, keranjang bayi, baju-baju bayi, dan lainnya ia tata sendiri.

“Wuidiiih ... calon bapak sibuk sekali nih?” ucap Regi yang baru pulang dari kantor, dia mampir dulu ke rumah Romi.

“Hei, Re! Sini mas butuh pendapat kamu, ini keranjang bayinya ditaruh di sana atau dekat sama jendela saja?” tanya Romi.

“Ehm ... kayaknya mending di sana saja deh mas, kan dekat dari tempat tidur, kalau dekat jendela kasihan terlalu terang nanti,” jawab Regi.

“Oke, jadi di sana saja, ya?”

“Iya, kalau di sini kan dekat sama tempat tidur, dekat sama lemari pakaian juga, kalau mau ambil apa-apa gak kejauhan, terus di sana kan jadi luas buat nanti area bermain?” jelas Regi.

“Iya benar, pintar juga kamu,” puji Romi.

“Adikmu memang pintar dari dulu, Mas,” jawab Regi.

Mereka masih sibuk menata kamar bayi. Regi juga ikut membantunya. “Kamar untuk anakku,” batin Regi.

Amira yang baru bangun dari tidurnya, ia mencari suaminya, ternyata sampai menjelang petang suaminya masih sibuk di kamar bayi dengan Ragi.

“Kalian begitu semangat sekali mempersiapkan kamar untuk anak kalian? Ya anak kalian, karena anak ini adalah anak biologis Regi, dan suamiku adalah Mas Romi. Aku tidak tahu kalau aku melahirkan nanti, apa Mas Romi akan mempertanyakan sedetail mungkin soal kehamilanku? Aku hanya butuh mental dan hati yang kuat untuk menjelaskan semuanya, jika Mas Romi mempertanyakannya nanti,” batin Amira.

^^^

Tiga minggu sudah berlalu, pagi ini Amira sudah bersiap untuk periksa kandungan di rumah sakit. Tapi, sayangnya Romi lagi-lagi gagal untuk mengantarkan Amira periksa kandungan. Amira sedikit lega, akhirnya Romi sibuk juga hari ini, padahal dari semalam dia sudah tidak tenang sekali karena mau periksa kandungan diantar Romi.

“Maaf sekali, aku gak bisa antar, Sayang?” ucap Romi dengan memeluk Amira.

“Iya, tidak apa-apa. Aku paham kok, mas ini sibuk sekali. Aku sendiri juga gak apa-apa. Atau aku minta antar Mbak Rahmi juga bisa?” jawab Amira.

“Yakin kamu sendirian gak apa-apa?” tanya Romi.

“Yakinlah, Mas ... gak apa-apa, mas ini sedang sibuk, masa aku paksakan mas untuk antar?” jawab Amira.

“Ya sudah aku minta Regi yang antar, ya? Aku telefon dia sekarang,” ucap Romi.

“Gak usah, Mas. Aku sendiri saja bisa kok?” tolak Amira.

Padahal Amira dari semalam sudah chating sama Regi, karena dia takut sekali, kalau hari ini sampai Romi yang mengantarkan dirinya ke rumah sakit untuk cek kandungannya. Benar kata Regi, dirinya harus tenang, karan Regi yakin Romi bakalan tidak bisa mengantarkan Amira ke rumah sakit.

Romi tetap menelefon Regi untuk mengantarkan Amira ke rumah sakit, karena dirinya ada meeting dadakan pagi ini, lalu siangnya akan ada pertemuan dengan beberapa relasi bisnisnya juga.

“Oke, aku titip Amira ya, Re? Aku juga sepertinya pulang agak malam, Re.” Ucap Romi pada Regi lewat telefon, lalu ia mematikan telefonnya setelah selesai bicara dengan Regi.

Romi memeluk Amira setelah selesai berbicara dengan Regi. “Aku minta maaf sekali, Mir,” bisiknya.

“Sudah gak apa-apa, Mas. Lagian aku sendirian juga gak apa-apa, Mas. Gak usah sama Regi,” jawab Amira.

“Jangan dong, harus sama Regi. Nanti aku juga akan pulang malam sepertinya, kamu gak apa-apa, kan?”

“Iya, gak apa-apa, kan ada Mbak Rahmi?” jawab Amira.

Lega seakali rasaya, Romi tidak jadi mengantarnya untuk check-up. Ada terbesit ingin sekali diantar Romi, tapi Amira takut kalau ketahuan yang sebenarnya. Dirinya belum siap kalau Romi mengetahui semuanya.

“Untung saja Mas Romi gak jadi antar aku ke rumah sakit? Kalau jadi pasti dia akan tahu semuanya. Pasti dia akan mempertanyakan semuanya. Biar nanti saja Mas Romi tahunya, kalau anak ini sudah lahir. Aku tidak akan menutupinya dari Mas Romi, kalau Mas Romi mempertanyakannya. Aku akan siap menjelaskan semuanya pada Mas Romi soal kehamilanku ini, dan jika bertanya siapa sebenarnya ayah dari anakku ini, aku kan jawab sejujurnya, aku akan jawab semuanya tanpa aku tutup-tutupi,” batin Amira.

Episodes
1 Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2 Chapter 2 - Dua Garis Merah
3 Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4 Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5 Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6 Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7 Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8 Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9 Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10 Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11 Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12 Curiga Romi Selingkuh
13 Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14 Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15 Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16 Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17 Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18 Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19 Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20 Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21 Chapter 21 - Meragukan
22 Chapter 22 - Mencari Bukti
23 Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24 Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25 Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26 Chapter 26 - Calon Istri Baru
27 Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chater 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2
Chapter 2 - Dua Garis Merah
3
Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4
Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5
Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6
Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7
Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8
Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9
Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10
Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11
Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12
Curiga Romi Selingkuh
13
Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14
Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15
Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16
Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17
Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18
Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19
Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20
Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21
Chapter 21 - Meragukan
22
Chapter 22 - Mencari Bukti
23
Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24
Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25
Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26
Chapter 26 - Calon Istri Baru
27
Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chater 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!