“Alana, kamu sudah pulang. Cepat ke sini sayang.” Panggil James, suaranya lemah lembut, membuka kedua tangan, mengharapkan pelukan dari istrinya, dan ya Alana lakukan.
“Alana, perkenalkan ini Lewis Jansen, putra tunggalku. Dan Lewis, ini Alana ibu tirimu.” Lanjut James sangat bahagia menyambut putranya yang lama pergi tanpa kabar kini kembali pulang.
Tatapan Lewis dan Alana terkunci satu sama lain, Alana tahu bahwa suaminya memiliki seorang putra tapi wujud di hadapannya ini benar-benar pahatan indah dan sempurna sebagai pria.
Dia tidak munafik, bahwa putra sambungnya memang tampan, tapi Alana bisa memposisikan diri sebagai istri dari James Jansen.
Alana mengulurkan tangan seraya tersenyum, ia harus menjalin hubungan baik dengan pria tampan ini, karena hidupnya akan habis bersama Lewis dan James.
“Hi Lewis, aku Alana. Kamu bisa panggil aku Al, atau mom, tergantung kenyamanan mu saja.” Alana menatap bola mata biru putranya.
Apa tanggapan Lewis?
Pria dewasa berusia 28 tahun ini malah menepis tangan ibu tirinya cukup kuat, bahkan meninggalkan bekas merah.
“Lewis, hormati Alana. Dia istriku, itu artinya ibu tirimu!” tegas James, tidak menyukai sikap putranya yang sangat arogan.
“Hormati? Tidak salah dengar? Siapa dia, ibu tiri? Bahkan lebih pantas menjadi pelayanku.” Sindir Lewis memindai tubuh Alana dari atas ke bawah.
“Lewis? Kau masih tidak berubah. Aku pikir sikapmu menjadi lebih baik, dengar baik-baik, jangan sakiti Alana.” James menjentikkan jari pertanda muak akan sikap putra tunggalnya. Dia pun kembali ke kamar diantar oleh perawat pria yang khusus tinggal di rumah.
“Tidak berubah? Aku putramu, dalam tubuhku mengalir darah Tuan James Jansen, itu artinya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jangan salahkah aku bila bersikap seperti ...” Telak Lewis, melirik Alana sangat tajam seakan menguliti, segera meninggalkan ayah dan ibu tirinya yang sangat menjijikan.
Lewis terkejut mendapat kabar bahwa ayahnya menikahi seorang gadis muda yang usianya saja lebih muda dari dirinya.
Benar-benar seorang penjahat, semula pria tampan dengan pahatan bagai dewa Yunani itu tetap santai enggan menanggapi semua kabar menyesakkan dada. Namun James, memberikan posisi presiden direktur pada Alana.
Hal ini yang membuatnya naik pitam, hingga memutuskan pulang, seharusnya yang menjabat sebagai presiden direktur, Lewis Jansen bukan Alana Pattinson.
Mendengar pernyataan putranya, James hanya diam saja. Dia akui memang kesalahan di masa lalu tidak bisa dihapuskan tapi untuk kali ini berbeda. James bukan lagi pria jahat seperti masa muda.
Tak mendapat tanggapan apapun dari ayahnya, Lewis bergegas menuju mini bar, kerongkongannya haus.
Sementara Alana mendapat tugas tambahan dari suami, untuk mendekati Lewis dan melunakkan sikap kasarnya.
Alana menghampiri Lewis, masih bersikap lembut dan sangat baik selayaknya seorang ibu kendati usia Lewis jauh di atasnya.
Ehem
“Lewis, aku mohon jangan bersikap seperti itu kepada Daddy-mu, dia sangat merindukan putranya. Aku … jika kamu keberatan menganggap aku sebagai ibu tiri, kita berteman saja, bagaimana?” tukas Alana, terus berusaha melakukan perintah suaminya.
“Berteman? Dengar, kau itu tidak lebih dari wanita murahan yang menghisap harta pria tua kaya seperti Daddy-ku, benarkan? Setelah mendapatkan semua, kau pergi dengan kekasih rendahan-mu itu. Wanita licik.” Sinis Lewis, beranjak dari kursi, dan menyenggol keras bahu Alana hingga wanita itu tersungkur ke atas marmer.
BRUK
“Akh … sakit. Kau keterlaluan, Lewis minta maaf sekarang juga.” Teriak Alana tidak terima diperlakukan kasar, seumur hidup pertama kali bertemu dengan pria menyebalkan seperti putra tirinya. Dengan pinggul sakit, Alana berusaha berdiri dibantu beberapa pelayan.
“Minta maaf sekarang juga!” lantang Alana masih menunggu pria kejam itu mengucap kata maaf.
Lewis merotasi tubuh, melangkah cepat menuju Alana, dan bukan minta maaf tapi menyentil kening ibu sambungnya sangat keras. “Maaf hanya untuk mereka yang bersalah.” Tegas Lewis, menolak mengucapkan kata-kata itu.
“Akh … kau, benar-benar menyebalkan Lewis.” Alana mengusap dahi yang merah akibat ulah anak nakal James Jansen, tidak basa basi lagi ia meraih satu gelas jus dan menyiram wajah Lewis Jansen.
Semua pelayan menatap tidak percaya pada dua orang yang bertengkar, Nyonya Besar Jansen dan Tuan Muda Jansen.
Lewis menyeringai, kemudian menerima tissue dari pelayan. Melempar benda putih itu ke sembarang arah, lalu tanpa di duga oleh siapapun. Memanggul ibu tiri layaknya karung, melangkah lebar menuju taman samping rumah.
“Lepaskan aku , Lewis. Mau apa kau?” Alana terus memukul punggung putra sambungnya.
BYUR
Pria dengan tatapan tajam ini, menghempaskan tubuh Alana ke dalam kolam berenang, hingga air meluap keluar. Tidak sampai disini, Lewis melepas pakaian atasnya menampakkan dada bidang yang menggoda pandangan mata.
“M-mau apa kau? Cepat pakai bajumu Lewis.” Alana khawatir jika Lewis berbuat nekat dan melakukan sesuatu yang tidak terpuji.
Namun Lewis melempar baju basahnya ke wajah Alana, bersamaan dengan turunnya hujan cukup deras. Bukannya membantu, dia meninggalkan wanita itu di bawah guyuran hujan.
.
.
Alana yang flu berat terpaksa mengikuti makan malam keluarga, dan harus menjalani dua peran sekaligus. Istri dan ibu bagi suami serta putra sambungnya, tidak mudah memang. Tapi terlampau masuk ke dalam keluarga ini, maka ia harus bisa menempatkan diri dengan sangat baik.
“Lewis, kamu mau makan apa? Aku bantu ambil ya.” suara manja dan merayu seorang Patricia.
“Aku masih punya tangan, lagi pula semua itu tugas pelayan.” Balas Lewis begitu dingin tak terjamah.
Nyonya Besar Jansen terkikik geli melihat sikap keponakannya itu, bahkan Patricia tidak tahu malu, tetap mendekati dan meraih simpati Lewis.
“Patricia ini meja makan, bukan sarana mencari jodoh.” Sindir Alana menutup sedikit mulutnya yang menyunggingkan senyum tipis atas tingkah laku putri adik iparnya.
Sementara Lewis tidak menanggapi kata-kata yang ditujukan pada sepupunya, memang benar ini meja makan, dia juga kesal dan gerah akan sikap Patricia berusaha menggoda sejak dirinya tiba di rumah.
Usai makan malam, semua anggota keluarga kembali pada aktifitas mereka, rumah besar ini sepi tidak ada suara canda tawa sama sekali.
Merasa tidak terima akan kedudukan Alana di kantor, Lewis putuskan masuk ke kamar James. Ia perlu merebut posisinya dan mendepak sejauh mungkin wanita pecinta harta itu.
Tanpa mengetuk lebih dulu, pria ini membuka pintu dan masuk ke dalam, seketika bola matanya memandang rendah sepasang suami istri yang duduk berjauhan, sungguh pemandangan berbeda yang dilihatnya.
Padahal di meja makan, keduanya sangat mesra tapi sekarang lihatlah? Dinding penghalang terbentang diantara James dan Alana.
“Le-Lewis?” Alana terpekik, sungguh ia tidak menyangka putranya nekat masuk di waktu larut seperti ini.
“Waw, kalian berdua bertengkar? Sudah aku katakan Daddy, wanita muda itu hanya menyusahkan.” Diiringi tepuk tangan, Lewis tertawa dingin mencemooh pasangan suami istri di depannya.
TBC
***
semoga suka dengan alurnya kaka
ditunggu dukungannya
terima kasih banyak 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
ciber ara
weh dpt misi baru gak tu alana wmwl
2023-05-13
2
sasip
masih belum paham kenapa Alana terpaksa nikahin bpk² tua ituh.. 😅
2023-05-12
2
Embun Kesiangan
shock pastinya y, Wis (Lewis y maksudnya ✌️🤭)
2023-05-11
1