Tuk … Tuk
Pria bertubuh tinggi 185 cm tengah gelisah dalam mobil, siapa lagi kalau bukan Lewis Jansen. Entah kenapa dadanya sakit, sesak napas, kecewa, bercampur menjadi satu, mampu merenggut detak jantung dalam sekali hentak.
“Tolong tidak? Tolong tidak?”
“Argh… Alana kau? Kenapa Lewis, biarkan saja dia hancur memang ini rencananya kan? Tidak perlu peduli. Dia tidak lain seorang j*****.” Geram Lewis, tangannya begitu gatal, kuku yang melekat di jari jemari seolah menarik paksa dirinya keluar dari mobil.
BUGH
KRAK
Mobil keluaran Eropa yang terkenal akan ketangguhan rangkanya dan menjamin keselamatan pengguna. Kini penyok akibat tinju Lewis Jansen begitu kuat melampiaskan kegundahan hati berselimut amarah. Gundah akan nasib ibu tirinya, tidak tega. Marah karena menjadi sosok yang lemah.
Berjuta kali Lewis mengumpat dalam hati, mengukuhkan jiwa raga, berikut debu-debu kecil yang menempel di tubuhnya agar tidak mengasihani Alana. Untuk apa? Wanita murahan seperti itu tidak layak mendapat belas kasih siapapun.
“Oh God, kenapa aku harus memiliki ibu tiri dengan usia lebih muda? James kau sangat menyusahkan.” Gerutu Lewis. Mendadak pria tampan ini mendengar bisikan lembut tepat di telinga kanan.
“Lewis Jansen, kau itu pria, mengetahui seorang wanita dalam bahaya seharusnya menolong bukan diam saja, kau pengecut, hina dan tidak berbeda jauh dari ayahmu. Buktikan Lewis kau berbeda, ibumu pasti akan bangga.” Sisi malaikatnya memaksa Lewis untuk menolong Alana.
Demi apapun pria ini langsung turun, berlari menuju lobi hotel, mencari informasi dan meminta kunci cadangan pada petugas. Kenapa bisa? Karena hotel ini berada di bawah naungan JSN Group.
Malaikat baik hati sukses menggagalkan rencana busuk, dan Lewis melupakan semua tujuannya untuk menghancurkan Alana.
Lewis mengeluh gemas dan mengancam akan menyiksa lift yang merangkak naik sangat lamban.
“Ku ganti kau dengan yang baru, dasar lift tidak berguna.” Layaknya terkena gangguan jiwa, Lewis menunjuk-nunjuk dinding lift.
Dia tidak sadar harga dirinya sebagai pewaris JSN menurun, lantaran di belakang berdiri beberapa petugas keamanan.
Setibanya depan kamar, usai kunci berhasil terbuka. Lewis menendang pintu. Tanpa megambil napas lebih dulu, Lewis menarik bahu Kendrick secara kasar dan menghempasnya, lalu memukul Farrel dan menendang bokong Sakti.
Ketiga Casanova itu terkejut, kedatangan Tuan Muda Jansen. Mereka kompak melawan Lewis, tapi jangan salah, Lewis Jansen sang atlet tinju yang gagal ini lebih lihai melumpuhkan lawan.
Melancarkan Jab berulang kali, demi menuntaskan olahraga ringan, kaki kanannya menendang kuat pada Sakti lalu lutut kirinya menghujam kuat rahang Farrel, dan terakhir diiringi lompatan meruntuhkan Kendrick.
“KALIAN, IKAT MEREKA DAN SERAHKAN PADA PIHAK KEAMANAN.” Teriak Lewis pada petugas keamanan hotel.
‘Bak Tuan’
“Tua Muda Jansen maafkan kami”
“Kami diperintah seseorang”
Ketiganya mengiba, bersimpuh di kaki Lewis, tanpa mereka tahu sosok misterius yang menjamin pembayaran mahal itu adalah Lewis Jansen.
Farrel, Kendrick dan Sakti dibawa keluar kamar untuk ditindaklanjuti.
Lewis menutup rapat pintu, mendengus sebal karena mengasuh ibu tirinya yang menyebalkan, menyiksa pikirannya beberapa menit lalu.
Dia pun memutar tubuh, sial sekali nasibnya harus menerima pemandangan elok memanjakan mata.
Ya Lewis Jansen terpana akan kemolekan Alana. Untunglah para pria itu tidak membuka semua pakaian ibu tirinya, tersisa dua bagian penting yang masih tertutup sempurna.
“Menyusahkan.” Maki Lewis tak mengalihkan pandangan dari kemulusan di atas kasur yang telah berantakan.
Entahlah, semula begitu bernafsu ingin menyingkirkan Alana dengan cara apapun.
Tapi sekarang mendadak tidak tega, bahkan menit ini juga Lewis menepis segala bencinya, dia memunguti pakaian di atas lantai, membantu Alana menggunakan blouse.
Namun, Alana yang secara total tidak sadar, efek obat begitu kuat. Justru menggoda Lewis, melingkarkan kedua tangan di bahu putra sambungnya.
“Ok tenang Alana, aku akan membawamu pulang.” Lewis masih menganggap bahwa ibunya hanya mencari pegangan agar tidak jatuh. Tapi wanita itu malah mencium bagian rahang Lewis Jansen, dan memberi kecupan ringan pada leher.
“Kau? Alana, hentikan!” jujur saja, sekalipun dia iblis berwujud pria tampan yang menyukai aksi kejam. Lewis tetaplah pria normal. Mudah terpancing dan terbakar gairah, apalagi disajikan secara langsung seperti ini.
“Alana hentikan, atau –“ belum selesai Lewis mengucapkan kata-kata ancaman. Bibir Alana sudah menciumnya, begitu hangat dan lembut. Walaupun hanya menempel , Lewis membelalakkan kedua mata.
Mendorong ibu tirinya sampai terlentang di atas kasur. “Kau mau mati hah? Lancang sekali menyentuhku. Aku akan membawamu pada James.” Teriak Lewis, berusaha menenangkan diri.
Tak berhenti sampai di sini, Alana nekat membuka penyangga miliknya, melempar benda itu tepat ke depan wajah Lewis Jansen.
“Hei kau, pakai kembali. Murahan memang.” Bibir boleh menolak tapi tidak dengan tubuhnya, begitu mendamba sosok wanita cantik yang kini menyerahkan diri secara sukarela.
“Tolong mendekat, jangan jauh. Aku yakin ini mimpi. Kenapa harus kamu Lewis.” Alunan manja khas wanita terdengar indah di telinga.
Alana lepas kendali, menyambar Lewis. Mengecup bibirnya, bukan hanya menempel tapi resmi sudah pasangan tak seharusnya ini bertukar saliva. Ya Lewis membalas sentuhan Alana, bahkan mulai kehilangan kesadaran, terlalu larut dalam suasana.
Lebih gilanya lagi, Alana sangat agresif melepas kemeja hitam putra sambungnya, menciumi aroma maskulin yang semakin menguar menusuk hidung.
“Kamu wangi sekali” goda Alana, benar-benar melupakan statusnya sebagai istri sekaligus ibu.
“Jangan salahkan aku Alana, kau yang memulainya. Aku hanya mengikuti permainan mu ini.” Imbuh Lewis, mendekap erat, menikmati setiap jengkal sesuatu yang bukan miliknya. Dia juga tidak tahan untuk memberikan sebuah tanda di beberapa bagian.
“Kau serius ingin melakukannya?” tanya Lewis dengan suara serak. “Tidak menyesal kan? Ku harap kau menggunakan alat kontrasepsi . Aku tidak mau kau hamil, Alana.” Bisik Lewis, mencium dan menggigit daun telinga.
“Mana mungkin menyesal, ini hanya mimpi kan? Lakukan saja, cepat.” Suara nakal Alana Pattinson. Membuat kamar hotel ini terus mengalami peningkatan suhu.
“Kau begitu indah Alana, seandainya milikku, pasti ku serahkan semuanya hanya untukmu Alana.” Lewis memejamkan mata, jemari halus ibu tirinya sangat terampil memanjakan.
“Jadikan aku milikmu, Lewis.” Balas Alana seraya berbisik.
Dua insan yang saling mengagumi satu sama lain, bahkan menginginkan lebih. Alana yang terpengaruh obat benar-benar melakukan aksi luar biasa. Pertahan terakhirnya ia lepaskan, tak tahu malu lagi mendudukkan diri di pangkuan Lewis.
“Alana kau?” kedua mata Lewis melotot tak berkedip. Jantungnya semakin berdetak, apakah ia sanggup menjadi duri dalam rumah tangga Ayahnya?
Sebagai pria tidak memungkiri, dan tak menolak, bahkan ingin segera mereguk nirwana bersama. Namun ada sesuatu yang mengganjal dalam dada, mampu disingkirkan oleh keadaan. Sialnya Lewis terjebak di sini bersama Alana, hanya bisa menerima bisikan iblis tanpa menolaknya.
TBC
***
Wah wah Lewis sama Alana😲
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments