Pagi ini di kediaman megah ala Eropa, Lewis Jansen masih terlelap dalam suasana sejuk serta semilir angin dari pintu balkon yang terbuka. Pria itu baru bisa memejamkan matanya pukul tiga pagi, rasa benci mendalam sekaligus sayang pada ayahnya membuat hidupnya susah dan sakit.
Ya, Lewis tidak menyukai sikap James, karena ayahnya itu ibu kandung Lewis meninggal dunia akibat terlalu sering disakiti dan memendam rasa kecewa pada suaminya.
Kenangan buruk yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup, apalagi rumah ini banyak menyimpan luka. Di kamar Lewis mendiang Nyonya Besar Jansen selalu menangis menatap putranya tidur.
James Jansen membangunkan putranya, dia ingin Lewis berubah menjadi lebih rajin, semua demi masa depan. Mengingat usia James tidak lagi muda ditambah kondisi tubuh semakin lemah.
“Lew bangun. Jangan terlambat masuk kantor, ini hari pertama. Kau sudah dewasa tetapi sikapmu sangat kekanakan.” James merebut selimut coklat dari dekapan putranya, seketika pria sepuh ini tercenung mendapati foto mendiang istri di peluk erat oleh Lewis.
“Maafkan aku.” Gumam James, kemudian kembali mengguncang tubuh putranya.
Respon Lewis sangat dingin dan tidak senang mendapat perhatian dari sang ayah. “Ada apa?” tanyanya menyimpan pigura ke atas nakas, sembari memperhatikan arah tatapan James.
“Ck jangan lihat Mom, di hatimu sudah ada wanita lain.” Sinis Lewis berlalu ke kemar mandi.
Pria ringkih itu masih setia menunggu di kamar, ada hal penting yang harus disampaikan.
Beruntungnya Lewis tidak lama keluar kamar mandi, masih tetap dingin memandang ayahnya padahal dalam lubuk hati begitu menyayangi sosok James.
“Katakan saja Dad, jangan mengusik dengan cara seperti itu.” Tegas Lewis menghampiri ayahnya, sedikit merendahkan posisi tubuh, hingga wajah mereka sejajar.
“Lewis, aku mohon bersikap baik pada Alana, mulai sekarang kau harus patuh padanya, semua peraturan yang Alana buat di rumah dan perusahaan. Hari ini juga kalian berangkat bersama.” Titah James tak ingin mendengar bantahan sama sekali.
“Apa aku tidak salah dengar? Dia punya kaki dan mobil sendiri kenapa harus bersama ku. Aku itu bukan pengasuh ibu tiri. Daddy tahu kan aku sangat membencinya?" sangar Lewis, bisa-bisa dia tertekan di rumahnya sendiri.
Mematuhi Alana? Dengan peraturan sebagai ibu sambung adalah hal yang tak akan pernah dilakukan sampai kapanpun.
“Jangan membantah, ingat posisinya. Di rumah, Alana ibumu. Di kantor, Alana bosmu.” Telak James, segera keluar dari kamar putra tunggal yang sangat keras kepala.
“Sihir apa yang digunakan wanita itu sampai membuat seorang James tunduk? Tidak untukku Alana Pattinson.” Sudut bibir pria gagah ini berkedut tipis, bola mata birunya pun menyorot tajam ke arah pintu.
Setelah bersiap ia tak buang waktu, enggan mengikuti sarapan bersama keluarga uniknya. Lewis menunggu Alana di depan rumah.
Satu menit
Lima menit
Tak kunjung datang, ia putuskan segera pergi meninggalkan ibu tiri yang sangat lamban. Tepat kendaraan roda empat mencapai pagar, teriak nyaring seorang wanita melengking tajam, menusuk gendang telinga para pelayan dan pengawal.
“LEWIS JANSEN BERANINYA KAU.”
**
Lewis lebih dulu tiba di JSN Group menahan kesal, tidak ada satupun pegawai yang menunduk hormat kepadanya. Bahkan seorang cleaning service malah menatap aneh.
Sebab semua pegawai tidak tahu siapa itu Lewis Jansen, dan tak seorang pun yang pernah melihatnya datang ke kantor sebagai pewaris JSN Group.
Mungkin hanya segelintir orang, ingat akan rupa putra tunggal James Jansen yang menghilang selama sepuluh tahun.
Lewis berdecih sebal menatap seisi gedung ini, beberapa kenangan buruk berputar dalam ingatannya.
Ketika dia melangkah mendekati lift khusus petinggi perusahaan, petugas keamanan dan resepsionis melarangnya. Tapi sikap keras kepala dan angkuh Lewis membuat nyali siapapun menciut termasuk petugas keamanan. Hingga asisten pribadi Presiden Direktur keluar dari lift dan menyambut Lewis.
Keduanya tidak terlihat akrab, ketara sekali bos dan anak buah.
“Aku ingin ke ruangan-ku.” Titah Lewis, dia tidak mengikuti langkah kaki Alvaro yang keluar di lantai 10.
"Ayolah Alvaro, jangan kau pikir aku pikun tidak tahu di mana ruangan-ku.” Lewis menutup pintu, seorang diri di dalam lift. Sementara Alvaro masih bergeming di tempat, seketika menyadari kesalahannya. Pasti ruangan yang di maksud Lewis, milik Alana.
Lewis Jansen tersenyum menang, ia melihat pintu dengan ukiran khusus, ya mendiang Nyonya Jansen sengaja memesan dan mengganti pintu ruang kerja suaminya. Semua masih tampak sama sampai Lewis membuka kenop pintu dan tercengang, sesuatu yang lain di dalamnya.
“Tuan … huh huh huh Tuan Muda Jansen, anda tidak diizinkan masuk ruangan ini tanpa sepengetahuan Bu Alana. Mohon kerja samanya.” Tutur Alvaro nyaris kehabisan napas, berlari secepat mungkin layaknya the flash. Dia melewati setiap anak tangga menuju lantai 15.
“Kau lupa siapa aku Alvaro?” sorot mata biru Lewis begitu tajam melebihi belati sekalipun, ia tidak terima dilarang masuk ke ruangannya sendiri.
Alhasil Lewis menghubungi salah satu rekannya untuk mendekor ulang ruangan, sesuai ciri khas mendiang Nyonya Jansen. Bahkan pria dingin dan kejam ini menyingkirkan semua benda milik Alana.
Dia tidak terima wanita lain menikmati jerih payah ibunya, bagi Lewis Alana hanya gadis kecil penghisap harta, hatinya tidak tulus menyayangi James. Lagipula mana mau dia dengan usia mudanya menjadi istri dari seorang kakek tua. Tidak masuk akal, pikir Lewis Jansen.
‘Tuan Muda, foto ini bagaimana?’ tanya dua orang petugas kebersihan, menunjuk pada gambar pernikahan Alana dan James.
“Singkirkan! Bila perlu bakar.” Perintah Lewis seketika membuat siapapun yang mendengarnya melongo. Mereka tidak berani membuang, apalagi membakar wajah pemilik perusahaan, sama saja mencari mati.
Bersamaan dengan itu, suara tegas wanita terdengar nyaring dalam ruangan.
“Apa-apaan ini? Apa yang ingin kalian bakar?” wanita berkulit sawo matang nan bersih itu mantap melangkah, pandangannya sangat tidak ramah. Alana melirik isi ruangan, wallpaper, semua benda miliknya berada dalam dus, termasuk foto pernikahannya.
“Ini semua perbuatan muu Lewis? Dengar baik-baik, di sini aku Nyonya Alana Jansen adalah bosmu sekaligus ibu tirimu, jadi patuhilah semua perintahku, ini semua kebaikan untukmu Lewis.” Kata-kata Alana begitu tajam, mendalam.
Namun sayang, Lewis mengartikan lain. Dirinya terlanjur membenci Alana Pattinson
“Wah, rupanya kau berani mengganti nama belakangmu ya?”
Prok … prok
Lewis tertawa, benar-benar lucu wanita di hadapannya, sudah jelas semalam Lewis menangkap basah sikap James dan Alana sama sekali bukan suami istri.
“Kau masih punya nyali Alana. Kau … wanita.” Hanya dengan dua jari, Lewis mendorong bahu wanita berkacamata itu dengan cukup kuat sampai mundur beberapa langkah.
“Kau tidak lebih dari simpanan Daddy-ku, menjual tubuh demi harta.” Sindir Lewis Jansen dilengkapi seringai ciri khas. Kalimat ini melukai harga diri Alana sebagai seorang wanita.
PLAK
PLAK
Tidak lagi menguasai emosi, Alana Pattinson menampar keras dua pipi putra sambungnya.
TBC
***
jadi siapa di sini yang jahat?
jempol kaka sangat berarti bagi author 🤗🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
♡Mem Cho♡
woahh keren keren😮
semangat kak nulisnya 💪🏻🥰
2023-05-11
1
lina
sihir apa y 🤔
2023-05-08
1