Amira merasakan perutnya semakin hari semakin membuncit. Jelas Amira merasakan itu, karena kandungannya sudah memasuki bulan ke enam, tapi yang Romi ketahui, kandungan Amira masih berusia empat bulan. Amira semakin cemas, karena takut Romi curiga, kandungan empat bulan kok sudah sebesar ini perutnya?
“Re sini,” panggil Amira yang melihat adik iparnya sedang duduk di ruang tengah, sambil nonton televisi.
“Ada apa, Mbak?” Tanya Regi.
“Aku bingung, Re. Aku takut Mas Romi curiga dengan kandunganku ini. Lihatlah semakin membesar, Re. Nanti kalau curiga gimana? Kan Mas Romi tahunya usia kandungan mbak empat bulan?” ucap Amira.
“Mbak Mira tenang, ya? Toh Mas Romi sibuk terus akhir-akhir ini. Bulan kemarin saja mbak kontrol sendiri, kan?” ujar Regi.
“Iya, tapi kemarin saja Mas Romi bilang, bayinya udah kuat nendangnya, padahal baru mau empat bulan,” ucap Amira.
“Mbak jangan berpikiran macam-macam, ya? Kalau Mas Romi tanya soal itu lagi, mbak jawab saja, setiap kandungan orang itu beda-beda, ada yang umur sembilan bulan, hampir melahirkan gak kelihatan sama sekali perutnya, ada yang baru tujuh bulan, sudah seperti sembilan bulan,” jelas Regi.
“Makasih ya, Re. Mbak sedikit tenang,” ucap Amira.
“Mbak sudah makan? Atau ingin makan apa? Mau aku belikan?” tanya Regi.
“Mbak nunggu Mas Romi pulang saja makannya, Re,” jawab Amira.
“Yakin? Gak lapar? Mas Romi pulang malam lho? Lagian bibi gak masak buat makan malam, tadi kan pamit dari siang? Aku belikan makanan, ya? Sekalian buat Mas Romi?”
“Ya sudah terserah kamu saja, Re. Mbak mau istirahat,” jawab Amira.
“Jangan tidur ya, Mbak? Soalnya mau menjelang magrib, nanti saja habis magrib atau isya. Pamali tidur jam segini, mending mbak nonton acara TV atau apa,” tutur Regi.
“Iya enggak tidur, mbak sambil lihat laporan toko kok, Re.”
“Jangan kecapekan mbak,” ujar Regi sebelum keluar membeli makanan.
Amira tidak mengerti apa yang Regi tuturkan selalu ia turuti. Dan, apa pun yang Regi belikan, entah itu makanan, jajanan, manisan atau rujak buah, selalu doyan dan habis dimakan. Kalau Romi yang membelikan dia malah gak terlalu suka, karena bukan selera dirinya. Kadang Amira meminta martabak yang ada di depan Pasar, Romi membelikannya yang di dekat kantornya, dengan alasan kejauhan kalau harus ke pasar. Jadi Amira kesal, dan gak ada selera lagi untuk memakannya.
Amira ke kamarnya, ia sebetulnya ingin menjauhi Regi, tapi setiap Romi pulang agak terlambat, Romi selalu meminta Regi untuk di rumahnya menemani Amira sampai Romi pulang. Padahal Regi sudah kembali menempati rumahnya sendiri karena sudah selesai renovasi, tapi Romi selalu sibuk dan pulang malam, jadi meminta Regi untuk menemaninya. Soalnya pembantu di rumahnya hanya sampai sore saja, tidak menginap, karena rumahnya dekat. Datang habis subuh, pulang habis magrib. Lagian ada pembantu juga Romi tetap percaya pada Regi untuk menemani istrinya kalau dirinya sedang sibuk di kantor.
“Kenapa sih mas, selalu minta Regi yang harus menemaniku? Aku kan jadi bergantung pada dia? Kemarin saja kamu menyuruh Regi menemaniku check-up? Harusnya kamu yang antar, tapi malah kamu sibuk? Tapi, kalau sama kamu juga semua akan terbongkar nantinya, usia kandunganku berapa? Untung kamu selalu sibuk kalau mau antar aku check-up?” batin Amira.
Amira melihat laporan penjualan tokonya. Tokonya semakin rame sekarang. Dia juga kadang ikut sibuk di toko. Dia jadi ingin seperti dulu, saat masih remaja, mengantarkan bunga pesanan ke pembeli, memakai sepeda, setiap pulang sekolah dia selalu begitu, membantu ibunya menata bunga, membuat buket, dan mengantarkan bunga pesanan orang.
“Bu, Mira kangen ibu. Kalau ada ibu pasti Mira gak seperti ini, Bu. Sejak ibu pergi, Mira gak punya tempat untuk curhat, Mira selalu takut curhat sama teman, takut seperti dulu, malah curhatanku diumbar? Ibu, Mira hamil, tapi dengan Regi, bukan dengan Mas Romi. Mira harus gimana, Bu? Mira takut Mas Romi murka, kalau dia tahu,” ucap Amira dengan mengusap perutnya.
Mira mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang, “mbak, ini aku bawakan martabak telur spesial yang aku beli di depan pasar!” Suara Regi memanggilnya dan bilang dia bawa martabak telur spesial kesukaan dirinya, matanya berbinar. Ia langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu membukakan pintu kamarnya.
“Aku kira mbak tidur? Sudah mau magrib, jangan tidur, Mbak,” ucap Regi saat Amira membukakan pintu kamarnya.
“Kamu kan bilang pamali, jadi mbak sampai nahan kantuk nih!” jawab Amira kesal.
“Ya sudah itu martabaknya dimakan dulu. Aku tata makanannya, supaya nanti Mas Romi pulang kita bisa langsung makan,” ucap Regi.
“Ya sudah, sana kamu tata. Itu sama kamu juga, kan? Kamu makan di sini?” tanya Amira.
“Iya aku sekalian, biar pulang sampai rumah langsung tidur,” jawab Regi.
“Maaf ya, Re. Mas Romi selalu merepotkan kamu, padahal kamu kan harusnya bisa ke mana gitu, sama teman kamu, atau pacarmu?” ucap Amira.
“Pacar dari mana sih, Mbak? Belum kepikiran, lagian aku masih belum mapan, masih belum siap memiliki istri. Nantilah, masih ingin menikmati karier,” jawab Regi santai, sambil menarik kursi lalu duduk di depan Amira. “Nanti kalau masalah mbak ini sudah selesai, aku baru punya pacar. Aku ini bingung, ngrasa bersalah banget sama Mas Romi. Aku selalu ketakutan sendiri, Mbak. Aku ini berdosa sekali,” ucap Regi.
“Sudah Re, jangan dibahas soal ini. Mbak pun sama, mbak selalu takut, apalagi lihatlah perut mbak, terlihat membuncit sekali bukan? Mbak takut Mas Romi curiga, dan tanya terus, nanti kalau dia tahu usia kandungan mbak sebenarnya mbak harus bicara apa? Mbak harus menjawab dengan jawaban yang seperti apa, Re?” ucap Amira.
“Semoga Masa Romi tidak terlalu curiga, Mbak, dan mau menerima alasan mbak kenapa perut mbak kelihatan membuncit sekali,” ucap Regi.
Amira mengangguk, mengerti apa yang Regi ucapkan. Amira senang sekali dibelikan martabak telur yang dari kemarin dia sudah ngidam sekali pengin makan martabak telur spesial yang ada di dekat pasar. Amira menikmatinya sendiri sampai habis beberapa potong.
“Bagi dong mbak? Ih jangan dihabiskan langsung, nanti gak bisa makan sama Mas Romi lho? Tuh apa gak pengin ikan bakar? Aku beli tuh, ikannya gede mantap, bumbunya meresap sekali, aku beli di kedai ikan bakar langganan aku sama teman-teman kantorku, Mbak,” ucap Regi.
“Tenang masih muat kok. Ini enak sekali, Re. Dari kemarin mbak ingin ini tapi Mas Romi pulang malam terus, jadi gak sempat beliin, eh sekali beli yang dekat di kantornya, gak enak seperti ini, Re,” ucap Amira.
“Yakin mbak kuat makan lagi kalau ini sudah habis?” Tanya Regi.
“Yakinlah, lagian Mas Romi pasti masih dua jam lagi pulangnya, mbak pasti udah lapar lagi, Re,” ucap Amira.
“Ya sudah puas-puasin saja makan martabaknya. Kalau pengin tinggal bilang sama aku, Mas Romi itu biasa, orangnya begitu, intinya ya sama martabak, mau beli di mana pun tempatnya. Dia pilih simpel nya. Kalau ada yang dekat ngapain beli yang jauh? Dia selalu begitu, makanya Mbak Risa apa Mbak Rida kadang sewot, kalau minta dibeliin apa-apa, mintanya beli di tempat A belinya di tempat B, mereka ya kesal jadinya?” ujar Regi.
“Iya ih, Mas Romi kadang nyebelin, gak tahu yang minta anaknya!” tukas Amira kesal.
“Mbak itu anakku,” ucap Regi dengan menatap lembut Amira.
Amira terdiam, iya benar yang ada di perutnya bukan anak suaminya, tapi anak adik iparnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments