Amira terus merayu suaminya supaya bisa mempercepat kepulanagannya dari Surabaya. Amira tidak ingin terlalu lama menunggu suaminya pulang, karena kalau kelamaan sampai menunggu tiga bulan, kandungan Amira terus bertambah usianya. Usia kandungan Amira sudah memasuki minggu ke empat. Tidak mungkin dia menunggu bulan depan, yang ada kandungan Amira semakin bertambah usianya.
“Mbak sudah membujuk Mas Romi pulang?” tanya Regi.
“Sudah, katanya akan diusahakan, Re,” jawab Amira.
“Mbak kalau lagi begituan hati-hati ya? Nanti kalau kandungan mbak kenapa-napa, Mas Romi kan jadi curiga, mbak hamil sama siapa?” tutur Regi.
“Itu bisa mbak atur, Re. Mbak hanya takut saja, sepertinya mbak merasa perut mbak udah gede. Nanti kalau Mas Romi pulang, perut mbak sudah kelihatan gimana, Re? Ini baru empat minggu perut mbak sudah kelihatan sedikit buncit, keras juga, gimana nanti bulan depan? Bulan depan berarti tujuh atau delapan minggu usia kandungan mbak?” keluh Amira.
“Mbak tenang, jangan gugup. Anggap saja tidak ada apa-apa. Kalau aku tega, aku akan akui semua perbuatanku, Mbak. Tapi kalau aku begitu bagaimana nasib rumah tangga Mas Romi dan mbak?”
“Sembarangan kamu! Jangan bilang apa-apa sama Mas Romi!”
“Makanya mbak tenang, jangan gugup, jangan buat Mas Romi curiga,” tutur Regi.
“Iya aku akan coba sebisa mungkin,” jawabnya.
Amira masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di tepi ranjang meratapi apa yang terjadi pada didinya. Air matanya lolos dari sudut matanya. Bayangan malam itu bersama Regi lagi-lagi muncul diingatannya. Amira semakin terisak, ia menjerit, meraung, mengeluarkan semua beban dalam pikirannya.
Regi mendengar kakak iparnya menjerit dan menangis, dia bergegas masuk ke kamar Amira. Regi melihat Amira sedang terusngkur di lantai dengan manangis, meraung-raung sambil memukuli perutnya. “Mbak, jangan gini. Aku mohon, Mbak ....” Regi memeluk tubuh Amira yang sedang kacau. Ia menghentikan tangan Amira yang sedang memukuli perutnya.
“Aku ingin gugurkan bayi ini, Re! Izinkan aku gugurkan anak ini!” erang Amira.
“Mbak, tenang, tenang ya mbak? Sudah tenang dulu, kita bicara baik-baik ya? SSsttt ... tenang, Mbak. Aku mohon jangan gini.” Regi terus menenangkan Amira, ia memeluknya, memberikan rasa nyaman Amira, supaya tenang.
“Regi ... aku mohon, izinkan aku gugurkan anak ini. Antar aku ke mana pun, yang bisa menggugurkan kandungan,” pinta Amira dengan sesegukkan.
“Iya ... iya ... nanti aku cari di mana tempatnya. Mbak tenangkan dulu emosi mbak, ya?” ucap Regi dengan lembut.
“Aku takut Mas Romi tahu, dia pasti akan murka pada kita, Re,” ucap Amira.
“Iya, makanya mbak sebisa mungkin terlihat biasa saja. Mbak pasti bisa, kalau mbak mau gugurin kandungan mbak, apa mbak tega? Bukannya mbak sangat mengharapkan anak?”
“Ya, sangat, Regi, tapi dari suamiku, bukan kamu!” cetusnya dengan mentap Regi tajam. “Antarkan aku ke mana pun, tempat untuk menggugurkan kandungan, Re! Sekarang!”
Regi tidak bisa berkata apa-apa lagi, Amira memaksa dirinya untuk mengantar ke tempat untuk menggugurkan kandungan. Ia turuti apa yang Amira mau, biar saja, toh dengan begini juga dia tidak akan menanggung beban. Tapi, tetap saja Regi tidak mau calon anaknya yang kata doker kandungan keadaannya sehat di rahim Amira harus digugurkan.
Regi sudah berada di tempat dukun beranak yang membuka praktik aborsi secara tertutup. Amira masih di dalam mobil, dia belum mau turun. Regi pun masih mendampinginya di dalam mobil. Regi tahu kakak iparnya itu sebetulnya tidak tega menggugurkan janin yang ada di rahimnya.
“Bagaimana? Ayo turun!” ajak Regi dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
“Sebentar, Re, lihat perempuan itu.” Amira menunjukkan perempuan yang baru saja keluar dari dalam rumah dukun beranak yang praktik aborsi tersebut. “Ih dia pingsan, Re! Darah ....” Tubuh Amira bergetar melihat perempuan itu pingsan dan dari kakinya mengalir banyak darah segar. “Pulang, Re! Gak aku gak mau!”
Regi tersenyum lega, akhirnya dengan melihat kejadian tadi, Amira mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungannya.
Amira mengusap perutnya dengan lembut. Hatinya tergugah, ia menyesal saat akan mengaborsi janin yang tidak bersalah di dalam rahimnya.
“Kamu tidak salah apa-apa, Nak. Ibu yang salah. Maafkan ibu, yang sempat berpikir akan melenyapkanmu. Apa pun yang terjadi nanti, temani ibu, Nak. Ibu akan jaga dan rawat kamu, meskipun ibu harus bohong pada suami ibu. Ibu minta kerjasama yang baik ya, Nak? Ibu ingin kamu tumbuh sehat,” ucap Amira dalam hati.
Amira pulang. Ia lebih tenang dan ia berusaha menerima keadaan. Tinggal ia susun rencana supaya suaminya tidak curiga dengan kehamilanya.
Amira mendapat kabar, dua minggu lagi suaminya akan pulang. Amira sedikit lega, karena tidak menunggu sampai akhir bulan.
“Kamu ini jadwal datang bulan kan, Mir?” tanya Romi.
“I—iya, minggu-minggu ini memang jadwalku haid. Kenapa mas?”
“Ya, berarti pas aku pulang, tepat saat masa suburmu. Kamu di situ tetap minum suplemen promilnya, kan?”
“Iya, aku masih meminumnya?”
“Ya sudah, mas nanti pulang kurang lebih dua minggu lagi. Mas akan ngebut kerjanya, karena mas sudah kangen berat sama kamu.”
“Jangan terlalu berat, susah bawanya, Mas!”
“Nanti mas minta bantuan Dilan, dia kan yang kuat menampung Rindu yang berat?”
“Ih mas bisa saja ... buruan kerjanya, aku kangen banget, Mas,” ucapnya manja.
Mendengar istrinya yang sudah merindukannya. Romi langsung semangat ngebut menyelesaikan pekerjaannya.
^^^
Romi pulang ke rumah, setelah kurang lebih tiga bulan di Surabaya. Ia disambut hangat oleh istrinya. Ia peluk dan cimu istrinya berkali-kali karena saking rindunya.
“Di mana Regi?” tanya Romi.
“Belum pulang, kayaknya dia pulang malam. Kalau kemalaman dia pulang ke rumahnya, katanya sih sudah hampir selesia renovasi rumahnya,” jawab Amira.
“Ya sudah, mumpung Regi gak di rumah. Aku sudah kangen kamu, Sayang.” Romi langsung membopong tubuh Amira, membawanya masuk ke dalam kamarnya. Dan langsung meleburkan rindunya yang sudah lama tidak tersalurkan.
“Kamu sudah selesai haid, kan?” bisik Romi, lalu menciumi tengkut Amira dengan penuh gairah.
“Sudah, lima hari yang lalu,” jawab Amira dengan suara parau, karena menahan sentuhan Romi yang semakin panas.
“Ayo sayang ... ini masa suburmu. Aku ingin sekali kita menimang anak. Kamu siap, Sayang?” ucap Romi.
“Hmmm ... lakukanlah, aku sudah merindukan hal seperti ini, Sayang,” jawab Amira.
Romi melakukannya dengan begitu lembut dan penuh gairah. Ia hati-hati sekali saat melakukan penetrasi, karena ia ingin sekali istrinya hamil. Romi melakukannya dengan begitu hati-hati dan penuh gairah.
“I love you,” bisik Romi setelah melakukan ritualnya di sore hari.
“I love you more ....” Bisik Amira, lalu menciumi leher Romi.
“Jangan gini, aku nanti mau lagi. Kita lanjut nanti malam. Biar benihku di dalam rahimmu bersatu dulu, jangan banyak bergerak,” tutur Romi.
“Hmmm ... baiklah.”
Beruntung Romi melakukannya sangat lembut, jadi tidak membuat perut Amira kram. Amira mengusap perutnya. Ia takut janinnya akan bermasalah setelah bercinta dengan Romi.
“Baik-baik ya, Nak? Ibu mohon kamu yang kuat di rahim ibu,” ucap Amira dalam hati.
^^^
Romi sudah satu bulan di rumah. Seperti biasa, dia yang paling perhatian soal jadwal menstruasi istrinya. Apalagi setelah menjalani program hamil, Romi sangat proteks pada Amira. Dia yang hafal jadwal menstruasi istrinya.
“Kamu belum haid, Sayang?” tanya Romi dengan memeluk istrinya.
“Belum,” jawabnya dengan tersenyum.
“Kok senyum?” tanya Romi penasaran.
“Pegang perutku, Mas.” Amira membawa tangan Romi mengusap perutnya.
“Apa ada kabar baik dari dalam perutmu, Sayang?” tanya Romi dengan wajah berbinar.
“Ehm ... menurut, Mas?” Amira membalikkan badannya, lalu menatap wajah suaminya dengan wajah penuh bahagia.
“Apa kau hamil? Apa ada berita baik malam ini, Sayang?” tanya Romi, lalu mencium kilas bibir Amira.
“Ini, lihat.” Amira memberikan amplop cokelat yang bertuliskan nama klinik bersalin.
Dengan tergesa Romi membukannya. Ia membaca hasil lab pemeriksaan kandungan Amira. Raut kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Ia menatap kembali istrinya. “Ka—kamu hamil, Sayang?” tanya Romi dengan wajah berbinar.
“Ya ... aku hamil, tadi pagi, selepas kamu berangkat ke kantor aku periksa, karena aku merasa ada yang gak beres dengan tubuhku, dan ternyata aku malah disuruh ke dokter kandungan, dan itu hasilnya,” jelas Amira.
“Ya Tuhan ... terima kasih sudah mengabulkan doaku. Aku akan menjadi ayah, makasih, Sayang ....” Romi memeluk Amira dan menciumi wajah Amira. Lalu, ia berjongkok di depan perut Amira. “Sehat-sehat di perut bunda ya, Nak?” ucapnya lalu mencium perut Amir.
Sebelum memberitahukan kehamilannya pada Romi, Amira dan Regi memainta bantun temannya yang bekerja di rumah sakit, untuk mengubah data-data hasil pemeriksaan Amira. Beruntung ada ibu hamil yang usianya baru empat minggu, jadi petugas dengan cepat mengganti data Amira dengan data pasien yang hamil dengan usia janin empat minggu. Padahal usia janin Amira sudah sepuluh minggu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Queen
lanjut
2023-04-30
0