Hari-hari berlalu, sejak gagalnya rencana Lewis yang pertama. Pria ini semakin brutal, maksudnya? Iya dia sengaja membuat Alana kesal, menangis, bahkan bertengkar. Bukan hanya di rumah tetapi kantor, menciptakan neraka. Lewis tidak jera ditegur keras oleh James.
Bagaimana mungkin ada seorang anak yang begitu kejam pada ibunya? Ya walaupun hanya ibu sambung. Jujur James merasa malu pada Alana, tak pernah sekalipun mengajari Lewis untuk bersikap layaknya iblis.
Lihat saja hari ini, setelah malam penyambutan. Lewis bersikap sewenang-wenang, hanya cukup melakukan sedikit kesalahan maka dirinya akan sangat marah, melakukan apapun. Semua pegawai ketakutan, sangat sungkan di depan, mengumpat di belakang.
“Siapa namamu? Divisi apa?” suara Lewis Jansen masih santai, tapi ingat sekali lagi, ini bukan pertanyaan biasa. Melainkan penuh makna dan tujuan yang siap membuat pegawai berteriak.
Tidak mendengar jawaban apapun, Lewis mengulang pertanyaan, tidak dengan nada lembut, melainkan naik beberapa oktaf. “KATAKAN SIAPA NAMAMU?” suara yang membuat merinding negeri.
“Telinga mu rusak?” mengeluarkan ponsel, menghubungi Manager HRD. “Aku tidak suka pegawaiku pura-pura sehat, temukan dia dan pecat.” Tegas Lewis bicara pada Manager.
‘Maaf Pak, N-nama saya K-kanaya Putri, Divisi Quality Control.’
“Oh akhirnya. Jeny kau dengarkan Kanaya Putri, Divisi QC? Pindahkan dia ke pabrik yang baru saja dibangun. Kurangi tunjangannya.” Selesai mengatakan semua, Lewis berputar menuju ruangan Alana.
Ulahnya satu minggu ini merotasi pegawai, membuang mereka yang dipercaya oleh Alana. Mengganti dengan tenaga baru, dianggap pantas menduduki jabatan tersebut.
Sampai di depan ruang Presiden Direktur Lewis masuk tanpa izin, mendekati ibu sambungnya yang masih fokus bekerja.
“Ayo pulang, kau mencari muka, hah? Sekeras apapun usahamu, JSN milikku, paham?” sinis Lewis, menatap tajam dengan manik birunya.
Tanpa menunggu Alana siap, pria ini langsung menarik tangan kecil ibu tirinya. Hampir saja wanita itu terjerembab ke atas kerasnya lantai.
“Bisa pelan sedikit?” keluh Alana tidak berdaya melepaskan diri dari cengkeraman kekarnya tangan Lewis.
“TIDAK. Kalau kita tidak pulang bersama, suamimu itu pasti kebingungan, kemana istri tercintanya.” Sarkas Lewis tak henti meluncurkan hinaan pada Alana.
Demi langit dan bumi, Alana ingin sekali memukuli putra sambungnya di depan umum tanpa belas kasih.
Alana terpaksa satu mobil dengan Lewis, menuruti semua perintah James. Ya lagi-lagi pria ini mengendarai kuda besi dengan kecepatan tinggi dan menginjak pedal rem mendadak tepat di depan pagar rumah. Untung saja Alana menggunakan seat belt, tubuhnya tidak membentur pada dashboard.
“Kau ini mau membunuhku ya? jangan-jangan izin mengemudi mu palsu.” Ketus Alana, memicingkan kedua mata, dan berkacak pinggang.
“Sayangnya iya, seandainya James tidak mencintaimu, ku pastikan kau lenyap dari muka bumi.” Sengit Lewis, kembali menjalankan mobil ke garasi, kemudian membuka kunci.
Melepas sabuk pengaman Alana dan mendorong kuat wanita itu keluar. “Menjijikan sekali harus menjadi pengawal pribadinya.” Keluh Lewis, tidak peduli kepada Alana yang kesakitan membentur pintu mobil.
Sebelum masuk rumah, Lewis mendapat laporan dari seseorang, kedua matanya berbinar, dia pastikan kali ini berhasil. Sebuah laporan keuangan beberapa bulan lalu, yang sengaja disembunyikan dari publik sebab ditemukan banyak fraud.
Lewis yakin Alana sengaja menyajikan laporan keuangan baru untuk menutupi aksi jahatnya.
“Rubah yang sangat licik kau Alana, masih berani menyangkal bahwa tulus menjadi istri Daddy-ku?” tukas Lewis, menelan saliva, lalu turun dari kendaraannya.
Di dalam kamar, Lewis memeriksa ulang laporan, ditemukan sejumlah dana menghilang tanpa penggunaan yang jelas. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung, sangat banyak.
“Untuk apa Alana mengambil dana perusahaan sebanyak ini?” gumam Lewis, menyimpulkan bahwa ibu tirinya menggelapkan sejumlah anggaran.
“Kali ini kau tidak bisa berkelit Alana. Perempuan licik sepertimu harus disingkirkan, s-e-g-e-r-a.” seringai Lewis, bangkit dari duduknya, membawa bukti laporan keuangan, dia menuju kamar James.
Mengetuk pintu satu kali, Lewis langsung membukanya, dan kurang beruntung. Waktunya sangat tidak pas. Pemandangan memuakkan sedang terjadi di atas ranjang. Dia, Alana membantu Daddy-nya mengeringkan rambut. Menyentuh helai demi helai putih tanpa canggung.
“Lewis ada apa kemari? Rambutku masih basah, kalau ada sesuatu yang mau disampaikan tunggu sebentar lagi.” Pinta James, menunjuk pada kursi tunggal di samping ranjang.
Dalam hati Lewis berdecak sebal. “Basah? Rambutnya?” benar saja dia mengamati Alana dan James secara bergantian.
Tersenyum kecut mendapati dua kepala itu sama-sama tidak kering. “Ah mungkin sebentar lagi akan ada bayi di rumah ini. Sengaja kah? Dia ingin melahirkan anak yang menjadi pesaingku? Memalukan.” Cibir Lewis dalam dada. Semakin bertambah pula rasa bencinya pada James.
“Ada apa Lewis? Sepertinya penting, langsung katakan!” titah James, alunan nada begitu keras dan tegas, berbanding terbalik pada beberapa menit sebelumnya.
“Alana sayang, keluar dulu.” Perintah James. Alana yang patuh langsung keluar kamar.s
“Ck dia lebih menyayangi istri mudanya.” Cemburu Lewis, wajar kan? Dia adalah putra tunggal tapi tidak mendapat kasih sayang.
Lewis melempar bukti fraud yang dilakukan Alana tepat ke atas pangkuan James. Disertai bukti lain dengan sedikit rekayasa.
Namun melihat dari riak pada wajah keriput, sama sekali tidak terkejut. Langsung menutup map dan menyimpan dalam laci.
“Apa-apaan ini?” tanya Lewis dalam hati, tidak terima begitu saja.
“Dari mana kau mendapatkan ini? Menuduh ibumu melakukannya? Jangan salah paham, nak. Percayalah pada Alana, dia akan membantu kita mengungkap dalang sebenarnya. Aku curiga Debby melakukan semua itu.” James memberi pengertian, agar Lewis tidak salah paham lagi. Dan berhenti memojokkan ibu tirinya. Seharusnya mereka bersatu demi mengalahkan Debby.
“Jadi, Daddy percaya padanya?” Lewis tidak habis pikir, James mudah diperdaya.
“YA”
Lagi-lagi Lewis harus menelan kekecewaan pada sosok pria yang menjadi Ayahnya. Rencana kedua ini gagal total, di luar dugaan, James lebih dulu mengetahui isi laporan keuangan.
“Kau memang bodoh Lewis Jansen.” Makinya pada diri sendiri, meninju bagian dadanya.
“Lewis? Sudah selesai? Mau minum teh?” panggil Alana dari arah dapur, masih berusaha menjadi ibu yang baik.
Momen ini dimanfaatkan dengan baik, Lewis setuju. Kalau dua rencananya gagal, maka dia harus bicara pada Alana agar sukarela meninggalkan James.
“Boleh, jangan terlalu manis.” Tanggapan Lewis, tanpa menoleh atau melirik sedikitpun kepada Alana yang sibuk menuang teh ke dalam cangkir.
Alana tersenyum hangat menyimpan teh di atas meja. Kemudian berlalu dari hadapan putra sedingin es kutub.
“Alana tunggu, duduk di sini!” tegas Lewis. Berdiri tegak menghampiri ibu sambungnya, mulai menyampaikan semua maksud dalam hati.
“Tinggalkan Daddy! Kalau kau membutuhkan uang, aku bisa memberinya. Tapi ceraikan James, berapa pun aku berikan.”
Alana tercengang, sungguh percakapan malam yang sangat buruk. “Kau gila? Kau demam? Kau sakit?” tanya Alana beruntun.
“Tidak”
“Ya kau sakit Lewis, kau bertingkah bukan seperti manusia. Satu lagi, aku tidak akan berpisah dari ayahmu, ingat itu!” Alana bergegas pergi, enggan menanggapi permohonan murahan anak tirinya.
Mana mungkin dia meninggalkan suami yang begitu baik, jasa James tidak akan bisa dilupakan. Bahkan mengabdi seumur hidup pun Alana bersedia.
TBC
***
LIKE
SUBSCRIBE
🙏😁🙏TERIMA KASIH
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments