Kediaman Keluarga Jansen
Seorang wanita berusia 50 tahun berdiri di balkon kamar lantai dua. Menghirup udara segar, dan merayakan kemenangan yang kini ada di depan mata. “Kena kalian. Kasihan sekali.” Ucapnya sangat jelas menghina.
Diam-diam Debby memerintahkan orang untuk menguntit Alana dan Lewis. “Kasihan kakak tiriku, bagaimana perasaanya kalau mengetahui istri mudanya selingkuh dengan putranya sendiri? Aku tidak banyak permintaan, James meninggal dunia sudah cukup.” Imbuh Debby Jansen begitu bahagia dan ingin menggelar pesta mewah.
Dia tersenyum penuh kemenangan melihat bukti kedekatan keponakan dan ibu sambungnya. Dalam foto dan video dinilai bahwa Alana lebih dulu menarik simpatik seorang Lewis Jansen.
BRAK
Pintu terbuka, Patricia berlari masuk, terisak menangis sembari menunjukan betapa romantisnya Lewis Jansen bersama Alana Pattinson, ibu tirinya.
“Mommy. Mom, ini apa-apaan? Kenapa ada foto ini? Ini pasti rekayasa, benar kan Mom?” tanya Patricia masih tidak percaya, kakak sepupu, pria yang dicintainya menjalin hubungan terlarang bersama Ibu tiri.
“Pakai mata kamu, ini rekayasa, lagipula apapun yang terjadi kamu harus tetap menjadi istri Lewis Jansen. Paham ya Patricia? Dengan menikahi Lewis, maka seluruh asetnya bisa kita kuasai, sayang.” Debby Menghasut putrinya yang masih kuliah, dia tidak ingin bekerja sendirian untuk berfoya-foya.
“Iya mom iya tapi Lewis sangat dingin, menatap mukaku saja malas. Huh” Keluh Patricia memberengut, bertahun-tahun mengejar kakak sepupunya tapi sama sekali tidak pernah mendapat sedikitpun perhatian.
Dia juga ingin tahu rencana selanjutnya, bertanya kepada Maya, “Lalu, setelah ini apa yang Mom lakukan? Jangan sampai membuat Lewis-ku terluka.”
Debby hanya diam dan tertawa puas, berhasil mendapatkan senjata sekaligus amunisi. Kehidupan Alana diujung tanduk, setelah bercerai dari James, dipastikan nasib Patt Group yang baru bernapas akan kembali hancur tak tertolong.
Wanita itu menghubungi seseorang yang akan membantunya melakukan tugas terakhir hari ini.
“Kau, serahkan semua video dan foto kepada kakakku, Tuan James Jansen pemilik JSN Group.” Debby mengirimkan bukti kepada James, berharap kakak tirinya itu menceraikan Alana dan mengusirnya.
“Sekarang giliran kita sayang, kamu harus membantu Mom. Paham? Ini hanya awal membuat Lewis terluka tapi kalau dia cerdas pasti tidak terbuai pada itik buruk rupa itu, Lewis akan meninggalkan Alana.” Debby sangat membenci Alana, dia pun berencana menyingkirkan keponakannya.
Lebih baik Lewis Jansen hidup mengasingkan diri daripada menjadi batu sandungan. Padahal perusahaan pribadi yang didirikannya juga tak kalah menghasilkan pundi-pundi rupiah.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Patricia, dia menginginkan Lewis menjadi miliknya. Demi cinta buta kepada kakak sepupu, apapun Patricia lakoni.
Debby mendekati putri tunggalnya, duduk di sisi Patricia, membisikkan sesuatu.
Ya Debby dan Patricia bersama-sama menyebarkan isu mengenai Alana yang menggoda sang pewaris JSN Group. Berita memalukan itu menjadi santapan publik, seantero negeri kini mengetahui kabar menjijikan keduanya.
Semua memberi tuduhan bahwa Alana haus akan belaian, sebab James tidak bisa memberikan haknya, karena sudah tua serta sakit-sakitan.
Kekuatan ibu jari warga internet sangat menguntungkan Debby. Bahkan dalam kurun waktu satu jam, beberapa media informasi menunggu di area lobi kantor. Mereka menunggu Alana; Presiden Direktur JSN Group, angkat bicara dan konfirmasi mengenai kebenaran.
“Bagus, semua berjalan sangat cepat. Melebihi dugaan. Tidak apa lah, semakin cepat juga baik. Bila perlu James terkena serangan jantung.” Imbuh Debby bangga akan kerja kerasnya selama ini. Tidak sia-sia membayar mahal jasa mata-mata.
Hahaha
Suara tawa Direktur Operasional menggema di dalam ruangan. Membuat bulu kuduk merinding, isi kepala Debby penuh rencana jahatnya terhadap Alana.
Berita menyebar dengan cepat tanpa sepengetahuan dua sejoli yang kini di mabuk cinta.
“Nikmati lah waktu kalian berdua, karena sebentar lagi pasti berpisah. Kasihan sekali keponakanku itu.” Sindir Debby, meluruskan kaki pada sofa, menikmati dunia dalam genggaman.
**
Singapore
Lewis dan Alana yang tengah berjalan-jalan di negeri tetangga masih santai. “Lewis ini bagus kan? Kamu juga harus pakai satu. Aku yang traktir.” Ujar Alana menunjukkan jam tangan couple di depannya.
Seolah bumi dan segala sesuatu di galaxy ini milik berdua, pasangan tanpa status itu sangat bahagia menikmati waktu senggang.
Lewis melangkah mantap, mendekati Alana. Mengulurkan tangan kirinya untuk di pasang jam tangan. “Selera Nyonya sangat bagus. Tapi di mana kita menggunakan ini Alana?” tanya Lewis dalam hati. Tidak bisa kah menunjukkan pada dunia kalau Alana miliknya? TIDAK.
“Kita ke mana lagi? Berapa dollar yang kamu habiskan? Rupanya Uang Bu Presdir sangat banyak.” Kelakar Lewis, tersenyum. Lekukan di sudut bibirnya mengembang. Sungguh Alana sangat menyukai situasi ini, melihat kebahagiaan di wajah tampan putra sambungnya.
“Aku lapar. Boleh kita makan dulu kan? Kamu sering ke sini? Tempat makan apa yang enak?” Alana memukul pelan bahu kekar Lewis, pertanyaan seberapa dollar yang dihabiskan terdengar menggelikan.
Pria itu lebih banyak mengeluarkan uangnya hari ini. Sepatu kets yang digunakan keduanya pun merupakan edisi terbatas salah satu brand ternama, dikhususkan untuk pasangan.
Lewis mencoba merangkul, tubuh Alana benar-benar berpadu pas dengannya. Kejadian malam itu kembali berputar.
“Argh, Alana kau memang membuatku gila.” Batin Lewis menjerit, kalau saja wanita disisinya ini bukan ibu tirinya, sudah pasti detik ini juga Lewis mengurung Alana di hotel.
“Lewis, kenapa sedekat ini? Mendadak aku memiliki sakit jantung.” Alana kikuk, menempel erat tak berjarak satu senti pun dengan putra suaminya.
“Lewis lepas, tidak baik seperti ini.” Cicit Alana, menyingkirkan tangan kanan pria itu dari bahunya.
“Oh ok.” Tanggapan Lewis dingin. Dia tidak menyukai bentuk penolakan apapun. “Apa kamu teringat James? Pulang lah Alana! Kembali lah kepada James.” Marah Lewis dalam hati.
Keduanya menyambangi street food terkenal di Singapore, menjajal makanan satu per satu. Bibir Alana penuh makanan, tapi tak segan sedikitpun Lewis membersihkan noda saus yang menempel di bibir.
Semula perhatian Alana tercurah kepada Lewis, tapi dering ponsel di atas meja sangat merusak suasana. “Alvaro?” gumam Alana, seketika hatinya dilanda cemas.
“Halo Al ada masalah apa di kantor? Minggu depan aku pulang. Pekerjaan di sini lancar.” Tukas Alana mengakhiri sambungan telepon. Tapi Alvaro mengucapkan sesuatu.
“Baca lah pesanku dan hati-hati.”
Satu pesan masuk dari Alvaro mengabarkan jika salah satu klien penting JSN membatalkan kerjasama.
“Kenapa tiba-tiba? Padahal proyek hampir selesai.” Lirih Alana menatap sedih layar ponselnya.
Selain itu James memberi perintah kepada Alvaro, untuk mempersiapkan segala akomodasi kepulangan Tuan Muda Jansen dan Alana.
“Tuan James juga mengatur jadwal pulang lebih cepat. Sebenarnya ada apa ini? Begitu rancu.” Gumam Alana, rasanya melakukan tugas dengan benar tetapi klien membatalkan begitu saja.
“Ada apa Alana? Kau sakit?” Lewis takut terjadi sesuatu dengan ibu sambungnya.
TBC
***
jempolnya ku tunggu yaaaa
terima kasih 🙏🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments