Wisnu terdiam bak patung lilin. Tak ada sentuhan hangat yang bertengger di kedua tangan Adelia, seperti yang biasa dia lakukan saat wanita itu berlaku demikian.
"Dengarkan aku, Mas. Aku memang kecewa dan sakit hati atas apa yang telah terjadi pada rumah tangga kita. Namun, bukan berarti aku memiliki niat sejahat itu pada Intan, apa lagi pada bayinya. Kamu yang sudah lama mengenalku seharusnya tahu itu," ucap Adelia.
"Seseorang bisa berubah, Del!" Wisnu menanggapi datar.
Adelia mengangguk pelan. "Aku tahu, tetapi tidak denganku, Mas! Aku bersumpah, aku tak pernah memiliki niat untuk menyelakai Intan!"
Suasana hening sejenak setelah Adelia menegaskan kalimat pembelaan pada Wisnu. Namun, beberapa detik kemudian Wisnu melepaskan paksa dekapan Adelia sambil berkata, "renungkan kesalahanmu hari ini dan tolong ... jangan ganggu Intan."
Adelia membeku kala Wisnu pergi meninggalkan dirinya menuju kamar yang dulu pernah menjadi tempat wanita itu selama sepuluh tahun.
Sesampainya di kamar, Wisnu langsung merebahkan diri di sebelah Intan yang ternyata belum tertidur.
"Kamu tidak tidur Sayang? Ada yang kamu inginkan?" tanya Wisnu khawatir.
Intan menggelengkan kepala dan mulai merebahkan diri di lengan sang suami. "Aku tidak betah tidur di tempat ini. Sayang, bisakah kita pindah ke kamar lain saja? Aku benci mengetahui kamar ini merupakan kamar kalian berdua!"
Mendengar itu Wisnu lantas mengelus lembut lengan Intan. "Kamar ini paling besar selain kamar papa dan mama, Sayang. Aku ingin memberikan kenyamanan kepadamu dan bayi kita," jawabnya.
"Aku tahu, tetapi aku benar-benar kesal mengingat riwayat pemilik kamar ini, terutama ranjang yang kita tempati. Aku tidak sudi!" seru Intan marah.
"Baiklah, baiklah, aku akan mengganti seluruh interior kamar ini besok. Jadi kita tidak perlu pindah ke kamar lain, oke?" usul Wisnu.
Intan tersenyum sumringah. Dia pun dengan sigap memeluk tubuh berotot suaminya.
Tanpa diketahui Wisnu, Intan tersenyum sinis. Hari ini dia benar-benar merasa puas telah memfitnah Adelia, sekaligus merasa sangat beruntung karena CCTV rumah ini sedang rusak.
Kini wanita itu harus berhati-hati dalam bertindak. Atau kalau perlu dia harus meminta Wisnu untuk meniadakan CCTV agar bisa leluasa mengerjai Adelia.
...**********...
Keesokan paginya, Adelia yang baru pulang dari minimarket dikejutkan dengan kehadiran sebuah mobil pick up besar dan beberapa orang pekerja. Mereka terlihat mengeluarkan barang-barang yang sangat dikenali Adelia, yaitu barang-barang yang ada di kamar Wisnu.
Dari mulai ranjang, lemari enam pintu, meja rias, karpet, televisi, nakas, berbagai macam pajangan, lukisan dan lain-lain dikeluarkan dan diletakkan di atas mobil pick up tersebut.
Adelia bergegas menghampiri Wisnu ketika melihat pria itu ikut keluar.
"Mas, mau diapakan barang-barang kita?" tanya Adelia kebingungan.
"Mau aku buang. Intan tidak berkenan tinggal di kamar jika barang-barang bekas kamu ada di sana!" Wisnu tanpa perasaan menjawab pertanyaan Adelia dingin.
"Mas, seharusnya Mas bisa bilang dulu padaku, supaya nanti aku simpan di rumah Ibu. Itu barang-barang penuh akan kenangan kita, dan aku tidak ingin membuangnya!" sergah Adelia. Namun, Wisnu sama sekali tidak menanggapi. Dia malah masuk ke dalam rumah setelah memastikan bahwa barang-barang tersebut terangkut semua.
Adelia kontan mengikuti langkah Wisnu menuju lantai dua.
Wanita itu mendapati Intan sedang berdiri mengawasi kamarnya yang kini tengah dirapikan pra pekerja lain. Dia bisa melihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada kamar itu.
"Nah, begini kan terlihat lebih bagus. Modern dan mewah! Dari pada sebelumnya dipenuhi dengan interior klasik. Malah terlihat kampungan!" Ratna datang menghampiri Intan seraya melirik sinis Adelia yang berdiri mematung di belakang Wisnu.
"Kamu suka, kan, Mas?" tanya Intan.
Wisnu tersenyum lalu merangkul pinggang Intan lembut. "Sangat suka. Aku memang lebih suka dengan gaya minimalis." Jawabnya.
Mendengar perkataan Wisnu, Adelia terdiam. Dulu mereka memang sempat berdebat sengit tentang interior kamar yang akan ditempati. Wisnu yang lebih suka dengan segala sesuatu yang simpel, harus mengalah pada Adelia yang lebih menyukai interior klasik dengan banyak ornamen-ornamen dan pajangan.
Intan tersenyum senang. Sesaat kemudian matanya tanpa sengaja bertemu pandang dengan Adelia.
"Ah, Mbak Adel, maaf ya kamarnya aku rubah. Sebab, aku kurang nyaman dengan interiornya. Mbak tidak keberatan, kan?" kata Intan dengan mimik wajah pura-pura tak enak hati.
Adleia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut karena Mas Wisnu tidak mendiskusikannya terlebih dahulu padaku," jawab wanita itu jujur.
Mendengar jawaban Adelia, Ratna sontak tertawa keras. "Buat apa Del? Memangnya semua barang itu dibeli pakai uangmu sampai-sampai Wisnu harus laporan dulu? Enak saja!" katanya sinis. "Ah, apa jangan-jangan kamu mau meminta barang-barang itu ya? Hahaha, orang kampung memang selalu merasa sayang melihat barang mahal dibuang. Kalau memang mau, sana ambil di tempat pembuangan sampah! Rebutan dengan para pengepul!" cemooh Ratna.
Adelia tidak membalas. Dia lebih memilih pergi meninggalkan mereka bertiga menuju kamarnya sendiri.
Sesampainya di dalam, Adelia berusaha sekuat tenaga mengontrol emosinya. Dia tak ingin mentalnya hancur karena perkataan sang ibu mertua yang selalu menyakiti perasaannya.
Kalau dipikir-pikir, selama ini semua barang yang mereka miliki memang murni dari uang Wisnu dan keluarganya. Tidak pernah sepeserpun keluar dari uang Adelia karena memang tidak bekerja.
Sementara keluarganya yang hidup pas-pasan hanya bisa memberi Adelia uang saku saja sesekali.
Walau hubungannya dengan Wisnu renggang, Wisnu tak pernah menelantarkan Adelia dan selalu memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, dengan kehadiran Intan, dia tidak yakin.
Lagi pula, tampaknya ini adalah waktu yang tepat bagi Adelia untuk memulai hidup mandiri dan tidak terus bergantung pada uang suami. Walau Wisnu tetap akan menafkahinya sekali pun, Adelia tetap harus belajar berdiri sendiri.
"Ya, lebih baik aku mencari pekerjaan saja?" gumam Adelia. Namun, lagi-lagi Adelia kembali berpikir, "apa kira-kira ada perusahaan yang mau menerima seorang ibu rumah tangga seperti aku? Apa lagi aku hanya memiliki pengalaman kerja hanya saat sebelum menikah."
Adelia sontak menggelengkan kepala. "Lebih baik dicoba saja!" serunya. Mungkin dengan bekerja dan memiliki pergaulan, Adelia bisa mengobati rasa sakit hatinya selama terkurung di istana megah ini.
Kini dia hanya perlu meminta izin dari Wisnu, sebab, pria itu lah yang sejak dulu melarang Adelia untuk membangun karirnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
S
tak ada koment kecuali aku 😅😅
ceritq nya bagus mampu menguras es cing cau.thor ...semangat ya
2023-07-11
1