Mona tanpa rasa malu memanfaatkan Intan untuk berbelanja semua yang dia butuhkan. Hampir seluruh outlet di lantai dua mall ini mereka berdua masuki hanya untuk memenuhi keinginan Mona. Smeentara Intan sendiri hanya membeli beberapa barang saja, seperti kosmetik dan pakaian.
"Kamu tidak membeli perlengkapan bayi, Intan? Cicil-cicil dari sekarang tidak ada salahnya, kan?" tanya Mona yang di tangan kanan kirinya sibuk memegang tas belanjaan bermerk.
"Malas!" jawab Intan singkat. Wanita itu tampak enggan membicarakan soal kehamilan dengan sang tante. Keduanya kemudian melangkah masuk ke dalam oulet pakaian dan tas ternama lainnya.
"Bukannya kita sudah membeli tas dan pakaian, Tan?" tanya Intan.
Mona meringis sembari menatap Intan penuh harap. "Itu kan, merek lain, Sayang, sedangkan Tante ingin juga membeli yang ini. Boleh, kan?" katanya dengan raut wajah memelas.
Intan terdiam sejenak, sebelum kemudian menghela napasnya. "Oke, baiklah!"
Mona berseru senang. Wanita itu pun memeluk tubuh sang keponakan yang sedang berbadan dua dengan penuh sayang. "Kamu memang yang terbaik!" pujinya. Mona pun masuk ke dalam outlet sendirian, sementara Intan meminta izin untuk ke toilet sebentar sekaligus beristirahat. Kondisinya yang sedang hamil membuat wanita itu cukup kelelahan mengikuti stamina Mona.
"Jangan lama-lama Intan, Tante tidak mungkin berlama-lama belanja di sini!" seru Mona.
Intan hanya menganggukkan kepala sembari berlalu pergi. Toilet yang dikunjungi wanita itu hanya berjarak tiga outlet saja dari tempat Mona. Saat Intan hendak berbelok menuju lorong toilet, tiba-tiba seorang pria menabrak dirinya.
Intan nyaris saja terjerembab ke lantai, jika tangan pria itu tidak dengan sigap menahan tubuhnya yang sedang hamil.
"Intan?" sapa pria itu dengan raut wajah terkejut.
Intan yang bertemu pandang dengan pria asing tersebut, sontak terkejut mendapati wajah familiar yang selama ini dihindarinya. Secapat kilat Intan melepaskan dan menjauhkan diri dari pria itu.
"Yeah, kau Intan, bukan?" tanya si pria bertubuh tinggi kurus berwajah blasteran dengan beberapa tindikan di sekitar wajahnya.
Intan tertunduk guna menghindari tatapan si pria asing tersebut ke wajahnya. Namun, si pria dengan kurang ajar malah mengangkat dahu Intan. "Wow, kau benar-benar Intan!" serunya sambil tertawa. Mata sang pria kemudian teralih pada perut buncit Intan dan penampilannya yang mentereng bak orang kaya.
"Wow, wow, wow, penampilanmu sangat berbeda Sayang, kau terlihat begitu cantik dan glamour! Jangan-jangan kau berhasil menjadi nyonya bagi pria itu? Dan, lihat perut buncit itu, kau bahkan b—"
"Intan itu kok lama sekali, sih? Aku kan, tidak mungkin menunggu lebih lama lagi, malu d —" Mona yang berniat datang ke toilet untuk menyusul keponakannya, seketika terdiam mematung dengan wajah horor.
"Steve!" pekik Mona.
Mendengar namanya disebut, pria bermata biru itu sontak mengalihkan pandangannya pada Mona. Dengan wajah sumringah, dia pun memuji kecantikan Mona.
"Wow, Aunty Mona juga sangat berubah ya? Kehidupan kalian, terutama Intan, pasti sudah sangat berkecukupan ya? Bisa dilihat dari penampilan kalian dan ...." Steven berjalan mengelilingi kedua wanita itu seraya bertepuk tangan. "Pantas saja kau sulit ditemui, Intan."
Sedetik kemudian, Steven tiba-tiba mendekatkan diri ke wajah Intan dan berbisik, "sekarang katakan padaku, di mana tempatmu tinggal saat ini!"
Intan terdiam. Kepalanya mendongak guna menatap Dingin wajah pria brengsek itu. Namun, bukannya merasa terintimidasi oleh sikap Intan, Steve malah tertawa terbahak-bahak.
Saat dia hendak menyentuh Intan kembali, Mona secepat kilat menjauhkan wanita itu dengannya dan mengancam Steve agar tidak muncul lagi di hadapan Intan.
"Kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Intan, Steve! Hubungan kalian sudah lama berakhir! Biarkan Intan bahagia dengan keluarga barunya!" tegas Mona.
Steve tersenyum tipis lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, baiklah, terserah saja. Namun, ingat, hubungan aku dan Intan tidak pernah benar-benar selesai." Bermaksud meledek, Steve juga mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seraya berjalan melewati mereka. Akan tetapi, begitu Steve sampai di sebelah Intan, pria itu berbisik kecil.
"Semoga suamimu tidak bodoh dan ikut terjebak oleh tipuanmu, seperti yang kau lakukan padaku!"
Intan terdiam lama. Tangannya tanpa sadar mengepal kuat, hingga Mona dengan hati-hati menenangkan dirinya.
...**********...
Adelia baru saja tiba di rumah ketika Ratna tiba-tiba melempar setumpuk pakaian kotor ke wajahnya. Wanita yang baru saja membuka pintu kamar tersebut sempat terhuyung saat mendapat serangan dadakan sang ibu mertua.
"Enak betul kamu, keluyuran dari pagi dan baru pulang malam begini!" sentak Ratna. "Sekarang cuci semua pakaian yang ada menggunakan tangan!" titahnya kemudian.
"Ma, aku bukannya keluyuran, tetapi ke rumah orang tuaku, Ma," jawab Adelia pelan.
"Alaaaah sama saja! Sekarang cuci semua pakaian yang ada dan jangan tidur sebelum semua pakaian itu bersih!" teriak Ratna. "Terus, mana uangku?" kata wanita itu.
"Ma, aku cuma punya pinjaman sepuluh juta, sisanya akan kuberikan nanti, tapi aku butuh waktu." Adelia bergegas merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat pemberian Dinda. Amplop tersebut berisi uang tabungan Dinda sebanyak sepuluh juta.
Ratna merampas uang tersebut dari tangan Adelia lalu berkata, "uang dua puluh juta bisa kamu lunaskan dengan cara lain," katanya seraya memasang senyum misterius.
"Maksud Mama?" tanya Adelia yang tidak mengerti.
"Ya, karena aku sedang berbaik hati jadi uang sisanya bisa kamu lunaskan dengan cara lain.
"Apa Ma?" tanya Adelia lagi.
Ratna terdiam sejenak lalu menatap Adelia dengan senyum sinis. "Besok aku akan beritahu! Sekarang lakukan tugasmu! Awas saja kalau kamu tidak menyelesaikannya malam ini juga!"
Setelah berkata demikian, Ratna pun pergi seraya bersenandung kecil. Sepertinya dia memilikicara lain untuk menyiksa Adelia dengan dalih melunasi hutang-hutangnya.
Adelia sendiri hanya bisa pasrah. Setelah mandi dan berganti pakaian, wanita itu bergegas menuju ruang laundry. Bisa terlihat dua tumpuk besar cucian kotor yang ada di sana.
Adelia menghela napas. Ratna pasti menyuruh asisten rumah tangganya untuk tidak menyentuh semua pakaian kotor tersebut agar Adelia mengerjakannya sendirian. Alhasil, Keinginan Adelia untuk beristirahat di kamar terpaksa harus ditunda, bahkan mungkin dia tidak akan tidur untuk malam ini.
Sementara itu, sebuah mobil sedan mewah memasuki perkarangan rumah keluarga Kencana. Intan sang pengemudi mobil tak langsung turun dari sana. Wanita itu terlihat sangat frustrasi. Berkali-kali dia menggeram kesal seraya memukul-mukul setir mobilnya.
"Baajiinggaan tengik! Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu hidupku, breengsseeek!" umpat Intan kesal. Wanita itu tiba-tiba menatap tajam nan bengis bangunan mewah yang ada di depan matanya, sembari bergumam dengan suara nyaris tidak terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
S
Steve palingan yg jadi ayah dr anak yg di kandung Intan kasihan wisnu dan mamhnya sdh terlanjur mengharu biru begitu tahu tahu prank .😁
2023-07-11
0