Hari-hari terus berlalu Alana dan Lewis bepergian berdua baik itu di dalam negeri atau luar negeri. Posisi Lewis sebagai Chief Marketing Officer mengharuskan untuk keliling, bekerja di lapangan berjam-jam atau menjaga hubungan dengan supplier bahan baku dan distributor.
Dirinya pun masuk nominasi calon pebisnis muda sukses, meskipun kekuasaan masih dipegang oleh Alana dan dikendalikan James.
Dunia tahu bahwa Lewis Jansen ada pemilik sekaligus pewaris JSN Group, jadi posisi Alana sebagai presiden direktur hanya sementara.
Hari ini pasangan ibu dan anak itu tengah berada di negeri tetangga, entah sudah berapa kali Lewis mengacak rambut Alana, membuat ibu tirinya kesal karena rambut kusut.
“Lewis hentikan, rambutku nanti rontok. Kalau botak gemana?” keluh Alana mengerucutkan bibirnya. Tidak bisa menghindari aksi jahil putra yang usianya jauh lebih tua.
Bagi Lewis Jansen kebersamaannya dengan Alana sangat menyenangkan, bila perlu dia akan menculik Alana dan membawanya ke sebuah pulau.
Biar saja Ayahnya kesulitan mencari istri muda. Yang penting sekarang, dunia hanya milik dua insan saling mencinta, meskipun kata-kata kramat itu sangat mahal nilainya.
Melalui tingkah laku, sudah dipastikan bahwa Lewis dan Alana lebih dari sekadar rekan kerja.
“Memangnya kenapa Alana? Uangmu banyak, bisa pilih salon mahal dengan perawatan rambut terbaik. Benar kan?” sungguh saat ini Lewis tergoda untuk merasakan manisnya bibir Alana, tapi dia menahan sekuat tenaga.
Berusaha mengalihkan topik pembicaraan menjadi lebih serius. “Alana, bagaimana kabar Tuan Pattinson? Ku dengar kondisinya semakin membaik.” Imbuh Lewis mengalihkan pandangan lurus ke depan, melihat jalanan.
“Ya kesehatan Ayah mulai stabil walaupun alat-alat penunjang di badannya belum bisa di lepas. Terima kasih Lewis atas perhatiannya.” Alana terpesona akan penampilan putra dari suaminya.
Pria di sisinya ini benar-benar berbeda, dari luar begitu arogan dan dingin, tapi setelah mengenal, jauh lebih hangat serta menyenangkan.
Pria berhidung bangir dengan manik biru ini mengulum bibir, dia tahu wanita di sampingnya tak berkedip.
“Lagipula, Tuan Pattinson calon mertua ku, sudah sewajarnya perhatian.” Tukas Lewis sengaja. Ingin mengetahui reaksi Alana.
“Hah? Apa?” Alana menganga tidak percaya kalimat yang sampai ke indra pendengarannya.
“Tuan Pattinson mertua Daddy dan itu artinya beliau kakekku, benar kan? Ah akhirnya kita sampai di hotel.” Lewis sengaja mengalihkan perhatian Alana.
Dia segera memarkirkan mobil dalam basemen. Setiap kali perjalanan bisnis bersama Alana, Lewis memilih menjadi sopir agar bisa berduaan dan privasinya tidak terganggu, termasuk memenjarakan Alvaro di perusahaan.
“Oh iya, akhirnya aku bisa sedikit istirahat sebelum nanti sore bertemu rekanan distributor.” Alana mengalihkan pandangannya ke halaman hotel.
Keduanya telah memesan kamar masing-masing melalui sekretaris kantor. Terpisah jarak, Alana di lantai 3 sedangkan Lewis di lantai 6. Mengecoh semua orang dan ini bukan pertama kalinya.
Lewis masuk ke kamarnya setelah mengantar Alana, memastikan wanita itu aman.
.
.
.
Malam hari usai pertemuan, Lewis tidak kembali ke kamar, melainkan nekat masuk dan tidur di kamar ibu sambungnya.
“Hey, kamu ...” kalimat Alana menggantung, sebab putra sambungnya telah lelap, dengkuran halus menghibur Alana. “Kau sama seperti Tuan James, gemar sekali bersuara kalau tidur. Aku harap hubungan kita tetap seperti ini, menjaga satu sama lain.” Alana mencium pipi kanan anak tirinya.
Membasuh diri dari keringat yang menempel kemudian bersantai di sofa, melepas lelah, memainkan ponsel. Saking seriusnya Alana tidak tahu bahwa pria yang tadi tertidur kini berdiri tepat belakang.
“Kau baca apa? Tidak lapar?” suara serak Lewis dan wajah bantal yang membuat Alana meneteskan air liur.
“Hah? Apa? Oh aku baca novel online. Aku tidak lapar Lew.” Secepat kilat Alana menutup platform berwarna biru noveltoon.
“Aku pikir Bu Presdir selalu sibuk menelaah laporan atau materi pekerjaan, ternyata memiliki sisi romantis juga.” Sarkas Lewis menghubungi room service, memesan makan malam.
“Hah? Dia pikir aku baca novel romance ya? Dasar Lewis.” Alana tertawa dalam hati. Mendekati pria itu. Duduk di tepi kaca.
Lewis menghabiskan sepanjang malam bersama Alana dengan membahas bisnis atau masalah pribadi, seperti alasan kepergian Lewis meninggalkan ayahnya selama bertahun-tahun.
“Umm … Lewis, boleh aku tanya sesuatu? Tapi maaf kalau menyinggung.” Alana ragu, dia takut membuka luka lama. Sebab selama menjadi istri James, Alana menilai hubungan antara ayah dan anak itu berjalan di tempat. Keduanya tinggal satu atap, namun Lewis memusuhi Ayahnya.
“Katakan saja. Ada apa?” Lewis menyimpan peralatan makan, meneguk segelas jus hingga tandas.
“Kenapa kamu tinggal jauh dari keluarga? Aku hanya ingin tahu dan berusaha mengenal lebih dekat.” Alana memusatkan kedua mata ke depan, menanti jawaban yang keluar.
Sejak kecil Lewis terbiasa melihat ayahnya membawa wanita lain masuk ke mansion, secara terang-terangan bermesraan dengan wanita murahan yang mengincar seluruh aset keluarga Jansen.
Bahkan James pernah terlibat skandal menodai istri orang sampai hamil, ternyata setelah tes DNA, bayi tersebut bukan putranya.
Ibu Lewis pikir setelah kejadian itu, suaminya akan berubah ternyata masih sama. Istri mana yang tidak sakit hati menyaksikan suaminya mendua di depan mata. Setelah kejadian itu, Nyonya Jansen memutuskan bercerai dan menetap di rumah kecil.
Tapi siapa sangka, James mencarinya dan memohon kesempatan terakhir. Tapi dewi fortuna tidak berpihak, pria itu tidak jera. Hingga Ibu Lewis menderita sakit-sakitan dan meninggal dunia karena terlalu mendapatkan siksaan batin dari suaminya.
Alana turut menitikkan air mata, dadanya sesak. Dapat dibayangkan betapa terlukanya mendiang Nyonya Jansen.
“Kapan-kapan boleh antar aku ke makam Nyonya besar?” tanya Alana sesenggukan, dia tidak menyangka, sikap lembut dan penyayang suaminya ternyata dahulu begitu berbeda.
Kepala Lewis mengangguk, sebagai jawaban atas permintaan ibu tirinya. Dia berdiri, satu lengannya meraih dagu Alana, menatap lekat kedua bola mata coklat karamel.
"Setelah mengetahui sisi buruknya, apa perasaanmu masih tetap sama, menyayangi James? Tidak kah jijik atas sikapnya? Atau rasa cintamu terhadap Daddy semakin banyak?” tanya Lewis sedikit sinis.
Lubuk hatinya berharap Alana tegas menjawab ‘Tidak memiliki perasaan apapun’. Sialnya, Alana diam saja. Mungkin kah wanita itu enggan meninggalkan James Jansen dan hidup bersama pria lain yang lebih baik?
Tanpa mendengar jawaban pasti, seketika itu juga Lewis merasa sesak dalam dada, cemburu sudah pasti. Tertawa sinis, kemudian menutup kelopak mata, menarik napas dengan rakus.
“Tidak bisa menjawab ya? Selamat tidur Alana, telepon aku kalau membutuhkan sesuatu. Permisi.” Hubungannya memang tanpa status dan terlarang, dia pun hanya bisa menjaga Alana seperti ini.
Pria itu hendak keluar, tapi Alana menahannya, memeluk Lewis dari belakang.
“Lewis tunggu, jangan pergi. Bisa tinggal lebih lama lagi?” mengeratkan kedua tangan, enggan melepas pelukan. Alana bersandar pada punggung putra sambungnya, menyeka air mata menggunakan kaos Lewis.
“Jangan keluar. Aku tahu, yang kamu rasakan.” Alana pun sama menderita, terbelenggu dalam semua kekacauan yang terjadi.
Lewis merotasi tubuhnya, hingga mereka saling berhadapan. Merangkum dua pipi Alana, berucap “Kalau begitu, apa artinya aku di hidupmu?” pertanyaan ini benar-benar menjebak.
Alana sendiri kebingungan, di satu sisi ingin mengungkap semua tapi statusnya sangat tidak mendukung.
“Aku … aku adalah ibu sambungmu.” Jawab Alana memutus kontak mata, hendak membalik badan. Namun tangan Lewis membawa wajah Alana mendekat dan melabuhkan ciuman di bibir ibu tirinya.
Dua insan itu menghabiskan waktu hingga pagi. Saling bertukar cerita masa lalu yang menyedihkan.
TBC
****
boleh ya kakak berbagi jempolnya 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments