Aini yang sedang menyapu pekarangan rumah, dikejutkan oleh kedatangan putri bungsunya yang baru muncul setelah beberapa waktu berlalu.
Sambil melangkah tertatih, wanita itu menyambut kedatangan sang putri kesayangan dengan sebuah pelukan hangat. "Kenapa kamu baru main ke sini, Nak?" tanya Aini dengan suara bergetar. Dia memang selalu mengkhawatirkan Adelia, meski mereka rajin saling mengabari melalui pesan singkat.
"Maaf, Bu, aku harus menemani Mas Wisnu yang sedang libur," jawab Adelia.
Mendengar jawaban sang putri, Aini memandang wajah Adelia dengan saksama. 'Kamu dan Wisnu baik-baik saja, kan? Hubungan kalian tidak memburuk, kan?" Rentetan pertanyaan lantas keluar dari mulut wanita itu.
Adelia tersenyum tipis. "Tentu saja, Bu. Intan juga wanita yang baik," jawabnya.
Aini terdiam. "Wanita baik-baik tidak akan bermain dengan suami orang, Nak!"
Helaan napas keluar dari mulut Adelia. "Bu ...."
Seolah mengerti, Aini pun merangkul tangan Adelia dan menuntunnya ke dalam rumah. "Ya sudah, ayo ke dalam. Mbakmu sudah cerewet sekali ingin bertemu denganmu."
Begitu sampai di dalam rumah, Adelia tidak bisa menahan tawa kecilnya saat mendapati Tiwi tengah asyik menorehkan bedak tabur di wajah ibunya. Ternyata mereka berdua sedang memainkan permainan congklak. Permainan sederhana menggunakan biji kerang asli atau pun plastik.
"Jangan banyak-banyak dong, Nak! Mami kelilipan nanti!" protes Dinda.
"Nggak Mamiii, ini tuh sedikiiiit!" sahut Tiwi dengan suara yang lama-lama mengecil.
Hati Adelia menghangat seketika. Suasana rumah yang nyaman dan menenangkan begitu memantik rasa iri Adelia untuk tinggal di sana. Namun, apa daya, dia harus tinggal di keluarga kaya tetapi gemar menyakitinya. Tak ada kedamaian dalam hidup Adelia selama tinggal di sana, terlebih setelah kehadiran madunya tersebut.
"Adel!" Dinda yang kebetulan duduk berhadapan dengan pintu masuk, tiba-tiba terkejut melihat sosok adik satu-satunya di sana. Wanita bertubuh sintal itu bergegas bangkit dari posisinya untuk menghampiri sang adik.
"Bunda!" Tiwi yang tidak mau kalah lantas berlari mendahului sang ibu, untuk memeluk bundanya tersebut.
"Bunda kok baru datang ke sini, Tiwi kangen loh!" kata gadis kecil cantik yang baru saja melepaskan pelukannya.
"Maaf ya, Sayang, Bunda kemarin-kemarin harus menemani Uncle Wisnu," jawab Adelia tersenyum.
"Memangnya Uncle Wisnu ngapain sampai harus ditemani?" dengan wajah polos, Tiwi kembali menanyakan maksud perkataan Adelia.
Mendengar itu, Adelia meringis.
"Tiwi, main sama Mbak Jenar di rumahnya ya? Mami mau bicara sama Bunda ... dilarang bertanya, ini urusan orang dewasa!' secepat kilat Dinda menambahkan kalimat terakhirnya saat Tiwi hendak membuka mulut. Alhasil, Tiwi pun merapikan congklak miliknya sebelum pergi meninggalkan rumah, menuju ke rumah tetangganya.
"Padahal aku, kan, mau main sama Bunda!" keluh Tiwi.
"Nanti sore kita main, oke?"
Mendengar perkataan Adelia, Tiwi dengan semangat menganggukkan kepala.
Ketiganya pun duduk di ruang televisi yang juga dijadikan ruanga tamu dan ruang makan. Kendati rumah tersebut mungkin hanya seukuran kamar pribadi Wisnu, tetapi ada banyak kehangatan yang terjalin di sana.
"Mas Doni kerja Mbak?" tanya Adelia.
"Iya, lagi ambil kerjaan di Bandung. Besok juga balik." Mereka bercerita ringan soal kegiatan satu sama lain. Sebelum kemudian jam makan siang pun tiba.
Tak seperti biasanya, Adelia meminta izin untuk tidak ikut ke warung bersama sang ibu. "Aku di sini seharian kok, Bu, jadi nanti pulang masih ketemu Bapak," ucap wanita itu ketika sang ibu menanyakan alasannya.
"Oh, begitu, baiklah. Makanan ada di dapur, kalian jangan lupa makan dulu ya?" titah Aini sebelum berlalu meninggalkan rumah.
Adelia dan Dinda menganggukkan kepala. Saat dirasa sang ibu sudah pergi, Dinda pun mulai bersuara. "Ada apa? Kalau kamu lagi nggak mau ikut, pasti ada yang mau diceritakan," terkanya.
Adelia terdiam sejenak. "Mbak, tapi Mbak janji jangan pernah berkata apa pun ke ibu sama bapak. Aku nggak mau mereka khawatir dan salah paham."
Dinda mengerutkan kening. "Sepertinya hal ini cukup gawat. Ada apa sih? Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Dinda seraya memicingkan mata.
"Mbak, janji dulu!" desak Adelia.
Dinda mengembuskan napasnya. "Baiklah, Mbak janji nggak akan bilang ibu sama bapak! Sekarang, apa yang mau kamu ceritakan sama Mbak," ujarnya.
Adelia terlihat gamang. Wajahnya menyiratkan ketidakyakinan untuk bercerita. Dia tahu benar, Dinda orang yang sangat tempramen jika menyangkut dengan keluarga Wisnu, terutama Ratna. Namun, wanita itu sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa, sebab dia tidak memiliki koneksi dengan orang banyak.
Adelia tidak mungkin tiba-tiba menghubungi teman lamanya hanya untuk meminta tolong hal yang sangat sensitif ini.
"Del!" tegur Dinda.
Adelia menggigit bibirnya. "Mbak, aku ...."
Dinda yang tidak sabaran pun berdecak. "Kamu kayak gini malah Mbak bocorin nih ke bapak sama ibu, biar sekalian mereka yang mendesak!"
Mendapat ancaman demikian, Adelia pun melarang. Alhasil dengan nada takut-takut, dia pun menceritakan masalah beberapa hari lalu yang terjadi antara dirinya dan Ratna.
Seperti yang sudah bisa ditebak, Dinda dengan spontan meneriakan kata-kata kasar untuk Ratna. Wanita itu marah sejadi-jadinya mendapati cerita Adelia, terutama uang ganti rugi yang harus dibayar sang adik.
"Mertua mana yang berlaku demikian pada menantunya. Dasar nenek tua siaallaaan! Del, Mbak nggak mau diam terus. Ayo, sekarang kita temui mertuamu, biar Mbak jambbaak mulutnya sekalian!" Dinda dengan kasar menarik tangan Adelia. Namun, Adelia menahannya.
"Mbak, please, aku nggak mau terjadi keributan!" seru Adelia.
"Nggak bisa, Del. Kamu nggak bisa terus-terusan diperlakukan seperti ini. Katakan apa yang dia lakukan lagi padamu? Apa dia memukulmu?"
Adelia sontak menggelengkan kepala. Dia jelas-jelas memilih berbohonf. Bagaimana tidak, baru begini saja Dinda sudah naik pitam, apa lagi jika tahu bahwa Ratna main tangan dengannya.
"Jangan bohong kamu, Del!" desak Dinda.
"Bener Mbak!" sahut Adelia.
"Akan Mbak cari tahu sekarang!" Dinda kembali menarik kasar tangan Adelia hingga wanita itu ikut terseret. Namun, langkah cepat Dinda tiba-tiba terhenti saat Adelia berhasil berpegangan pada pintu.
Saat Dinda memaksa pergi, tubuhnya secara tiba-tiba tertarik ke belakang hingga membentur kepala Adelia.
Adelia sontak meringis kecil.
"Del, ka ... astaghfirullah!" pekikan keras tidak bisa Dinda hindarkan, tatkala mendapati kening Adelia terluka. Wanita itu segera melepaskan tautan tangannya dan memeriksa luka tersebut.
"Del, maafkan Mbak, kam ...." Dinda seketika terdiam saat mendapati luka Dinda yang cukup aneh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
S
😃😃ya...benturkan sekali lagi mbak dinda lebih keras lagi biar otaknya g kempel aku aja pingin benturin adel biar encer.
2023-07-11
0