Satu bulan lamanya hubungan Alana dan Lewis Jansen berjalan di tempat. Sudah tiga puluh hari ini juga Alana pergi mengunjungi pabrik seorang diri, atau meeting tanpa kehadiran Lewis sebagai Chief Marketing Officer, selalu melimpahkan pada wakilnya dan sekretaris.
Lewis lebih senang bekerja di luar perusahaan, menangani masalah lapangan adalah keahliannya.
Dia hilir mudik dari satu tempat ke lokasi lainnya, inspeksi mendadak ke anak perusahaan, pabrik, perusahaan periklanan bahkan terjun langsung menemui distributor dan pelanggan.
Sama halnya dengan di rumah, Lewis tidak pernah lagi terlibat dalam drama sarapan atau makan malam keluarga. Setiap hari ada saja perselisihan antara Alana dengan Debby atau Patricia, berakhir kekerasan fisik dan salah satu terluka baik Alana atau Debby.
Pernah beberapa kali Alana sengaja menunggu Lewis di kantor, dia tahu putra sambungnya akan datang ketika sore, setelah hampir 98% pegawai pulang. Tapi sayang pria itu menghindar, kehadiran Alana sudah terendus jauh sebelum Lewis memarkirkan kendaraan di basemen.
Tidak hanya itu, di rumah, sama sekali tak tampak bayangan atau harum aroma parfumnya. Dia benar-benar menghilang secara raga tapi jiwanya tetap mengawasi perusahaan dan rumah, tentu Alana.
Alana pun nekat, dia penasaran kemana Lewis selama ini? Dengan asalan pekerjaan, istri muda James Jansen keluar kamar pukul satu malam.
Wanita ini menunggu di dalam ruang kerja, kedua manik indahnya menatap ke arah luar pagar yang menjulang tinggi.
Tidak lama pintu itu terbuka lebar, Camaro dengan plat nomor P 4TR15 IA masuk pelataran rumah. Dahi Alana mengkerut, karena keponakan suaminya pulang bersama seorang pria.
“Lewis?” pekik Alana, mulutnya masih menganga, melihat bagaimana Patricia memapah Lewis.
Secepat kilat Alana turun ke lantai satu, seketika napasnya tercekat di tenggorokan. Lewis Jansen pulang dalam keadaan tubuh terluka, pelipis dan bibir mengeluarkan darah, salah satu kakinya pincang.
“Patricia? Apa yang terjadi? Lewis kenapa? Kalian kecelakaan?” tanya Alana sangat panik, setelah satu bulan tidak bertemu, sekarang keadaan pria yang menjadi pahlawannya penuh luka.
“Ck ibu macam apa kau ini, TANTE ALANA? Putramu terjatuh, dia kecelakaan ketika balap motor.” Tukas Patricia mengabaikan Alana yang berjalan mendekat.
“Patricia, antar aku ke kamar. Jangan berisik! James pasti bangun.” Darah segar menetes dari pelipis, Lewis menolak mendapat perawatan di rumah sakit.
“Oke kakak sepupu tampan. Aku juga bersedia menemani kamu semalaman, jangan sungkan Lew.” Suara manja Patricia membuat Alana mual.
Tanpa suara dia mengikuti keduanya dari belakang, lalu mengusir Patricia dari dalam kamar Tuan Muda Jansen.
“Kau ini apa-apaan? Aku yang menjaga kakak sepupu, bukan kamu.” Patricia tidak terima diperlakukan kasar begitu saja, bagaimana pun dia memiliki peluang untuk meraih perhatian Lewis.
“Berani melawan, ku potong uang jajanmu 90% atau 100%. Cepat tidur Patricia, besok kuliah!” berang Alana, di rumah besar ini terlalu banyak masalah setiap detiknya.
Sebagai ibu sambung yang baik, Alana mencoba perhatian dan menunjukan ketulusannya. Dia juga tak kuasa menahan laju air mata, merasakan sakit melihat luka di wajah tampan Lewis.
“Tunggu sebentar, aku ambil obat, jangan bergerak Lewis!” perintah Alana sebagai Nyonya Besar Jansen, janjinya untuk melindungi dan membimbing Lewis belum sepenuhnya ditepati karena pria ini sangat liar dan kejam.
“Tidak perlu.” Sahut Lewis tak mendapat tanggapan dari Alana yang sudah keluar sangat cepat.
Perlu waktu lima menit mengambil semua perlengkapan, Alana masuk kembali ke kamar Lewis. Menuangkan obat pada kasa, dan tangannya terulur ke pelipis.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Lewis menolak mentah-mentah perhatian tulus ibu sambungnya, menepis kasar tangan Alana.
“Lewis, apa yang kamu lakukan? Lihat obatnya tumpah kan.” Alana memunguti satu persatu perawatan luka di atas lantai. Membuang kasa serta kapas yang terkena debu.
“Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya, Untuk apa kau masuk ke sini hah? Sekarang keluar dari kamarku dan temani James tidur!” Lewis menunjuk pintu kamar yang tertutup rapat.
Inilah alasannya melampiaskan pada balap liar, pulang malam, menghindari interaksi dengan Alana.
“Kamu itu kenapa? Tubuhmu penuh luka, aku hanya sedikit membantu, kau juga anak tiriku, memangnya salah?” Alana tidak peduli, sekarang kondisi pria di hadapannya harus mendapatkan perawatan.
Mengandalkan keberanian dan statusnya sebagai ibu, memberanikan diri kembali menyentuh pelipis Lewis, satu tangan Alana menahan bahu agar tidak menjauh.
BRUK
Tiba-tiba Lewis mendorong ibu sambungnya sampai membentur meja nakas, Alana pun mengerang sakit.
“Kau sangat lancang Alana! Ku peringatkan sekali lagi, jangan menyentuhku! Paham?” sedari tadi mati-matian menahan segala rasa yang tercampur menjadi satu dan sekarang meledak. Tidak kuasa menahan kesabaran dalam diri.
“Maaf Alana.” Batin Lewis turut meringis dalam hati, untuk kesekian kali menyakiti Alana.
“Baik … aku keluar. Tapi dengarkan lebih dulu kata-kataku. Terima kasih Lewis, aku berhutang karena kamu menyelamatkan ku malam itu. Kalau kamu tidak ada, aku yakin menjadi santapan dari ketiga pria bastard. Aku tulus mem …” Alana belum selesai menyampaikan isi hati, namun kalimatnya menggantung sebab Lewis memotong lebih dulu.
“Menyelamatkan? Aku hanya tidak mau nama keluarga menjadi buruk akibat wanita James Jansen tidur dengan pria lain. Kalau kau tidak terikat dengan James, aku tidak sudi menolongmu.” Tegas Lewis, menahan rasa perih di sekujur tubuh termasuk hatinya yang mendadak sesak ketika bibirnya berucap kasar.
“Dan masalah berhutang, jelas kau memiliki kewajiban besar mengembalikan seluruh hak milikku. Kau itu hanya sampah Alana, tidak lain menjerat James untuk mengalihkan JSN atas namamu, benar kan? Asal kau tahu Alana, kau bukan wanita pertama selain ibuku yang tidur dengannya. Semua hanya menginginkan seluruh aset James.” Imbuh Lewis, suaranya berubah menyeramkan dan sorot mata birunya begitu tajam.
Dada pria jangkung ini kembang kempis, menahan amarah dalam hati. Dia menyesal, seharusnya malam itu tidak membantu dan membiarkan Alana terpuruk.
“Asal kau tahu Lewis, aku menikahi ayahmu karena uang benar adanya, tapi sumpah tak pernah terlintas untuk menguasai seluruh harta James. Kau salah menilaiku, tidak selalu wanita menikahi pria duda karena menginginkan hartanya.” Alana tak kalah sengit, putra sambungnya ini sangat keterlaluan dan berlebihan, pandangannya terhadap Alana tidak berubah sama sekali.
BRAK
Lewis membanting kotak obat hingga isinya berhamburan ke segala arah, dia berucap penuh penekanan, “Kau tidak lebih dari seorang pe*****, menjual diri kepada pria tua kaya raya.”
PLAK
Tamparan panas Alana mendarat di pipi putra sambungnya, menahan air mata agar tidak tumpah dan dianggap lemah. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Alanna Pattinson melangkah mantap keluar kamar, keputusannya mencurahkan perhatian salah besar.
Sementara Lewis memegangi kepalanya yang berdengung nyeri. Semua ini dilakukan karena Lewis ingin Alana berhenti memberi perhatian, sebab usia mereka tidak terlampau jauh, khawatir jatuh hati pada ibu tirinya.
“Terus lah seperti ini Lewis, dia istri James. Wanita murahan itu ibu tirimu!”
TBC
***
Berantem terus ya ,😭
Ditunggu dukungannya kakak 🤗 terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments