Amira sampai menjelang maghrib baru pulang dari rumah. Regi dari tadi khawatir karena Amira dihubungi tidak menjawabnya. Sama sekali Amira tidak memedulikan panggilan dari Regi. Karena Romi saja tidak seover protektif itu, sedangkan Regi, selalu mengirim pesan, tanya sedang di mana dan pulang jam berapa? Kalau Romi hanya mengabarinya dua jam sekali, dan membiarkan Amira nyaman bersama dengan teman-temannya. Itu kenapa Amira silent ponselnya, tidak ia getar juga. Mode diam, lalu ia masukkan ke dalam tas, supaya tidak terganggu dengan Regi.
“Mbak, kenapa gak balas chatku sama gak angkat telefonku sih? Aku kan khawatir?” tanya Regi.
“Aku gak apa-apa, Re? Lagi asik ngobrol tadi, sampai Mas Romi telefon saja tidak keangkat, tapi dia pasti tahu kalau aku sudah ngumpul ya lupa waktu,” jawab Amira santai.
“Tapi gak gitu dong, Mbak? Mbak kan sedang hamil?” ujar Regi.
“Iya sedang hamil, tapi kan mbak sama teman-teman, ngumpul jadinya di rumah Alya. Jadi ya enak ngobrol-ngobrol di dalam sampai lupa waktu,” jawab Amira.
Tak lama kemudian, Romi menelefon dirinnya. Amira mengangkatnya dan ia sengaja melaoudspeaker telefonnya.
“Sudah sampai?” tanya Romi santai.
“Sudah, Sayang. Ini baru saja sampai, tadi diantar Citra,” jawab Amira.
“Ya sudah sana mandi, terus istirtahat. Kamu sudah makan?”
“Tadi makan dulu sebelum pulang, pembantunya Alya masak lagi kok buat kita-kita, ini juga aku bawakan juga sih buat Regi, biar gak usah beli,” jawab Amira.
“Oh ya sudah itu kasih ke Regi, dari tadi telefon mas, bilang kamu belum pulang-pulang, aku jawab memang kamu biasa gitu kalau main,” jelas Romi.
“Tuh dengar, Re! Mas Romi saja biasa saja aku main mau jam berapa pun, asal jelas mainnya di mana, dan dengan siapa saja! Lagian Mas Romi tahu teman-temanku semuanya kok Re?” ujar Amira. “Ini buat makan malam kamu, Re. Tadi dikasih sama Alya, di kasih dua porsi itu, aku bilang ada kamu di rumah, biar gak usah beli makanan di luar,” ucap Amira. “Ya sudah Re, aku ke kamar dulu.”
Regi hanya diam saja, memang tadi dia merasa terlalu khawatir sekali dengan Amira, ternyata malam kakaknya cuek dengan Amira, padahal Amira istirinya, tapi cuek sekali dengan Amira. Asal sudah tahu Amira di mana, Romi tidak khawatir. Dia percaya dengan istrinya, karena memang hanya itu-itu saja sih teman-teman Amira. Romi juga tahu semua siapa saja teman istrinya, jadi dia tidak khawatir dengan Amira, dan selalu percaya dengan Amira.
^^^
Keesokan harinya, Amira yang baru saja bangun tidur, dan keluar dari kamarnya, lalu ke dapur, Amira disuguhkan pemandangan Regi yang baru saja selesai memasak untuk sarapan pagi.
“Kamu masak, Re? Memang bibi gak datang?” tanya Amira.
“Bibi datang, tapi pamit saja, katanya mau antar anaknya periksa, Mbak. Jadi mungkin hari ini sama besok bibi izin,” jawab Regi.
“Oh begitu?”
“Iya begitu tadi pamitnya, kalau mbak kurang percaya, ya sudah mbak telefon saja bibi?” ujar Regi.
“Iya nanti mbak telefon bibi,” jawabnya. “Kamu masak apa, Re?” tanya Amira, karena mengendus aroma masakan Regi yang menggugah selera.
“Nasi goreng, sama telur dadar, ayo makan, Mbak? Ini sudah matang lho,” ujar Regi.
“Oke, nanti aku makan, aku cuci muka dulu.” Amira balik ke kamarnya, dia merapikan rambutnya dulu, lalu mencuci wajahnya. Ia sudah tidak sabar sekali dengan masakan Regi, yang harumnya begitu menggugah selera makannya.
Amira ingat dengan ponselnya yang belum ia aktifkan. Ia mengaktifkan ponselnya, dan teranyata pembantunya sudah lebih dulu memberi kabar padanya kalau hari ini tidak masuk kerja, sampai besok. Tapi, setelah ia scroll pesan ke bawah lagi, pembantunya mungkin sampai seminggu tidak berangkat, karena anaknya harus di opname di rumah sakit.
“Jadi sampai Mas Romi pulang bibi gak berangkat? Paling tidak Mas Romi pulng kan empat hari lagi?” batin Amira.
Amira keluar dan langsung menuju ke meja makan. Regi sudah menyiapkan sarapan di meja makan, juga dia sudah membuatkan susu hamil untuk Amira.
“Makan dulu, Mbak,” ucap Regi.
“Ini enak sekali sepertinya, Re?” ucap Amira.
Setelah selesai sarapan, Amira harus segera ke toko bunga. Ia tidak mau merepotkan Regi untuk mengantarnya, jadi ia sudah memesan taksi untuk ke toko bunganya.
“Mbak Mira mau ke mana?” tanya Regi.
“Mau ke toko, kalau kamu mau ke kantor, kunci di taruh di bawah pot bunga ya, Re? Mbak berangkat sekarang, soalnya itu sudah ditunggu taksi,” ucap Amira.
“Taksi? Mbak pesan taksi? Kenapa gak bilang aku? Kan aku bisa antar?” tanya Regi.
“Sudah tidak apa-apa. Lagian kamu dari habis sarapan kamu itu sibuk. Padahal Mbak kan bilang, gak usah disapu lantainya, gak usah di cuci piring dan gelas kotornya, biar besok saja mbak suruh orang yang bisa gantiin bibi untuk seminggu,” ujar Amira.
“Lagian gak betah mbak lihat gelas dan piring kotor, jadi ya aku bersihkan, Mbak,” ucap Regi. “Jadi ini mbak sendiri ke toko bunga?” tanya Regi.
“Iya, kamu kan sedang sibuk? Kalau kamu mau ke kantor, kunci taruh di bawah pot saja, ya?” ujar Amira.
“Oke. Mbak hati-hati, ya?”
Amira sebetulnya menghindari Regi. Ia tidak mau bergantung pada Regi terus menerus selama suaminnya tidak di rumah. Ia harus gerak cepat supaya Regi tidak mengantarnya ke toko bunga, dan saat melihat Regi sedang sibuk tadi, Amira langsung mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi ke toko bunga miliknya.
Ucapan sahabat-sahabatnya tentang ipar kemarin, membuat Amira semakin ketakutan sendiri. Dia takut Regi semakin nekat mendekati dirinya, apalagi ada anak Regi di dalam perutnya. Ia takut Regi malah berbuat melebihi batas. Perhatian Regi saja lebih besar daripada Romi, dia tidak mau kalau terus-terusan diperlakukan Regi seperti itu, nanti malah menjadi kebiaasn dan nyaman diperhatikan Regi.
“Aku harus bisa menhindari Regi sekarang, aku tidak ingin aku ini semakin bergantung pada Regi, apalagi aku ini sering ditinggal Mas Romi. Lagian Mas Romi pakai ada acara nyuruh Regi di rumah selama dia pergi?” batin Amira.
Romi meminta Regi karena mau siapa lagi yang harus ia mintai bantuannya untuk menjaga Amira yang sedang hamil? Sedangkan pembantu di rumahnya saja hanya sampai selepas maghrib di rumah, tidak mau menginap, dengan alasan rumahnya dekat, mau mencari pembantu yang bisa full di rumah, tapi belum ada yang cocok, mungkin nanti setelah Amira melahirkan, ia akan fokus untuk menyeleksi pembantu yang cocok untuk bekerja di rumahnya.
“Aku memang harus cari pembantu yang bisa full tinggal di rumah, kalau begini aku semakin tidak bebas, ada Regi terus pastinya kalau Mas Romi sedang keluar kota? Baru sehari gak ada bibi, Regi sudah begitu sibuk di rumah, aku mau nyapu, aku mau beres-beres saja gak boleh, dia semua yang mengerjakan. Ya sudah, ini kesempatan aku untuk ke toko sendiri, sambil cari info ke teman-teman, kali saja ada orang yang mau kerja untuk jadi ART, karena aku benar-benar membutuhkannya, dan aku sudah diskusikan tadi dengan Mas Romi,” ucap Amira dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments