Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik

Amira sampai menjelang maghrib baru pulang dari rumah. Regi dari tadi khawatir karena Amira dihubungi tidak menjawabnya. Sama sekali Amira tidak memedulikan panggilan dari Regi. Karena Romi saja tidak seover protektif itu, sedangkan Regi, selalu mengirim pesan, tanya sedang di mana dan pulang jam berapa? Kalau Romi hanya mengabarinya dua jam sekali, dan membiarkan Amira nyaman bersama dengan teman-temannya. Itu kenapa Amira silent ponselnya, tidak ia getar juga. Mode diam, lalu ia masukkan ke dalam tas, supaya tidak terganggu dengan Regi.

“Mbak, kenapa gak balas chatku sama gak angkat telefonku sih? Aku kan khawatir?” tanya Regi.

“Aku gak apa-apa, Re? Lagi asik ngobrol tadi, sampai Mas Romi telefon saja tidak keangkat, tapi dia pasti tahu kalau aku sudah ngumpul ya lupa waktu,” jawab Amira santai.

“Tapi gak gitu dong, Mbak? Mbak kan sedang hamil?” ujar Regi.

“Iya sedang hamil, tapi kan mbak sama teman-teman, ngumpul jadinya di rumah Alya. Jadi ya enak ngobrol-ngobrol di dalam sampai lupa waktu,” jawab Amira.

Tak lama kemudian, Romi menelefon dirinnya. Amira mengangkatnya dan ia sengaja melaoudspeaker telefonnya.

“Sudah sampai?” tanya Romi santai.

“Sudah, Sayang. Ini baru saja sampai, tadi diantar Citra,” jawab Amira.

“Ya sudah sana mandi, terus istirtahat. Kamu sudah makan?”

“Tadi makan dulu sebelum pulang, pembantunya Alya masak lagi kok buat kita-kita, ini juga aku bawakan juga sih buat Regi, biar gak usah beli,” jawab Amira.

“Oh ya sudah itu kasih ke Regi, dari tadi telefon mas, bilang kamu belum pulang-pulang, aku jawab memang kamu biasa gitu kalau main,” jelas Romi.

“Tuh dengar, Re! Mas Romi saja biasa saja aku main mau jam berapa pun, asal jelas mainnya di mana, dan dengan siapa saja! Lagian Mas Romi tahu teman-temanku semuanya kok Re?” ujar Amira. “Ini buat makan malam kamu, Re. Tadi dikasih sama Alya, di kasih dua porsi itu, aku bilang ada kamu di rumah, biar gak usah beli makanan di luar,” ucap Amira. “Ya sudah Re, aku ke kamar dulu.”

Regi hanya diam saja, memang tadi dia merasa terlalu khawatir sekali dengan Amira, ternyata malam kakaknya cuek dengan Amira, padahal Amira istirinya, tapi cuek sekali dengan Amira. Asal sudah tahu Amira di mana, Romi tidak khawatir. Dia percaya dengan istrinya, karena memang hanya itu-itu saja sih teman-teman Amira. Romi juga tahu semua siapa saja teman istrinya, jadi dia tidak khawatir dengan Amira, dan selalu percaya dengan Amira.

^^^

Keesokan harinya, Amira yang baru saja bangun tidur, dan keluar dari kamarnya, lalu ke dapur, Amira disuguhkan pemandangan Regi yang baru saja selesai memasak untuk sarapan pagi.

“Kamu masak, Re? Memang bibi gak datang?” tanya Amira.

“Bibi datang, tapi pamit saja, katanya mau antar anaknya periksa, Mbak. Jadi mungkin hari ini sama besok bibi izin,” jawab Regi.

“Oh begitu?”

“Iya begitu tadi pamitnya, kalau mbak kurang percaya, ya sudah mbak telefon saja bibi?” ujar Regi.

“Iya nanti mbak telefon bibi,” jawabnya. “Kamu masak apa, Re?” tanya Amira, karena mengendus aroma masakan Regi yang menggugah selera.

“Nasi goreng, sama telur dadar, ayo makan, Mbak? Ini sudah matang lho,” ujar Regi.

“Oke, nanti aku makan, aku cuci muka dulu.” Amira balik ke kamarnya, dia merapikan rambutnya dulu, lalu mencuci wajahnya. Ia sudah tidak sabar sekali dengan masakan Regi, yang harumnya begitu menggugah selera makannya.

Amira ingat dengan ponselnya yang belum ia aktifkan. Ia mengaktifkan ponselnya, dan teranyata pembantunya sudah lebih dulu memberi kabar padanya kalau hari ini tidak masuk kerja, sampai besok. Tapi, setelah ia scroll pesan ke bawah lagi, pembantunya mungkin sampai seminggu tidak berangkat, karena anaknya harus di opname di rumah sakit.

“Jadi sampai Mas Romi pulang bibi gak berangkat? Paling tidak Mas Romi pulng kan empat hari lagi?” batin Amira.

Amira keluar dan langsung menuju ke meja makan. Regi sudah menyiapkan sarapan di meja makan, juga dia sudah membuatkan susu hamil untuk Amira.

“Makan dulu, Mbak,” ucap Regi.

“Ini enak sekali sepertinya, Re?” ucap Amira.

Setelah selesai sarapan, Amira harus segera ke toko bunga. Ia tidak mau merepotkan Regi untuk mengantarnya, jadi ia sudah memesan taksi untuk ke toko bunganya.

“Mbak Mira mau ke mana?” tanya Regi.

“Mau ke toko, kalau kamu mau ke kantor, kunci di taruh di bawah pot bunga ya, Re? Mbak berangkat sekarang, soalnya itu sudah ditunggu taksi,” ucap Amira.

“Taksi? Mbak pesan taksi? Kenapa gak bilang aku? Kan aku bisa antar?” tanya Regi.

“Sudah tidak apa-apa. Lagian kamu dari habis sarapan kamu itu sibuk. Padahal Mbak kan bilang, gak usah disapu lantainya, gak usah di cuci piring dan gelas kotornya, biar besok saja mbak suruh orang yang bisa gantiin bibi untuk seminggu,” ujar Amira.

“Lagian gak betah mbak lihat gelas dan piring kotor, jadi ya aku bersihkan, Mbak,” ucap Regi. “Jadi ini mbak sendiri ke toko bunga?” tanya Regi.

“Iya, kamu kan sedang sibuk? Kalau kamu mau ke kantor, kunci taruh di bawah pot saja, ya?” ujar Amira.

“Oke. Mbak hati-hati, ya?”

Amira sebetulnya menghindari Regi. Ia tidak mau bergantung pada Regi terus menerus selama suaminnya tidak di rumah. Ia harus gerak cepat supaya Regi tidak mengantarnya ke toko bunga, dan saat melihat Regi sedang sibuk tadi, Amira langsung mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi ke toko bunga miliknya.

Ucapan sahabat-sahabatnya tentang ipar kemarin, membuat Amira semakin ketakutan sendiri. Dia takut Regi semakin nekat mendekati dirinya, apalagi ada anak Regi di dalam perutnya. Ia takut Regi malah berbuat melebihi batas. Perhatian Regi saja lebih besar daripada Romi, dia tidak mau kalau terus-terusan diperlakukan Regi seperti itu, nanti malah menjadi kebiaasn dan nyaman diperhatikan Regi.

“Aku harus bisa menhindari Regi sekarang, aku tidak ingin aku ini semakin bergantung pada Regi, apalagi aku ini sering ditinggal Mas Romi. Lagian Mas Romi pakai ada acara nyuruh Regi di rumah selama dia pergi?” batin Amira.

Romi meminta Regi karena mau siapa lagi yang harus ia mintai bantuannya untuk menjaga Amira yang sedang hamil? Sedangkan pembantu di rumahnya saja hanya sampai selepas maghrib di rumah, tidak mau menginap, dengan alasan rumahnya dekat, mau mencari pembantu yang bisa full di rumah, tapi belum ada yang cocok, mungkin nanti setelah Amira melahirkan, ia akan fokus untuk menyeleksi pembantu yang cocok untuk bekerja di rumahnya.

“Aku memang harus cari pembantu yang bisa full tinggal di rumah, kalau begini aku semakin tidak bebas, ada Regi terus pastinya kalau Mas Romi sedang keluar kota? Baru sehari gak ada bibi, Regi sudah begitu sibuk di rumah, aku mau nyapu, aku mau beres-beres saja gak boleh, dia semua yang mengerjakan. Ya sudah, ini kesempatan aku untuk ke toko sendiri, sambil cari info ke teman-teman, kali saja ada orang yang mau kerja untuk jadi ART, karena aku benar-benar membutuhkannya, dan aku sudah diskusikan tadi dengan Mas Romi,” ucap Amira dalam hati.

Episodes
1 Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2 Chapter 2 - Dua Garis Merah
3 Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4 Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5 Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6 Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7 Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8 Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9 Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10 Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11 Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12 Curiga Romi Selingkuh
13 Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14 Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15 Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16 Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17 Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18 Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19 Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20 Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21 Chapter 21 - Meragukan
22 Chapter 22 - Mencari Bukti
23 Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24 Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25 Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26 Chapter 26 - Calon Istri Baru
27 Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chater 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Chapter 1 - Kesalahan Satu Malam
2
Chapter 2 - Dua Garis Merah
3
Chapter 3 - Kabar Bahagia Untuk Romi
4
Chapter 4 - Kelihatan Buncit
5
Chapter 5 - Jangan Terbawa Suasana
6
Chapter 6 - Perhatian Kecil Regi
7
Chapter 7 - Semakin Bergantung Pada Regi
8
Chapter 8 - Perasaan Aneh Romi
9
Chapter 9 - Tidak Ingin Jauh Dari Regi
10
Chapter 10 - Berusaha Menghindar
11
Chapter 11 - Keluar Kota Lagi
12
Curiga Romi Selingkuh
13
Chapter 13 - Regi Yang Terlalu Panik
14
Chapter 14 - Rencana Tujuh Bulanan
15
Chapter 15 - Regi Yang Cemburu
16
Chapter 16 - Kekahawatiran Regi
17
Chapter 17 - Mempersiapkan Kamar Bayi
18
Chapter 18 - Seperti Tidak Menghormati Amira
19
Chapter 19 - Cemburu Dengan Regi
20
Chapter 20 - Berapa Usia Kandungan Amira Sebenarnya?
21
Chapter 21 - Meragukan
22
Chapter 22 - Mencari Bukti
23
Chapter 23 - Terungkap Semuanya
24
Chapter 24 - Ingin Sendiri Dulu
25
Chapter 25 - Sulit Untuk Memaafkan
26
Chapter 26 - Calon Istri Baru
27
Chapter 27 - Sangat Membenci Mereka
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chater 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!