"Kami tahu, Adelia sebagai wanita belum lah sempurna. Namun, bukan berarti dia bisa disakiti dan dikhianati sefatal itu. Bukan hanya putra ibu dan bapak saja yang berharga, Adelia pun sama berharganya bagi kami. Kami membesarkan Adelia dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jadi, lebih baik Adelia dikembalikan saja kepada kami." Sambung Arwan dengan suara bergetar.
Mendengar perkataan tersebut, Adelia tak bisa membendung air matanya lagi. Wanita itu menangis seraya meremas ujung blouse-nya.
"Saya tidak ingin menceraikan Adelia, Pak, Bu," ujar Wisnu dengan raut sungguh-sungguh.
Jawaban yang terlontar dari mulut Wisnu sontak saja membuat Dinda yang sejak tadi diam tiba-tiba naik pitam. Wanita itu berdiri dari kursinya dan menunjuk wajah Wisnu seraya mengeluarkan beberapa makian kasar.
Adelia dan Doni berusaha menenangkan Dinda. Tak ingin keributan semakin membesar hingga terdengar oleh telinga tetangga, akhirnya sang ibu meminta Doni untuk membawa istrinya keluar dari sana. Sementara itu, Ratna yang tidak terima dengan perlakuan Dinda, balas menghardik.
"Dasar wanita tak tahu aturan! Kampungan sekali! Sudah bagus kami berlapang dada memilih membicarakan hal ini secara langsung!" Ratna kemudian menatap Aini dan Arwan, besannya, lalu berkata, "kalau kami tidak menghargai Adelia, kami tidak akan mau repot-repot ke sini. Adelia sendiri juga sudah bersedia dimadu, kok!"
Aini dan Arwan refleks mengalihkan pandangannya pada sang putri bungsu dengan tatapan penuh tanya.
"Benarkah itu, Nak?" tanya Aini dengan suara bergetar.
Adelia tertunduk, tidak berani memvalas tatapan kedua orang tuanya. "Adel masih mencintai Mas Wisnu, Pak, Bu."
Jawaban itu lantas membuat Arwan terhenyak di kursinya. Helaan napas terdengar dari mulut pria berusia enam puluh lima tahun itu. "Ya sudah kalau itu mau Adelia, Bu, kami tidak bisa apa-apa," kata Arwan lesu.
Tak lama kemudian, Wisnu dan keluarganya pun pamit pulang, mereka juga turut mengajak Adelia untuk ikut pulang karena tak ingin wanita itu dipengaruhi omongan macam-macam.
Adelia tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Permintaan maaf pun terlontar dari mulut wanita itu saat pamit pada kedua orang tuanya.
"Maafkan Adel, Pak, maafkan Adel, ucap Adelia nyaris terisak.
"Kamu tidak salah, Nak, kamu sama sekali tidak bersalah. Sekarang Bapak minta kamu untuk kuat menghadapi ini semua ya?" kata Arwan sembari mengelus rambut Adelia penuh cinta.
Adelia menganggukkan kepalanya. Dia pun memeluk tubuh sang ayah seerat mungkin. Hal yang sama juga dia lakukan padanya.
"Bapak benar, Sayang, kamu sama sekali tidak bersalah. Jadi, jangan pernah mengatakan maaf lagi," ucap Aini seraya menangis. Dengan berat hati mereka pun melepaskan kepergian Adelia.
Mata tua mereka hanya bisa memandang punggung rapuh Adelia dan berharap Tuhan mampu menguatkannya.
Setelah disepakati, pernikahan pun akan dilangsungkan minggu depan. Tidak ada acara pernikahan meriah karena Wisnu belum siap menggembar-gemborkan soal ini, dan Intan pun setuju. Jadi mereka hanya akan mengadakan akad nikah di rumah saja.
Ratna dan Hariadi pun sudah menemui Om dan Tante Intan, sebab ternyata kedua orang tua wanita muda itu sudah meninggal dunia. Fakta tersebut tentu saja membuat Ratna semakin bersimpati pada Intan. Bahkan dia meminta wanita muda itu untuk tinggal bersama mereka tanpa harus menunggu hari pernikahan.
Sebuah kamar yang didesain sendiri oleh Ratna pun dipersiapkan untuk Intan. "Untuk sementara kamu bisa pakai kamar ini ya Sayang, nanti setelah menikah baru kamu bisa pindah ke kamar Wisnu," ucap Ratna.
"Dan kamu, Adelia, segera pindahkan barang-barangmu ke kamar tamu yang ada di ujung lorong. Kamu harus mengalah karena Intan sedang hamil!" serunya pada sang menantu tertua.
Adelia hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata, sedangkan Intan yang merasa tak enak hati sempat mencegahnya.
"Tidak perlu, Ma, Intan sudah kerasan tidur di kamar itu, jadi biar Mbak Adel saja yang tetap di sana."
"Jangan begitu Sayang, kamu kan sedang hamil. Belum nanti setelah melahirkan, bayi kalian butuh tempat yang luas dan nyaman. Benar begitu, Del?" Ratna melirik sinis Adelia.
"Benar." Jawab wanita itu seraya memamerkan senyum tipisnya. "Tidur lah di kamar bersama Mas Wisnu, Intan," sambungnya.
Intan akhirnya mengangguk dan berterima kasih pada Adelia.
Sesuai dengan yang diperintahkan Ratna, Adelia pun mulai memindahkan barang-barangnya sedikit demi sedikit ke kamar tamu.
Kamar tamu yang akan menjadi tempat baru Adelia sebenarnya merupakan ruangan bekas gudang yang tidak terpakai. Ratna memindahkan gudang tersebut jauh di belakang rumah mereka beberapa bulan lalu, dan menjadikan ruangan tersebut kosong.
Berbekal sebuah single bed, meja rias, dan lemari pakaian, Adelia menjadikan tempat tersebut cukup nyaman ditempati. Dibantu salah seorang asisten rumah tangga, Adelia juga membeli sebuah meja dan televisi agar tidak bosan berada di kamar.
Melihat nasib sang majikan yang tersingkir, membuat sang asisten rumah tangga bernama Aminah itu pun turut prihatin. "Sabar ya, Bu. Kalau ada apa-apa Ibu bisa memanggil saya atau pun Desi. Kami pasti akan siap membantu Ibu," ujarnya.
"Terima kasih, Aminah," ucap Adelia.
Aminah mengangguk. Sebenarnya bagi semua pekerja di rumah ini hanya Adelia lah majikan paling baik dan paling menghargai mereka. Namun, tak semua mampu membalas kebaikan hati Adelia. Apa lagi kalau bukan karena uang.
Bagi para pekerja yang menunjunjung tinggi uang, berpihak pada Ratna merupakan sesuatu hal yang harus dilakukan demi kelancaran gaji.
...***********...
"Gimana kamu di sana, Tan?" Suara seorang wanita terdengar dari balik ponsel Intan.
"Semua berjalan dengan baik Tante, si Adelia itu bahkan sudah mulai memindahkan barang-barangnya. Dia ditendang keluar oleh ibunya Mas Wisnu, hahaha!" jawab Intan dengan wajah bahagia.
Tak seperti di depan Ratna dan keluarga, di belakang Intan adalah seorang wanita muda yang licik. Dia jelas membenci kehadiran Adelia dan berniat akan menyingkirkannya perlahan-lahan nanti.
Tak hanya itu saja, Intan pun berniat akan menyingkirkan orang tua Wisnu, yaitu dengan membuang mereka ke tempat yang cukup jauh agar bisa hidup berdua dengan Wisnu. Sebab dia sendiri enggan tinggal satu atap dengan mereka.
"Bagus! Pokoknya kamu harus bisa menaklukan hati Wisnu dan menguasai seluruh hartanya, Intan! Buat lah semua itu jatuh kepada bayimu itu!" titah Mona, sang tante.
"Beres, Tan. Mereka itu hanya orang-orang bodoh dan tolol. Aku pasti mudah melancarkan rencana kita." Keduanya pun terus mengobrol selama beberapa saat, sebelum kemudian Intan berpamitan karena Ratna mengetuk pintu dan menyuruhnya untuk makan malam.
Senyum licik sekali lagi terbit di wajah cantik Intan. "Kau harus berguna untukku!" gumam wanita itu sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Wo Lee Meyce
si Adel perempuan bodoh,,makan tu cinta
2023-10-03
0
S
Perempuqn bodoh mmg harus d tempa spy lebih bs merasakan sakitnya spt apa jika tidak maka akan ttp bodoh.D madu bagi yqng kuat.klo tidak hanya akan memperpanjang rasa sakit diri sendiri apa namanya klo ga bodoh..Jd setelah ini jangan merasa d aniaya atau d zolimi.Mmg nyq keluarga kamu gak akan bela kamu nyatanya kamu lebih memilih d neraka.
2023-07-11
0