Adelia memekik ketakutan, tatkala seekor binatang melata kaki seribu tiba-tiba menjalar di tangannya. Wanita yang sedang sibuk menanam bibit baru.
Mendengar teriakan Adelia, Mang Ujang bergegas menghampiri wanita itu dan menyelamatkannya. "Ibu nggak apa-apa?" tanya Mang Ujang.
"Tidak apa-apa, Mang. Terima kasih," ucap Adelia dengan suara bergetar. Sejak dulu dia memang paling takut dengan binatang melata. Itu lah mengapa Adelia sebenarnya sempat ragu menerima perintah sang ibu mertua.
"Ya Allah!" Kali ini terdengar suara pekikan dari Mang Ujang.
"Ada ap—" Wajah Adelia seketika pucat pasi. Pasalnya karena kehebohan yang disebabkan wanita itu tadi, membuat salah satu tanaman kesayangan Ratna pecah dan terinjak kakinya.
Daarah bahkan seolah tersedot keluar dari tubuh Adelia, begitu mengetahui bahwa tanaman itu adalah salah satu tanaman mahal yang dimiliki mertuanya.
"Bu, bagaimana ini?" tanya Mang Ujang panik. Pria itu juga ketakutan jika sang nyonya besar tahu bahwa salah satu tanaman mahal miliknya hancur.
Wajar saja, dia takut disalahkan karena telah lalai mengawasi Adelia.
"Biar saya yang bertanggung jawab, Mang. Mamang tidak perlu takut." Kendati dirinya sendiri takut, Adelia berusaha tidak memperlihatkannya pada Mang Ujang.
Adelia pun membereskan pecahan pot tersebut sendirian tanpa bantuan Mang Ujang, karena wanita itu melarangnya.
"Aw!" desis Adelia saat salah satu potongan pot yang terbuat dari tanah liat itu menggores tangannya.
Tanpa memerdulikan lukanya, Adelia terus merapikan pot tersebut.
Hatinya kembali dilanda ketakutan, setelah mendengar suara mobil Wisnu yang telah kembali ke rumah.
Berkali-kali Adelia mengambil napasnya sebelum kemudian berjalan menghampiri mereka.
Melihat kedatangan Adelia dengan penampilan kotor, Ratna sontak melarang. "Jangan dekat-dekat! Kamu bisa membawa kuman kepada calon cucuku!"
Adelia sontak berhenti. Di tangannya terdapat plastik dimana pot dan tanaman yang rusak itu berada. "Ma, maaf, aku melakukan kesalahan," ujar Adelia.
Ratna mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Maksudmu?" tanya wanita itu dengan tatapan waspada.
Dengan tangan bergetar, Adelia membuka plastik yang dibawanya dan memperlihatkan tanaman tersebut di hadapan Ratna, Wisnu, juga Intan yang masih berada di sana.
Melihat isi plastik tersebut, Ratna berteriak keras. Wanita berusia enam puluhan tersebut bergegas menghampiri Adelia dan merampas plastiknya.
"Ya Tuhaaan, aglonemakuuu!" Suara teriakan Ratna melengking bak halilintar, saat mengetahui bahwa salah satu jenis aglonema termahal yang dimilikinya kini menjadi seonggok daun hancur tak bermakna.
Ratna yang naik pitam sontak langsung melempar plastik tersebut ke arah Adelia, hingga isinya berhamburan mengenai wajah dan matanya.
Adelia merintih. Matanya sontak memerah. Saat wanita itu tengah sibuk membersihkan matanya dari tanah dan serpihan pot, Ratna sudah menjambak rambutnya hingga membuat Adelia terdongak.
Adelia yang terkejut lantas memekik. Kendati Ratna banyak menyakitinya, tetapi baru kali ini dia dengan tega menjammbak rambut Adelia.
Tak hanya itu saja, Ratna bahkan menjegal kaki Adelia agar berlutut di atas rumput.
Adelia kembali merintih keras, karena lututnya mendarat di atas pecahan-pecahan pot yang tajjam.
Melihat perlakuan tak manusiawi yang dilakukan Ratna, Wisnu dan Intan hanya bisa diam di tempat. Tak ada satu pun dari mereka yang sudi menolong Adelia. Wisnu bahkan secara terang-terangan menggenggam tangan Intan erat.
Air mata sontak mengalir membasahi pipi Adelia, terutama ketika melihat Intan sengaja memperlihatkan tautan tangan mereka seraya tersenyum mengejek.
"Kamu tahu tidak berapa harga tanaman itu Adelia? Aku membelinya tiga juta perdaun beberapa tahun lalu! TIGA JUTA PERDAUN ADELIA, TIGA JUTA!" teriak Ratna kembali. "Apa kamu bisa menggantinya? Tidak Adelia, karena harga dirimu saja jauh di bawah tanamanku!" sambung Ratna bengis.
Adelia hanya bisa terdiam menerima perlakuan Ratna. Sementara itu para pekerja rumah tangga, termasuk Mang Ujang hanya bisa berdiri di sana tanpa berani membela Adelia.
"Ma ma maafkan aku, Ma," ucap Adelia terbata-bata. Tak dipedulikannya rasa sakit yang kini semakin terasa di lutut wanita itu.
"Maaf kamu bilang? Jangan bermimpi aku akan memaafkanmu, sadar menantu tidak berguna!" Ratna semakin bruttal menjambaak rambut Adelia. Wanita itu merasa leluasa melakukannya karena sang suami kebetulan sedang berada di luar kota selama beberapa hari untuk memenuhi undangan salah seorang kolega perusahaan mereka. Meski Hariadi terlihat selalu mengalah, tetapi dia selalu mengancam sang istri untuk tidak bertindak kasar secara fisik.
Adelia dengan sigap menahan pergelangan tangan
Ratna agar rasa sakit pada rambutnya tidak bertambah. Namun, wanita itu malah berteriak kesakitan sambil berteriak, "Aduh, Wisnu, Wisnu! Tangan Mama, Wisnu! Tangan Mama dipelintir!"
Wisnu bergegas menghampiri Adelia dan ibunya, lalu melepaskan tangan sang istri kasar.
"Apa yang kamu lakukan pada Mama, Del?" Kini giliran Wisnu yang meneriaki wanita itu.
"Aku tidak memegang tangan Mama keras, justru Mama yang semakin menjambbak rambutku, Mas!" Adelia berusaha membela diri.
Wisnu tentu tahu apa yang dikatakan Adelia merupakan kebenaran, sebab dia sendiri berada di sana dan memerhatikan mereka secara langsung. Namun, hari ini kebenciannya pada Adelia memuncak. Terlebih, ketika dia baru saja pulang dari rumah sakit setelah melihat kondisi calon bayinya.
Hal tersebut membuat sosok Adelia semakin pudar di mata dan hati Wisnu.
"Mama melakukan itu karena kamu lah yang bersalah! Apa kamu pikir, kami bisa dengan mudah menghasilkan uang? Apa lagi tanaman itu adalah tanaman kesayangan Mama yang sudah bertahun dirawat!" seru Wisnu.
Adelia tersentak. "Mas, tolong, sekali saja lihat bagaimana Mama memperlakukan aku," gumam Adelia dengan suara bergetar.
Mendengar itu Ratna tersinggung. "Heh, kamu pikir, aku melakukan apa padamu? Kalau memang aku melakukan sesuatu, itu karena kamu lah yang berulah duluan. Makanya kalau tahu tidak berguna seharusnya sadar diri. Kehadiranmu di sini tak lebih dari sampah tak berarti!"
Adelia tertegun mendengar penghinaan yang dilontarkan Ratna barusan. Wanita itu kemudian berdiri dengan susah payah dari atas rumput lalu berkata, "aku akan mencari cara untuk mengganti uang Mama."
Wisnu terdiam. Sorot matanya tertuju pada lutut Adelia yang kini mengeluarkan banyak darraah. Sementara Ratna mendecih. "Oke, hitung perhelai daun itu dan ganti uangku tanpa menyentuh uang Wisnu! Akan kubuat lebih parah dari ini bila dalam tiga hari uang itu tidak ada!"
Setelah berkata demikian, Ratna segera pergi dari sana sembari mengajak Intan.
"Wisnu, ayo!" panggil Ratna begitu mendapati sang putra belum juga bergerak.
Wisnu tersentak. Pria itu berbalik pergi tanpa menghiraukan panggilan lirih Adelia.
Setelah memastikan ketiga majikan mereka masuk, beberapa asisten rumah tangga bergegas menghampiri Adelia guna menanyakan keadaannya. Mang Ujang yang turut serta menghampiri wanita itu, dengan penuh rasa bersalah meminta maaf karena tidak bisa melakukan pembelaan.
"Tidak apa-apa, Mang. Saya mengerti," ucap Adelia pelan. Dibantu Aminah, wanita itu berjalan tertatih menuju rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Dewi Dama
sedih bangat...
2023-10-25
0
S
Menurutku si Adel tak punya harga diri.bahkan lebih rendah dr bunga nya mama wisnu itu betul.Kenapa dia berotak kan dia bs mikirbkan jika suami sud spt itu ngapain bertahan.jika mertua memperlakukan dia spt binatang ngapain bertahan cinta boleh goblok jangan heh cantik cantik geblek
2023-07-11
0