“Apa? Katakan di mana putraku sekarang juga? Pastikan jangan sampai terjadi sesuatu padanya, kalian mengerti?” James membanting ponsel. Dia marah mendengar kabar kalau Lewis Jansen terluka, demi apapun James sangat menyayangi buah hatinya. Walau sudah besar, rasa cintanya pada Lewis tidak akan pernah berubah.
“Bawa aku ke bawah, aku ingin menunggu putraku kembali.” Perintah James pada seorang perawat. Pria tua ini tidak tahu, jika anaknya terluka karena melindungi Alana. Maka dari itu tidak ada rasa khawatir sama sekali terhadap istri mudanya.
Sebelum pesta penyambutan saja nyawa keturunannya dalam bahaya apalagi setelah semua orang tahu bahwa Lewis telah kembali, James cemas akan keselamatan putra tunggalnya itu. Sebab selain Debby masih ada beberapa keluarga lain yang mengincar posisi Lewis sebagai presiden direktur.
“Di mana mereka? Kenapa belum kembali juga?” James Jansen selalu menatap pada pintu gerbang tinggi, berharap segera terbuka. Hingga dua jam lamanya tak kunjung datang, pria tua ini memutuskan keluar sendiri mencari keberadaan Lewis Jansen.
Berselang sepuluh menit tepatnya sebelum James masuk mobil, kendaraan roda empat milik Patricia memasuki gerbang utama. Semua pengawal dan pelayan menyambut Tuan Muda mereka.
“Ck Pak Tua itu berlagak perhatian, sejak kapan dia menyayangiku sebagai putranya, hah?” Lewis menatap malas, sikap James benar-benar menggelikan. Padahal selama ini Ayahnya selalu keras seolah dia bukanlah keturunan Jansen.
“Sudahlah Lewis, Paman memang menyayangimu. Kamu harus tahu itu, jangan marah lagi ya, Paman sudah tua.” Kata-kata Patricia, sedikit iba pada kakak sepupu sekaligus Pamannya.
Ayah dan anak itu kerap berperang dingin dan yah kalimat yang keluar dari bibirnya sukses menarik perhatian Lewis Jansen.
“Yes, akhirnya. Jalanku untuk mendapatkan hati seorang Lewis terbuka lebar.” Bahagianya hati Patricia. Menjadi Nyonya Jansen adalah cita-citanya, sejak kecil dia memang menyukai Lewis, tapi sayang tak pernah ada ruang di hati Lewis. Pria itu terlalu mencintai mendiang Nyonya Besar Jansen.
Tuan Muda Jansen turun dari mobil dibantu dua orang pria, tapi putra tunggal James menolak sentuhan dari orang lain. Menegakkan tangan serta berjalan mendekati Ayahnya.
“Apa yang terluka Lewis? Pengawal bilang kau …”
Lewis menyela percakapan, dia bukan lagi bayi yang membutuhkan perhatian kecil.
“Luka ringan, tidak penting. Sebaiknya kau istirahat, jangan memedulikan apapun tentangku.” Tegas Lewis semakin membenci James memilih wanita pendamping hidup yang salah.
Bertepatan dengan turunnya Patricia dari dalam mobil, kendaraan Alvaro memasuki pelataran rumah.
Alana bergegas menghampiri Lewis, sungguh ia merasa bersalah, padahal nyawanya terselamatkan. Kenapa bisa melupakan sosok putra sambungnya?
“Lewis bagaimana keadaanmu? Aku dengar punggungmu berdarah, benarkah?” panik Alana memindai tubuh pria jangkung itu dari atas ke bawah. Terlihat sekali wajah tampan di depannya pucat pasi. “Maafkan aku, Lewis.” Cicit Alana, benar-benar gagal menjadi ibu yang baik.
Tanpa menunggu jawaban dan persetujuan putranya, Alana meraih tangan Lewis, melingkarkan ke lehernya. Berniat membantu masuk ke dalam, tapi anak tiri itu cukup kejam menepis tubuh wanita hingga limbung dan nyaris terjatuh.
“Perhatikan saja dirimu sendiri Alana.” Sarkas Lewis melirik dengan ekor mata, enggan berhadapan secara langsung dengan Alana.
“Hey sepupu. Jangan diam saja bantu kakakmu berjalan masuk.” Panggil Lewis pada Patricia yang berdiri di belakang Alvaro.
“Aku, Lewis? Baik, baik. Kamu tunggu di sana.” Patricia menerobos ke tengah antara Lewis dan Alana. Nasib baik menaungi dirinya, memanfaatkan sebaik mungkin untuk menjalin hubungan dengan kakak sepupu.
Alana menarik napas, yakin bahwa Lewis salah paham apalagi James, semakin berat bebannya di rumah ini dengan masalah berdatangan silih berganti.
“Varo terima kasih, aku masuk dulu ya.” Tujuan Alana pertama kali adalah kamar suaminya, harus siap menghadapi pedasnya mulut James.
“Tuan?” panggil Alana menunduk, mendekati suami tuanya yang duduk menyandar di atas ranjang.
“Hem ya?” tanggapan dingin semakin menambah ketegangan dan aura menyeramkan.
“Maaf, ini semua salah ku, Tuan.” Cicit Alana, dia mempersiapkan diri akan mendapat hukuman dari kelalaiannya memperhatikan Lewis.
“Jelaskan kronologinya Alana!” titah James langsung menutup buku bisnis, menyimpan kacamata di atas nakas dan fokus menghadap Alana.
Wanita cantik ini mulai mengingat kejadian rinci sebelum ledakan akibat korsleting kabel. Pandangan Alana lurus ke depan, hanya ada wajah Lewis, betapa paniknya pria itu, secepat kilat memeluk dan membenamkan kepala Alana pada dada bidangnya. “Kamu jahat Al. Melupakan kebaikannya.” Sesal Alana dalam hati.
Beruntungnya James langsung menangkap bahwa ada seseorang yang ingin mencelakai istrinya, dia yakin bukan pesaing bisnis melainkan orang terdekat.
“Sudahlah, sekarang kamu mandi dan lihat keadaan putraku!” selepas Alana masuk kamar mandi. James segera menghubungi orang kepercayaan untuk menyelidiki siapa dalang dari tragedi hari ini.
Malam ini juga Alana harus minta maaf pada Lewis, dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban sama sekali, bahkan mengulang sampai 5 kali masih tetap sama. Dilanda kecemasan berlebihan, Alana menerobos masuk, terhenyak mendapati putra sambungnya terlelap tidur.
“Lewis, maafkan aku.” Lirih Alana dari kejauhan, tidak ingin mengganggu waktu tidur, Alana membalik tubuh dan melangkahkan kaki. Namun Lewis mengigau, tubuhnya pun demam, dipenuhi bulir keringat sebesar biji jagung.
“Mom ... Mom jangan pergi. Aku mohon, Mom. Mommy.” Tangannya terulur berusaha menggapai sesuatu.
Alana merasa iba, dia menangis melihat luka begitu dalam tersimpan di dalam putra sambungnya. Mungkin ini alasan Lewis tidak bersikap baik pada siapapun. Sejenak rasa kesal dan kebencian menguap, menghilang berganti dengan kasih sayang.
Sebagai permohonan maaf dan menebus kesalahan, Alana merawat Lewis semalaman penuh, membantu menyeka tubuh kekar anaknya. Tanpa sadar terlelap hingga pagi di sisi ranjang.
.
.
Lewis Jansen terbangun pagi hari, merasa tubuhnya menjadi lebih baik. Padahal sebelum tidur luka di punggung begitu nyeri dan kepalanya berdenyut, hingga beberapa benda berubah menjadi dua.
Namun pria ini dikejutkan dengan sosok wanita cantik, tidur dalam keadaan duduk memegang kain handuk dan mangkuk besar berisi air.
“Ck ingin mengambil simpati ku? Tidak mudah Alana, percuma.” Lewis turun dari kasur, tidak peduli ibu tirinya merasa nyaman atau tidak. Pria ini berhati keras melebihi batu, tidak tersentuh sedikitpun dengan kebaikan Alana.
Lewis merapikan penampilan sebelum berangkat ke kantor, sembari mengikat dasi memperhatikan seksama wajah cantik ibu tirinya.
Bukan jatuh hati melainkan bertambah benci, dia yakin Alana menggunakan parasnya untuk memikat pria tua kaya raya seperti James untuk meraup semua harta.
“Nona Muda Pattinson yang licik, tapi maaf aku tidak akan melepaskan mu begitu saja Alana, kau harus mendapat pelajaran.” Seringai licik Tuan Muda Jansen, sebelum keluar kamar dia menghubungi seseorang.
Ya Lewis Jansen memiliki niat jahat untuk mempermalukan Alana tepat di malam pesta penyambutan.
TBC
***
Boleh ya berbagi jempol dan subscribe-nya kaka🙏😁😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments