Pagi ini James Jansen menunggu putra tunggalnya di ruang kerja pribadi, ada beberapa hal penting terkait perusahaan yang menjadi fokus utama James. Pria tua ini memperoleh laporan mengenai kinerja yang tidak efisien, sebab kurangnya pengawasan.
Selain Lewis, Alana pun turut diundang masuk ke ruang kerja, saat ini duduk tepat di sisi suaminya. Memijat pundak James yang pegal dan lelah.
“Apa masih sakit, Tuan? Sebaiknya aku temani Anda check up, kondisi kesehatan sangat penting.” Imbuh Alana, tak tega selalu melihat pria sepuh ini kesakitan dan menahannya sendirian.
“Di mana anak itu? Apa dia tidak mau menemui ayahnya? Dasar bocah tidak tahu terima kasih.” Hardik James, darah tingginya kumat ketika memikirkan tingkah laku putra yang satu-satunya itu.
Dia juga tidak habis pikir kenapa di usia hampir menginjak 30 tahun, tingkah lakunya masih sama, tidak berubah sedikitpun. Kekanakan, arogan dan berbuat semaunya.
“Sabar Tuan. Tadi pelayan bilang Lewis masih sarapan di kamarnya. Menurutku Anda terlalu keras mendidiknya. Kenapa?” Alana sangat penasaran apa yang membuat ayah dan anak berseteru tidak ada habisnya.
Tok … tok
“Dad, aku masuk, kau ada di dalam kan?” suara Lewis serak dan berat. Perlahan pintu mulai terbuka, menampakkan sosok tinggi, gagah, kepala yang diperban serta kaki terluka.
Kedua bola mata biru Lewis memutar, malas melihat Alana yang bersikap manja kepada James. Rasa panas menjalar keluar dari dalam dada, jengah, kesal, kecewa diaduk menjadi satu.
Ya Lewis tidak suka Alana dekat, tak berjarak dengan James, lihat saja dua insan itu saling bersentuhan. Demi Dewa, Lewis ingin melempar tumpukan buku dan meja ke arah keduanya.
“Kepala pelayan bilang, kau ingin bicara empat mata denganku. Itu artinya penting bukan? Kenapa ada wanita ini?” Kaki Lewis enggan melangkah masuk ke dalam, dia berdiri menyandar pada kusen.
Paru-parunya sesak, padahal sebelum membuka pintu baik-baik saja, tidak ada riwayat asma atau penyakit jantung. Tapi hati, dada Lewis bagai dihujam belati sekuat tenaga dan itu sangat sakit.
“Ok maaf sebaiknya kalian lanjutkan dan aku keluar.” Lewis memutar tubuh, tetap menghindar dari Alana adalah cara terbaik, entah sampai kapan dia harus bersikap seperti ini.
“Tunggu Lew, ada masalah dengan projects di lapangan. Aku membutuhkan mu menemani Alana. Ada kecurangan di sana, tiba-tiba supplier mengganti kualitas bahan baku. Aku yakin ulah seseorang, dia pikir kita tidak akan mengetahuinya. Kemari lah Lew, pelajari berkasnya.” James menyerahkan berkas ke tangan putranya dan mempersilakan Lewis duduk di depan mereka.
Dengan adanya perintah tak terbantahkan ini, Lewis Jansen tidak bisa pergi menghindari Alana. Semua karena proyek di pabrik mengalami kendala, dan tanggung jawab Lewis sebagai CMO menyelesaikan segala kesulitan.
Di depan James Jansen, Lewis dan Alana mencoba diskusi, bersikap sewajarnya. Debar jantung masing-masing berdentum kuat tidak terkendali, apalagi Alana mendadak gugup berdekatan dengan putra sambungnya.
“Ada apa ini? Aku dan Lewis bukan pertama kali bertemu.” Batin Alana bertanya-tanya tentang perasaan aneh yang mulai tumbuh.
Ehem
Lewis berdeham, menetralkan suasana hati. “Argh … kenapa harus ada masalah di pabrik? Kenapa bukan Alvaro atau wakil presdir yang diutus? James kau sengaja kan mendekatkan aku dengan istrimu?” Lewis merasa tidak wajar memiliki perasaan berlebihan.
Masih tetap meneguhkan hati bahwa dia sangat membenci Alana Pattinson.
BRAK
Lewis melempar berkas jatuh dari meja, dia kembali bersikap dingin enggan membantu kesulitan yang dihadapi Alana dalam memahami laporan.
“Lewis kamu mau kemana?” tanya Alana seraya berdiri lalu teriak. Tidak salah kan dekat dengan anak sambung karena menyangkut pekerjaan?
Hari ke hari pertemuan Alana dan Lewis tidak bisa dihindari, terlalu banyak magnet kuat yang menarik keduanya untuk bersama.
Bagi Alana tidak ada salahnya sering bertemu, lantaran membahas materi antar rekan kerja.
**
Lewis dan Alana pergi ke luar kota, tempat dengan pemandangan alam dan kuliner yang memanjakan bagi siapapun pelancongan. Satu minggu sudah keduanya mengerjakan tugas penting, demi laba besar JSN Group.
Selain menjadi rekan kerja, Lewis pun menjadi sopir dan pengawal pribadi ibu tirinya. Tugas sampingan tanpa upah yang diberikan oleh James.
Saat ini keduanya tengah meeting di salah satu restoran hotel. Ketika sedang membahas kerja sama, Lewis mendapati salah satu klien mereka memiliki niat buruk terhadap Alana. Melalui bahasa tubuh mencurigakan dan posisi duduk gelisah.
“Apa kalian sedang sakit? Sebaiknya pergi ke rumah sakit jiwa.” Sinis Lewis, punggungnya menyandar, satu kaki ditumpangkan di atas sisi kaki lain, santai menumpahkan minuman ibu sambungnya.
“Lewis, kau ini apa-apaan? Tidak sopan, mereka itu supplier kita.” Bisik Alana, hendak menginjak kaki kiri putranya tapi gagal, karena Lewis menarik kaki lebih cepat.
“Maksud Anda apa Tuan Muda Jansen? Kami sehat, terima kasih atas perhatiannya.” Ucap pria yang menatap lapar kepada Alana.
“Kau sakit? Apa salah memasukkan obat? Kurang ajar.” Tanpa banyak kata Lewis Jansen memukul pria hidung belang yang lancang kepada ibu tirinya.
Bugh … Bugh
Pria setengah baya itu terkapar tidak berdaya menerima pukulan bertubi-tubi. Darah muncrat dari bibir dan hidungnya, luka sobek pada bibir cukup parah.
“Siapa yang membayar kalian, hah? Kekacauan ini dilakukan oleh orang yang sama, kan? Katakan siapa?” tak mendapat jawaban apapun, membuat Lewis kehilangan akal sehat.
Dia tidak mengizinkan ada orang lain termasuk pria menyentuh ibu sambungnya.
“Lewis sudah, masalah ini biar Daddy-mu yang bantu.” Alana berusaha melerai tetapi ditepis oleh Lewis.
“Diam kau Alana, bisa-bisanya menyebut nama pria lain di depanku sekalipun dia adalah Daddy, aku bisa menyelesaikannya sendiri.” Tukas Lewis Jansen dalam hati, amarahnya semakin terbakar.
Kalap memukuli salah satu klien. “Siapa yang membayar kalian, hah? Lebih sayang uang daripada nyawa? Aku bisa melenyapkan kau dan keluargamu sekarang juga.” Sengit Lewis tidak tanggung-tanggung, menghubungi anak buahnya untuk menyeret anak dan istri pelaku.
“Ampun Tuan, jangan. Mohon ampuni kami. Semua ini atas perintah Nyonya Debby Jansen, beliau memberi uang satu milyar sebagai imbalannya.”
Bukan hal baru lagi dan memang tante tirinya gemar mencari masalah murahan. Lewis pun mengumpulkan bukti sebagai hadiah Debby suatu hari nanti.
.
.
Sejak hari itu Lewis tak pernah meninggalkan Alana sedetikpun bersama orang asing. Selama dua minggu selalu berada dekat dengan Alana.
Menjemput wanita cantik berkacamata ke depan pintu kamar dan mengantarnya pulang sampai ke dalam kamar, memastikan semua dalam keadaan aman, barulah Lewis tidur nyenyak.
Selain itu banyaknya kegiatan Alana di dukung oleh Lewis, baik formal atau non formal. Keduanya dinilai lebih cocok menjadi sepasang suami istri dibanding James, namun takdir tidak bisa berubah sebab Alana adalah ibu sambung Lewis Jansen.
Tanpa di sadari keduanya semakin dekat, hangat dan peduli satu sama lain. Seperti saat ini, Alana dan Lewis saling bertukar pesan singkat sebelum tidur.
“Kamu bilang mau tidur, kenapa begadang?”
Tanya Alana penasaran, mungkinkah putranya itu memiliki kekasih?
“Aku memikirkan sesuatu, tidurlah Alana. Jangan terlalu larut nanti kamu sakit.”
Pesan Lewis dibaca oleh Alana, menimbulkan perasaan berbunga-bunga.
TBC
***
mulai tumbuh bibit bibit asmara nih🤭
ditunggu dukungannya kakak
makasih lho
satu jempol, satu subscribe, gift dan vote sangat berarti sekali 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments