Dua minggu menjalani hidup pisah rumah, jujur Alana kesepian, malas sekali pulang ke kediaman Jansen. Di kantor utama, Alana bekerja dengan Alvaro. James tidak mengizinkan istri mudanya untuk menangani segala permasalahan di luar. Alana harus dalam jangkauan James.
Sedangkan Lewis Jansen, khusus ditugaskan menyapu bersih, menyelesaikan segala projects di kantor cabang. Seluruh kendala di lapangan pun dilimpahkan kepadanya.
Lewis dan Alana rajin bertukar kabar, menghilangkan penat mengobrol bersama melalui aplikasi chat.
“Hari ini Tante kamu cari masalah lagi. Dia mengincar anggaran tahun depan, divisi keuangan melaporkan ada permintaan khusus dari Direktur Operasional.” Isi pesan teks Alana sambil tiduran di kamarnya.
Ting
Hatinya senang bukan main, sangat cepat mendapat balasan dari Lewis.
“Tolong awasi kegiatan nenek sihir itu. Kamu lagi apa? Belum tidur kah? Seandainya kamu di sini kita bisa liburan bareng.”
Alana tersenyum, hatinya hangat, pipi tersipu malu. Dalam satu hari, waktu yang paling menyenangkan adalah malam, di mana berbagi cerita dengan putra sambungnya.
“Kamu tenang aja. Aku pasti melindungi JSN. Tingkah Tante Debby semakin keterlaluan, dia sering menuduh macam-macam, apalagi penggemar berat kamu selalu bikin aku risih.” Alana mengetik huruf per huruf.
Hari semakin berganti, dua minggu berubah menjadi satu bulan, bahkan tiga bulan. Rindu yang menggebu tidak lagi dapat tertahan.
Tanpa sepengetahuan orang lain, Lewis sering bertemu dengan Alana. Posisinya di negara tetangga tak membuatnya kehilangan akal. Setiap satu minggu sekali pasti Lewis sempatkan pulang, dan dia kembali lagi ke Singapore tepat hari senin dengan penerbangan pertama.
James pun tidak menaruh curiga terhadap istrinya. Karena memang Alana akan sangat sibuk akhir pekan mengerjakan segala pengembangan produk di temani asisten pribadi.
Padahal Alana dan Lewis terlibat kencan, mengunjungi taman bermain, banyak pekerjaan yang Alana diskusikan bersama Lewis.
Hari ini saja keduanya selesai mengunjungi taman rekreasi.
“Kamu panas ya?” Lewis melepas topi dan memasangnya di kepala Alana.
“Eh … i-iya, makasih. Lewis? Kamu mau kemana pulang dari sini?” Alana gugup, setiap kali di dekat Lewis pasti jantungnya berdebar kuat.
“Hotel … mana mungkin langsung ke Singapore, aku capek Alana. Istirahat satu atau dua hari di Bandung.” Lewis membelai rambut coklat tua Alana, kalau saja tidak terhalang status dia sudah memeluk Alana, mencium harumnya surai panjang itu.
“Lew, apa kamu engga khawatir sama Daddy? Beliau merindukan sosok putranya.” Ucap Alana sangat berhati-hati, bahaya jika menyinggung Lewis. Emosinya mudah tersulut dan melampiaskan kepada hal negatif.
“Kita pulang sekarang. Aku antar kamu. Minggu depan aku sibuk. Tunggu sebentar di sini!” Lewis tersinggung, disaat momen bahagia, ibu sambungnya ini masih sempat mengingat James.
Memarkirkan mobilnya, berjalan ke kamar hotel mengambil koper milik Alana. “Istri yang baik.” Geram Lewis dalam hati.
Betapa bodohnya Lewis menyimpan perasaan berlebih, kenyataannya dua sejoli itu tidak akan bisa bersama sampai kapanpun. “Alana kenapa kamu harus jadi istri James? Argh sial.” Menendang meja dan kursi di kamar.
Alana membeku di ambang pintu. Mendengar semuanya, dia hanya menutup mulut dengan kedua tangan. Terkejut, tidak kuasa menghindar dari hubungan menyesatkan, meskipun dirinya telah berdua tapi rasa cinta terhadap anak sambungnya hadir begitu saja.
“Alana? Sejak kapan kamu …” Lewis membeku di tempat.
“Aku mendengarnya. Maaf aku harus menerima lamaran Tuan James. Kamu benar, aku menikah karena uang. Aku benar-benar bingung, Ayah sakit, dua adikku memerlukan biaya besar. Mencari pekerjaan di sini dengan gaji besar, susah sekalipun aku lulus S2.” Dada Alana sesak, menyampaikan semuanya, membuka luka lama.
“Tuan James berjanji memberi dana asalkan aku menjadi istrinya, membantu menjaga JSN dari Tante Debby.” Imbuh Alana, menundukkan kepala.
“Kenapa bukan kamu Lewis? Kenapa harus Tuan James?” Alana bertanya dalam hati, menangisi kejamnya takdir.
Tidak tinggal diam, Lewis Jansen mendekat merangkum pipi merah dan basah akibat air mata.
"Maaf, aku datang terlambat. Alana … aku tidak suka kamu dekat dengan Daddy. Kamu terlalu baik Alana, pria tua itu tidak layak menikahi mu.” Ucap Lewis, hatinya hancur berkeping-keping. Untuk kesekian kali terluka karena James Jansen.
“Aku mencintaimu Alana, sangat. Sayangnya kamu istri Daddy, perlahan tapi pasti perasaan ini tak akan pernah mendapat akhir bahagia. Seandainya aku pulang lebih dulu, pasti kisah cinta kita tidak akan serumit ini Alana.” Pergolakan batin terjadi begitu kuat.
Rasa cinta yang menggelora disertai isak tangis Alana, membuat Lewis hilang kendali. Dia mencium bibir merah delima Alana, menikmati manisnya dengan gerakan lembut. “Aku ingin memiliki mu Alana.” Bisik Lewis melepas pagutannya.
Pasangan hubungan tanpa status ini terlarut dalam gelora cinta yang mendalam, hingga Lewis dan Alana hampir melakukan hal yang tidak seharusnya. Bagian tubuh atas disertai otot dada dan perut terekspos.
Sama halnya dengan Alana, dress-nya kusut, tersingkap. Paha mulusnya pun dalam kuasa Lewis. Dua kancing di bagian d@d4 terlepas.
Napas keduanya terengah-engah, berlomba menghirup oksigen yang tersedia.
Kini tubuh Alana berada di bawah kuasa Lewis yang tak henti memujanya. “Jadilah milikku Alana.” Lirihnya dan disetujui oleh Alana.
Pertukaran saliva kembali terjadi, tapi tidak berlangsung lama karena mendadak kepala Lewis dipenuhi sosok James.
“Argh … Alana maaf aku tidak bisa menguasai diri. Maaf.” Tukas Lewis merapikan penampilannya. “Aku bukan perusak rumah tangga orang, jangan lakukan ini lagi.” Otak dan isi hatinya tidak sinkron.
“Alana? Apa kau tidak penasaran siapa dalang di balik tiga pria yang melecehkanmu? Sampai sekarang tidak berhasil ditemukan. Orang itu adalah aku. Aku sangat membencimu, bahkan bersumpah ingin menghancurkan hidupmu Alana.” Tegas Lewis membuka satu rahasia besarnya. Sengaja dia lakukan, agar Alana menjauh dan membencinya.
“Tanda merah di kulit mu itu bukan perbuatan mereka, tapi aku. Bahkan, aku yang membantumu mengunakan pakaian. Aku memang b@j1n-94-n, memanfaatkan keadaan. Perasaan yang ada untukmu hanya kebencian tidak lebih dari itu.” Kejamnya Lewis kepada Alana.
Dia harus mengalah, merelakan wanitanya bersama James Jansen dan hidup sebagai anak sambung.
Sedangkan Alana terpukul, tidak menyangka pria yang dicintainya begitu tega melakukan perbuatan keji. Tidak kah Lewis bisa menilai bahwa ia berbeda dari wanita lainnya?
Tubuh Alana luruh ke atas lantai, air matanya semakin membanjiri wajah cantiknya.
Sedangkan Lewis segera pergi tanpa menunggu tanggapan dari ibu tirinya. Berat kaki melangkah keluar kamar, apalagi mengakhiri hubungan ini, tapi semua harus terjadi cepat atau lambat.
Semua demi kebaikan Alana, Lewis pun tidak akan sanggup bila berdekatan dengan Alana, hatinya sakit karena bayang James selalu mengganggu.
“Selamat tinggal Alana, aku harap kau benar-benar bisa menjaga tua bangka itu di akhir usianya. Terima kasih.” Lirih Lewis dalam hati.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments