BAB 11 Menghilangkan Efek Obat

Lewis Jansen berhasil membuat ibu sambungnya menegang berkali-kali,  bahkan pria itu bangkit dari kasur, melepas ikat pinggang, meloloskan celana panjangnya ke atas lantai. Lalu kembali memenjarakan Alana. Menciumi wajah bersemu merah di bawahnya.

Namun, ketika pesta inti akan dimulai, mendadak Lewis mengingat wajah James, tatapan penuh kebencian Ayah pada anaknya.

Secepat kilat melepaskan rangkulan Alana. “Tidak Lewis, yang kau lakukan salah besar, dia milik Ayahmu. Masih banyak wanita baik-baik di luar sana. Masa bodoh dengan mu Alana.” Bergegas menggunakan pakaian kembali, sesekali melirik Alana yang begitu luar biasa tergolek di ranjang.

“Apa hidupmu hanya bisa menyusahkan orang lain, hah?” gerutu Lewis, kali ini benar-benar membantu ibu tirinya menggunakan penutup kulit, mengesampingkan rasa terbakar dalam diri.

Bahkan Lewis kesulitan mengaitkan sesuatu dibalik punggung Alana. Atensinya sama sekali tidak teralih, meskipun sentuhan-sentuhan nakal diberikan pada ceruk leher.

“Harus kah membawa pulang dalam keadaan kacau seperti ini? James pasti sukarela membantumu.” Sinis Lewis, marah pada diri sendiri. Kenapa harus menjadi lemah, menolong orang yang sangat dibencinya.

Tak buang waktu, menggendong tubuh Alana, membaringkannya di dalam jaccuzi, menyiram dengan air dingin, dimulai dari kepala hingga ujung kaki.

“Akh, apa yang kau lakukan. Ini dingin tahu, jangan seperti ini.” Alana meraung merasakan setiap tetes air dingin menusuk kulitnya.

Dia masih tetap terpengaruh oleh obat, semakin gila. Menarik tangan Lewis hingga masuk, berendam bersama, air dalam bak meluap keluar membanjiri area kering kamar mandi.

“Jangan tinggalkan aku, jangan. Tolong, aku tidak kuat lagi.” Efek obat yang diberikan sungguh luar biasa, Alana memagut brutal bibir Lewis, membengkak.

“Lepas Alana, kau sangat murahan. Aku sama sekali tidak tertarik.” Tukas Lewis, menepis tubuh Alana yang mulai mendekat, menggodanya lagi.

Tidak sampai di sini, Lewis menghubungi petugas untuk membawakan es dalam jumlah banyak, terlalu bahaya membiarkan Alana dalam keadaan tidak terkendali.

Tak mungkin juga meninggalkan sendirian, bisa bahaya jika keluar kamar lalu bertindak merugikan.

Bel pintu berbunyi

Lewis berlari, membuka pintu, meletakkan es di depan pintu, semua dia lakukan sendiri. Melarang petugas membantunya. Setiap dua box es batu di bawa ke kamar mandi, menumpahkan tepat di atas tubuh Alana.

“Dingin … dingin, kau itu kenapa?” Alana mulai gemetar, sensasi dingin hanya di permukaan kulit. Tapi rasa panas tetap menguasai diri.

Delapan boks es dituang, sama sekali tak ada perubahan signifikan. Akhirnya dia menyerah, mengeringkan tubuh Alana, menggendongnya ke kamar utama, menghubungi dokter pribadi keluarga Jansen.

Tak semudah itu, Lewis membuat perjanjian tertulis bahwa kondisi saat ini tidak akan bocor pada telinga siapapun. Tentu saja, dia tidak ingin namanya terseret kasus rendahan.

“Lew. Apa yang kau lakukan? Dia … dia ibumu kan, maksudku, ibu sambung. Kau …” belum sempat Dokter Cantik yang bernama Carol ini menyelesaikan kata-kata, satu tangan kanan Lewis membekap mulutnya.

“Diam, tugasmu mengobatinya, bukan banyak bertanya hal selain medis. Jangan lupa kode etikmu.” Tekan Lewis pada adik sepupunya yang masih satu kerabat dengan mendiang Nyonya Jansen.

Dokter Caroline menyuntikkan obat, sebelum datang, dia sempat diberitahu kondisi pasien, maka lebih dulu membawa obat-obatan.

“Terima kasih Carol.” Lewis mengantar dokter cantik itu ke depan kamar. Ya malam ini dia aman, tidak ada seorang pun yang mengetahui rencananya.

Sebelum pulang, dia putuskan mandi lebih dulu, alasannya sangat jelas. Membersihkan keringat yang menempel, mengering, juga harum aroma parfum Alana melekat kuat di kulitnya.

Di bawah guyuran shower, Lewis mengacak rambut dengan sampo, matanya memejam. Seperti yang biasa dia lakukan setiap kali keramas. Tapi, kali ini ada yang berbeda, sangat.

Bayang-bayang wajah Alana, merdunya suara yang keluar dari bibir mungil merah delima, menghantui Lewis Jansen.

“Argh … lupakan Lewis, tidak baik. Kalau kau jatuh hati kepadanya, tidak ada bedanya dengan James.” Kesal Lewis, mengakhiri kegiatannya lalu memakai pakaian bersih yang dibawa oleh Carol.

Usai memastikan kondisi Alana baik-baik saja, efek obat perangsang telah hilang. Entah kenapa satu tangannya terulur menyentuh pipi mulus istri James Jansen.

“Aku pulang Alana, jaga dirimu. Aku pulang.” Bibirnya ingin sekali melabuhkan satu ciuman di kening tapi terlalu gengsi.

Sepanjang perjalanan pulang dia terus memaki diri sendiri, menyesal menolong Alana. Bukankah niatnya merusak, menghancurkan bahkan mempermalukan Alana? Tapi kenapa hatinya begitu lemah? Sama sekali akhir yang tidak terduga.

Tiga kali rencananya menjebak Alana gagal, kali ini dirinya terjebak dalam permainan yang diciptakan atas dasar kebencian.

“Aku harus menemui psikiater.” Kata hati Lewis, mencari bantuan untuk melupakan malam yang hampir menjerumuskannya pada kesalahan fatal.

**

“Jam berapa ini?” Alana mencoba meraih ponsel yang biasa disimpan di atas meja kecil samping ranjang. Tangannya terus bergerak, menjatuhkan sesuatu, isinya berhamburan keluar.

Membuka perlahan kedua mata, menatap lekat sekeliling ruangan. “Aku di hotel? Apa meeting kemarin sampai malam? Tunggu … tunggu, hotel?” gumam Alana kebingungan, kedua netra melotot, melirik ke kanan dan kiri. Sontak dia duduk, memperhatikan betapa kacaunya isi kamar.

Alana memegang kepala, menutup wajah dengan dua telapak tangan, mengingat apa yang terjadi.

Wajah ketiga pria hidung belang tercetak jelas, bahkan mereka berani membuka pakaiannya. Alana terisak, mengintip, membuka selimut, hanya menggunakan pakaian dalam di kulitnya, banyak jejak merah.

“Awas mereka semua, tidak akan aku ampuni.” Alana meraung, menekuk kedua kaki, memeluknya erat. Ia tidak menyangka harus menyerahkan kesuciannya pada pria jahat, tidak tahu siapa yang pertama menyentuhnya.

“B-agaimana kalau aku hamil? Tidak, tidak boleh terjadi.” Menggelengkan kepala sangat cepat.

“Aku seret kalian semua ke dalam penjara, tidak ada kebebasan apapun, kejahatan harus dihukum.” Alana murka, mencengkeram selimut, tubuhnya bergetar menahan amarah yang meletup-letup.

Menyibak selimut, kaki jenjangnya turun dari atas ranjang, berjalan menuju kamar mandi. Tepat di ambang pintu, samar-samar Alana ingat sesuatu.

“Lewis?” gumamnya tersenyum tipis.

Alana menyakini, tadi malam tidak terjadi sesuatu, buktinya masih bisa berdiri tegak dan berjalan normal. Kembali memejamkan kedua mata, kepalanya berusaha terus menerus memutar memori beberapa jam lalu.

Ya Alana ingat, putra sambungnya mendobrak pintu, tiba-tiba datang memukul Kendrick, Farrel dan Sakti.

“Terima kasih Lewis, aku berhutang banyak kepadamu. Aku janji, membalas semuanya, menjaga mu sesuai janjiku.” Alana begitu beruntung memiliki malaikat penjaga, dia tidak ambil pusing kenapa dan apa putranya itu di hotel yang sama.  

Wanita cantik berkacamata ini hanya ingat aksi heroik seorang Lewis Jansen, selebihnya tidak ingat apapun. Termasuk siapa pelaku yang membuat banyak tanda di kulitnya. Tanpa Alana sadari dirinya sukses membuat putra sambungnya merasakan panas dingin, melewati malam penuh siksaan.

TBC

***

kasihan atau sebal sama Lewis?

Episodes
1 BAB 1 Satu Bulan Pernikahan
2 BAB 2 Sosok Arogan
3 BAB 3 Tidak Menerima Perubahan
4 BAB 4 Tidak Gentar
5 BAB 5 Tragedi
6 BAB 6 Sikap Dingin
7 BAB 7 Tuduhan
8 BAB 8 Tuduhan Kedua
9 BAB 9 Jebakan Terhina
10 BAB 10 Jiwa Malaikat
11 BAB 11 Menghilangkan Efek Obat
12 BAB 12 Menghindar
13 BAB 13 Keputusan Yang Salah
14 BAB 14 Karena Pekerjaan
15 BAB 15 Aku Cemburu
16 BAB 16 Perdebatan Batin
17 BAB 17 Apa Artinya?
18 BAB 18 Bukti
19 BAB 19 Marah
20 BAB 20 Orang Itu Adalah Aku
21 BAB 21 Dugaan Hamil
22 BAB 22 Cintaku Karam Sebelum Berlabuh
23 BAB 23 Aku Kakak Yang Baik
24 BAB 24 Rindu Yang Menggebu
25 BAB 25 Menepati Janji
26 BAB 26 Ayah vs Anak
27 BAB 27 Belum Bisa Jujur
28 BAB 28 Bayarlah Semua Kesalahanmu
29 BAB 29 Ternoda
30 BAB 30 Tak Bisa Ku Gapai
31 BAB 31 Tidak Akan Menceraikanmu
32 BAB 32 Jangan Tinggalkan Aku
33 BAB 33 Kegiatan Pagi
34 BAB 34 Mengikuti Debby
35 BAB 35 Selalu Memabukkan
36 BAB 36 Membalik Keadaan
37 BAB 37 Seharusnya Aku
38 BAB 38 Bukan Lewis
39 BAB 39 Terbakar Api Tak Kasat Mata
40 BAB 40 Membantu
41 BAB 41 Maafkan Aku
42 BAB 42 Hati Ke Hati
43 BAB 43 Menghilang
44 BAB 44 Memenuhi Keinginan James
45 BAB 45 Pertemuan
46 BAB 46 Pertunangan
47 BAB 47 Menyedihkan
48 BAB 48 Kenyataan
49 BAB 49 Tiada Sebelum Diketahui
50 BAB 50 Mencari
51 BAB 51 Tidak Dihargai
52 BAB 52 Kembali Berjalan Sendiri
53 BAB 53 Menyingkirkan Masa Lalu
54 BAB 54 Bukti
55 BAB 55 Cinta itu Merusak
56 BAB 56 Tidak Sebaik Yang Kau Kira
57 BAB 57 Sama-sama Sakit
58 BAB 58 Penangkapan
59 BAB 59 Memohon
60 BAB 60 Lewis Menggila
61 BAB 61 Aku Tidak Menyesal
62 BAB 62 Kejamnya Dunia
63 BAB 63 Mengamati Dari Jauh
64 BAB 64 Belanja
65 BAB 65 Terbungkus Ego
66 BAB 66 Bertahanlah
67 BAB 67 Keras Kepala
68 BAB 68 Berpikir Jernih
69 BAB 69 Harapan
70 BAB 70 Memperbaiki Keadaan
71 SUAMI KECIL MILIK BU GURU
72 Istri Terlupakan Mr Casanova
Episodes

Updated 72 Episodes

1
BAB 1 Satu Bulan Pernikahan
2
BAB 2 Sosok Arogan
3
BAB 3 Tidak Menerima Perubahan
4
BAB 4 Tidak Gentar
5
BAB 5 Tragedi
6
BAB 6 Sikap Dingin
7
BAB 7 Tuduhan
8
BAB 8 Tuduhan Kedua
9
BAB 9 Jebakan Terhina
10
BAB 10 Jiwa Malaikat
11
BAB 11 Menghilangkan Efek Obat
12
BAB 12 Menghindar
13
BAB 13 Keputusan Yang Salah
14
BAB 14 Karena Pekerjaan
15
BAB 15 Aku Cemburu
16
BAB 16 Perdebatan Batin
17
BAB 17 Apa Artinya?
18
BAB 18 Bukti
19
BAB 19 Marah
20
BAB 20 Orang Itu Adalah Aku
21
BAB 21 Dugaan Hamil
22
BAB 22 Cintaku Karam Sebelum Berlabuh
23
BAB 23 Aku Kakak Yang Baik
24
BAB 24 Rindu Yang Menggebu
25
BAB 25 Menepati Janji
26
BAB 26 Ayah vs Anak
27
BAB 27 Belum Bisa Jujur
28
BAB 28 Bayarlah Semua Kesalahanmu
29
BAB 29 Ternoda
30
BAB 30 Tak Bisa Ku Gapai
31
BAB 31 Tidak Akan Menceraikanmu
32
BAB 32 Jangan Tinggalkan Aku
33
BAB 33 Kegiatan Pagi
34
BAB 34 Mengikuti Debby
35
BAB 35 Selalu Memabukkan
36
BAB 36 Membalik Keadaan
37
BAB 37 Seharusnya Aku
38
BAB 38 Bukan Lewis
39
BAB 39 Terbakar Api Tak Kasat Mata
40
BAB 40 Membantu
41
BAB 41 Maafkan Aku
42
BAB 42 Hati Ke Hati
43
BAB 43 Menghilang
44
BAB 44 Memenuhi Keinginan James
45
BAB 45 Pertemuan
46
BAB 46 Pertunangan
47
BAB 47 Menyedihkan
48
BAB 48 Kenyataan
49
BAB 49 Tiada Sebelum Diketahui
50
BAB 50 Mencari
51
BAB 51 Tidak Dihargai
52
BAB 52 Kembali Berjalan Sendiri
53
BAB 53 Menyingkirkan Masa Lalu
54
BAB 54 Bukti
55
BAB 55 Cinta itu Merusak
56
BAB 56 Tidak Sebaik Yang Kau Kira
57
BAB 57 Sama-sama Sakit
58
BAB 58 Penangkapan
59
BAB 59 Memohon
60
BAB 60 Lewis Menggila
61
BAB 61 Aku Tidak Menyesal
62
BAB 62 Kejamnya Dunia
63
BAB 63 Mengamati Dari Jauh
64
BAB 64 Belanja
65
BAB 65 Terbungkus Ego
66
BAB 66 Bertahanlah
67
BAB 67 Keras Kepala
68
BAB 68 Berpikir Jernih
69
BAB 69 Harapan
70
BAB 70 Memperbaiki Keadaan
71
SUAMI KECIL MILIK BU GURU
72
Istri Terlupakan Mr Casanova

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!