Lewis Jansen berhasil membuat ibu sambungnya menegang berkali-kali, bahkan pria itu bangkit dari kasur, melepas ikat pinggang, meloloskan celana panjangnya ke atas lantai. Lalu kembali memenjarakan Alana. Menciumi wajah bersemu merah di bawahnya.
Namun, ketika pesta inti akan dimulai, mendadak Lewis mengingat wajah James, tatapan penuh kebencian Ayah pada anaknya.
Secepat kilat melepaskan rangkulan Alana. “Tidak Lewis, yang kau lakukan salah besar, dia milik Ayahmu. Masih banyak wanita baik-baik di luar sana. Masa bodoh dengan mu Alana.” Bergegas menggunakan pakaian kembali, sesekali melirik Alana yang begitu luar biasa tergolek di ranjang.
“Apa hidupmu hanya bisa menyusahkan orang lain, hah?” gerutu Lewis, kali ini benar-benar membantu ibu tirinya menggunakan penutup kulit, mengesampingkan rasa terbakar dalam diri.
Bahkan Lewis kesulitan mengaitkan sesuatu dibalik punggung Alana. Atensinya sama sekali tidak teralih, meskipun sentuhan-sentuhan nakal diberikan pada ceruk leher.
“Harus kah membawa pulang dalam keadaan kacau seperti ini? James pasti sukarela membantumu.” Sinis Lewis, marah pada diri sendiri. Kenapa harus menjadi lemah, menolong orang yang sangat dibencinya.
Tak buang waktu, menggendong tubuh Alana, membaringkannya di dalam jaccuzi, menyiram dengan air dingin, dimulai dari kepala hingga ujung kaki.
“Akh, apa yang kau lakukan. Ini dingin tahu, jangan seperti ini.” Alana meraung merasakan setiap tetes air dingin menusuk kulitnya.
Dia masih tetap terpengaruh oleh obat, semakin gila. Menarik tangan Lewis hingga masuk, berendam bersama, air dalam bak meluap keluar membanjiri area kering kamar mandi.
“Jangan tinggalkan aku, jangan. Tolong, aku tidak kuat lagi.” Efek obat yang diberikan sungguh luar biasa, Alana memagut brutal bibir Lewis, membengkak.
“Lepas Alana, kau sangat murahan. Aku sama sekali tidak tertarik.” Tukas Lewis, menepis tubuh Alana yang mulai mendekat, menggodanya lagi.
Tidak sampai di sini, Lewis menghubungi petugas untuk membawakan es dalam jumlah banyak, terlalu bahaya membiarkan Alana dalam keadaan tidak terkendali.
Tak mungkin juga meninggalkan sendirian, bisa bahaya jika keluar kamar lalu bertindak merugikan.
Bel pintu berbunyi
Lewis berlari, membuka pintu, meletakkan es di depan pintu, semua dia lakukan sendiri. Melarang petugas membantunya. Setiap dua box es batu di bawa ke kamar mandi, menumpahkan tepat di atas tubuh Alana.
“Dingin … dingin, kau itu kenapa?” Alana mulai gemetar, sensasi dingin hanya di permukaan kulit. Tapi rasa panas tetap menguasai diri.
Delapan boks es dituang, sama sekali tak ada perubahan signifikan. Akhirnya dia menyerah, mengeringkan tubuh Alana, menggendongnya ke kamar utama, menghubungi dokter pribadi keluarga Jansen.
Tak semudah itu, Lewis membuat perjanjian tertulis bahwa kondisi saat ini tidak akan bocor pada telinga siapapun. Tentu saja, dia tidak ingin namanya terseret kasus rendahan.
“Lew. Apa yang kau lakukan? Dia … dia ibumu kan, maksudku, ibu sambung. Kau …” belum sempat Dokter Cantik yang bernama Carol ini menyelesaikan kata-kata, satu tangan kanan Lewis membekap mulutnya.
“Diam, tugasmu mengobatinya, bukan banyak bertanya hal selain medis. Jangan lupa kode etikmu.” Tekan Lewis pada adik sepupunya yang masih satu kerabat dengan mendiang Nyonya Jansen.
Dokter Caroline menyuntikkan obat, sebelum datang, dia sempat diberitahu kondisi pasien, maka lebih dulu membawa obat-obatan.
“Terima kasih Carol.” Lewis mengantar dokter cantik itu ke depan kamar. Ya malam ini dia aman, tidak ada seorang pun yang mengetahui rencananya.
Sebelum pulang, dia putuskan mandi lebih dulu, alasannya sangat jelas. Membersihkan keringat yang menempel, mengering, juga harum aroma parfum Alana melekat kuat di kulitnya.
Di bawah guyuran shower, Lewis mengacak rambut dengan sampo, matanya memejam. Seperti yang biasa dia lakukan setiap kali keramas. Tapi, kali ini ada yang berbeda, sangat.
Bayang-bayang wajah Alana, merdunya suara yang keluar dari bibir mungil merah delima, menghantui Lewis Jansen.
“Argh … lupakan Lewis, tidak baik. Kalau kau jatuh hati kepadanya, tidak ada bedanya dengan James.” Kesal Lewis, mengakhiri kegiatannya lalu memakai pakaian bersih yang dibawa oleh Carol.
Usai memastikan kondisi Alana baik-baik saja, efek obat perangsang telah hilang. Entah kenapa satu tangannya terulur menyentuh pipi mulus istri James Jansen.
“Aku pulang Alana, jaga dirimu. Aku pulang.” Bibirnya ingin sekali melabuhkan satu ciuman di kening tapi terlalu gengsi.
Sepanjang perjalanan pulang dia terus memaki diri sendiri, menyesal menolong Alana. Bukankah niatnya merusak, menghancurkan bahkan mempermalukan Alana? Tapi kenapa hatinya begitu lemah? Sama sekali akhir yang tidak terduga.
Tiga kali rencananya menjebak Alana gagal, kali ini dirinya terjebak dalam permainan yang diciptakan atas dasar kebencian.
“Aku harus menemui psikiater.” Kata hati Lewis, mencari bantuan untuk melupakan malam yang hampir menjerumuskannya pada kesalahan fatal.
**
“Jam berapa ini?” Alana mencoba meraih ponsel yang biasa disimpan di atas meja kecil samping ranjang. Tangannya terus bergerak, menjatuhkan sesuatu, isinya berhamburan keluar.
Membuka perlahan kedua mata, menatap lekat sekeliling ruangan. “Aku di hotel? Apa meeting kemarin sampai malam? Tunggu … tunggu, hotel?” gumam Alana kebingungan, kedua netra melotot, melirik ke kanan dan kiri. Sontak dia duduk, memperhatikan betapa kacaunya isi kamar.
Alana memegang kepala, menutup wajah dengan dua telapak tangan, mengingat apa yang terjadi.
Wajah ketiga pria hidung belang tercetak jelas, bahkan mereka berani membuka pakaiannya. Alana terisak, mengintip, membuka selimut, hanya menggunakan pakaian dalam di kulitnya, banyak jejak merah.
“Awas mereka semua, tidak akan aku ampuni.” Alana meraung, menekuk kedua kaki, memeluknya erat. Ia tidak menyangka harus menyerahkan kesuciannya pada pria jahat, tidak tahu siapa yang pertama menyentuhnya.
“B-agaimana kalau aku hamil? Tidak, tidak boleh terjadi.” Menggelengkan kepala sangat cepat.
“Aku seret kalian semua ke dalam penjara, tidak ada kebebasan apapun, kejahatan harus dihukum.” Alana murka, mencengkeram selimut, tubuhnya bergetar menahan amarah yang meletup-letup.
Menyibak selimut, kaki jenjangnya turun dari atas ranjang, berjalan menuju kamar mandi. Tepat di ambang pintu, samar-samar Alana ingat sesuatu.
“Lewis?” gumamnya tersenyum tipis.
Alana menyakini, tadi malam tidak terjadi sesuatu, buktinya masih bisa berdiri tegak dan berjalan normal. Kembali memejamkan kedua mata, kepalanya berusaha terus menerus memutar memori beberapa jam lalu.
Ya Alana ingat, putra sambungnya mendobrak pintu, tiba-tiba datang memukul Kendrick, Farrel dan Sakti.
“Terima kasih Lewis, aku berhutang banyak kepadamu. Aku janji, membalas semuanya, menjaga mu sesuai janjiku.” Alana begitu beruntung memiliki malaikat penjaga, dia tidak ambil pusing kenapa dan apa putranya itu di hotel yang sama.
Wanita cantik berkacamata ini hanya ingat aksi heroik seorang Lewis Jansen, selebihnya tidak ingat apapun. Termasuk siapa pelaku yang membuat banyak tanda di kulitnya. Tanpa Alana sadari dirinya sukses membuat putra sambungnya merasakan panas dingin, melewati malam penuh siksaan.
TBC
***
kasihan atau sebal sama Lewis?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments