Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan

Amira dari tadi menanyakan info Asisten Rumah Tangga pada teman-temannya. Dia masih di dalam taksi, menuju ke toko bungnya. Sebatulnya ada rasa nyaman Regi bersikap seperti itu, memerhatikan dirinya, meratukan dirinya di rumah saat tidak ada pembantu. Tapi, tetap saja rasa nyaman itu salah.

“Semoga bisa secepatnya cari pembantu yang bisa stay di rumah, jadi tidak melulu dengan Regi, dan Regi bisa pulang, karena aku sudah ada pembantu. Lagian, Mas Romi, apa-apa serba Regi? Iya sih, Regi adik kesayangannya. Adanya Regi bisa mendapatkan jabatan bagus di kantornya juga karena Mas Romi kenal dengan pemilik perusahaan di mana Regi bekerja,” batin Amira.

^^^

Hari ini Romi pulang ke rumah setelah selama dua minggu dia di luar kota. Bahagia sekali rasanya bisa pulang tepat waktu ke rumah, karena dia sudah merindukan Amira.

Amira pun demikian, mendengar kabar suaminya mau pulang, dia langsung memasakkan makanan kesukaan suaminya. Tidak peduli Regi melarangnya untuk masak, Amira tetap melakukannya.

“Kamu ini seperti tidak tahu mbak saja kalau Mas Romi mau pulang pasti begini, Re?” ucap Amira saat Regi melarang dirinya untuk memasak.

“Ya tapi mbak kan sedang hamil?”

“Memang kenapa kalau sedang hamil? Gak boleh masak? Banyak di luar sana ibu hamil pada masak kok?” jawab Amira santai.

Regi membiarkan Amira untuk memasak. Biar saja, toh itu keinginan Amira sendiri. Regi juga sadar, kalau dirinya terlalu perhatiannya, sampai membuat Amira seperti merasa tidak nyaman dengan dirinya.

^^^

Amira sudah selesai menata makanannya di atas meja makan, tak lama kemudian terdengar suara mobil Romi di depan. Amira langsung menyambut suaminya yang baru saja pulang. Romi langsung turun dari mobil dan berlari untuk menghampiri Amira.

“Aku kangen sekali sama kamu, maaf aku sering meninggalkanmu, saat kamu sedang hamil seperti ini,” ucap Romi dengan memeluk Amira, dan menciumi kepalanya.

“Gak apa-apa, kan memang sudah pekerjaannya,” ucap Amira. “Aku juga kangen kamu, Mas.” Amira mendongakkan kepalanya menatap Romi, lalu mengeratkan pelukannya pada Romi.

“Jangan erat-erat, nanti anak kita sesak, Sayang,” ucap Romi. “Ih kamu sudah besar saja di perut mama, Nak?” Romi berjongkok lalu mengusap perut Amira dan menciuminya.

“Udah dong, kan aku makannya banyak, Pa,” jawab Amira.

“Gak apa-apa, yang penting kamu dan mama sehat, Sayang,” ucap Romi.

“Ya sudah yuk masuk, aku sudah masakin makanan kesukaanmu.” Amira mengajak Romi masuk ke dalam, karena tidak mau lama-lama Romi menyentuh perutnya. Kadang ada rasa ketakutan tersendiri pada diri Amira, karena anak yang sudah ada di kandungannya sudah aktif sekali.

“Masak apa nih? Kamu bisa masak dengan perut yang sudah gede seperti ini?” tanya Romi.

“Ya bisa dong? Gak ada penghalang untuk melakukan apa saja, meski sudah semakin membesar kandunganku, selagi tidak membahayakan, Sayang?” jawab Amira.

“Apa bibi belum mulai kerja?” tanya Romi.

“Itu dia, Mas, bibi sepertinya belum bisa masuk kerja, soalnya anaknya masih belum sehat betul, kemarin aku jenguk anaknya di rumah sakit ya masih seperti itu, Mas. Makanya aku lagi cari-cari ART yang mau stay di sini, supaya pas mas ke luar kota, aku ada temannya, dan gak merepotkan Regi, kasihan kalau pas kayak kemarin Regi harus lembur, tapi aku di rumah tidak ada temannya, untung istrimu ini pemberani, Mas. Malam-malam di rumah sendirian pun tidak masalah,” jelas Amira.

“Lalu sudah ada info soal ART?” tanya Romi.

“Belum, tapi kata ARTnya Alya, ada temannya yang mau, nanti kalau memang fix ya akan hubungi aku,” jawab Amira.

Romi langsung masuk ke dalam kamar, ia membersihkan badannya lebih dulu, sebelum menikmati masakan istrinya yang terlihat begitu menggugah selera makannya.

Romi melihat amplop warna cokelat yang ada di meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Amplop yang berisi hasil pemeriksaan kandungan Amira saat check-up kemarin. Ia membuka amplop tersebut dan membaca hasilnya, lalu setelah itu ia meletakkan kembali amplop tersebut. Romi keluar dari kamarnya setelah selesai mandi, lalu langsung menghampiri Amira yang sudah menunggunya di ruang makan.

“Kok kamu sendirian, Sayang?” tanya Romi.

“Regi keluar, gak tahu mau beli apa tadi,” jawab Amira.

“Kemarin pas periksa kandungan baik-baik saja kan anakku?” tanya Romi.

“Ya baik, Mas. Anak kita sehat, akunya juga sehat,” jawab Amira.

“Tadi aku baca hasil pemeriksaan kandunganmu, kok sebentar lagi mau tujuh bulan, ya?” ucap Romi.

“Mas lihat hasil pemeriksaanku? Memang aku taruh di mana?” tanya Amira dengan raut wajah yang sedikit panik.

“Yang di atas meja kecil itu, samping tempat tidur, itu hasil pemeriksaan kemarin bukan?”

“Oh ... iya iya ... itu hasil pemeriksaan kemarin, Mas,” jawab Amira gugup.

“Oh Tuhan ... untung yang di atas meja itu yang sudah Regi ganti hasilnya,” batin Amira.

“Nanti pas tujuh bulanan adain acara di rumah, ya? Ya bukan acara kaya adat formal tujuh bulanan sih? Kan kita sama-sama yatim-piatu, kalau mau ada acara juga harus mengundang budhe dan pakdeku sebagai wali orang tua, itu kalau mereka nganggur, gak ada kerjaan, kalau ada pekerjaan ya tidak bisa. Jadi kita ngasih santunan saja ya ke panti asuhan? Sama bagi-bagi di sekitar rumah, untuk tetangga kita,” usul Romi.

“Ya boleh juga seperti itu, Mas. Kalau bikin acara juga ribet. Ada acara adatnya, belum malamnya nanti ada acara pengajian, belum kalau kamu gak sibuk? Kamu sibuk terus? Iya deh mending bagi-bagi di panti asuhan saja, sama tetangga sekitar.” Amira langsung menyetujui usul Romi, karena tidak mungkin kalau mengundan budhe dan pakdenya Romi. Bisa-bisa mereka mengetahui kehamilannya sekarang usianya berapa minggu.

“Untung saja Mas Romi mengusulkan Cuma bagi-bagi di panti asuhan? Coba kalau ngotot untuk bikin acara tujuh bulanan di rumah, sekaligus ada acara adatnya dan acara pengajiannya, pasti nanti banyak yang bilang usia kandunganku sudah sembilan bulan, dan memang usia kandunganku tepat sembilan bulan saat nanti acara tujuh bulanan. Nanti apa kata budhe dan pakde, juga adik-adik perempuannya Mas Romi kalau melihat perutku sudah kencang, besar, dan seperti wanita hamil yang sebentar lagi akan melahirkan?” batin Amira.

“Masakanmu enak sekali, Sayang. Kamu memang jago kalau masak makanan kesukaanku,” puji Romi.

“Iya dong, siapa dulu istrimu?” jawab Amira membanggakan dirinya.

“Bagaimana usahamu? Toko bunga rame?” tanya Romi.

“Rame, ya memang setiap hari begitu, Mas. Apalagi saat ini sedang musim wisuda, kemarin pesanan buket banyak sekali, seperti biasa akhirnya aku ikut turun tangan buat bantuin,” jelas Amira.

“Gak usah capek-capek. Kalau dirasa sudah capek istirahat. Kan banyak karyawanmu, untuk apa kamu bayar mereka kalau kamu masih ikut turun tangan juga?”

Amira hanya mengangguk. Amira sedang tidak hamil pun Romi selalu menasihati seperti itu, karena dia tidak ingin istrinya kecapekan. Apalagi sekarang sedang hamil. Romi sekarang jadi sering video call dengan Amira saat ada di toko bunga, setiap dua jam sekali Romi video call dengan Amira, biar Romi tahu Amira sedang apa, dan keadaannya bagaimana.

Episodes
1 Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2 Chapter 2 - Dua Garis Merah
3 Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4 Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5 Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6 Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7 Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8 Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9 Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10 Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11 Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12 Curiga Romi Selingkuh
13 Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14 Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15 Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16 Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17 Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18 Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19 Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20 Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21 Chapter 21 - Meragukan
22 Chapter 22 - Mencari Bukti
23 Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24 Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25 Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26 Chapter 26 - Calon Istri Baru
27 Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chater 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2
Chapter 2 - Dua Garis Merah
3
Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4
Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5
Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6
Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7
Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8
Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9
Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10
Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11
Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12
Curiga Romi Selingkuh
13
Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14
Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15
Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16
Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17
Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18
Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19
Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20
Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21
Chapter 21 - Meragukan
22
Chapter 22 - Mencari Bukti
23
Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24
Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25
Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26
Chapter 26 - Calon Istri Baru
27
Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chater 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!