Chapter 4 - Kelihatan Buncit

Romi benar-benar bahagia sekali mendapat kabar baik malam ini setelah pulang kerja. Amira hamil. Tujuh tahun lebih Romi menantikan buah hati hadir di tengah perkawinannya dengan Amira. Beberapa program hamil sudah Romi dan Amira jalani, dan kali ini berhasil. Amira hamil, kandungannya sehat dan usai kandungannya empat minggu. Itu yang Romi ketahui, padahal tidak seperti itu. Kandungan Amira sudah masuk sepuluh minggu.

Romi bersyukur masih diberikan kesempatan memiliki keturunan. Namun, itu bukan anak biologisnya. Yang ada di rahim Amira adalah anak biologis adiknya. Amira pura-pura bahagia melihat suaminya yang begitu bahagia karena dirinya hamil. Perasaan semakin bersalah terus menghinggapi dirinya.

Regi baru saja pulang dari kantor. Dia langsung masuk ke dalam rumah, dan melihat kakaknya sedang bahagia sekali bersama istrinya.

“Hei Regi! Sini!” Romi memanggil Regi dengan wajah sumingah. Regi yang baru saja pulang dari kantor, dia tahu apa yang membuat kakaknya bahagia.

“Wah ... ada apa ini? Sepertinya sedang bahagia sekali, Mas?” tanya Regi basa-basi, padahal dia tahu, pasti kakaknya baru mendapat kabar kalau Amira hamil.

“Sini, pegang perut Mbak Mira. Dia hamil, Regi ... aku mau jadi ayah ....” Dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan, Romi meraih tagan Regi dan meletakkannya di perut Amira.

“Ya Tuhan ... aku kejam sekali, Mas Romi bahagia bukan main mendengar kabar kehamilan Mbak Mira. Padahal yang ada di dalam peruh Mbak Mira adalah anakku,” batin Regi dengan mengusap perut Amira, karena Romi mengusapkan tangannya di perut Amira. “Kamu anakku, Nak. Maafkan ayahmu ini.”

“Kamu mau nambah keponakan lagi, Re!” cetus Romi dengan penuh bahagia.

“Iya, aku mau dapat keponakan lagi, Mas. Aku senang sekali akhirnya Mbak Mira hamil, mas mau jadi ayah. Penantian kalian tidak sia-sia. Selamat Mbak, jaga kandungan mbak. Mas juga nih, harus jaga kandungan Mbak Mira. Jangan main-main dulu, biar janin di dalam perut mbak kuat dulu,” tutur Regi.

“Iya dong, pasti! Aku akan jaga anakku di dalam kandungan ibunya. Tujuh tahun, Regi ... aku menantikan semua ini. Aku akan jaga anakku,” ucap Romi penuh bahagia. “Papa rela menahan diri, supaya kamu sehat di dalam perut mama, Nak,” ucap Romi lalu mencium perut Amira.

Regi miris melihatnya. Dia benar-benar kasihan dengan kakaknya. Juga merasa sangat bersalah dengan kakaknya. Penantian panjangnya memang tidak sia-sia, tapi itu bukan anak kandungnya, melainkan keponakannya, karena anak yang ada di perut Amira adalah anak Regi.

“Ini bukan mauku, aku sama sekali tidak menginginkan Mbak Mira. Semua terjadi begitu saja. Semua di luar dari kesadaranku. Maafkan aku, Mas. Sungguh aku berdosa sekali. Kamu adalah kakakku yang paling menyayangiku. Apa pun yang aku mau, kamu menuruti semuanya. Setelah ibu dan bapak tidak ada, kamulah orang tuaku, Mas. Tapi aku membalasnya dengan seperti ini. Maafkan kekhilafan adikmu ini, Mas. Maafkan aku.” Batin Regi menangis di tengah kebahagiaan kakaknya.

Pun dengan Amira. Melihat suaminya sangat bahagia mendapat kabar dirinya tengah hamil, Amira ingin menangis. Batinnya sakit, menjerit, meronta, ingin menangis, tapi tidak bisa ia lakukan, karena ia harus berpura-pura bahagia di depan suaminya. Amira melihat Romi begitu bahagia sekali. Amira merasa berdosa sekali dengan suaminya, apalagi suaminya begitu mencintai dirinya, tidak pernah menyakitinya. Meski lama tidak diberikan keturunan, Romi masih setia, bahkan sangat setia pada Amira.

“Ya Tuhan ... aku sudah bedosa sekali. Suamiku sangat baik, dia orang yang sangat baik, yang tulus menyayangiku setelah orang tuaku. Maafkan aku, Mas. Aku sudah mengkhianatimu. Tapi ini bukan mauku, Mas. Ini bukan inginku. Aku tidak sadar ketika malam itu, malam yang kelam, yang mebuatku hanyut direngkuh adik iparku sendiri. Maafkan aku, Mas,” batin Amira.

Tidak terasa Amira meneteskan air matanya. Sakit sekali hatinya melihat suaminya bahagia, padahal dia telah berbohong pada suaminya. Pun Regi, dia pun menangis, melihat kakaknya bahagia. Regi menyeka air matanya melihat Romi sangat bahagia malam ini. Padahal bahagia Romi saat ini dirinya yang menciptakan. Ya, Regi lah yang sudah membuat Amira hamil.

“Kalian kok pada nangis?” tanya Romi yang melihat Amira dan Regi menangis.

“Aku menangis karena bahagia, Mas.” Jawaban mereka sama.

“Ya aku bahagia, Mas. Mas akan jadi ayah, Mbak Mira sedang hamil. Penantian panjang mas tidak sia-sia. Semua kesabaran mas terbayar lunas,” ucap Regi.

“Iya, Re. Akhirnya program hamil aku dan Amira berhasil,” ucap Romi bahagia.

“Aku bahagia, aku bisa hamil, Mas. Aku sudah takut, kalau aku tidak bisa hamil, dan Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menjadi ibu, Mas,” ucap Amira dengan berlinang air mata. “Meski ini bukan anakmu, tapi aku lega, aku bisa hamil, aku bisa menjadi wanita sempurna, Mas. Aku menjadi wanita seutuhnya,” ucap Amira dalam hati.

“Iya, Tuhan telah menjawab doa kita, Sayang. Jaga kandungan kamu, ya?” ucap Romi dengan memeluk Amira.

“Regi, terima kasih, kamu juga selalu support mas, untuk selalu sabar, dan selalu menasihati mas untuk tidak selalu memojokkan Mira.” Romi memeluk adiknya. Begitu hancur hati Regi saat ini, karena sudah membohongi kakaknya.

“Iya, Mas sama-sama. Aku benar-benar ikut bahagia, Mas,” ucap Regi.

“Bagaimana besok malam, kita bikin pesta kecil-kecilan. Ya sekadar makan malam bersama-sama, Cuma keluarga saja,” ujar Romi.

“Boleh, kan sudah lama tidak kumpul bareng juga, Mas? Aku juga sudah kangen sama Kenzi, Naima, Tania, Rayyan. Kangen mereka aku mas. Sama Rida dan Risa juga, lama gak ketemu adik-adikmu yang manja itu, dan keponakan-keponakan yang lucu,” ucap Amira.

“Iya, mumpung suami Mbak Rida di rumah, Mbak Risa juga kemarin bilang udah kangen pengin kumpul,” ujar Regi.

“Nanti mas hubungi mereka. Ya sudah mas ganti baju dulu, mau bersih-bersih,” pamit Romi.

“Aku juga, mau mandi. Habis ninjau proyek di lapangan, rasanya badan lengket semua,” ucap Regi.

“Ya sudah, aku siapkan makan malam buat kalian,” ucap Amira.

Kedua laki-laki kakak beradik itu masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan badannya. Sedangkan Amira, dia bergantian memandangi kedua laki-laki itu, hingga hilang dari pandangannya.

“Ya Tuhan ... mereka saling sayang, kalau Mas Romi tahu bahwa anak dalam kandunganku adalah anak Regi, bagaimana nantinya? Aku takut, perutku saja sudah kelihatan buncitnya, aku takut, kalau lama-lama Mas Romi curiga,” batin Amira.

^^^

Malam ini, di rumah Romi, semuanya sudah berkumpul. Kedua adik perempuan Romi sudah berada di rumah Romi bersama suami dan anak-anak mereka. Amira sudah selesai menyiapkan makan malam. Makan malam kali ini, Romi memesannya di restoran yang terkenal, karena tidak mau Amira capek memasak. Mulai besok juga sudah ada asisten di rumah. Romi tidak mau Amira kecapekan, apalagi Amira sedang hamil.

Romi anak paling tertua, yang kedua adalah Rida, ketiga Risa, dan terakhir Regi. Mereka sangat rukun, apalagi sejak kedua orang tua Romi meninggal, Romi lah yang menjadi pengganti orang tua, Romi yang berjuang untuk kebahagiaan adiknya. Ibunya meninggal saat Romi baru satu bulan diangkat menjadi direktur. Risa dan Rida baru kuliah semester awal. Sedangkan Regi, dia masih SMA kelas dua. Setelah Risa dan Rida hampir wisuda, ayahnya menyusul ibunya ke surga. Beban Romi bertambah, dia tentu saja harus menjadi wali adik-adaiknya. Ia yang membiayai hidupnya, dan menjadi orang tua mereka. Padahal saat itu, Romi sudah berniat untuk melamar Amira, tapi ia undur lagi, dan lagi.

Hingga Romi tidak menikah-menikah, karena dia ingin adiknya selesai sekolahnya, dan bekerja. Tapi adik-adiknya sudah mendukung Romi untuk menikahi Amira, dan jangan menunda lagi. Akhirnya Romi menikahi Amira saat setelah Risa dan Rida Wisuda, dan saat Regi baru mau masuk kuliah.

“Budhe, kata bunda, di perut budhe ada adik bayi, ya?” tanya Tania, si ceriwis anak dari Risa.

“Iya, Sayang ... ini pegang perut budhe, disayang adiknya.” Amira membawa tanan Tania ke perutnya, dan Tania mengusap perut Amira.

“Ih iya, adiknya gerak-gerak,” ucapnya girang. Memang tadi sedikit berkedut perut Amira.

“Kamu ngarang, itu budhe tadi bernapas, Sayang ... masa masih kecil adik bayinya bisa bergerak?” ucap Amira.

“Ih tadi memang ada dut-dut begitu budhe?” ucap Tania.

“Tania biasa begitu, aku pas hamil Naima dia bilang udah gerak-gerak adiknya, padahal baru dua minggu,” ujar Rida.

“Tapi kayaknya perut mbak udah gede, ya? Udah kelihatan buncitnya, padahal baru empat minggu, ya? Biasanya kan belum kelihatan?” ujar Risa.

“Tergantung postur perutnya juga, Ris. Mbak dulu hamil Naima saja baru empat minggu buncit, karena perut mbak buncit, ya buncit jadinya? Memang kamu yang ramping? Hamil enam bulan saja belum kelihatan gede?” ucap Rida.

Amira selamat! Saat Risa berkata seperti tadi. Amira sudah kebingungan untuk jawab apa, pun dengan Regi. Dia juga takut, kalau karena perut Amira sudah kelihatan membuncit semuanya akan curiga.

“Ya memang perut Amira agak buncit, kalau habis makan saja buncit perutnya? Apalagi ada bayi, ditambah habis isi makanan?” ujar Romi.

“Iya ya ... aku buncit perutnya? Kurang olahraga aku mas,” ucap Amira.

“Kamu kalau mas sama Regi joging saja malah makan bubur ayam? Gak mau lari?” ucap Romi.

Regi hanya mengurai senyuman saja. Dia masih merasa sangat bersalah. Kakaknya begitu bahagia, sedangkan kebahagiaan itu tercipta karena dirinya yang tengah menghamili Amira.

“Regi ... dari tadi kamu diam saja? Kayak sedang memikirkan sesuatu kamu?” ujar Risa yang merasa adiknya jadi pendiam malam ini. Padahal Regi selalu jahil padanya dan keponakan-keponakannya.

“Aku lagi pusing mikir proyek baru, Mbak. Aku yang bertanggung jawab soalnya,” jawab Regi asal. Padahal dia biasa menangani proyek di lapangan, dan fine-fine saja menurut Risa, tapi malam ini Regi seperti sedang banyak beban dalam hidupnya.

Terpopuler

Comments

Abdul Majid

Abdul Majid

kayaknya nih crta dari kisah nyata, bagus, juga dibikin sinetron.

2023-09-05

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2 Chapter 2 - Dua Garis Merah
3 Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4 Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5 Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6 Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7 Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8 Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9 Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10 Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11 Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12 Curiga Romi Selingkuh
13 Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14 Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15 Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16 Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17 Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18 Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19 Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20 Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21 Chapter 21 - Meragukan
22 Chapter 22 - Mencari Bukti
23 Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24 Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25 Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26 Chapter 26 - Calon Istri Baru
27 Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chater 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2
Chapter 2 - Dua Garis Merah
3
Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4
Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5
Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6
Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7
Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8
Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9
Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10
Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11
Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12
Curiga Romi Selingkuh
13
Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14
Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15
Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16
Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17
Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18
Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19
Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20
Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21
Chapter 21 - Meragukan
22
Chapter 22 - Mencari Bukti
23
Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24
Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25
Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26
Chapter 26 - Calon Istri Baru
27
Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chater 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!