Amira dari tadi menanyakan info Asisten Rumah Tangga pada teman-temannya. Dia masih di dalam taksi, menuju ke toko bungnya. Sebatulnya ada rasa nyaman Regi bersikap seperti itu, memerhatikan dirinya, meratukan dirinya di rumah saat tidak ada pembantu. Tapi, tetap saja rasa nyaman itu salah.
“Semoga bisa secepatnya cari pembantu yang bisa stay di rumah, jadi tidak melulu dengan Regi, dan Regi bisa pulang, karena aku sudah ada pembantu. Lagian, Mas Romi, apa-apa serba Regi? Iya sih, Regi adik kesayangannya. Adanya Regi bisa mendapatkan jabatan bagus di kantornya juga karena Mas Romi kenal dengan pemilik perusahaan di mana Regi bekerja,” batin Amira.
^^^
Hari ini Romi pulang ke rumah setelah selama dua minggu dia di luar kota. Bahagia sekali rasanya bisa pulang tepat waktu ke rumah, karena dia sudah merindukan Amira.
Amira pun demikian, mendengar kabar suaminya mau pulang, dia langsung memasakkan makanan kesukaan suaminya. Tidak peduli Regi melarangnya untuk masak, Amira tetap melakukannya.
“Kamu ini seperti tidak tahu mbak saja kalau Mas Romi mau pulang pasti begini, Re?” ucap Amira saat Regi melarang dirinya untuk memasak.
“Ya tapi mbak kan sedang hamil?”
“Memang kenapa kalau sedang hamil? Gak boleh masak? Banyak di luar sana ibu hamil pada masak kok?” jawab Amira santai.
Regi membiarkan Amira untuk memasak. Biar saja, toh itu keinginan Amira sendiri. Regi juga sadar, kalau dirinya terlalu perhatiannya, sampai membuat Amira seperti merasa tidak nyaman dengan dirinya.
^^^
Amira sudah selesai menata makanannya di atas meja makan, tak lama kemudian terdengar suara mobil Romi di depan. Amira langsung menyambut suaminya yang baru saja pulang. Romi langsung turun dari mobil dan berlari untuk menghampiri Amira.
“Aku kangen sekali sama kamu, maaf aku sering meninggalkanmu, saat kamu sedang hamil seperti ini,” ucap Romi dengan memeluk Amira, dan menciumi kepalanya.
“Gak apa-apa, kan memang sudah pekerjaannya,” ucap Amira. “Aku juga kangen kamu, Mas.” Amira mendongakkan kepalanya menatap Romi, lalu mengeratkan pelukannya pada Romi.
“Jangan erat-erat, nanti anak kita sesak, Sayang,” ucap Romi. “Ih kamu sudah besar saja di perut mama, Nak?” Romi berjongkok lalu mengusap perut Amira dan menciuminya.
“Udah dong, kan aku makannya banyak, Pa,” jawab Amira.
“Gak apa-apa, yang penting kamu dan mama sehat, Sayang,” ucap Romi.
“Ya sudah yuk masuk, aku sudah masakin makanan kesukaanmu.” Amira mengajak Romi masuk ke dalam, karena tidak mau lama-lama Romi menyentuh perutnya. Kadang ada rasa ketakutan tersendiri pada diri Amira, karena anak yang sudah ada di kandungannya sudah aktif sekali.
“Masak apa nih? Kamu bisa masak dengan perut yang sudah gede seperti ini?” tanya Romi.
“Ya bisa dong? Gak ada penghalang untuk melakukan apa saja, meski sudah semakin membesar kandunganku, selagi tidak membahayakan, Sayang?” jawab Amira.
“Apa bibi belum mulai kerja?” tanya Romi.
“Itu dia, Mas, bibi sepertinya belum bisa masuk kerja, soalnya anaknya masih belum sehat betul, kemarin aku jenguk anaknya di rumah sakit ya masih seperti itu, Mas. Makanya aku lagi cari-cari ART yang mau stay di sini, supaya pas mas ke luar kota, aku ada temannya, dan gak merepotkan Regi, kasihan kalau pas kayak kemarin Regi harus lembur, tapi aku di rumah tidak ada temannya, untung istrimu ini pemberani, Mas. Malam-malam di rumah sendirian pun tidak masalah,” jelas Amira.
“Lalu sudah ada info soal ART?” tanya Romi.
“Belum, tapi kata ARTnya Alya, ada temannya yang mau, nanti kalau memang fix ya akan hubungi aku,” jawab Amira.
Romi langsung masuk ke dalam kamar, ia membersihkan badannya lebih dulu, sebelum menikmati masakan istrinya yang terlihat begitu menggugah selera makannya.
Romi melihat amplop warna cokelat yang ada di meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Amplop yang berisi hasil pemeriksaan kandungan Amira saat check-up kemarin. Ia membuka amplop tersebut dan membaca hasilnya, lalu setelah itu ia meletakkan kembali amplop tersebut. Romi keluar dari kamarnya setelah selesai mandi, lalu langsung menghampiri Amira yang sudah menunggunya di ruang makan.
“Kok kamu sendirian, Sayang?” tanya Romi.
“Regi keluar, gak tahu mau beli apa tadi,” jawab Amira.
“Kemarin pas periksa kandungan baik-baik saja kan anakku?” tanya Romi.
“Ya baik, Mas. Anak kita sehat, akunya juga sehat,” jawab Amira.
“Tadi aku baca hasil pemeriksaan kandunganmu, kok sebentar lagi mau tujuh bulan, ya?” ucap Romi.
“Mas lihat hasil pemeriksaanku? Memang aku taruh di mana?” tanya Amira dengan raut wajah yang sedikit panik.
“Yang di atas meja kecil itu, samping tempat tidur, itu hasil pemeriksaan kemarin bukan?”
“Oh ... iya iya ... itu hasil pemeriksaan kemarin, Mas,” jawab Amira gugup.
“Oh Tuhan ... untung yang di atas meja itu yang sudah Regi ganti hasilnya,” batin Amira.
“Nanti pas tujuh bulanan adain acara di rumah, ya? Ya bukan acara kaya adat formal tujuh bulanan sih? Kan kita sama-sama yatim-piatu, kalau mau ada acara juga harus mengundang budhe dan pakdeku sebagai wali orang tua, itu kalau mereka nganggur, gak ada kerjaan, kalau ada pekerjaan ya tidak bisa. Jadi kita ngasih santunan saja ya ke panti asuhan? Sama bagi-bagi di sekitar rumah, untuk tetangga kita,” usul Romi.
“Ya boleh juga seperti itu, Mas. Kalau bikin acara juga ribet. Ada acara adatnya, belum malamnya nanti ada acara pengajian, belum kalau kamu gak sibuk? Kamu sibuk terus? Iya deh mending bagi-bagi di panti asuhan saja, sama tetangga sekitar.” Amira langsung menyetujui usul Romi, karena tidak mungkin kalau mengundan budhe dan pakdenya Romi. Bisa-bisa mereka mengetahui kehamilannya sekarang usianya berapa minggu.
“Untung saja Mas Romi mengusulkan Cuma bagi-bagi di panti asuhan? Coba kalau ngotot untuk bikin acara tujuh bulanan di rumah, sekaligus ada acara adatnya dan acara pengajiannya, pasti nanti banyak yang bilang usia kandunganku sudah sembilan bulan, dan memang usia kandunganku tepat sembilan bulan saat nanti acara tujuh bulanan. Nanti apa kata budhe dan pakde, juga adik-adik perempuannya Mas Romi kalau melihat perutku sudah kencang, besar, dan seperti wanita hamil yang sebentar lagi akan melahirkan?” batin Amira.
“Masakanmu enak sekali, Sayang. Kamu memang jago kalau masak makanan kesukaanku,” puji Romi.
“Iya dong, siapa dulu istrimu?” jawab Amira membanggakan dirinya.
“Bagaimana usahamu? Toko bunga rame?” tanya Romi.
“Rame, ya memang setiap hari begitu, Mas. Apalagi saat ini sedang musim wisuda, kemarin pesanan buket banyak sekali, seperti biasa akhirnya aku ikut turun tangan buat bantuin,” jelas Amira.
“Gak usah capek-capek. Kalau dirasa sudah capek istirahat. Kan banyak karyawanmu, untuk apa kamu bayar mereka kalau kamu masih ikut turun tangan juga?”
Amira hanya mengangguk. Amira sedang tidak hamil pun Romi selalu menasihati seperti itu, karena dia tidak ingin istrinya kecapekan. Apalagi sekarang sedang hamil. Romi sekarang jadi sering video call dengan Amira saat ada di toko bunga, setiap dua jam sekali Romi video call dengan Amira, biar Romi tahu Amira sedang apa, dan keadaannya bagaimana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments