Alana sangat gesit melakukan pertolongan pertama, menekan bagian dada Patricia berulang kali, membuka bibir tebal wanita itu dengan kedua tangan.
Seketika Patricia membelalakkan mata, dia terkejut. Berharap Lewis yang memberikan bantuan bukan istri dari pamannya.
“Lepas! Apa yang kamu lakukan Alana? Tidak sopan. Pergilah!” Patricia mengibaskan tangan hingga mengenai wajah Alana.
Putri Debby Jansen sangat kesal, rencananya gagal, padahal dia sengaja menceburkan diri, demi meraih setitik simpati dari pria pujaan hatinya.
“Patricia jangan pergi, Alana tidak memiliki niat buruk. Atau kau pura-pura tenggelam, benar kan? Sudah ku duga, seharusnya ku biarkan saja sampai kau mengambang.” Sengit Lewis, tidak menyukai sikap arogan adik sepupunya.
Sontak Patricia berdiri, mendorong kuat Alana hingga terjatuh ke dalam kolam berenang.
BYUR
“Seharusnya kakak lebih peduli kepadaku, aku ini adikmu. Sedangkan dia? Wanita asing yang masuk ke keluarga Jansen, Paman James dibutakan oleh cinta. Aku kedinginan Kak, ayo masuk.” Patricia menarik lengan Lewis, keduanya berjalan beriringan.
Sejenak Lewis membenarkan apa yang disampaikan oleh adik sepupu, dia harus menjauh dari Alana. Rasa sayang yang tubuh bukanlah sebagai anak kepada Ibu.
Namun pria yang begitu menginginkan wanitanya, ya Lewis Jansen haus serta terbakar, seolah kehilangan kesadaran, sangat ingin merebut Alana dari tangan Ayahnya.
Dunia akan menentang perjuangannya yang sangat tidak bermoral, mana mungkin ada seorang anak tiri yang begitu mencintai ibu sambungnya, bahkan terkadang bertekad merusak rumah tangga orangtuanya sendiri.
“Kak? Ayo masuk, jangan diam di sini.” Patricia menyadarkan Lewis dari lamunan, pikiran jahatnya terlalu banyak memenuhi isi kepala.
Sebelum meninggalkan area taman, Lewis menoleh ke dalam kolam, dan Alana sangat membutuhkan dirinya. Kaki wanita itu terkilir, kepalanya membentur sudut dinding.
“Lepas!” seru Lewis, menghempas kasar tangan Patricia yang bertengger di lengannya.
"Masuk ke dalam, ganti pakaianmu!” mengusir Patricia secara kasar. Sigap berlari dan melompat ke dalam kolam berenang meraih tubuh Alana yang sudah lemas.
“Alana bangun! Aku perintahkan kau bangun! Jangan menyusahkan!” bentak Lewis sangat panik. Menepuk pipi Alana, jiwa malaikatnya mengatakan bahwa Lewis harus bersikap sewajarnya, tapi sisi iblisnya menghasut, bahwa ini kesempatan emas.
Menepis semua suara bising di kepala, Lewis segera mengeluarkan air yang tertelan. Untuk kesekian kalinya menyelamatkan Alana, seolah takdir mempermainkan perasaannya.
“Uhuuk … uhuuk.” Alana terbatuk, napasnya tersengal, tubuhnya pun lemas, dan rasa pusing merayap ke seluruh kepala.
Kedua sudut bibir Lewis tersenyum tipis, memandangi wajah polos Alana, darahnya berdesir, jantung semakin cepat memompa darah. Lewis yang tidak bisa lagi menahan diri, memberikan sentuhan memabukkan.
Dia memagut bibir menggoda Alana, menyangga bagian kepala dan tengkuk agar saling melekat erat satu sama lain. Melupakan keberadaannya saat ini di rumah, tidak peduli apa yang akan di katakan oleh semua orang termasuk James.
Alana sama sekali tidak menolak serangan putra sambungnya, dalam dada berdetak tak karuan.
“Tidak. Jangan mencintai pria ini, dia anak suamimu Alana, meskipun hubungan dengan Tuan James ...” kata hati Alana, menggantung kalimatnya, sebab Lewis semakin liar menciumnya.
Dua insan yang saling tidak paham akan perasaan masing-masing melepaskan tautannya. Alana kikuk, sedikit menunduk menghindari tatapan pria yang membuat konser di hati.
Sementara kedua mata Lewis setia memandangi semburat merah di pipi ibu sambungnya. Dia membelai pipi Alana, membantu berdiri, memapah ke dalam kamar.
**
Hubungan Lewis dan Alana sangat dekat, tak ada yang mencurigai keduanya termasuk James. Bahkan pria sepuh itu bangga putra tunggalnya bisa menerima Alana sebagai Ibu sambung. Menyerahkan projects besar ditangan Lewis dan Alana.
“Kau memang putraku, sangat mirip denganku.” Ucap James di sela kegiatan memeriksa pekerjaan Lewis. “Otakmu sangat cerdik Lew.” James tersenyum hangat.
Menurut Lewis, Ayahnya sangat menggelikan. Dia menolak dikatakan mirip James, kendati dari segi fisik benar adanya, hanya lebih sempurna sebab dagu lancip mendiang Nyonya Jansen diwariskan kepada putranya.
“Aku memang putramu tapi kita tidak mirip! Kau dan aku berbeda.” Tegas Lewis menantang, menatap tajam Ayahnya yang tidak menyukai sanggahan itu.
“Aku rasa cukup, bila ada hal penting kita diskusikan melalui telepon.” Lewis melenggang pergi, tidak betah berlama-lama di dalam kamar utama.
Sebelum keluar menyempatkan melirik Alana yang duduk menjaga jarak di belakang sana.
Rasa bencinya terhadap James memang berlebihan, tidak cukup dengan kata maaf. Terlalu banyak luka dan kenangan mengerikan yang ditorehkan pada masa lalu.
Lewis membakar sebatang rokok, kebiasaan buruknya selalu mencari pelarian pada benda bernikotin atau alkohol.
Asap tipis berterbangan di depannya, merindukan sosok wanita yang sangat dia cintai. “Mom, bisakah kamu menemaniku?” air matanya jatuh, lemah. Ya Lewis memang tidak berdaya ketika bersangkutan dengan mendiang Nyonya Jansen.
Alana mendekati Lewis, dia ingin dekat sebatas teman. Setidaknya putra sambungnya ini memiliki lawan bicara dalam segala bidang.
“Lewis, boleh aku ikut bergabung? Tidak keberatan kan?” tanya Alana meraih batang rokok dan memadamkannya.
“Stop Alana, sebaiknya temani Daddy! Dia jauh membutuhkanmu, kau istrinya kan? Pergilah! Aku tidak ingin diganggu.” Menyambar bungkus rokok di atas meja, tapi Alana jauh lebih gesit merebutnya.
Meskipun keduanya saling mencintai dalam hati tapi tak pernah satu patah kata keluar untuk menyatakan perasaan. Memendam bahkan mengubur perasaan yang seharusnya tidak akan pernah ada.
“Kenapa Alana bisa sama seperti Mom? Dia istri muda James, lihat kan pria tua itu melupakanmu, Mom.” Batin Lewis pura-pura mengamati bungkus rokok, padahal mencuri pandang ke wajah Alana.
“Kenapa aku selalu berdebar dekat dengan Lewis, tidak mungkin kan? Aku harus sadar diri, statusku dan James secara umum suami istri, jangan menjalin hubungan dengan putranya!” hati Alana perih mengingat dirinya sebagai istri James Jansen.
“Jangan Alana, James sudah bermurah hati mau membantu pengobatan Ayah dan biaya sekolah adik-adik. Tuan James juga berinvestasi besar, Patt Group sudah bangkit, aku tidak akan mengkhianati kebaikan hati Tuan.” Imbuh Alana dalam hatinya.
Sedangkan Lewis sendiri tidak ingin larut dalam suasana, berharap semakin bertambahnya hari bisa menghilangkan rasa tidak wajar ini.
“Hubungan kita semakin dekat, ya tidak lain rekan bisnis di kantor dan aku harap ke depannya bisa berjalan masing-masing.” Pergolakan batin terus melanda seorang Lewis Jansen. Bersaing dengan Ayah sendiri? Tidak akan pernah dia lakukan sekalipun membenci James.
Pikiran Alana terpaku pada kesepakatan menguntungkan, dia masih terikat kontrak dengan James, dan tugasnya belum selesai untuk menyingkirkan Debby.
Secercah harapan tetap ada tapi Alana tidak menampik jika suatu saat putra sambungnya ini lebih dulu menemukan tambatan hati. Maka selama sisa hidupnya akan mengabdi kepada keluarga, hidup di sisi James, mungkin saja menjadi istri sesungguhnya. Masa depan tidak ada yang tahu.
TBC
***
dukung Lewis dan Alana gak sih? kasihan ya mereka
jempolnya boleh ya kaka🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments