Hari ini Lewis dan Alana kembali pulang ke ibu kota, hubungan keduanya semakin erat, kompak dan tak terpisahkan. Bagi siapapun yang melihat pasti menyangka bahwa dua orang itu sepasang kekasih atau suami istri.
Dalam pesawat pun Alana menempel di lengan putra sambungnya, perhatian yang diberikan Lewis membuat hati wanita ini tersipu malu.
Suatu hal baru diterima dari seorang pria, selama ini James hanya menyayangi Alana selayaknya anak perempuan, meski status James sebagai suami.
“Kau yakin kita langsung pulang? Mau jalan-jalan dulu, hem?” tanya Lewis sembari mengacak rambut rapi Alana, entah mengapa menghabiskan waktu lebih dari dua minggu secara bersama sangat menyenangkan.
Alana begitu berbeda dari penilaian Lewis Jansen. Perempuan cantik, lembut, penyayang, tegas dan cerdas.
Menurut Lewis, Alana sangat mirip dengan mendiang Nyonya Besar Jansen.
“Mungkin itu alasan James menikahi mu, Al. Seandainya kita bertemu lebih awal …” batin Lewis menyesali kepergiannya ke luar negeri selama bertahun-tahun.
“Tidak, banyak meeting tertunda. Besok kamu masuk kantor atau libur? Kalau boleh saran, sebaiknya temani aku handle rekanan dari Kanada, bagaimana?” Alana sendiri kesulitan mengatasi pekerjaan menumpuk. Sadar akan kapasitasnya sebagai wanita yang harus mengurusi keperluan Ayah serta adik-adiknya.
“Oke, kirim semua materi ke email ku. Perintahkan Alvaro jangan menguntit kamu, tapi dia harus kerja denganku.” Selain kepada James, dia juga sangat marah bila Alvaro memberi perhatian lebih, semua sikapnya bukan sebagai asisten pada Bosnya tetapi sebagai pria kepada wanita.
Pesawat komersil yang ditumpangi Alana dan Lewis tiba pukul tiga sore, keduanya langsung dijemput oleh sopir pribadi keluarga Jansen.
Selama perjalanan Alana tak henti mengoceh masalah pekerjaan, dan tanpa dia tahu sosok pria yang duduk tepat di sampingnya begitu terpesona akan kecerdasan Alana Pattinson. Wanita muda, cerdas dan menguasai bisnis JSN Group sangat cepat.
Alana masih terus membahas beberapa materi yang akan disajikan esok hari, bahkan masuk ke dalam rumah pun fokusnya seputar meeting.
Keduanya terlihat sangat akrab, pria tua yang melihat dari lantai dua tersenyum. Usahanya tidak sia-sia menyatukan putra tunggal dan istrinya dalam perjalan bisnis, terbukti hubungan diantara mereka semakin baik.
“Aku tahu Alana, kau bisa merubah putraku menjadi lebih baik. Aku bangga kepadamu.” Ucap James dalam hati seraya mengelus dada. James semakin yakin dengan kekompakan Alana dan Lewis, maka Debby bisa disingkirkan sangat mudah.
“Alana, kemari! Aku merindukanmu. Ku tunggu di kamar.” James tersenyum hangat, melambaikan tangan ke istri mudanya.
“Ah, Lewis maaf. Aku ke kamar dulu ya. Selamat istirahat.” Alana meninggalkan putra sambungnya di lantai satu, wanita ini berjalan menapaki anak tangga dengan wajah berseri.
Manik biru masih setia memperhatikan sosok cantik nan menggoda pergi menjauh. Lewis hanya bisa menahan amarah melihat wanita yang sukses menyentuh hatinya masuk ke kamar James.
“Argh … lupakan, ini tidak benar. Dia ibumu, ah salah wanita itu tidak layak kau cintai. Berhenti memikirkannya.” Ia tahu apa yang akan terjadi di dalam sana. Susah payah Lewis menyingkirkan rasa cemburu.
Kamarnya berada di lantai dua, dan Lewis tidak henti menatap marah ke pintu kamar James. Malam menggairahkannya bersama Alana terus menerus berputar, kali ini pemeran pria berubah menjadi James.
“Sial. Alana, kau begitu merindukan suamimu itu kah? Sampai mengabaikan aku yang sudah menemani selama dua minggu.” Batin Lewis tidak rela ayahnya menikmati kemolekan Alana.
Sedangkan dalam bilik lain. Berbeda dari apa yang Lewis pikirkan, Alana melaporkan segala kegiatan bisnis termasuk orang yang mendadak menyerangnya.
Dia pun masuk ke ruangan tersembunyi, yang selama ini menjadi kamarnya. Jangankan tidur satu ranjang, saling membelai pun tidak pernah terjadi diantara sepasang suami istri kontrak itu, menikah atas dasar keuntungan masing-masing.
“Tapi kenapa kamar ini berubah tidak nyaman? Aku lebih menyukai hotel.” Gumam Alana, menghela napas. Memejamkan kedua mata, tiba-tiba kenangan indahnya bersama Lewis muncul begitu saja.
“Eh, kenapa jadi memikirkan anak itu?” Semakin disingkirkan, bayang-bayang Lewis terpatri kuat.
“Alana dia itu Putra Tuan James, aku tidak boleh memiliki hubungan dengannya. Publik tahu kalau aku ibu sambungnya. Mungkin aku menyayangi Lewis sebagai seorang kakak.” Alana menepis semua benih-benih perasaan terhdap Lewis Jansen.
Sementara di kamar, Lewis melampiaskan amarah, hancur sudah perasaannya. Dia membayangkan bagaimana panasnya kamar itu dengan kegiatan James dan Alana. Suara merdu Alana menghantui gendang telinga dan otak pria tampan berhidung mancung ini.
Lewis Jansen mengepalkan kedua tangan, meninju dinding hingga merusak kran air, “Argh ada apa denganmu ini?” geram Lewis berusaha menutup saluran air yang kini membanjiri kamar mandi.
“Terserahlah, aku tidak peduli.” Membanting handuknya ke lantai dan masuk walk in closet, menyambar asal pakaian santai. Kemudian keluar kamar mencari udara segar, namun Patricia menggoda Lewis, tidak pernah jera sepupu tirinya untuk meraih simpatik.
“Hi Lew, aku dengar kamu baru pulang perjalanan bisnis. Ada kesulitan? Kamu bisa ke kamarku kapanpun, pintunya tidak pernah aku kunci, mungkin kamu membutuhkan bantuanku.” Patricia tersenyum licik, dia akan berusaha meraih perhatian bahkan hati kakak sepupunya.
Tapi sangat disayangkan, upaya Patricia buntu. Lewis Jansen sama sekali tidak tertarik akan tawaran rendahan. Dia memilih ke dapur mengambil jus dalam lemari pending.
“Dasar kutub selatan, lihat saja kau pasti bertekuk lutut di bawah kakiku.” Tidak menyerah, Patricia Jansen pura-pura jatuh ke kolam berenang dan tenggelam menjadi ide brilian petang ini.
“Ah Kak, tolong aku. Kaki … kakiku sakit. To …” kalimat Patricia terputus sebab tubuhnya tak lagi tampak di permukaan.
“Bukankah anak itu mahir berenang, malas sekali maladeni trik murahan.” Lewis masih santai meneguk jus hingga tandas. Namun dia mengintip ke pintu kaca, tidak ada siapapun di kolam berenang. Atas dasar kemanusiaan Lewis menolong sepupunya.
BYUR
Lewis membopong tubuh lemas Patrcia, membaringkannya di tepi kolam. “Bangun Patrcia, kau ini juara nasional berenang, aku tidak bodoh. Cepat bangun.” Lewis menggunakan kakinya menyentuh adik sepupu tirinya.
Namun tidak ada pergerakan sama sekali, Lewis berjongkok memeriksa denyut nadi, lemah. Menghapus rasa kesal, dia sudah siap menolong adik sepupunya.
Bertepatan dengan itu, Alana yang melihat kejadian di pinggir kolam, mengepalkan tangan. Sinyal negatif muncul, jujur saja cemburu memenuhi relung hati Alana.
“STOP, biar aku yang membantu. Dulu di Inggris, aku ikut kelas pelatihan CPR.” Alana melangkah, mendekati Lewis. Dia tahu bahwa Patricia hanya berakting, tanpa sengaja menangkap pergerakan tangannya begitu pelan.
“Minggir kamu, sebaiknya ganti baju. Sebentar lagi gelap, angin malam tidak bagus, kamu juga lelah baru pulang.” Perhatian Alana, sekaligus meradang atas sikap keponakan suaminya. Dia menyingkirkan Lewis dari sisi Patricia dan melakukan pertolongan pertama.
TBC
***
Tim Lewis Alana atau James Alana?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
ciber ara
nabung dulu biar mantap bacanya 😋
2023-05-13
1