Sesampainya di dalam hanya ada pandangan dingin yang ditujukan hampir seluruh penghuni rumah pada Adelia. Tak ada satu pun orang yang menanyakan kepulangan keluarganya, termasuk sang ayah mertua yang kini lebih memilih diam agar suasana tidak semakin panas.
Tahu kehadirannya tidak diinginkan di sana, Adelia memilih untuk langsung pergi menuju kamarnya sendiri. Di sana Adelia menghabiskan waktu dengan menangisi sikap Wisnu.
Adelia sempat terlena karena sehari sebelumnya mereka telah menghabiskan waktu bersama. Namun, nyatanya hal itu sama saja seperti waktu-waktu lalu yaitu hanya sebagai kewajiban akan suami istri semata.
Terlalu banyak menangis membuat Adelia tanpa sadar terlelap, sampai pada akhirnya suara dering ponsel membangunkan wanita itu dari tidurnya.
"Kamu belum makan Sayang?" tanya Aini dengan nada khawatir.
Adelia refleks menatap jam dinding kamarnya dan terkejut tatkala mendapati waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.
Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu terdengar.
"Bu, aku tutup dulu ya? Nanti aku akan menelepon lagi. Salam untuk bapak, bilang sama bapak untuk tidak memikirkan aku ya Bu?" ujar Adelia kemudian.
"Iya, Nak." Aini pun mengucapkan salam dan langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
"Ada apa Aminah?" tanya Adelia begitu membuka pintu kamar dan mendapati sang asisten rumah tangganya sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Ibu baru bangun tidur ya? Makan dulu Bu," ucap Aminah seraya mengulurkan nampan tersebut pada Adelia.
Adelia menerimanya dengan hati-hati. "Iya, saya sampai melewatkan waktu adzan. Terima kasih ya Aminah," jawab Adelia lembut.
Akan tetapi, Aminah tak langsung pergi dari sana dan tetap berdiri sembari menatap Adelia penuh simpati.
"Ada apa Aminah? Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Adelia dengan raut penasaran.
"Emm, tadi sebenarnya saya hendak membangunkan Ibu, tetapi Ibu besar tidak mengizinkan." Aminah terdiam. Dia hendak melanjutkan perkataannya tentang keengganan keluarga Intan yang juga tidak ingin satu meja makan dengan wanita itu. Namun, Aminah tidak tega mengatakannya.
Di sepanjang makan malam pun, mereka hanya sibuk membicarakan Adelia dan keluarga tanpa sedikit pun mendapat pembelaan dari Wisnu atau pun Hariadi.
Untuk yang satu itu, Aminah bersumpah tidak akan pernah mengatakannya demi menjaga perasaan majikan baik hatinya tersebut.
Adelia tersenyum tipis lalu menepuk bahu Aminah lembut. "Saya paham, saya mengerti. Terima kasih ya Aminah, kamu masih mau berada di samping saya," ucap wanita itu tulus. Ya, dalam hati dia sangat bersyukur karena memiliki beberapa orang baik di rumah itu, sehingga tidak benar-benar merasa kesepian.
"Sama-sama Ibu. kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk memanggil saya ya?" kata Aminah sebelum undur diri.
Adelia mengangguk. Sesampainya di dalam kamar kembali, dia hanya menatap makanan lezat tersebut dengan pandangan hampa.
...**********...
"Mas, gendong!" seru Intan manja pada sang suami, ketika mereka telah sampai di depan pintu kamar. Keduanya baru saja selesai mengantar kepulangan om dan tante Intan di depan rumah.
Mereka memang tidak meneruskan waktu lebih lama di sana, meski Ratna sudah menawarkan berkali-kali.
"Iya Sayang," ucap Wisnu lembut. Baru saja dia hendak mengangkat tubuh istri mudanya, Aminah tiba-tiba berjalan melewati mereka sembari tertunduk.
"Permisi Pak, Ibu."
Wisnu terdiam. Matanya kemudian beralih pada sudut lorong yang selurus dengan tempatnya berdiri. Di sudut itu lah kamar Adelia berada.
"Mas!" tegur Intan. "Lihat apa, sih? Kamu tuh sekarang punya aku juga, jadi mata sama pikirannya jangan ke mana-mana dong!" sambungnya ketus.
Wisnu tersentak kaget. "A ah, iya Sayang. Kamu mau apa tadi? Digendong ya?"
"Nggak jadi! Sana tidur aja sama istri tuamu!" Setelah berkata demikian, Intan masuk ke dalam kamar dengan langkah lebar.
Wisnu sempat tercengang dengan sifat Intan. Pasalnya sejak kemarin-kemarin tinggal di sana sang istri selalu bersikap biasa-biasa saja terhadap Adelia. Namun, malam ini, wanita itu malah terang-terangan memperlihatkan kecemburuannya pada Wisnu.
Mungkinkah Intan melakukan itu karena kini dia telah resmi menjadi istri kedua Wisnu? Entah lah, tetapi Wisnu berharap, semoga tidak terjadi konflik antara Adelia dan Intan ke depannya.
Akan tetapi harapan tersebut sepertinya hanya angan-angan belaka, sebab tepat keesokan paginya, Intan menangis tersedu-sedu karena ulah Adelia.
"Aku tahu Mbak Adelia pasti masih kecewa dan marah pada kami, tetapi tolong jangan lampiaskan pada calon anakku, Mbak!" seru Intan.
"Intan, Mbak benar-benar tidak melakukannya. Mbak tidak tahu apa-apa soal itu!" tepis Adelia penuh keyakinan.
Mendengar keributan kecil di antara kedua menantunya tersebut, membuat Ratna dan Hariadi turun menghampiri mereka. Wisnu yang baru bangun dari tidur pun turut keluar bersama beberapa asisten rumah tangga.
"Ada apa ini ribut-ribut? Astaga Intan, kamu kenapa menangis?" Ratna bergegas menghampiri Intan yang terduduk lesu di kursi makan.
Mendapat pertanyaan demikian, Intan malah semakin menangis.
"Del, apa yang terjadi? Kamu apakan Intan?" tanya Ratna sembari menatap Adelia tajam.
"A a aku tidak tahu Ma!" jawab Adelia.
"Mbak! Mbak kenapa tidak mengaku kepada Mama?" kata Intan dengan suara terisak.
Ratna lantas mengalihkan pandangannya lagi pada Intan. "Memangnya ada apa Sayang? Kenapa?"
Wisnu sendiri berdiri di tengah-tengah mereka dan ikut menanyakan hal yang sama pada Adelia. "Ada apa ini Del?" tanyanya.
Adelia menatap Wisnu cemas. "Aku sendiri tidak mengerti Mas!"
"Bohong!" pekik Intan. Wanita muda itu kemudian mengambil segelas teh yang ada di depannya.
"Tadi saat turun dari kamar, aku meminta dibuatkan teh jahe hangat Ma. Kebetulan Mbak Adelia sudah bangun. Dia menawarkan diri untuk membuatkan teh tersebut. Namun, ternyata teh yang dia buat bukan lah teh jahe, melainkan teh chamomile!" seru Intan yang lagi-lagi mengeraskan tangisannya.
Mendengar penuturan itu, Ratna, Hariadi, dan Wisnu terkejut.
Ratna sontak naik pitam. "Dasar wanita bodoh! Kamu tahu tidak, kalau teh chamomile tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil karena memiliki efek samping yang bisa menyebabkan kontraksi? Lagi pula, kenapa teh yang Intan minta dengan teh yang kamu buat bisa berbeda? Jangan-jangan kamu sudah tahu dan memang sengaja ingin menyelakai Intan, kan?"
"Ya Allah Ma, aku tidak sejahat itu! Aku memang membuatkan Intan teh jahe, tetapi sebelum diberikan kepadanya, aku tinggal sebentar ke toilet."
Ratna kontan mendecih. Pasalnya sejak kedatangan Intan, seluruh penghuni rumah sudah diberitahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Jadi tidak mungkin asisten rumah tangga mereka berani melakukannya.
"Jangan mengada-ada Adelia. Lebih baik kamu mengaku saja!" sentak Ratna.
Adelia menggelengkan kepalanya dan tetap menolak mengaku, sebab dia memang tidak melakukan hal jahat seperti itu. Wanita itu bahkan menatap Wisnu, berharap sang suami mau memercayainya.
"Mas, kamu percaya aku, kan? Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu!" serunya membela diri.
Wisnu tidak menjawab. Dia hanya memandangi Adelia dingin dan penuh kebencian. "Kalau memang kamu sebenci dan semarah itu padaku, lebih baik lampiaskan saja semuanya padaku, jangan pada istri dan calon anakku!"
Jantung Adelia berdenyut sakit. Terlebih pada kalimat terakhir yang disampaikan Wisnu penuh penekanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Ahmy Putri
Wisnu yg bodoh...termakan rayuan intan
2023-09-28
0
S
Alex kenapa tidak kau tampar aja adel sampe munyer munyer .😄
2023-07-11
0
Sukliang
udah jadi pelakor
skrg nau jadi setan pula
2023-07-03
0