BUGH
BUGH
BUGH
Lewis Jansen kesal dan marah atas kekalahannya menyingkirkan Alana. Pria ini memukuli dinding hingga beton berlapis cat itu retak rambut.
Hosh … hosh … hosh
“Alana kau. Iblis wanita macam apa kau, hah? Menolak uang yang ku tawarkan demi meraup semua harta pria tua bangka? Aku bersumpah Alana, apapun ku lakukan.” Bola mata biru elok nan indah itu kini terlihat menyeramkan. Hanya ada sorot memburu, mencekik dan melumpuhkan targetnya.
Dipenuhi rasa kecewa yang menumpuk menjadi sakit hati begitu dalam terhadap James, membuat putranya ini gelap mata.
Menghancurkan rumah tangga Ayahnya sendiri. Bagi Lewis Jansen, Alana sama seperti para penggoda di luar sana, penggoda yang telah membunuh ibunya, dan Lewis membenci siapapun wanita yang dekat dengan Ayahnya.
“Ku pastikan kau akan ditendang jauh dari sini Alana. Aku Lewis Jansen, darah pria itu mengalir di tubuhku, kami sama-sama br3n9s3k. Aku bukan anak kecil lagi yang menerima semua keputusan James, sekarang waktunya kau melawan, Lewis.” Monolog Lewis, menatap foto mendiang Ibunya yang tersenyum cantik, tapi sayang harus menderita di usia muda.
Lewis menulis sebuah cek dengan nominal satu milyar. Dia menghubungi anak buahnya, lebih tepat temannya yang bersedia mencari orang untuk menghancurkan Alana.
**
Pagi ini Lewis sengaja mencari tahu jadwal ibu tirinya, senyum kemenangan tercetak jelas di wajah. Rupanya tidak perlu menunggu waktu lama. Temannya memang bisa diandalkan, Alana memiliki janji temu secara mendadak bersama tiga pria sekaligus di restoran hotel.
“Kenapa mendadak sekali Varo? Apa sangat penting sampai menggeser jadwalku yang lain?” Alana membolak-balik proposal bisnis baru yang sudah masuk tetapi masih sangat kurang menarik.
“Iya Bos, mereka membuat janji bertemu kemarin dan pagi ini, jadi saya pikir kenapa tidak ditemui saja dulu.” Alasan Alvaro, menilik dari latar belakang, memang JSN beberapa kali memiliki agenda kerja sama dan cukup memuaskan. Tapi kali ini feeling Alana sebagai wanita menolak keras.
“Umm … ya sudah, tapi waktu ku hanya satu jam untuk mereka. Setelah itu atur jadwal ulang dengan para pengembang lain.” Tutur Alana, menghela napas, beginilah rutinitasnya yang dinilai banyak orang hanya menikmati uang suami. Nyatanya pergi pagi pulang malam.
“Kau ikut denganku kan?” tanya Alana sekadar memastikan bahwa dirinya tidak sendiri menghadapi ketiga pria yang terkenal sebagai casanova itu.
“Maaf Al, Tuan James memintaku untuk memeriksa pabrik di Tangerang, jadi untuk hari ini pergi sendiri.” Alvaro menebar senyum, merasa bersalah tidak bisa bersama sahabatnya.
Tapi asisten pribadi ini yakin, Alana bisa menyelesaikan pertemuan sangat baik, Alana cerdas dan tanggap dalam mengambil keputusan.
“Ok”
**
Di sinilah Alana duduk bersama tiga orang pria tampan. CEO dari tiga perusahaan besar, memiliki konsep dan ide bisnis, namun mereka kekurangan dana. Mengajukan permohonan investasi pada JSN.
Asal tahu saja, ketiga lelaki itu memiliki ketertarikan pada Presiden Direktur JSN. Namun satu diantaranya memendam sakit hati, dia menyukai Alana tapi sayang ditolak mentah-mentah dan kalah bersaing dari seorang duda tua pesakitan bernama James Jansen.
Mereka bernama Kendrick, Farrel, dan Sakti. Kagum akan kecantikan Alana, setelah menjadi Nyonya Jansen semakin berkilau dan memancar aura luar biasa. Padahal Alana tidak merubah penampilan, memang dasar tiga lelaki itu saja yang haus akan belaian.
Ehem
“Bisa kita mulai?” Alana memecah keheningan sekaligus fokus para buaya di depannya.
Seorang pelayan pun mengantar minuman ke meja, tiga kopi hitam dan satu matcha latte, minuman kesukaan Alana. Sengaja di pesan khusus oleh Sakti, pria yang memuja Alana begitu dalam.
“Kenapa tidak diminum Bu Alana?” tanya Farrel, tidak mungkin kan rencana mereka harus gagal karena mangsanya enggan meneguk minuman.
“Tidak perlu khawatir, kami tidak berbuat macam-macam, ini tempat umum, restoran sangat ramai. Lagipula minuman baru diantar setelah anda duduk bersama kami.” Tutur Sakti, menyakinkan Alana.
Sebisa mungkin ketiganya harus berhasil menjalankan misi dari seseorang yang siap membayar mahal.
Seandainya saja ada Alvaro pasti Alana yang baru dua bulan memimpin perusahaan tidak kehabisan ide. Akhirnya demi menghormati para rekan bisnis, dia meneguk matcha latte, hanya satu kali, itupun susah payah menelannya.
Beberapa menit berlalu, Alana mulai kehilangan fokus, pandangannya memburam, terserang rasa kantuk, dan hampir terjatuh dari kursi. Tepat di menit ke lima belas, wanita cantik ini jatuh ke pelukan Sakti.
“Yes, akhirnya. Kau menjadi milikku Alana.” Pekiknya dengan suara tertahan.
Kendrick, Farrel dan Sakti sebisa mungkin membawa Alana tanpa mencurigakan. Mereka memesan satu kamar di hotel ini, semua demi melancarkan aksi tercela.
Melihat Sakti yang seolah ingin menguasai tubuh Alana sendiri, Farrel menegurnya. Rasanya tidak adil, ketiganya terlibat adu mulut, menginginkan menjamah kemolekan Alana pertama kali, lalu mengirim bukti pada James.
Bahkan Kendrick yang terlanjur terbakar gairah sebab melihat paha mulus Alana, memukul dua rekannya tanpa ampun. Namun diakhir perdebatan, diputuskan bahwa Sakti lah yang lebih dulu menikmati sajian luar biasa di atas ranjang.
“Dan kau milikku Alana, tidak peduli bekas pria tua.” Seringai Sakti membelai pipi Alana.
Namun tidak mudah, Alana masih setengah sadar, dia merintih merasakan desakan sesuatu dari dalam tubuh.
Menendang wajah Sakti, kemudian melepas heels, dengan tubuh sempoyongan Alana menyerang ketiganya sampai pelipis mereka berdarah.
“Kalian tak akan ku maafkan.” Geram Alana, napasnya tidak teratur begitu mendamba akan sesuatu.
“Hei, kau sama layaknya j****** di jalanan, jangan berlagak paling suci Alana.” Hardik Sakti berusaha menepis tangan Alana, menjatuhkan heels tajam ke atas karpet.
“Kurang ajar kalian.” Sentak Alana berjalan menuju meja lain, memecahkan gelas, menjadikan benda itu senjata untuk bertahan.
“Tenang lah manis, kalau kau menurut pasti semua akan selesai dengan cepat, tapi tidak janji.” Kendrick membasahi bibir dengan air liur, menatap lapar ke Alana.
“Jangan mendekat aku tidak segan membunuh kalian bertiga, aku tidak peduli.” Teriak Alana sudah begitu terpojok dan kalah.
“Tidak akan Nyonya Jansen, sampai besok pagi kau milik kami.” Balas Farrel, mendekati wanita cantik yang sebentar lagi menjadi miliknya. “Menyerah lah.” Lanjutnya, memukul pipi mulus Alana.
“Kau?” tatapan tajam Alana, berusaha bangkit sembari memegang kuat pecahan gelas, tapi sekali lagi, gagal.
Tubuhnya terlanjur dikuasai obat, pecahan gelas dalam genggaman terlepas begitu saja, beralih memegang kepala, secara tidak sadar membuka blazer-nya.
“Ah giliran ku sayang, terima kasih Alana cantik.” Sakti melepas kemeja dan celana, menerjang wanita pujaannya, terjatuh tepat ke atas kasur empuk. Tangan nakalnya sibuk membuka helai demi helai pakaian Alana.
Alana Pattinson pasrah di bawah kungkungan Sakti, tubuhnya tidak lagi berdaya dan memiliki tenaga untuk melawan atau berteriak. Alana berharap keajaiban datang padanya.
TBC
***
jahat banget gak sih Lewis? 😭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments