Benar kata Regi, yang ada di kandungan Amira adalah anak Regi, bukan anak dari suaminya. Amira teringat kembali malam itu, malam di mana ia melakukannya dengan Regi. Dirinya begitu menikmati malam itu, mungkin karena dia terpengaruh oleh minuman beralkohol saat malam itu, jadi sangat menikmatinya.
“Mbak, maaf aku bicara begitu,” ucap Regi.
“Iya, tidak apa-apa, Re. Memang kenyataannya begitu,” jawab Amira.
Regi paham, kakak iparnya memang sudah lama sekali menginginkan anak, pun dengan kakaknya. Segala cara mereka lakukan untuk bisa memiliki keturunan, mereka mengikuti program hamil, apa pun program hamilnya mereka ikuti dengan baik, jika gagal mereka mengikuti program hamil lainnya. Tanpa berhenti, dan mereka sangat berusaha keras. Dan ternyata saat melakukan program hamil yang baru saja ia mulai beberapa bulan, benih Regi lah yang tertanam di rahim Amira karena kejadian tidak terduga.
Meski Amira lama belum bisa hamil, Romi tidak pernah sedikit pun berniat untuk mencari pengganti, supaya dirinya memiliki keturunan. Romi begitu mencintai Amira, meskipun seumur hidup Amira tidak bisa hamil, Romi tidak akan meninggalkannya.
“Kenapa Tuhan membiarkan benih darimu tumbuh di rahimku, Re? Sedangkan benih Mas Romi yang dari dulu masuk ke dalam rahimku selalu gagal membuahi sel telurku? Padahal kami sama-sama normal, Re. Tidak ada masalah apa-apa. ****** Mas Romi sehat, bagus, rahimku juga normal, sehat, sel telurku juga tidak ada masalah? Lantas kenapa tujuh tahun aku tidak hamil-hamil dengan Mas Romi? Denganmu yang hanya semalam, dan itu juga ketidaksengajaan, karena kita sama-sama gak sadar, tapi malah benihmu tumbuh di rahimku, Re,” ucap Amira.
“Takdir memang tidak bisa kita duga, Mbak. Kalau Tuhan sudah mengizinkan sesuatu itu hidup, ya hidup. Manusia tidak bisa melawan kehendak dan takdir Tuhan, Mbak,” ujar Regi.
“Iya, Re. Aku kadang berpikir, sejak aku hamil dan kehamilan ini terjadi karena kesalahan kita, aku berpikir apa Mas Romi yang tidak bisa memberi keturunan? Atau karena dia kecepekan, dia sibuk kerja tanpa mengenal lelah meski sedang menjalani program hamil?”
“Itu bisa jadi, Mbak. Tapi ya sudahlah Mbak. Nyatanya dokter juga bilang keadaan Mas Romi dan mbak baik-baik saja, dan bisa mendapatkan keturunan?”
“Iya sih, tapi kenapa harus kamu, Re?”
“Ya beruntung sama adik iparmu, daripada sama laki-laki lain di luar sana?” celetuk Regi.
“Aku gak tahu kalau Mas Romi tahu, semurka apa dia sama aku dan kamu, Re?” ucap Amira.
“Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Mbak nikmati saja masa-masa kehamilan mbak, jangan stres kasihan bayinya, Mbak?” tutur Regi.
“Iya, Re. Ya sudah mbak ke kamar, Re. Jenuh nunggu Mas Romi pulang, tuh sudah jam tujuh lima belas menit dia belum sampai rumah? Untung mbak sudah makan martabak, buat ganjal perut sambil nunggu Masmu pulang?”
“Ya sudah mbak istirahat sana, ini tinggal dua potong buat aku ya martabaknya?” pinta Regi.
“Iya makan saja, Re?” jawab Amira.
Amira masuk ke dalam kamarnya. Sejak dia hamil, dia memang sukanya mengurung diri di kamarnya, kalau Romi belum pulang. Dia jarang seperti tadi ngobrol cukup lama dengan Regi. Meski kadang Amira ingin sekali ngobrol tanpa canggung dengan Romi seperti dulu saat belum terjadi kecelakaan semalam itu, ia menahannya. Ia menahan dengan cara mengurung diri di dalam kamar, karena ia malu jika harus ngobrol dekat dan cukup lama dengan Regi.
Pun dengan Regi, dia juga canggung dengan kakak iparnya sekarang. Ia kadang ingin basa-basi menawari Amira pengin makan apa, tapi dia takut mau menawari, takut Amira malah ketus dan marah. Kalau saja tadi Amira tidak memanggilnya dan bicara lebih dulu dengan dirinya, Regi tidak berani menyapa kakak iparnya lebih dulu.
Regi masih duduk tercenung di depan meja makan sambil makan dua potong martabak yang ia belikan untuk Amira tadi. Regi tidak tahu, sejak Amira mengandung, dia ingin sekali dekat dengan Amira, bahkan ia ingin selalu mengetahui keadaan Amira. Ia rela kerja sambil mengawasi Amira, meski tidak diminta kakaknya untuk menemani atau mengawasi Amira. Beruntung pekerjaannya sekarang lebih banyak di lapangan daripada di kantor.
“Aku bukan suaminya, tapi ada benihku yang tumbuh di rahim Mbak Mira. Apa aku salah jika aku ingin memerhatikan keadaannya? Memastikan Mbak Mira baik-baik saja, dan kandungannya juga baik-baik saja?” gumam Regi.
Romi melihat adiknya yang sedang sendirian duduk di depan meja makan, dan di depannya ada kotak martabak.
“Re?” sapa Romi, dan membuat Regi terjingkat.
“Eh, Mas! Sudah pulang?” jawab Regi sedikit terjingkat.
“Iya ini, kamu lagi makan martabak?” tanya Romi.
“Ini sisaan nya Mbak Mira, tinggal dua potong gak mau dihabiskan,” jawab Regi.
“Sisa dua potong saja? Satu porsi sisa dua potong?” tanya Romi heran, padahal dia kemarin membelikan Mira martabak hanya dimakan beberapa potong saja.
“Iya, dia sisain dua potong tadi, ya sudah aku makan saja,” jawab Regi.
“Kemarin aku belikan saja gak habis, dimakan beberapa potong saja?” ucap Romi sambil melihat kotak bungkus martabaknya. “Pantas saja habis, belinya di dekat pasar kan?” ujar Romi.
“Iya, tadi beli di sana, sekalian beli lauk, kan bibi pulang agak siangan, ada urusan katanya, jadi gak bisa masak buat makan malam. Aku cari lauk buat makan malam di daerah pasar, sekalian beli ini martabak, aku tawari makan dulu, malah mintanya martabak dulu, katanya makannya nanti nunggu mas pulang,” jelas Regi.
“Kamu juga belum makan?” tanya Romi.
“Belum, nantilah biar sekalian bareng makannya sama mas,” jawab Regi.
“Mira nya di mana?” tanya Romi lagi.
“Di kamar, dia katanya masih belum selesai cek laporan toko,” jawab Regi.
“Ya sudah aku ke kamar dulu, Re,” pamit Romi.
Romi masuk ke kamarnya, ia melihat Amira sedang duduk di depan meja kerjanya. Romi langsung mendekatinya dan memeluk Amira dari belakang.
“Jangan kerja terus, Sayang ... Nanti kecapekan kamu?” ucap Romi lalu mencium pipi Amira dan mengusap perut Amira yang sudah membuncit.
“Mas ... Ngagetin aja ih! Sudah pulang, Sayang?” ucap Amira dengan mengusap tangan Regi di perutnya.
“Lagian suami pulang kamu malah sibuk?” ujar Romi. “Ih anakku tahu papanya pulang, dia nendang-nendang, Sayang. Sudah kuat sekali, ya? Padahal baru empat bulan, kan?” tanya Romi.
“Ehm ... I—iya empat bulan, eh ya udah mau jalan lima mas, minggu depan dah lima,” jawab Amira gugup.
“Iya, ya? Perut kamu dah buncit sekali soalnya, padahal teman kantorku yang lagi hamil empat bulan belum kelihatan seperti ini perutnya?” ujar Romi.
“Kan setiap orang hamil beda-beda perutnya, Mas? Ada yang udah mau melahirkan saja masih kecil perutnya? Masih kayak usia kandungan lima bulan? Kata dokternya begitu,” jawab Amira.
“Iya juga sih? Mungkin begitu,” ucap Romi menepiskan perasaan anehnya, karena melihat perut Amira yang makin buncit, dan tendangan bayinya sudah kuat. Padahal kalau empat bulan belum sekuat itu sepertinya tendangan bayinya.
“Sana bersih-bersih, lalu kita makan malam. Aku sudah lapar sekali, padahal aku dah ngabisin martabak telur satu porsi, eh sisa dua aku kasihkan Regi,” ucapnya dengan tersenyum.
“Hmm ... Doyan makan nih ya?” ujar Romi.
“Daripada gak doyan, aku kan jadi lemas, kasihan anak kita juga mas?” jawab Amira.
“Iya juga sih? Ya sudah aku bersih-bersih dulu, lalu kita makan,” ucap Romi.
“Oke, aku tata makan malamnya dulu,” ucap Mira.
Mira langsung keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Romi masih memikirkan perut Amira yang sudah membuncit sekali, seperti usia kandungan yang sudah memasuki tujuh bulanan.
“Hanya perasaanku saja mungkin, mungkin juga karena Mira doyan makan, ya perutnya jadi buncit? Lagian kalau sudah tujuh bulan, berarti bukan anakku dong? Masa gitu? Ah aku ini aneh-aneh saja mikirnya?” batin Romi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments