yaSelama perjalanan pulang Alana menegang, ini kali kelima teleponnya berdering. Pemutusan kerja sama secara sepihak oleh klien penting JSN Group, satu pun tidak ada yang memberi keterangan valid. Katanya, mereka kecewa atas kinerja Alana, dinilai buruk dan tidak kompeten.
Padahal selama ini selalu mengikuti instruksi dari suaminya, tidak pernah melakukan satu kesalahan pun.
Alana kebingungan, titik butanya di bagian mana? Bertanya kepada Alvaro percuma, asisten pribadi itu tidak memberitahu apapun, dia hanya bilang Alana dan Lewis ditunggu di rumah oleh Tuan James.
“Alana, kamu kenapa? Wajahmu pucat. Sebaiknya kita ke rumah sakit, biarkan saja pria tua itu menunggu.” Kesal Lewis kepada Ayahnya yang tidak tahu aturan. Jelas sekali jadwal kembali ke tanah air masih lama, tapi James memerintahkan dua orang kepercayaannya untuk pulang.
“Jangan Lew. Aku sehat. Kasihan Daddy kamu kalau harus menunggu lebih lama.
Tiba di rumah, jajaran pelayan menyambut keduanya. Susah payah James menutup akses berita agar Alana tetap diakui serta dihormati sebagai pimpinan JSN.
‘Tuan menunggu di kamar’
‘Tuan Muda Lewis juga ditunggu di kamar’
Dua sejoli itu mengetuk pintu, Alana ketakutan. Aura kediaman Jansen berubah menegangkan, lebih mirip latar horor.
“Masuk dan duduk. Jangan berjauhan, kalian duduk tepat di depanku.” Titah James sudah menahan kesal sejak beberapa jam yang lalu.
Pria sepuh ini tak tanggung-tanggung, menyediakan proyektor di kamarnya. Mulai menekan keyboard pada MacBook, seketika terlihat foto Lewis yang merangkul Alana, mencium Alana, masuk ke kamar ibu sambungnya.
“Apa maksud kalian melakukan ini? Tidak berpikir akibatnya sangat fatal hah?” James yang biasanya terlihat sabar, kini sangat murka, melupakan tekanan darah tinggi.
Susah payah mencari Alana sebagai istri dan sekarang balasan yang diterima sangat mengecewakan.
“Kalian memiliki hubungan istimewa di belakangku, benar kan? Di mana otak kalian? Sia-sia kuliah di luar negeri. Alana kau itu istriku, dan Lewis adalah putraku, anak kandungku. Bisa-bisanya selingkuh.” Hardik James, sekarang dunia tahu bahwa Alana dan Lewis sepasang kekasih.
“Alana, jauhi Lewis! Aku tidak ingin bersaing bersama putraku sendiri, mulai detik ini kalian tidak akan terlibat projects bersama.” Meradang rasanya, tiba-tiba kepala James pusing, dia tidak memikirkan resiko dibelakang. Menikahi perempuan muda, pada akhirnya membuat anaknya jatuh cinta kepada ibu sambungnya sendiri.
“Alana tidak salah Dad. Salahnya di mana menjaga istrimu? Apa aku harus acuh ketika dia mengalami kesulitan? Atau lebih baik ku wujudkan dugaanmu itu, bila perlu meniduri istrimu. Puas?” sengit Lewis, tidak merasa takut sama sekali.
Sontak Alana melotot mendengar ucapan putra sambungnya, dia juga tidak akan mungkin melakukan itu semua. Bukan seorang murahan yang menjual diri kepada pria lain, demi kebebasan.
“Kau sakit Lewis. Sama seperti Ibumu. Mulai hari ini, jangan tinggal di rumahku!” bentak James, mengusir buah hati yang baru saja kembali usai sepuluh tahun hidup mengembara di negeri orang.
“Jangan bawa-bawa Mommy, dia sakit karena mencintai pria salah. Kau tidak layak menikahinya dan aku menyesal sudah lahir ke dunia, menjadi bagian dari keluarga Jansen adalah musibah.” Lewis keluar kamar, membanting pintu.
Tentu saja James tidak setuju putranya memiliki hubungan dengan Alana, sebab tugas Alana belum selesai, karena Debby tidak bisa dihancurkan dengan mudah.
“Kau, sama sekali tidak bisa menjaga diri Alana. Seharusnya menolak apapun yang diinginkan Lewis. Sadar akan posisi kalian. Kalau kau tetap menjalin hubungan dengannya, jangan salahkan aku jika Patt Group hancur lebur.”
Mendengar ancaman dari mulut suaminya, Alana bersimpuh di kedua kaki James. Mengiba dengan sangat, jujur ia tidak mau kehilangan sumber dananya. “Aku minta maaf Tuan, semua ini salahku.”
“Iya kalian memang bersalah, ini terakhir kali aku dengar kau bertemu dengannya.” James meraih kedua tangan Alana, menepuk bahu istri mudanya.
Tepat di depan Alana, sengaja menghubungi seseorang. James memisahkan keduanya, menghindari sorotan publik yang begitu tajam. Alana tetap di kantor pusat sementara Lewis harus menangani permasalahan di cabang utama JSN.
**
Satu hari setelah beredarnya berita memalukan. Sebelum kehilangan investor dan klien, James segera mengklarifikasi hubungan antara ibu dan anak sambung itu. Kekuasaannya masih diakui oleh dunia meskioun sudah pension dari perusahaan.
Banyak pertanyaan diajukan oleh wartawan termasuk keberadaan Lewis saat ini. Seolah menghilang, tidak ada satu orang pun yang mengetahui di mana Lewis, mobil sport yang biasa hilir mudik kini tidak tampak.
“Terima kasih atas perhatian rekan-rekan semua. Sebenarnya gosip yang beredar tidak benar. Itu hanya bualan. Putraku dan ibu sambungnya memang dekat, mereka saling menyayangi. Kalian pasti tahu sakitnya kehilangan Ibu? Dan Lewis mendapat figur seorang Ibu dari istriku ini.”
“Satu lagi, kami pun sedang program anak, mohon doanya agar dalam beberapa bulan bisa memberi kabar baik.”
James mengakhiri pertemuannya dengan pers. Sudah cukup tampil depan umum, pamer keharmonisan keluarga dan gosip akan dengan sendirinya mudah dilupakan. Tugas James membuat berita lain untuk menghapus ingatan semua orang atas skandal Alana dan Lewis.
Jujur Alana menegang, bergeming. Memiliki anak dari suaminya sama sekali tak pernah terlintas. Tidak, bukan ini tujuannya menikah dengan James.
Bagi pria tua ini tidak ingin rencananya gagal untuk mendepak Debby dan Patricia. Skandal Lewis dan Alana hanya menjadi penghalang dan krisis kepercayaan investor serta klien, untuk sepenuhnya di kuasai oleh Alana.
“Umm. Tuan. Aku pamit berangkat ke kantor. Jaga kesehatan Anda.” Alana mencium punggung tangan suaminya. Masuk ke dalam mobil lain.
Berharap semua di kantor baik-baik saja, tidak ada yang terbawa suasana buruk dari kabar tidak menyenangkan.
Meskipun berita telah ditarik dari media, tetapi gosip intern tidak bisa dimusnahkan, para karyawan tidak lagi sungkan pada Alana.
‘Oh jadi benar ya hidup itu jangan munafik’
‘Rakus banget jadi perempuan, bapaknya dilayani dan sekarang anaknya juga. Menyesal aku dulu menghormatinya. Jijik.’
‘Sebentar lagi juga ditendang keluar, jadi gembel lagi mengemis sama om-om kaya. Benar kan Bu Alana?’
Caci maki, hinaan akan selalu Alana dapatkan, bukan kah resiko ini sudah dipersiapkan sangat matang? Menikahi pria tua, pasti dianggap sebagai pengeruk harta. Alana hanya diam, berjalan anggun melewati belasan pegawai yang bergunjing.
‘Jual diri saja bangga.’
“Permisi. Aku membayar kalian untuk kerja bukan bergosip, apalagi Bos sendiri. Tidak tahu etika.” Serang Alana tidak mau kalah. Dia ini punya kedudukan kuat kenapa harus takut pada cemoohan orang.
“Alana. Sekarang kau perlu ku dorong sedikit, agar tulang mu remuk dan patah. Malang sekali nasibmu Nyonya Muda. Enak daja mau merebut Lewis dari Patricia.” Debby semakin di atas angin, rencananya berjalan mudah, menyingkirkan dua orang sekaligus.
TBC
***
tante Debby jgagbgg
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments