Romi semakin perhatian dengan Amira. Dia semakin over protektif pada istrinya. Dia tidak boleh istrinya kerja terlalu lelah, ke toko bunga pun sebetulnya Romi tidak memperbolehkan. Tapi tetap saja Amira ke toko bunganya, karena dia jenuh di rumah, tidak ada siapa-siapa hanya ada ART yang sekarang sudah menggantikan tugasnya. Amira tidak diperbolehkan lagi mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, dan pekerjaan rumah lainnya oleh Romi. Semua diserahkan pada Asisten Rumah Tangga yang Romi suruh untuk mengurus pekerjaan rumah.
“Mas ... aku kan gak apa-apa, aku sehat, janinku sehat juga kata dokter. Jadi gak apa-apa kalau aku ke toko bunga, Mas?” rayu Amira yang dari tadi suaminya tidak memperbolehkan dirinya untuk ke tokonya.
“Tapi nanti kamu kecapekan, Sayang?”
“Capek kerjanya apa sih? Paling nata bunga, sortir bunga yang sudah layu, buat pesanan buket. Ya memang ada karyawan, tapi aku kan jenuh di rumah? Kamu kerja, Risa sama Rida sudah pada pulang ikut suaminya lagi? Regi kerja, ada bibi saja? Aku gak boleh pegang ini itu, pegang pisau mau kupas buah saja gak dibolehin bibi?” ucapnya dengan manja dan terus merayu suaminya.
“Iya sudah kamu boleh ke toko bunga, tapi jangan sampai sore, siang waktu makan siang harus sudah di rumah.” Romi memperbolehkan istrinya bekerja, meski sebetulnya dia tidak ingin istrinya kerja lagi.
“Lagian aku kan gak ngidam yang mual-mual, muntah. Ya paling pusing saja, itu pun kadang-kadang. Perut mual kalau bau yang menyengat saja, kayak kemarin parfum mas gak enak sekali,” ucap Amira.
“Ya sudah nanti ganti parfum mas,” ucap Romi. “Ganti seperti punya Regi deh, kan kemarin kamu gak mual waktu aku pakai parfumnya Regi?” ujar Romi.
“Nah benar tuh, enak baunya, Mas,” ucap Amira.
“Iya nanti mas beli deh,” ucap Romi.
Regi melihat dari kejauhan, Romi begitu perhatian dengan Amira. Sekarang tambah over protektif sekali dengan Amira. Ada sedikit perasaan sakit di hati Regi melihat Romi begitu perhatian padanya.
“Harusnya aku yang perhatian dengan dia, karena benihku yang tertanam di rahim Mbak Mira, tapi siapa aku? Aku ini hanya orang lain bagi Mbak Mira, aku hanya menanam benih di rahimnya saja, itu pun tidak sengaja dan bukan kemauanku,” batin Regi.
Regi menetralkan perasaannya lagi. Dia tidak boleh cemburu bahkan marah saat melihat Amira dimanja oleh suaminya, dan Amira juga begitu manja dengan suaminya. Apalagi sekarang Amira semakin menjauhi Regi. Tidak begitu dekat seperti dulu lagi. Kalau bertatap muka dengan Regi, Amira langsung membuang mukanya. Karena melihat Regi sama saja mengingat malam itu. Ia semakin sakit jika mengingat itu lagi.
Romi melihat Regi yang baru keluar dari kamarnya, dia memanggil Regi untuk sarapan bersama.
“Kamu masih pakai kaos, apa tidak bekerja, Re?” tanya Romi.
“Aku berangkat siangan, Mas. Mungkin habis makan siang, jadi ya santai,” jawab Regi.
“Kebetulan, titip Mbak Mira. Mau gak antar Mbak Mira ke toko bunga, sekalian saja kamu di sana, kalau gak ada kerjaan. Aku gak mau dia kelelahan, nanti jam sebelas ajak dia pulang, biar gak lama di sana,” ucap Romi.
“Astaga mas ... kamu ini? Aku gak masalah, Mas? Gak usah Re, mbak bisa sendiri, iya aku gak akan sampai jam dua belas pulangnya!” ucap Amira agak kesal dengan suaminya.
“Mbak, jangan begitu, Mas Romi wajar dong jadi over potektif gini? Tujuh tahun Mas Romi menantikan buah hati, Mbak? Jelas Mas Romi gak mau mbak kenapa-napa, gak mau mbak kecapekan?” tutur Regi.
“Iya, tapi jangan lebay gini, Re? Aku jenuh di rumah, Cuma main hape, nonton tv, duduk, makan, rebahan? Ih ... jenuh sekali!” ucap Amira kesal.
“Ya sudah nanti aku antar mbak, aku nurut deh sama mas, aku tungguin mbak di toko bunga, lagian aku kerja kan sekarang banyak di lapangannya? Paling bikin laporan saja, udah habis itu ke lapangan lagi?” ujar Regi.
“Kalian sama saja ih!” tukas Amira kesal.
“Sudah jangan protes, nanti titip belikan susu hamil untuk Amira juga ya, Re? Sudah habis, dna itu yang terakhir, yang sedang Mira minum, soalnya nanti mas mau meeting sore, pulang agak malam, takutnya mas lupa. Kan dekat tuh toko bunga sama IndoApril? Ajak deh Amira ke sana, biar dia milih mau beli apalagi? Asal jangan lepaskan dia untuk pergi sendiri?”
“Iya nanti Regi antar, Mas. Tenang saja, aku akan pantau istri tercintamu terus deh hari ini, mumpung aku sedang santai kerjanya sekarang,” ucap Regi mengiyakan perintah kakaknya.
“Huh ... makin gak bebas aku! Re kalau sama kamu, ke mall saja sekalian, masa ke IndoApril saja? Sekalian shoping mumpung ada yang antar?” pinta Amira.
“Nanti kau kecapean, Sayang? Boleh ke mall, pakai kursi roda, ya? Biar kamu gak capek. Mau kamu antar Mbak Mira, Re?” ucap Romi. “Mas kan beli tuh kursi roda buat Amira kalau mau shoping, biar gak lelah jalan,” imbuhnya.
“Oke, tidak masalah kalau istri mas mau,” jawab Regi.
Ini adalah kesempatan bagi Regi untuk membelikan apa yang Amira mau. Karena saat ini yang Amira mau adalah karena si jabang bayi juga yang ada di perutnya. Tidak biasanya kan Amira pengin benget matcha, padalah Amira paling gak suka macha dalam bentuk minuman atau makanan. Kemarin Romi sampai tertegun mendengar Amira meminta makan bolu yang rasa matcha dan minuman matcha.
“Bagaimana, Sayang? Kamu mau sama Regi? Ditemani Regi shoping? Dari kemarin kan mas gak sempat-sempat untuk antar kamu shoping? Katanya mau beli baju hamil dan beli baju atau kamu mau nyalon? Perawatan?” ucap Romi.
“Aku hanya ingin ke toko bunga. Merangkai bunga-bunga, bikin buket, melihat bunga yang masih segar dan harum. Gak mau shoping atau perawatan. Gak dulu kalau itu, Mas,” ucap Amira.
“Ya sudah, antar ke toko bunga saja, Re, sama mas minta tolong belikan susu hamil untuk Amira. Ya sama cemilan apa, kamu kalau mau beli apa sekalian, deh,” ucap Romi.
“Nanti minta rokok saja, Mas,” jawab Regi.
“Tapi jangan merokok di dekat istriku, ya? Jauh-jauh kalau mau merokok,” tutur Romi.
“Iya, aku tahu itu. Tenang saja. Aku ngerokok juga kalau pas kerja di lapangan mas. Masa di sini ngerokok, kasihan Mbak Mira sama bayinya,” jawab Regi.
Amira sebetulnya tidak mau dekat-dekat dengan Regi. Dia masih selalu ingat kejadian malam itu dengan adik iparnya jika dekat dengan adik iparnya. Tapi, mau bagaimana lagi, suaminya malah menitipkan dirinya pada Regi untuk mengantarkan dirinya ke toko bunganya.
“Tenang, Mira ... tenang. Jangan buat suamimu curiga kalau kamu terlalu mendiami Regi. Ini memang anak Regi, tapi suamimu Romi, Mira! Jangan terbawa suasana jika dengan Regi!” batin Amira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Selvianah Bilqis
kasian y si romi🤔
merasa tertipu,padahal mang iya. sebuah kesalahan hanya 1 mlm jri bumerang nntinya😌😌
2023-05-22
0