Tak pernah mendapat perlakuan buruk dari orang lain, apalagi seorang wanita. Lewis murka, dirinya pun sama, lepas kendali. Mendorong dan menyudutkan Alana, membentur pada kerasnya dinding.
Bayangkan saja Lewis Jansen yang dipuja dan digilai wanita. Bahkan banyak dari mereka rela melakukan apa saja demi berdekatan dengan sang idola, kini disentuh kasar oleh perempuan, dan itu adalah ibu tirinya.
“Lancang sekali kau Alana Pattinson.” Teriak Lewis, tubuhnya gemetar akibat marah. Ya sekalipun dia lepas kendali, masih mendapat kesadaran secara utuh bahwa di depannya ini seorang wanita, ibu tirinya, istri James Jansen. Pria yang paling menyakiti hati Lewis.
Seandainya bukan Alana pasti Lewis melayangkan pukulan bertubi-tubi, menjatuhkan lawannya.
“Kau Lewis. Berani sekali merubah ini semua? Ini ruanganku, kau … kau tidak berhak memilikinya sekarang, belum waktunya Lewis.” Lanjut Alana dalam hati, wanita ini syok berat melihat semua benda-benda kesayangan berakhir dalam kotak karton. Parahnya lagi gambar mendiang Nyonya Pattinson, ibunya pun teronggok di dalam kotak.
Lewis menekan kedua bahu Alana hingga membuat ibu sambungnya meringis sakit, kemudian mengapit rahang dengan tangan kiri. “Dengar kau wanita mu*****. Apapun posisimu sekarang, jangan pernah berani merubah dekorasi ruangan ini. Kau tidak lebih seorang lintah. Ku pastikan kau keluar dan pergi tanpa membawa sepeser pun uang.” Menghempas cukup kuat pipi Alana, hingga limbung.
“Baik Lewis, Aku adalah Nyonya Jansen, Presiden Direktur JSN Group, seluruh dunia tahu bahwa akulah pimpinan utama bukan dirimu. Jadi aku harap putra sambungku tidak melupakan itu.” Balas Alana tidak gentar sedikitpun.
Ya, walaupun singkat, James mendidik Alana dengan tegas, agar istrinya tidak lemah. Apalagi dalam menghadapi Lewis yang keras kepala dan akan melakukan apapun demi merebut posisi yang memang menjadi miliknya.
Bibir Lewis berkedut tipis, menyadari betapa liciknya seorang Alana Pattinson, tidak berbeda dari lintah darat.
Dia mendekatkan kepala, mengikis jarak antar keduanya, tepat di telinga Alana menghembuskan napas, dan berbisik, “Lantas apa yang kau lakukan sebagai Nyonya Jansen yang terhormat?”sarkas Lewis Jansen.
Sekujur tubuh Alana merinding, berusaha sekuat tenaga menutupi apa yang dirasakan. Dengan sisa tenaga dan keberanian, istri James Jansen ini menubruk tubuh pria di depannya dan mendekati meja kerja, menghubungi petugas keamanan.
“Kita lihat siapa yang mereka anggap sebagai pimpinan JSN, kau atau aku?” Alana mengangkat dagu, sengaja menunjukkan sikap angkuh di hadapan manusia arogan.
Tak berselang lama petugas keamanan dan asisten pribadi Presiden Direktur masuk ke ruangan. Mendapat tugas untuk membawa Lewis keluar ruangan. Dan ya tentu saja siapa yang menolak perintah bos mereka? Semua mengikuti instruksi Alana.
‘Mari ikut kami Tuan’
“Oh begini kah sikap Nyonya Besar Jansen?” manik biru Lewis menyayat tajam ke arah Alana. Tidak ingin menimbulkan keributan apapun, dirinya harus rela diseret keluar ruangan.
Pemandangan menyedihkan yang menjadi kebahagiaan bagi Debby Jansen, mengambil kesempatan untuk mendekati keponakannya. Debby yakin bisa mengusir Alana melalui Lewis, semua rencananya akan berjalan sempurna dengan memanfaatkan pewaris sah JSN Group.
“Lewis keponakanku, kemarilah ikut Tante. Ruangan Tante ada di bawah.” Debby meraih lengan keponakannya, berusaha merebut hati mahkluk kutub utara.
Namun secepat kilat Lewis menghempaskan tangan. Ekor mata melirik tajam pada Debby.
“Maaf Lewis, mungkin kamu bisa melihat laporan bagaimana kinerja divisi operasional di ruangan Tante?” alasan Debby dan ajaibnya beruntung membuat Lewis berjalan lebih dulu.
Sedangkan Alana langsung menghambur memeluk Alvaro, asisten pribadi sekaligus sahabatnya. Sementara lupakan dulu status mereka, antara bos dan pegawai. Menangis di bahu Alvaro, merasa begitu banyak beban yang dipikul.
Selain menahan sedih karena Tuan Pattinson belum kunjung siuman, masih harus merawat kedua adiknya, ditambah James yang sakit-sakitan. Kemudian Debby dan Patricia selalu menebar kebencian, sekarang kedatangan Lewis semakin menguji dirinya.
“Alvaro, apa aku sanggup menjalani ini semua? Kau lihat, Lewis tidak bisa menerimaku. Dia terlalu kasar dan sewenang-wenang.” Kata-kata Alana menyampaikan isi hati yang tertunda sejak kemarin.
“Al, tentu saja Lewis bersikap seperti itu. Dia tidak akan bisa menerima orang asing menggantikan posisi Ibunya, apalagi ruangan ini sengaja di dekor oleh Nyonya Jansen, khusus untuk Tuan James. Tapi aku tahu yang merubah tatanan ruangan bukan dirimu melainkan Tuan Besar.” Tutur Alvaro begitu menenangkan dan tidak memprovokasi.
“Benar kah? Aku tidak tahu. Tapi … kata-kata Lewis keterlaluan, dia menghinaku murahan, dicap sebagai wanita matre yang akan mengambil semua harta Ayahnya, lalu pergi dengan pria lain. Aku bersumpah tidak pernah memikirkan hal itu sedikitpun.” Terang Alana masih memeluk erat sahabatnya, sungguh sakit menerima caci maki dari putra sambung.
Alvaro melepas pelukan, dan memegang kedua lengan bosnya, mengulas senyum begitu manis. “Al, sabarlah. Ingat semua ini demi Tuan Pattinson, ayahmu juga adik-adikmu yang masih membutuhkan banyak biaya. Aku yakin kau bisa. Alana adalah wanita tangguh yang tak kenal takut menghadapi rintangan apapun.” Mengepalkan kedua tangan, menunjukkan semangat pada rekannya.
“Sore nanti bisa antar aku menemui Ayah? Aku merindukan Ayah dan adik-adik.” Alana melengkungkan senyum hangat walau tipis sekali.
“Tentu, apapun untuk Nyonya.”
**
Satu minggu sudah Alana mencoba memperluas dan memperkuat kesabarannya. Tapi selalu diakhiri pertengkaran pada malam hari, kesalahpahaman menjadi poin penting, menghalangi kedua orang itu.
Malam ini saja memergoki Lewis keluar tengah malam, tentu membuat Alana meradang, sebab semua tugas di berikan oleh James. Termasuk mengawasi putra nakalnya itu.
“Lewis kau mau ke mana? Tidak boleh keluar malam! Kau tahu ayahmu melarang ini semua, diam di rumah dan sekarang masuk kamar!” titah Alana sangat tegas.
Namun Lewis yang begitu berani, menarik Alana masuk toilet dan lebih parahnya mengunci dari luar.
“Bawel sekali wanita gila itu.” Lewis Jansen melempar kunci ke sembarang arah, lalu beranjak keluar rumah.
Sementara Alana memukul-mukul pintu kamar mandi. “Lewis apa yang kau lakukan? Buka! Awas kau ya. Lewis Jansen.” Teriak Alana membuat bising lantai satu.
Nasib baik masih menyertai. Kepala pelayan segera mengambil kunci cadangan dan membebaskan Nyonya Jansen.
“Terima kasih.” Ucap Alana kemudian masuk ke kamar, mengadukan semua perbuatan kasar putranya pada James. Namun sikap pria tua ini sangat tidak sesuai harapan, membela Lewis dan menganggap wajar hal itu.
“Alana, sayang. Sikap Lewis memang keras sepertiku, jadi kau tidak bisa terburu-buru mengambil hatinya. Dekati dia dengan kasih sayang, aku yakin akan luluh. Ku harap kamu memaklumi kesalahan putraku.” Ucap James tanpa merasa malu atau bersalah sedikitpun, karena dirinya lah yang menyeret Alana padam kubangan masalah ini.
“Ku harap kalian saling menjaga. Lindungilah putraku Alana, sebagai ibu kau harus menjalani peranmu dengan sangat baik.” Tutur James, seenaknya saja memberi tugas tambahan.
“Apa semua itu tugasku?” lirih Alana dalam hati, kepalanya hanya menggeleng lemah, menolak perintah suami.
TBC
***
ada sebel kah sama Lewis?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
ciber ara
jangan ditanya kk
2023-05-13
1