Romi benar-benar bahagia sekali mendapat kabar baik malam ini setelah pulang kerja. Amira hamil. Tujuh tahun lebih Romi menantikan buah hati hadir di tengah perkawinannya dengan Amira. Beberapa program hamil sudah Romi dan Amira jalani, dan kali ini berhasil. Amira hamil, kandungannya sehat dan usai kandungannya empat minggu. Itu yang Romi ketahui, padahal tidak seperti itu. Kandungan Amira sudah masuk sepuluh minggu.
Romi bersyukur masih diberikan kesempatan memiliki keturunan. Namun, itu bukan anak biologisnya. Yang ada di rahim Amira adalah anak biologis adiknya. Amira pura-pura bahagia melihat suaminya yang begitu bahagia karena dirinya hamil. Perasaan semakin bersalah terus menghinggapi dirinya.
Regi baru saja pulang dari kantor. Dia langsung masuk ke dalam rumah, dan melihat kakaknya sedang bahagia sekali bersama istrinya.
“Hei Regi! Sini!” Romi memanggil Regi dengan wajah sumingah. Regi yang baru saja pulang dari kantor, dia tahu apa yang membuat kakaknya bahagia.
“Wah ... ada apa ini? Sepertinya sedang bahagia sekali, Mas?” tanya Regi basa-basi, padahal dia tahu, pasti kakaknya baru mendapat kabar kalau Amira hamil.
“Sini, pegang perut Mbak Mira. Dia hamil, Regi ... aku mau jadi ayah ....” Dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan, Romi meraih tagan Regi dan meletakkannya di perut Amira.
“Ya Tuhan ... aku kejam sekali, Mas Romi bahagia bukan main mendengar kabar kehamilan Mbak Mira. Padahal yang ada di dalam peruh Mbak Mira adalah anakku,” batin Regi dengan mengusap perut Amira, karena Romi mengusapkan tangannya di perut Amira. “Kamu anakku, Nak. Maafkan ayahmu ini.”
“Kamu mau nambah keponakan lagi, Re!” cetus Romi dengan penuh bahagia.
“Iya, aku mau dapat keponakan lagi, Mas. Aku senang sekali akhirnya Mbak Mira hamil, mas mau jadi ayah. Penantian kalian tidak sia-sia. Selamat Mbak, jaga kandungan mbak. Mas juga nih, harus jaga kandungan Mbak Mira. Jangan main-main dulu, biar janin di dalam perut mbak kuat dulu,” tutur Regi.
“Iya dong, pasti! Aku akan jaga anakku di dalam kandungan ibunya. Tujuh tahun, Regi ... aku menantikan semua ini. Aku akan jaga anakku,” ucap Romi penuh bahagia. “Papa rela menahan diri, supaya kamu sehat di dalam perut mama, Nak,” ucap Romi lalu mencium perut Amira.
Regi miris melihatnya. Dia benar-benar kasihan dengan kakaknya. Juga merasa sangat bersalah dengan kakaknya. Penantian panjangnya memang tidak sia-sia, tapi itu bukan anak kandungnya, melainkan keponakannya, karena anak yang ada di perut Amira adalah anak Regi.
“Ini bukan mauku, aku sama sekali tidak menginginkan Mbak Mira. Semua terjadi begitu saja. Semua di luar dari kesadaranku. Maafkan aku, Mas. Sungguh aku berdosa sekali. Kamu adalah kakakku yang paling menyayangiku. Apa pun yang aku mau, kamu menuruti semuanya. Setelah ibu dan bapak tidak ada, kamulah orang tuaku, Mas. Tapi aku membalasnya dengan seperti ini. Maafkan kekhilafan adikmu ini, Mas. Maafkan aku.” Batin Regi menangis di tengah kebahagiaan kakaknya.
Pun dengan Amira. Melihat suaminya sangat bahagia mendapat kabar dirinya tengah hamil, Amira ingin menangis. Batinnya sakit, menjerit, meronta, ingin menangis, tapi tidak bisa ia lakukan, karena ia harus berpura-pura bahagia di depan suaminya. Amira melihat Romi begitu bahagia sekali. Amira merasa berdosa sekali dengan suaminya, apalagi suaminya begitu mencintai dirinya, tidak pernah menyakitinya. Meski lama tidak diberikan keturunan, Romi masih setia, bahkan sangat setia pada Amira.
“Ya Tuhan ... aku sudah bedosa sekali. Suamiku sangat baik, dia orang yang sangat baik, yang tulus menyayangiku setelah orang tuaku. Maafkan aku, Mas. Aku sudah mengkhianatimu. Tapi ini bukan mauku, Mas. Ini bukan inginku. Aku tidak sadar ketika malam itu, malam yang kelam, yang mebuatku hanyut direngkuh adik iparku sendiri. Maafkan aku, Mas,” batin Amira.
Tidak terasa Amira meneteskan air matanya. Sakit sekali hatinya melihat suaminya bahagia, padahal dia telah berbohong pada suaminya. Pun Regi, dia pun menangis, melihat kakaknya bahagia. Regi menyeka air matanya melihat Romi sangat bahagia malam ini. Padahal bahagia Romi saat ini dirinya yang menciptakan. Ya, Regi lah yang sudah membuat Amira hamil.
“Kalian kok pada nangis?” tanya Romi yang melihat Amira dan Regi menangis.
“Aku menangis karena bahagia, Mas.” Jawaban mereka sama.
“Ya aku bahagia, Mas. Mas akan jadi ayah, Mbak Mira sedang hamil. Penantian panjang mas tidak sia-sia. Semua kesabaran mas terbayar lunas,” ucap Regi.
“Iya, Re. Akhirnya program hamil aku dan Amira berhasil,” ucap Romi bahagia.
“Aku bahagia, aku bisa hamil, Mas. Aku sudah takut, kalau aku tidak bisa hamil, dan Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menjadi ibu, Mas,” ucap Amira dengan berlinang air mata. “Meski ini bukan anakmu, tapi aku lega, aku bisa hamil, aku bisa menjadi wanita sempurna, Mas. Aku menjadi wanita seutuhnya,” ucap Amira dalam hati.
“Iya, Tuhan telah menjawab doa kita, Sayang. Jaga kandungan kamu, ya?” ucap Romi dengan memeluk Amira.
“Regi, terima kasih, kamu juga selalu support mas, untuk selalu sabar, dan selalu menasihati mas untuk tidak selalu memojokkan Mira.” Romi memeluk adiknya. Begitu hancur hati Regi saat ini, karena sudah membohongi kakaknya.
“Iya, Mas sama-sama. Aku benar-benar ikut bahagia, Mas,” ucap Regi.
“Bagaimana besok malam, kita bikin pesta kecil-kecilan. Ya sekadar makan malam bersama-sama, Cuma keluarga saja,” ujar Romi.
“Boleh, kan sudah lama tidak kumpul bareng juga, Mas? Aku juga sudah kangen sama Kenzi, Naima, Tania, Rayyan. Kangen mereka aku mas. Sama Rida dan Risa juga, lama gak ketemu adik-adikmu yang manja itu, dan keponakan-keponakan yang lucu,” ucap Amira.
“Iya, mumpung suami Mbak Rida di rumah, Mbak Risa juga kemarin bilang udah kangen pengin kumpul,” ujar Regi.
“Nanti mas hubungi mereka. Ya sudah mas ganti baju dulu, mau bersih-bersih,” pamit Romi.
“Aku juga, mau mandi. Habis ninjau proyek di lapangan, rasanya badan lengket semua,” ucap Regi.
“Ya sudah, aku siapkan makan malam buat kalian,” ucap Amira.
Kedua laki-laki kakak beradik itu masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan badannya. Sedangkan Amira, dia bergantian memandangi kedua laki-laki itu, hingga hilang dari pandangannya.
“Ya Tuhan ... mereka saling sayang, kalau Mas Romi tahu bahwa anak dalam kandunganku adalah anak Regi, bagaimana nantinya? Aku takut, perutku saja sudah kelihatan buncitnya, aku takut, kalau lama-lama Mas Romi curiga,” batin Amira.
^^^
Malam ini, di rumah Romi, semuanya sudah berkumpul. Kedua adik perempuan Romi sudah berada di rumah Romi bersama suami dan anak-anak mereka. Amira sudah selesai menyiapkan makan malam. Makan malam kali ini, Romi memesannya di restoran yang terkenal, karena tidak mau Amira capek memasak. Mulai besok juga sudah ada asisten di rumah. Romi tidak mau Amira kecapekan, apalagi Amira sedang hamil.
Romi anak paling tertua, yang kedua adalah Rida, ketiga Risa, dan terakhir Regi. Mereka sangat rukun, apalagi sejak kedua orang tua Romi meninggal, Romi lah yang menjadi pengganti orang tua, Romi yang berjuang untuk kebahagiaan adiknya. Ibunya meninggal saat Romi baru satu bulan diangkat menjadi direktur. Risa dan Rida baru kuliah semester awal. Sedangkan Regi, dia masih SMA kelas dua. Setelah Risa dan Rida hampir wisuda, ayahnya menyusul ibunya ke surga. Beban Romi bertambah, dia tentu saja harus menjadi wali adik-adaiknya. Ia yang membiayai hidupnya, dan menjadi orang tua mereka. Padahal saat itu, Romi sudah berniat untuk melamar Amira, tapi ia undur lagi, dan lagi.
Hingga Romi tidak menikah-menikah, karena dia ingin adiknya selesai sekolahnya, dan bekerja. Tapi adik-adiknya sudah mendukung Romi untuk menikahi Amira, dan jangan menunda lagi. Akhirnya Romi menikahi Amira saat setelah Risa dan Rida Wisuda, dan saat Regi baru mau masuk kuliah.
“Budhe, kata bunda, di perut budhe ada adik bayi, ya?” tanya Tania, si ceriwis anak dari Risa.
“Iya, Sayang ... ini pegang perut budhe, disayang adiknya.” Amira membawa tanan Tania ke perutnya, dan Tania mengusap perut Amira.
“Ih iya, adiknya gerak-gerak,” ucapnya girang. Memang tadi sedikit berkedut perut Amira.
“Kamu ngarang, itu budhe tadi bernapas, Sayang ... masa masih kecil adik bayinya bisa bergerak?” ucap Amira.
“Ih tadi memang ada dut-dut begitu budhe?” ucap Tania.
“Tania biasa begitu, aku pas hamil Naima dia bilang udah gerak-gerak adiknya, padahal baru dua minggu,” ujar Rida.
“Tapi kayaknya perut mbak udah gede, ya? Udah kelihatan buncitnya, padahal baru empat minggu, ya? Biasanya kan belum kelihatan?” ujar Risa.
“Tergantung postur perutnya juga, Ris. Mbak dulu hamil Naima saja baru empat minggu buncit, karena perut mbak buncit, ya buncit jadinya? Memang kamu yang ramping? Hamil enam bulan saja belum kelihatan gede?” ucap Rida.
Amira selamat! Saat Risa berkata seperti tadi. Amira sudah kebingungan untuk jawab apa, pun dengan Regi. Dia juga takut, kalau karena perut Amira sudah kelihatan membuncit semuanya akan curiga.
“Ya memang perut Amira agak buncit, kalau habis makan saja buncit perutnya? Apalagi ada bayi, ditambah habis isi makanan?” ujar Romi.
“Iya ya ... aku buncit perutnya? Kurang olahraga aku mas,” ucap Amira.
“Kamu kalau mas sama Regi joging saja malah makan bubur ayam? Gak mau lari?” ucap Romi.
Regi hanya mengurai senyuman saja. Dia masih merasa sangat bersalah. Kakaknya begitu bahagia, sedangkan kebahagiaan itu tercipta karena dirinya yang tengah menghamili Amira.
“Regi ... dari tadi kamu diam saja? Kayak sedang memikirkan sesuatu kamu?” ujar Risa yang merasa adiknya jadi pendiam malam ini. Padahal Regi selalu jahil padanya dan keponakan-keponakannya.
“Aku lagi pusing mikir proyek baru, Mbak. Aku yang bertanggung jawab soalnya,” jawab Regi asal. Padahal dia biasa menangani proyek di lapangan, dan fine-fine saja menurut Risa, tapi malam ini Regi seperti sedang banyak beban dalam hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Abdul Majid
kayaknya nih crta dari kisah nyata, bagus, juga dibikin sinetron.
2023-09-05
0